Korban

Korban
71


__ADS_3

Dalam putusan sidang vonis hakim menjatuhkan hukuman 3 tahun enam bulan.


Belum ada keberatan atau banding dari pihak sonia, tapi seandainya Sonia mengajukan banding, Furqon akan tetap meladeni nya.


Sindy memandang pantulan dirinya di cermin.


Dia berdandan flawless terlihat cantik dan alami. Di patutnya gaun yang dia kenakan, berwarna peach yang menjuntai hingga mata kakinya dengan lengan panjangnya, sangat cantik sesuai dengan riasan nya.


Sindy memilih berdandan sendiri alih-alih memakai jasa MUA, baginya jasa MUA hanya untuk akad dan resepsi nya kelak.


Tok... Tok.. Tok


"Masuk" Sindy masih didepan cermin


"Wah kamu cantik sekali Sin" puji Sarah yang baru saja masuk dan di tutupnya pintu dengan hati-hati


Sindy memutar tubuhnya menghadap kakak iparnya


"Kamu gugup ya?" di ikuti anggukan Sindy. Sarah mendudukkan Sindy di kursi riasnya lalu dia pun duduk di ranjang yang memang bersebelahan dengan meja rias.


"Kamu beruntung dapat Dokter Adrian, dia sangat baik dan ramah. Apalagi dengan prosesi lamaran seperti ini, itu menandakan dia sangat serius"


Sarah menghela nafasnya, mengingat proses drama pernikahannya dengan Lukman. Namun Sarah sekarang dapat merasakan kebahagiaan pernikahan setelah Lukman berubah.


Tak ada Lukman yang kasar, yang suka memaksa. Sekarang suaminya itu sangat baik memperhatikan nya melimpahkan kasih sayang untuk dirinya dan calon anaknya


"Mbak nanti dampingi aku ya? Aku nervous bener"


Sindy menenangkan dirinya dengan menarik dan menghembuskan nafas nya berulang


"Gak pa pa. Biasa kalau orang mau melangkah ke jenjang yang lebih akan merasakannya"


"Mbak keluarga pria sudah datang" suara ketukan dan pemberitahuan dari luar kamar membuat Sindy semakin gugup.


Di genggamnya tangan Sarah, Sarah tersenyum melihat tingkah Sindy.


"Santai aja Sindy, lihat tanganmu terasa dingin sekali" goda Sarah


"Namanya juga grogi mbak" Sindy dan Sarah berdiri


Sindy mengatur nafas nya menghilangkan kegugupan


Setelah dirasa sudah tenang Sindy di dampingi Sarah keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.


Di sana sudah banyak rekan dan kerabat dari kedua keluarga.


Mata Sindy menangkap seorang lelaki yang menggunakan baju batik berwarna coklat susu dengan motif yang entahlah apa namanya Sindy juga tidak mengerti.


Yang jelas calon suaminya ini terlihat dua kali lebih tampan dari biasanya, pandangan mereka beradu sampai Sindy sampai di sofa di hadapan Adrian dan keluarganya


Pak rahmat dan Ratna duduk bersebelahan, sedang Sindy duduk bersama Sarah dan juga Lukman dalam satu sofa di belakangnya ada Furqon dan keluarganya juga mamak


Tak henti Adrian dan Sindy saling memandang tanpa memperdulikan godaan yang lain, mungkin efek saling terpesona menjadikan mereka lupa dengan orang di sekiranya


Suara deheman dari sang RT yang bertugas sebagai MC membuyarkan pandangan keduanya


Sindy menunduk malu dengan tingkanya, namun tidak dengan Adrian, dia masih memandangi sang tambatan hati dengan senyum yang tak surut.


Acara prosesi lamaran di mulai, dari penyampaian maksud kedatangan keluarga Adrian yang di wakilkan oleh pak Harto ayah kandung Adrian.


