
Sindy melihat wajah seluruh keluarga nya yang sudah harap-harap cemas dengan jawabannya
"Eh... aduh... apa ya... sa... saya... maaf"Sindy memejamkan matanya,
"Huft"Sindy menghembuskan nafasnya, lalu membuka matanya
di lihatnya satu persatu orang yang ada di sekitarnya, ekspresi dari masing-masing yang hampir sama.
"Maaf saya gak bisa.. "belum selesai menyelesaikan ucapannya Adrian menyela
"Tapi kamu bilang tadi di mobil kalau kamu.."Adrian kelihatan kecewa tak menyelesaikan ucapannya
"Maksudnya, aku tu pingin melamarnya lewat orang tua aku" Sindy memandang Adrian
Adrian yang mendengar itu langsung saja merasa sangat bahagia, senyumnya pun mengembang sempurna namun dia agak malu karena menyangka Sindy menolaknya
Begitu pula dengan yang lain, wajah tegang mereka seketika berubah menjadi lega, senyum juga terlukis di sudut bibir mereka
"Maaf Tante, om. Saya masih punya kedua orang tua, jadi saya ingin hubungan ini dengan restu mereka" jelas Sindy
"Oh tentu sayang, itu juga akan kami lakukan. Jadi kapan Kira-kira kami bisa bertemu dengan kedua orang tua mu"mama Adrian mendekat dan menggenggam tangan Sindy
"Nanti Saya akan bilang sama kedua orang tua saya dulu tan, dan segera saya akan kabari" Sindy menjawab dengan malu
"Om harap segalanya bisa di mudahkan dan di lancarkan" Ucap Pak Harto di ikuti Aamiin dari yang lain.
"Baiklah sambil menunggu waktu ashar, silahkan kalian berdua kalau mau ngobrol di taman samping" pak Harto sengaja memberikan ruang untuk Sindy dan Adrian untuk saling mengenal
Adrian pun mengajak Sindy ke taman samping rumah meninggalkan para orang tua di ruang tamu
Mata Sindy di buat terpukau oleh penampakan taman samping rumah Adrian.
Tertata rapi bermacam-macam bunga dengan pengelompokan ragam dan jenis yang di pisah.
Sindy terlihat mengagumi sekumpulan beberapa jenis anggrek yang ada di Rumah kaca kecil yang ada di tengah taman yang lumayan luas untuk ukuran taman rumahan
"Kamu mau ke sana?" tawar Adrian yang menyadari pandangan Sindy
Sindy mengangguk dan melangkah mengikuti Adrian yang berjalan satu langkah di depannya.
Sindy melihat pada tangannya yang di genggam oleh Adrian saat berjalan menuju ke taman.
Ada rasa berdesir di hatinya, di lihatnya Adrian yang memandangi nya dengan senyum yang sangat mempesona.
Sindy pun tertular untuk tersenyum manis sbil terus menuju ke rumah kaca yang hanya tinggal 5 meter di depan mereka
"Masya Alloh indah sekali" ucap Sindy saat sudah sampai di dalam rumah kaca bening yang berukuran 10x10 meter itu.
Di lihatnya dengan takjub berbagai macam bunga kesukaan nya, Sindy menghampiri sebuah anggrek hitam yang tergantung.
"Kamu suka anggrek?" tanya Adrian masih menggenggam tangan Sindy. Sindy mengangguk dan melepas tangannya dari genggaman Adrian.
Di sentuhnya anggrek-anggrek itu dengan pelan
"Apa ini semua mama mu yang menanam?" tanya Sindy masih dengan memandangi keindahan bunga anggrek.
"Ya begitulah, mama memang pecinta bunga terutama anggrek. Makanya mama sengaja membuat rumah kaca ini untuk anggrek-anggrek nya"
"Hebat Mama mu bisa mengkoleksi anggrek yang langka, banyak lagi"Sindy memegang salah satu jenis anggrek yang memang sangat langkah dan tentunya harganya mahal
"Ya begitulah, bahkan mama rela berburu beberapa anggrek dari luar negri"
Sindy mengangguk masih fokus berkeliling melihat koleksi anggrek calon mertuanya
"Sepertinya nanti mama bakal cocok deh sama kamu"celetuk Adrian
Sindy menghentikan langkahnya dan berbalik melihatmu Adrian yang mengekorinya
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Iya kan sama-sama pecinta anggrek"Adrian menoel hidung Sindy karena gemas
"Apaan sih tangannya, tolong di kondisi kan ya. Udah main gandeng, sekarang toel toel" dengue Sindy
Adrian terkekeh melihat tingkah Sindy yang terlihat menggemakan di matanya
"Gak papa, kan sama calon istrinya ini"
serrrr
Rasanya hati Sindy berdesir mendengar kata Adrian, pipinya pun terlihat merona karena tersanjung. Tanpa sadar kedua sudut bibir Sindy tertarik membentuk senyum yang sempurna
"Ya Alloh aku jadi gak sabar halalin kamu" ucap Adrian.
Sindy kembali berbalik menutupi rasa malu dan pipinya yang sudah merah
Sindy kembali berkeliling memandangi keindahan rumah kaca yang tersusun rapi dengan aneka ragam jenis anggrek itu.
"Nanti kalau kita udah halal, temenin mama ya untuk merawat aku dan taman ini" Adrian memecahkan keheningan.
