Korban

Korban
BONCHAP


__ADS_3

Suasana Haru biru kembali terjadi ketika keesokan paginya Furqon Intan dan mamak menjenguk Ratna di rumah sakit.


Dengan berurai air mata dan isak tangis bahagia dan kelegaan menjadi satu, Ratna meminta maaf pada sang menantu dan juga besannya.


Dia menyesali segala yang telah dia perbuat pada mereka, Ratna juga berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik. Demikian pula terhadap Furqon anak sambungnya itu, Ratna juga meminta maaf atas segala kesalahannya dulu.


Suasana kembali normal karena pembicaraan sudah di alihkan, mereka sekarang membahas tentang pernikahan Sindy dan Adrian.


Kebetulan saat ini keluarga Adrian baru sempat menjenguk keluarga calon besan karena mereka sedang berada di Malaysia untuk mengurus kerjaan.


Perbincangan mereka berlangsung dengan di selingi candaan, hingga akhirnya mereka semua pamit pulang setelah adzan Dzuhur berkumandang.


Sindy yang akan masuk ke dalam rumah sakit berpapasan dengan Adrian dan keluarganya.


"Om tante kok udah mau pulang?" tanya Sindy saat di loby rumah sakit.


Sindy mencium punggung tangan kedua calon mertuanya.


Adrian mengulurkan tangannya juga, Sindy memandang sekilas lalu dengan terpaksa meraih tangan Adrian namun tak di cium.


"Masak sama calon suami gak cium tangan" seloroh Adrian


"Masih CALON" Sindy menekankan kata calon pada Adrian diikuti tawa calon mertuanya


"Tante sama om udah ketemu Bapak dan Ibu?"


"Sudah, Kami dari tadi di sini, kamu kok baru datang?"


"Iya tan tadi habis dari kampus"


"Kami pamit dulu ya. Adri kamu mau di sini apa ikut pulang?" tanya mama Adrian


"Aku di sini aja dulu ma, masih kangen beberapa hari gak ketemu" Adrian tersenyum memandang Sindy yang sudah tersipu


"Alah lebay, ya udah kami pulang ya, awas anak perawan orang jangan di apa-apain" pesan papa Adrian


"Jangan kuatir pa, paling cuma di cium aja" Sindy langsung membelalakkan matanya ke arah Adrian


"Yu kami dulu ya Assalamu'alaikum" pamit mereka dan mereka menunu ke parkiran.


"Kapan dateng?" Sindy bertanya pada Adrian yang ada di sampingnya berjalan menyusuri koridor rumah sakit


"Tadi pagi dan kami langsung kesini"


Sindy hanya mengangguk


"Kamu gak kangen aku?"


Pipi Sindy terlihat memerah menahan malu


"Aku aja kangen pake banget sama kamu" lanjut Adrian sambil berjalan mendahului Sindy dan memutar badan kemudian berjalan mundur


"Hai cantik, jawab dong"


"Apaan sih malu tau di lihat orang"


Sindy membalik Adrian agar menghadap ke depan


Adrian terkekeh melihat reaksi Sindy yang tersipu.


Mereka pun masuk kedalam kamar yang di tempati Ratna.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Sindy menghampiri kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Lho kok balik kesini lagi nak? ada yang ketinggalan?" tanya pak Rahmat


"Iya Pak, hati saya ketinggalan nih"


Sindy mencubit pinggang Adrian sambil mencebik

__ADS_1


Pak Rahmat dan Ratna pun tertawa melihat tingkah keduanya.


