
Maaf ngepost nya keulang. kirain kmrn blm di setorππ
Mohon dukungannya ya, semoga cerita ini tetep ber lanjut. walau terhalang mood dan lainnya
Jangan lupa tinggalin like dan komen. jg vote yaππ
Lanjut... πππ
Karena kehamilan Intan Furqon memutuskan untuk memindahkan kamar mereka dari lantai 2 ke lantai bawah, begitu juga dengan kamar untuk sholat.
Intan merasa tidak enak pada Furqon, pasalnya, kehamilannya kali ini Intan merasa merepotkan Furqon.
Bagaimana tidak, setiap pagi selama 4 bulan kehamilannya ini, setiap pagi selalu muntah, dan hanya dengan usapan tangan Furqon pada punggungnya lah yang mampu menyudahi muntah Intan. Bahkan tangan mamak yang adalah ibu kandung nya tak mampu menyamai usapan tangan Furqon.
Begitu juga saat sarapan, Intan selalu ingin di suapi sang suami.Pun saat akan tidur, punggunggnya harus di usap-usap oleh Furqon.
Tapi ketika siang sampai sore hari, hal itu tidak berlaku, Intan bisa melakukan itu semua sendiri, tanpa rasa mual dan muntah ataupun pusing.
Intan juga tak pernah mengabaikan si sulung Aathif, Intan masih menyuapi dan menemani nya bermain, tak ada yang berubah. Hanya saja sekarang Aathif tidak menyusu padanya, melainkan langsung dengan gelas, karena ASIP masih stok banyak.
Sebelum hamil lagi, Intan masih saja rutin memerah ASI nya. Dan sekarang bisa di manfaatkan.
"Nya! ada tamu di luar" panggil Bik Nah mengalihkan perhatian Intan yang sedang memasak untuk suaminya.
"Siapa bik? " tanya Intan, karena selama dia menikah dengan Furqon hanya Kristin yang mengunjunginya, dan dia tak punya teman lain.
"Gak tau nya, katanya temen Nyonya muda"
"Ya sudah Terima kasih bik, orangnya suruh tunggu dulu, bentar lagi saya kesana"
Intan mematikan kompor yang kebetulan masakannya telah matang, lalu dia mencuci tangannya.
"Mak minta tolong ya, itu masakan Intan pindahin ke wadah, Intan ada tamu" Intan meminta tolong pada mamak yang sedang bermain dengan Aathif.
"Itut nda" Aathif merentangkan tangan pada Intan minta gendong
"Uh anak Bunda udah gede, badannya udah berat, hup" Intan menggendong Aathif dan berjalan menuju ruang tamu.
Di ruang tamu ada seorang lelaki paruh baya menghadap ke dalam dan perempuan yang duduk membelakangi Intan.
"Selamat sore" sapa Intan
begitu tamu yang di sapanya menghadap ke Intan, betapa terkejutnya dia.
Intan bergeming, matanya memanas, ada rasa rindu di hati yang meronta.
"Intan" sapanya dengan nada bergetar menahan haru
Di harusnya Aathif dari gendongannya dan Intan menghambur memeluk tamunya
"Mbak Lina" Intan menangis menuangkan rasa rindu pada sosok kakak yang begitu melindungi dan menyayanginya dulu.
Mereka berpelukan sangat erat, menumpahkan segala rasa bahagia di hatinya
Lina melepaskan pelukan lebih dulu, dia mengambil sedikit jarak dan memandangi Intan dari atas hingga ke bawah.
"Gimana kabar kamu In? Mbak kangen banget" Ucap Lina setelah menggiring Intan untuk duduk di sebelahnya.
"Baik mbak, allhamdulilah. Mbak Lina sendiri bagaimana? " jawab Intan sambil menghapus air matanya
"Alkhamdulilah aku juga baik. Oh ya kenalkan ini bapak ku"
Intan menyalami bapak Lina "Intan om"
"saya Supri bapak Lina"
"Ini minumnya, silahkan" Sartika salah satu ART menyuguhkan minuman dan beberapa kue yang tadi pagi di bikin mamak.
__ADS_1
"Ini pasti Aathif ya" Lina mencium Aathif yang duduk di pangkuan Intan.
