Korban

Korban
27.ketemu


__ADS_3

ketemu lagi. Terima kasih yang masih mau berkunjung ke cerita ku ini.


maaf jika masih typo


walaupun yang baca dan like gak banyak tapi Terima kasih untuk kalian yang sudah like da komentar. apalagi vote😍😍


kita lanjut yuk.


______&______&_____&_____


Sudah seminggu Intan dan mamak berada di pelariannya di jakarta, dan hari ini rencana Intan akan mencari pekerjaan, dengan berbekal ijazah SMK yang dia punya. Intan menyusuri setiap toko dan perkantoran yang membutuhkan pegawai.


Walaupun belum mendapatkan hasil Intan tak menyerah, jam di tangan Intan sudah menunjukkan angka 3 lebih. terdengar suara adzan dari masjid yang tak jauh dari tempat Intan berdiri.


setelah mengambil air wudhu Intan memasuki masjid yang lumayan besar, lantai yang dingin serta udara AC menyambut Intan.


Intan terlihat berdoa dengan khusuk setelah menyelesaikan sholat nya. tanpa terasa air matanya mulai mengalir. dia teringat perjuangan bapak dan mamaknya, Intan mengakhiri doa nya saat dia merasa ASI nya terasa penuh dan merembes di bajunya.


"Aathif! sabar ya sayang, bunda akan pulang" gumam Intan sambil melipat mukena dan mengembalikan di tempat semula.


saat Intan keluar halaman masjid sebuah suara menghentikan nya


"Intan"


Intan mencari arah suara itu tapi dia tidak menemukan siapapun


"mungkin manggil orang lain" ucapnya dengan diri sendiri.


"Intan " suara Itu kian mendekat, namun Intan tak menghiraukan nya, hingga tepukan dibahu membuatnya menoleh.


Intan begitu terkesiap melihat siapa yang ada dihadapannya. tak lama senyumnya merekah


"Kristin" Intan langsung memeluk teman yang dikenalnya di lapas.


Mereka berdua melepas rindu dengan berpelukan lama.


"kamu disini? " tanya Kristin setelah melepas pelukan mereka.


"iya, kamu gak di palembang? "


"udah sebulan aku di jakarta, aku buka salon deket sini"


Kristin melihat Intan dari ujung kepala hingga kaki


"kamu sedang apa? " tanya Kristin


"aku lagi cari kerja"


"cari kerja? " tanya Kristin heran


"yuk kita cari makan sambil ngobrol" ajak Kristin


"maaf kris aku gak bisa, Aathif ada di kontrakan, waktunya dia ngASI"


"Aathif ikut juga? sama mamak? " tanya Kristin berbinar. Intan mengangguk


"ya udah aku antar kamu pulang, aku ambil mobil dulu ya"Kristin berlalu


tak lama sebuah mobil berhenti di depan Intan


" ayo naik"ajak Kristin dari balik jendela yang terbuka setengah.


Intan pun naik di sebelah Kristin yang duduk di belakang kemudi.


"kontrakan kamu dimana? "

__ADS_1


"di jalan haji Sa'ad daerah xx"


Kristin langsung melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan Intan, tentunya dengan GPS di hapenya.


"aku gak nyangka ketemu kamu disini" ucap Kristin membuka percakapan.


"iya, aku juga gak nyangka ketemu kamu di sini. kamu gak di palembang lagi? "


"aku tadi kan udah bilang aku sudah sebulan disini buka salon, deket masjid yang tadi kita ketemu tadi" Kristin masih melihat kearah jalan.


"habis bebas kemarin aku pulang ke palembang cuma sebentar. lalu aku mengutarakan niatku untuk membuka salon. keluargaku menyetujui asal aku tidak terjun ke narkoba lagi. dan akhirnya kakakku ngajak aku ke Jakarta dan mencarikan tempat untuk buka salon. puji Tuhan sekarang sudah ramai banyak pelanggan, aku juga punya 4 karyawan Plus aku," Kristin cerita dengan penuh semangat.


"kamu sendiri kapan ke Jakarta? " tanya Kristin.


"baru seminggu, ni aku baru nyari kerja"


"sayang aku udah penuh" kata Kristin kecewa


"tapi kalau kamu mau ada lowongan di butik kakakku"tawar Kristin


" boleh"jawab Intan antusias


"oke besok aku antar kamu kesana. oh ya kamu kok bisa nyasar di jakarta? "


"sebenarnya aku kabur dari Lukman? "


"kabur? Lukman? si brengxxx yang masukin kamu ketempat penjara"


Intan mengangguk


"kurang ajar dia" Kristin ikut emosi mendengar nama Lukman


"kok bisa kamu ketemu dengannya? "tanya Kristin lagi masih emosi


tak terasa mobil memasuki gang menuju kontrakan Intan.