Sedang penyambutan dari keluarga Sindy lansung di sampaikan oleh pak Rahmat sendiri selaku ayah kandung Sindy


Sampailah tiba giliran Adrian mengutarakan niatnya


"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh" Adrian membuka Niatnya dan disambut salam oleh yang lain


"Maksud saya kemari bersama dengan keluarga saya adalah untuk mempersunting seorang gadis cantik nan manis di hadapan saya"


Sindy tak berani menatap Adrian yang tak henti menatapnya dengan penuh cinta, dia hanya mampu menunduk menahan rasa bahagia dan malu


"Gadis yang mencuri perhatian saya dari pertama melihatnya, gadis yang berhasil membuat hati saya menari dan berbunga-bunga, gadis yang membuat jantung saya berlari maraton, gadis yang menghiasi mimpi saya" Adrian mengucapkan kata-kata nya dengan penuh keyakinan


"Sindy Puspita binti Rahmat nugraha di siang ini aku Adrian Putra Raharja mengungkapkan maksud hatiku untuk mempersunting mu menjadikanmu ratu di hatiku, Ibu dari anak-anak ku dan pelabuhan hidupku"


Adrian berlutut di hadapan Sindy dengan sebuah kotak berisi sepasang cincin emas dan platinum yang tampak indah. Walaupun mereka di pisahkan oleh sebuah meja namun tak membuat Adrian kesusahan

__ADS_1


"Sindy Puspita maukah kamu menjadi istriku mengarungi bahtera rumah tangga bersama sampai maut memisahkan, dan bersama mencari ridho dan jannah alloh"


Sindy yang di perlakukan seperti itu membuatnya terharu dan bahagia, air matanya pun ikut serta


Sindy berdiri dari duduknya, di pandangi nya lelaki yang sempurna ketampanannya itu dengan berbinar


"Adrian Putra Raharja, aku mempercayakan cinta dan hidupku di dunia dan akhirat ku padamu. Bimbing aku menjadi makmum yang layak untukmu, menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak. Dan ajaklah aku ke jannah bersamamu dan anak-anak kita saat kiamat kelak" Ucapan Sindy juga membuat Adrian terharu dan bahagia


Adrian menyematkan cincin emas bertahta berlian di jari manis kiri Sindy, lalu dia bangkit dari posisi bersimpuh nya dengan kaki bertekuk satu


Sindy juga menyematkan cincin titanium polos untuk Adrian.


Suara tepuk tangan pun bergaung di ruang tamu dan ruang keluarga.


acra pun dilanjutkan dengan berdoa dan diakhiri dengan makan bersama.


Pernikahan Adrian dan Sindy akan di adakan sebulan lagi, itu permintaan Adrian


Keluarga Adrian telah pulang, di susul kemudian keluarga Furqon satu jam kemudian.


Ke esok anda harinya Pak Rahmat dan Ratna memutuskan untuk pulang dengan menggunakan penerbangan siang.


"Kamu hati-hati jaga kandungan mu, ingat sebentar lagi kamu akan melahirkan, jangan lupa jalan kaki biar lahirnya mudah" pesan Ratna pada Sarah saat akan ke bandara.


"Seminggu lagi ibu akan kesini lagi"


Sebenarnya Ratna di suruh tinggal di jakarta mengingat kandungan Sarah yang sudah besar.


Namun dia bersikeras untuk ikut dengan suaminya pulang karena ada urusan mendesak. Akhirnya pak Rahmat mengalah saat istrinya ikut dengannya


Lukman mengantarkan kedua orang tuanya ke bandara


"Sayang aku antar bapak sama ibu dulu ya" pamitnya sebelum masuk ke mobil


Diciumnya kening Sarah setelah Sarah mencium tangan Lukman


"Hati-hati ya mas" pesan Sarah


"Iya Assalamu'alaikum"


"waalaikum salam"


Sarah masuk ke dalam rumah dan menuju kamar, rasanya dia sudah mengantuk


Sarah membaringkan tubuhnya di ranjang dan tak butuh lama matanya pun terpejam menuju ke alam mimpi


Suara panggilan di ponselnya terpaksa membuat Sarah terbangun.