"Mas Furqon sama mbak Intan mana?" tanya Sindy mengalihkan suasana


"Lho kamu gak lihat mereka? tadi keluar bareng sama keluarga nak Adrian"


"Oh tadi mereka ke musholah untuk sholat dulu" Jawab Adrian


Sindy memberikan paperbag pada Bapak nya


"Bapak sholat dulu kamu jagain ibu"


"Mari pak saya juga ikut"


Adrian dan pak Rahmat pergi ke musholah rumah sakit


Sore hari Adrian berpamitan karena dia harus jaga malam, cutinya telah habis


"Bapak ikut Adrian aja pulang ke rumah mas Furqon, biar Sindy yang jagain ibu" pintar Sindy tak tega melihat sang ayah yang melihat lelah


Dengan bujukan dan sedikit paksaan akhirnya Pak Rahmat mau pulang di antar oleh Adrian ke rumah Furqon


Setelah dirawat seminggu akhirnya Ratna di perbolehkan pulang. Saat ini mereka sekarang ber tempat di rumah Furqon.


Hari berganti hari kesibukan seperti biasa di kerjakan, seminggu sebelum acara pernikahan Sindy dan Adrian, Lukman dan Sarah kembali ke rumah mereka bersama bayi dan kedua orang tuanya.


Sindy pun mengikuti mereka pulang ke rumah Lukman untuk persiapan pernikahan nya.


Dan hari ini adalah hari dimana Adrian akan mengucap janji pernikahan dengan Sindy.


Pagi ini acara akad nikah di selenggarakan di rumah Lukman sedang resepsinya di hotel milik keluarga Adrian.


"Bismillah hirohman nirohim.


Ananda Adrian Putra Atmaja Bin Hartono Atmaja saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Sindy Puspita Binti Rahmat dengan seperangkat alat sholat dan perhiasan berlian 4 karat di bayar tunai"


Sambil menggenggam tangan yang terasa dingin milik sang calon menantu, pak Rahmat menyerahkan putrinya


Para saksi dari kedua belah pihak pun menyatakan SAH dan diikuti doa oleh penghulu dan di aamiini oleh pengantin dan para undangan


Sindy yang mengenakan baju kebaya putih tulang rancangan Dewi dan riasan dari MUA ternama yang membuatnya wajahnya sungguh terlihat sangat cantik.


Sindy di apit oleh kedua kakak iparnya yang menggunakan baju seragam berwarna abu tua dengan aksen hijab juga rancangan dari sang disainer Dewi terlihat kelihatan anggun menuju ke kursi akad nikah.


Adrian melihat sang istri yang kelihatan sangat berbeda dan pancaran Aura yang seolah menyilaukan mata dan hatinya.


Sindy berjalan menuju suaminya dengan hati yang membuncah bahagia sekaligus harus. Lelaki tampan di hadapannya ini menggunakan setelan baju penganti putih tulang yang serasi dengannya menambah ketampanannya.


Adrian dan Sindy pun menyelesaikan administrasi pernikahannya dengan menanda tangani dokumen dan surat nikah.


Sindy meraih tangan kanan sang suami dan di ciumnya, bersamaan Adrian pun mencium kening sang istri.


Di lihatnya sang istri lalu tangannya menyentuh dahi bagian atas, dia pun berdoa dengan doa yang sejak seminggu yang lalu di hafalkan nya.


"Sekarang boleh cium bibir gak?" bisik Adrian


Sindy langsung membelalakkan matanya


Adrian tersenyum puas melihat reaksi istrinya yang terlihat menggemaskan.


Para tamu bergantian memberi ucapan selamat, acara akad memang di peruntukkan keluarga dari kedua belah pihak dan beberapa adalah teman dari Sindy di kampus jadi terlihat santai. Mereka berdua menikmati hidangan berbaur bersama dengan tamu undangan lainnya.


Keluarga pun bergantian berfoto dengan pengantin.


Setelah adzan dzuhur acara pun telah selesai, para tamu pun kembali ke hotel dan rumah masing-masing.


