
Pov author
Setelah mendapat kabar dari mamak intan merasa lega, dan intan memutuskan untuk beristirahat sejenak, karena merasa tak enak badan.
"In kamu gak pa pa?" mbak Lina menyentuh dahi Intan dengan punggung tangannya.
"Gak kok mbak aku cuma sedikit pusing" jawab Intan masih rebahan.
"Ini udah sore jangan tidur lagi, kalau masih gak enak badan ke klinik aja biar aku antar" mbak Lina duduk disebelah intan, intan pun duduk
"Gak usah mbak ini juga sudah mendingan habis di pakai tidur" tolak Intan
"Baiklah kalau begitu yuk kita apel, udah pada kumpul tu" mbak Lina dan Intan pun beranjak untuk melakukan apel sore.
kegiatan rutin yang selalu d kerjakan tiap sore. Seluruh penghuni lapas berkumpul di halaman depan sel yang berjajar mengelilinya.
Hanya berbaris dan mendengarkan wejangan yang kadang di pimpin oleh kepala sipir atau pun sipir sipir yang lain.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 19:30 wib. setelah sholat isya berjamaah seluruh penghuni lapas kembali ke sel masing-masing dan dikunci oleh sipir penjaga.
"Intan gimana tadi udah telfon mamak? " tanya Santi yang memang paling kepo diantara penghuni sel 3b ini. Intan hanya mengangguk dan tersenyum,
"gimana? mamak baik aja kan? " tanyanya lagi
"Alkhamdulilah sehat kok, cuma mamak lagi sibuk bantu masak masak tetangga mau hajatan" jawab Intan.
"Syukur deh, btw kenapa kamu kok pucet?," Santi mendekat Intan
"Udah udah ayo tidur besok telat bangun di omelin lho sama si Rita judes" ucap Kristin sambil menarik selimut nya hingga menutupi kepala nya, Rita adalah sipir yang terkenal dengan ke jutekan nya. Suka marah marah seenak sendiri, sebisa mungkin para penghuni lapas menghindarinya. Kecuali Sarah cs yang memang biang onar.
"Eva menarik selimut Kristin sambil mengomentari" kris udah ku bilang jangan selimutan sampai kekepala, ngeri tau" Eva memang penakut.
"Ngapa sih va orang tu pasti mati juga, pake acara takut segala" Kristin menarik selimut nya lagi, Eva menarik lagi. Dan kegiatan mereka terhenti setelah sipir pengawas menegur mereka
"sudah ayo tidur, gak usah berisik mengganggu yang lain" ucap sang sipir.
__ADS_1
"siap bu" jawab mereka serempak
bu maua menggeleng kepala sambil tersenyum.
"Jangan lupa berdoa" ingat nya.
Ya disinilah d ruang yang tak luas ini mereka tidur. Walaupun hanya beralaskan kain tapi mau tak mau mereka harus menjalani nya, berharap waktu cepat berlalu sampai saat kebebasan menghampiri.
Tengah malam Intan terbangun merasakan ada yang aneh dengan perutnya. Tidak sakit tapi seperti ada yang berbeda. Intan berjalan di ruangan sekat dan berfungsi sebagai kamar mandi dan wc, karena tembok ny hanya sebatas leher saja. Intan menjalankan hajat kecil dan kemudian mengambil air wudhu.
Sudah menjadi kebiasaan Intan dari dulu menjalankan tahajud setiap sepertiga malam, setelah sholat witirnya Intan berdoa dengan khusuk, bukan untuk dirinya sendiri dia berdoa tapi juga untuk mamak nya agar panjang umur sehat dan banyak rejeki, dia juga mendoakan ayah dan kakek nenek nya yang telah berpulang pada Ilahi.sambil menunggu adzan subuh intan tetap berdzikir memohon ampunan dari sang Khalik.
Pagi setelah berolahraga para napi mulai aktivasinya kembali mulai dari bersih bersih. Intan dan beberapa napi lain kebagian jadwal membersihkan masjid. Tiba-tiba Intan merasakan ada yang aneh dengan perutnya, tak ada rasa sakit ataupun perih yang menandakan maag, hanya ada sedikit kedutan dan mengganjal.
Intan menghentikan kegiatan nya sejenak. "Hei jangan malas malas. cepat biar bisa masuk kelas" salah satu napi menegur nya. Intan mengangguk dan meneruskan aktivitas bersih-bersih nya.
Tiba-tiba kepala Intan terasa berputar dan akhirnya kesadaran nya pun hilang. Napi yang ada bersama Intan menggotong nya ke klinik yang ada di dalam lapas.
__ADS_1