"Apaan sih" jawab Sindy tersipu
"Mama tuh suka kesepian kalau sudah sarapan. Papa pergi kantor, akunya ke rumah sakit sedang Nisa ke sekolah"
"Makanya ntar kalau kita udah resmi halal, aku mau kamu temenin mama di rumah" mereka kini sudah di depan pintu rumah kaca
"Dulu mama juga seorang dokter, namun demi kami mama rela risen, mama memilih mengurus papa dan kami"
"Makanya kenapa aku memilih jadi dokter untuk meneruskan cita-cita mama"
Sindy memandang calon imamnya itu dengan haru. Adrian termasuk tipe orang yang menyayangi mama nya, dan itu membuat Sindy jadi bertambah mantap dengan Adrian.
"Terima kasih sudah mau memilih ku menjadi calon istri mu. Aku harap semua akan berjalan dengan lancar"
"Aku yang berterima kasih karena kamu mau menerima ku"
Mereka sama-sama tersenyum bahagia
"Ayo kita kembali, udah adzan ashar"ajak Adrian
Mereka berdua pun kembali masuk ke dalam rumah bergabung dengan yang lain
"Gimana?udah merasa nyaman dan semakin dekat kan?" Goda mama Adrian
"Ah mama bisa aja"jawab Adrian sembari duduk bersama dengan Sindy
"Udah ashar, mari kita sholat dulu dan nanti di lanjutkan makan dulu"
Semua pun menuju mushola di belakang. Mushola yang terletak di sebelah ruang keluarga itu cukup luas untuk menampung semua dan juga beberapa ART dan tukang kebun mereka, lebih luas dari mushola di rumah Furqon
Setelah selesai makan Furqon dan keluarga pamit pulang, Sindy masih di antar oleh Adrian, karena memang mobil yang di gunakan oleh Furqon penuh.
"Gak mampir dulu?" tanya Sindy pada Adrian saat sudah sampai di rumah Furqon
"Gak usah, aku mau langsung ke rumah sakit ada shif malam"
"Kalau gitu terimakasih ya" Sindy membuka sabuk pengamannya dan akan membuka pintu namun Adrian memegang tangannya
Sindy menatap Adrian
"Aku tunggu kabar dari orang tuamu secepatnya" ucap Adrian
Sindy mengangguk dan kembali meraih handle pintu dan membukanya
"I Love You" ucap Adrian sebelum Sindy keluar
__ADS_1
Sindy kembali merona demi mendengar Adrian mengucapkan kata itu.
"Hati-hati ya" ucap Sindy sebelum menutup pintu mobil dan di beri anggukan dan senyuman Adrian.
Mobil Adrian pun meninggalkan pelataran rumah keluarga Furqon, lalu Sindy masuk ke dalam dengan senyuman merekah yang tak surut semenjak kepergian Adrian
"Cie... yang mau lamaran" goda Intan yang baru keluar dari dapur membawa segelas susu untuk Aathif
"Apaan sih" jawab Sindy malu dan berlalu ke atas menuju kamarnya
Intan pun tersenyum sambil masuk ke kamar.
Aathif yang baru saja selesai di mandikan oleh ayahnya sudah terlihat rapi
"Abang ini susunya"Intan menyerahkan segelas susu yang tadi di bawanya.
"Ayah sudah telfon bapak?"tanya Intan
"Iya nanti, bunda mandi aja dulu biar adek ayah mandiin aja"Furqon mengambil Gema yang ada di ranjang mereka dan melucuti bajunya untuk di mandikan
Selesai sholat Magrib Furqon menghubungi keluarganya
"Hallo assalamu'alaikum" sapa pak Rahmat
"Waalaikum salam" jawab Furqon
"Pak Furqon mau mengabari tentang Sindy" Furqon menjelaskan tentang lamaran Sindy
"alhamdulillah, bapak sama ibu juga akan menerima niat baik mereka. Kamu atur aja acara lamaran nya, di jakarta aja. Kalau mereka ke sini kejauhan, biar bapak sama ibu ke sana sekalian mengunjungi kalian semua"
"Baiklah pak, tapi menurut Furqon lebih baik acaranya di rumah Lukman aja ya pak. Gak enak sama ibu"
"Ya terserah kamu aja baiknya gimana"
Pak Rahmat memanggil istrinya setelah panggilan Furqon berakhir
Ratna yang datang dari belakang dengan membawa teh untuk suaminya duduk di sebelah pak Rahmat
"Ada kabar baik bu" ucap pak Rahmat
"Kabar apa pak?" tanya Ratna penasaran
"Anak gadis kita ada yang melamar" pak Rahmat berkata sambil tersenyum bahagia, tapi tidak d2ngan istrinya itu, dia seperti tak senang
"Bapak ini jangan asal nerima lamaran orang dong pak, lihat dulu bibit bebet bobotnya. Jangan kayak dua anak lelaki bapak yang sembarangan memilih pasangan hidup" ucap Ratna dengan sewot
"Bu, Bapak kan sudah bilang, itu pilihan mereka hargai mereka. Yang penting mereka bahagia"
"Bapak itu selalu membela mereka. Pokoknya kali ini Bapak harus tau latar belakang keluarga calon Sindy dulu. Ibu gak mau anak gadis ibu dapat suami yang gak bermutu" Ratna masih dengan keangkuhannya
"Sudahlah bu, yang penting anaknya tanggung jawab dan cinta sama anak kita, juga keluarganya baik kata Furqon"
"Bapak tu jangan gampang percaya"
"Terserah ibu aja, lusa kita ke Jakarta" ucap apak Rahmat mengacuhkan istrinya yang sepertinya masih belum puas, meminum teh yang masih panas dengan hati-hati
Bersambung.....
Terima kasih masih mau membaca walaupun lama gak up
Terima kasih juga atas komentar dan likenya
Mungkin satu atau dua episode akan tamat, mau ganti judul baru
MENGEJAR CINTA SANG JANDA masih di riview
Terima kasih banyakππππ
__ADS_1