Sindy yang melepas segala aksen pakaian pengantinnya dikejutkan oleh pelukan sang suami dari belakang


"Astaghfirullah mas mengagetkan saja"


Adrian yang di panggil dengan sebutan mas semakin mengeratkan pelukannya


"Mas udah dong enggap ini lho" Sindy meronta dari dekapan suami nya

__ADS_1


"Biarlah seperti ini dulu sayang, aku ingin menikmatinya"


"Iya tapi ini terlalu kenceng, akunya jadinya susah nafasnya"


Adrian melepaskan pelukannya dan tertawa renyah.


"Sudah mandilah dulu mas, habis sholat ntar kita istirahat dulu biar nanti acara habis magrib gak kecapekan"


"Iya, lagian kita harus menyiapkan tenaga ekstra untuk acara sehabis resepsi"


Sindy merasa panas di pipinya


Adrian pun meninggalkan Sindy di kamarnya dan menuju ke kamar mandi yang terletak di belakang.


Acara resepsi yang di adakan selepas magrib begitu meriah, tamu undangan dari rekan bisnis Pak Harto juga rekan sejawat Adrian dan undangan yang lain silih berganti datang dan mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


"Selamat ya Sin, semoga kamu bahagia" uluran tangan Ferdi di sambut oleh Sindy dengan senyum simpul


"Terima kasih" jawabnya dan Ferdi pun berlalu melewati Adrian.


Adrian dan Sindy saling berpandangan lalu mereka tertawa bersama


"Dasar mantan" ucap Adrian masih tertawa.


tepat pukul 10 acara di sudahi dan para undangan telah kembali ke rumah masing-masing.


Giliran kedua mempelai mengistirahatkan dirinya, mereka menuju ke lantai 11 tempat kamar pengantin mereka berada


Sindy tersipu malu ketika pintu kamar di buka di dapatinya ranjang mereka yang akan mereka tempati di hiasi oleh kelopak bunga mawar yang di susun sedemikian rupa menjadi sangat indah.


Adrian menutup pintu dan berjalan menuju sofa, di bukanya tuxedo hitam yang sangat elegan.


"Sayang apa kamu hanya berdiri saja di situ?"


Sindy langsung tersadar dari keterpanaannya


"Kita mandi dan sholat isya' dulu baru kita nikmati malam ini di ranjang itu" Adrian menunjuk ranjang yang di penuhi bunga dengan dagunya


Sindy semakin tersipu, pipinya terlihat semakin merah


Sindy berjalan dengan mengangkat gaunnya yang menjuntai panjang.


"Sini aku bantuin" Adrian menggapai resleting di punggung Sindy saat dilihatnya sang istri kesusahan membukanya


Adrian menarik resleting dengan pelan seolah menikmati pemandangan punggung sang istri yang terlihat mulus dan menggoda


"Baru punggung sudah bikin gak tahan apalagi yang lain" gumamnya walaupun masih terdengar oleh Sindy.


"Cepatlah mas, kita belum sholat isya' nih" protes Sindy


"Iya aku akan cepat, biar cepat juga melihat yang lain"


"Udah ah sana, terimakasih. Buruan mandi gantian"


"Kita mandi bareng yuk" goda Adrian


"Udah ah sana" Sindy mendorong suaminya agar ke kamar mandi.


Setelah melaksanakan sholat isya' berjamaah mereka pun melaksanakan malam pertama mereka dengan indah


"Sayang terima kasih telah menjadi istriku" Adrian mencium lembut bibir istrinya yang sudah berada di bawah kungkungan tubuhnya.


Mereka berdua hanyut dalam kebahagiaan dan kehangatan malam yang tercipta dengan halal dan ridho Alloh.


Adrian melakukan foreplay dengan lembut dan Sindy pun dapat menikmati nya, hingga saat penyatuan mereka berlangsung, Adrian membuat rasa sakit Sindy teralihkan dengan kelihaian Adrian.


Walaupun ini yang pertama untuk mereka namun mereka berdua sangat menikmati dengan nyaman


end....


Jangan lupa like komen


Mampir juga di cerita ku yang Lain Mengejar Cinta Sang Janda

__ADS_1


__ADS_2