Dikerjapkannya matanya beberapa kali agar pandangannya kembali


Sarah baru tertidur seperempat jam, jadi dia agak pusing


Di raihnya ponsel yang berdering kembali setelah sempat berhenti di atas nakas sebelahnya


Terlihat nama Hubby di layar yang sedang menyala


Mas Lukman gumam Sarah, dia sedikit heran pasalnya jam segini harusnya dia masih di jalan menuju bandara


Di gesernya icon hijau lalu diarahkan nya ke telinganya


"Assalamu'alaikum ada apa mas?"


"Waalaikum salam" Sarah mengernyitkan dahinya karena suaranya bukan Lukman


"Maaf saya dari kepolisian"


Deg...


Seketika jantung Sarah berdebar demi mendengar suara di sebrang


Sarah sudah membayangkan yang tidak-tidak


"Hallo bu... masih bisa dengar saya?" suara itu membuyarkan pikiran yang entah kemana


"i.. iya saya masih dengar pak?ada apa dengan su-suami saya?" tanya Sarah terbata

__ADS_1


"Saya mengabarkan kalau mobil yang di kendarai suami ibu mengalami kecelakaan"


Seketika badan Sarah lemas, air matanya mengalir tak terbendung


"Ba-bagaimana ke-keadaan suami saya pak?" tanyanya dengan isak tani


"para korban sudah di evakuasi semua ke Rumah sakit *****"


"Ba-baik pak saya akan segera ke sana"


Segera Sarah menghubungi Sindy setelah panggilan terputus


"Hallo Assalamu'alaikum mbak" sapa Sindy pada dering ke tiga


"Waalaikum salam Sin"


Sindy yang sedang bekerja di kantor panik mendengar kakak iparnya terisak


"Ada apa mbak?"


"Sin... "masih terisak


"Kenapa mbak? jangan bikin aku takut mbak"


"Sin Mas Lukman... hiks... Ibu sama bapak hiks... Kecelakaan"


"Astaghfirullah... Se-sekarang mereka dimana mbak?" Sindy ikut panik


"Di rumah sakit ***** kamu telpon mas Furqon ya aku langsung ke sana"


"Iya mbak, aku juga langsung ke sana"


Sindy segera meminta izin pada atasannya


Sedang Sarah segera pergi ke rumah sakit di temani bik Sum dengan menaiki taksi


Sesampainya dirumah sakit, Sarah tergesa-gesa masuk kerumah sakit


"Mbak pelan, ingat mbak lagi hamil besar" Bik Sumi mengingatkan


Sarah akhirnya berjalan biasa walaupun agak cepat tak lari lagi.


"Sus saya keluarga korban kecelakaan yang di bawa kesini tadi" ucap Sarah di meja resepsionis


"Yang kecelakaan beruntu ya bu?"


"Entahlah saya gak tahu"


"Coba ibu ke IGD, soalnya semua korban di bawa kesana"


Segera Sarah menuju ke IGD yang ada di sebelah.


Sarah melihat banyak korban disana, ternyata kecelakaan nya banyak korban terluka


Di bukanya satu persatu gorden, dan akhirnya Sarah menemukan sang suami yang sedang berbaring dengan tangan di kepala di tutup perban dan berdarah


"Mas.."segera Sarah menghambur ke tubuh suaminya yang memejamkan mata


"Mas... Mas.. "Sarah menggoyang tubuh Lukman namun dia tak kunjung bangun


Di tengah kepanikan perut Sarah tiba-tiba kram, dia pun segera memegang perutnya karena sakit


"Aduh..." pekiknya memegang perut


Bik Sum segera memanggil dokter


Sarah di bawa ke brankar untuk di periksa


"Sepertinya ibu ini mau melahirkan ayo bawa ke ruang bersalin"


Bik Sumi mengikuti Sarah yang di bawa ke ruang bersalin, dan dia pun menelfon Sindy untuk memberi tahu keadaannya


Bersambung...


jangan lupa mampir ke Mengejar cinta sang janda

__ADS_1


Tinggalin like dan komentar



__ADS_2