"Ya Alloh lucunya, ganteng lagi"lanjut Lina mencubit pipi Aathif gemas
" Aathif salim sama tante dan kakek"
dengan patuh Aathif menjabat tangan kedua nya sambil mencium punggung tangannya
"Oh ya mbak tika, tolong panggilkan mamak ya" pinta Intan saat Sartika berdiri dan akan masuk
"Baik Bu" jawab Sartika mengangguk
"Makasih ya mbak"
Sartika pun berlalu masuk ke dalam
"Silahkan om, mbak Lina" Intan
"Iya Terima kasih" mereka pun meminum lemon tea yang disuguhkan tadi
"Mbak ke sini naik apa? " tanya Intan
"Naik taksi online, Kristin yang kasih alamat ini"
"Mbak udah ketemu Kristin? "
Belum menjawab mamak yang datang bergabung ikut terkejut dengan Lina yang mengunjungi mereka
"Lina" sapa mamak
"Mamak, apa kabar" Lina mengulurkan tangan pada mamak dan cipika cipiki
"Alkhamdulilah sehat, Alkhamdulilah bisa ketemu lagi" Mamak duduk di sofa single sebelah Lina
"Iya mak, saya senang bisa bertemu mamak sama Intan lagi. Oh ya mak kenalkan ini bapak saya"
"Marlina Mamak Intan "
mereka saling berjabat tangan
"Tau dari mana kami di sini? " tanya mamak
"Kristin mak, tadi pagi kami ke kontrakan Kristin, dan langsung ke salonnya, karena dia lagi ada kerjaan banyak, Kristin memerankan kami taksi online untuk sini"jelas Lina
" Maaf kami gak sempat kasih kabar kalau kami sudah pindah "sesal mamak
" Gak pa pa mak"
"Sini Aathif pangku tante ya" Lina mencoba dekat dengan Aathif
Aathif yang memang pendiam, menyembunyikan wajahnya di dada Intan.
"Gak pa pa sayang, tante baik kok" bujuk Lina lagi
Aathif memandang Intan, dan Intan mengangguk.
"Sini" dengan berat hati Aathif mau di pangku Lina, dan Lina menciumi Aathif
"Mbak Lina kapan keluar? " tanya Intan
"Tak lama setelah kunjungan terakhir kamu, aku coba cari kamu di alamat yang kamu kasih, tapi mereka bilang kalian sudah gak disitu lagi"
"Terus mbak bisa ketemu Kristin gimana? " tanya Intan lagi
"Sebenarnya aku berusaha cari kamu sama mamak, tapi gak ketemu. Lah waktu aku mengunjungi yang lain di lapas merek bilang kalau Kristin dari situ juga, dia meninggalkan no ponselnya. Jadi aku menghubungi dia, dan baru bisa berkunjung hari ini"
"Jadi mbak baru datang? "
__ADS_1
"Udah dua hari ini, sekalian mampir aja. Tadinya kami mengunjungi kerabat kami yang ada hajat"
"Maaf ya mbak gak kasih kabar lagi sama kalian semua. Karena... " Intan tak meneruskan katanya
Lina memegang tangan Intan
"Gak pa pa aku ngerti kok, Kristin udah cerita semua sama aku. Yang penting sekarang kamu Mamak dan si ganteng ini bahagia" Lina mencubit gemas pipi Aathif
"Terima kasih Lina masih ingat pada kami"
"Tentu mak, kalian adalah keluarga kedua bagi saya"
Sore ini di ruang tamu suasana jadi hangat, karena obrolan satu sama lain
"Assalamu'alaikum" sebuah suara mengalihkan perhatian semua
"Waalaikumsalam"
Terlihat Furqon masuk
"wah ada tamu"
"Ayaaaah" Aathif turun dari pangkuan Lina dan menghambur pada sang ayah yang baru datang, setelah mencium tangan Furqon Aathif segera minta gendong.
"Kenalkan kak, ini Mbak Lina dan bapaknya"
"Furqon"
"Lina"
"Furqon"
"Supri"
Furqon ikut bergabung dan duduk di sebelah Intan
Intan menyalami Furqon sambil mencium tangannya, di balas kecupan pada kening Intan. Intan agak tersipu pasalnya di situ ada Lina dan bapaknya.
"Ini teman saya di lapas kak, dia yang selalu ada untuk saya"Intan mengusap tangan Lina
"Terima kasih ya mbak Lina, sudah jagain Istri saya "ucap Furqon
"Ah gak pa pa, Intan sudah saya anggap adik sendiri"
"Oh ya ini sudah sore, Mari sholat dulu" ajak Furqon
"Tika" panggil Furqon, tak lama Sartika datang
"Tolong siapkan kamar tamu biar tamu nya bersih bersih sambil istirahat"
"Baik tuan"
"gak usah repot-repot nak Furqon, setelah kami sholat kami akan kembali ke kerabat kami"
"Gak pa pa pak. mbak Lina sama Istri saya kan baru bertemu, pasti banyak yang ingin mereka ceritakan"
"Tapi kami gak pingin merepotkan.. " ucap Lina tak enak
"Gak ada yang di repotkan, malah kamu senang. Mari ke dalam"
Setelah sholat ashar berjamaah. Intan dan Lina meneruskan obrolan mereka, sedangkan Furqon mengobrol dengan bapaknya Lina. Mamak memilih membantu bik Nah masak di dapur, dan Sindy yang baru datang menemani Aathif bermain.
kira-kira begini gambaran kebersamaan Intan sama Furqon
__ADS_1