Intan mengurungkan niatnya turun dari mobil saat dia melihat pak fadli keluar dari kontrakannya apalagi dengan wajah di tekuk seperti sedang kecewa.


" kenapa? "tanya Kristin ketika melihat Intan tak turun dari mobil, malaha memandang lelaki yang sedang lewat didepan mobilnya.


" gak. ayo turun "Intan turun dan di ikuti Kristin.


" assalamu'alaikum "sapa Intan sambil membuka pintu


" Waalaikumsalam "jawab mamak yang sedang bermain dengan Aathif di ruang depan.


" nak Kristin "mamak kaget melihat Kristin yang ikut masuk bersama Intan


" mamak "Kristi menghampiri mamk dengan manja dan memeluknya.


" kok bisa bareng Intan "


"iya mak tadi kebetulan ketemu Intan di depan masjid, waktu Intan habis sholat ashar" Jawab Intan sambil menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Aathif! ih udah gede. tambah ganteng nih ponakan ante" Kristin mengambil Aathif yang sedang rebahan di kasur lantai. Lalu di ciuminya pipi gembul Aathif.


Aathif merasa geli sehingga dia tertawa, dan itu membuat Kristin semakin gemas dan terus menciumnya.


"ayo minum dulu Kristin" mamak meletakkan segelas teh hangat di meja kecil yang ada di pojok.


"ih mamak repot bener kaya siapa aja. oh ya mak tunggu dulu ya ada yang tertinggal di mobil" Kristin meletakkan Aathif diatas kasur lagi, dan dia keluar mengambil kantong plastik dari mobilnya


"ini mak tadi Kristin dari mini market buat mamak sama Aathif" Kristin menyerahkan bungkusan plastik yang bertuliskan mini market. kebetulan tadi sebelum Kristin ketemu Intan dia mampir ke mini market membeli roti dan buah untuk persediaan di kost an nya.


"apa ini? kok repot sih" mamak menerima bungkusan plastik dari Kristin

__ADS_1


"ah gak kok mak. kebetulan tadi Kristin habis dari mini market. "


Terima kasih ya Kristin. besok lagi kalau mau main gak usah repot repot bawa apa-apa. kamu nengokin kami aja udah seneng "


"beres mak. asal nanti aku dikasih makanan yang enak" mereka pun tertawa.


Intan sudah keluar dari kamarandi dengan pakaian rumahanya


"anak bunda udah kangen ya sama bunda" Intan mengambil Aathif dari pangkuan Kristin tapi tak diberikan oleh Kristin.


"apa sih orang aku baru pegang" Kristin mencium pipi Aathif


"mau aku nenenin, kasihan dari tadi aku tinggal"


"barusan sebelum kamu datang Aathif sudah minum ASIP." ucap mamak


sore itu mereka ngobrol sampai magrib. setelah sholat dan makan pun mereka teruskan mengobrol., sampai jam 8 Kristin pamit. sebelumnya mereka bertukar no ponsel lagi.


setelah Kristin pulang mamak dan Intan sholat isya berjamaah dirumah. sedangkan Aathif sudah terlelap dari tadi.


"mak tadi Intan lihat pak Fadli keluar dari rumah, tapi kok wajahnya di tekuk. bukankah pak Fadli itu dulu teman mamak? " tanya Intan saat bersiap akan tidur


"siapa yang bilang dia teman mamak" tiba-tiba suara mamak agak sedikit tinngi, membuat Intan semakin penasaran.


"ada apa sih sebenarnya mak. ada yang mamak sembunyikan dari Intan ya? " tanya Intan penuh selidik.


"apaan sih kamu ini. udah ayo tidur. katanya besok kamu mau ke butik kakaknya Kristin. mamtir kesiangan" mamak mengalihkan pertanyaan Intan.


Intan menarik selimut mamak saat akan menutupi tubuhnya.


"mak.. " ucap Intan dengan nada menuntut.


mamk menghela nafas, dia mengerti maksud Intan. mamak beranjak dari tidurnya, dan duduk bersandar tembok.


"baiklah mamak akan jelaskan semua.'ucap mamak sambil menatap lekat Intan


" sebenarnya dulu mamak bapak dan Fadli serta Ratna adalah teman dari SMP. mamak dan Fadli sempat akan menikah, tapi di saat hari akad dia tak pernah datang, akhirnya untuk menutupi rasa malu keluarga bapak mu yang notabene kekasih ratna, menikahi mamak. sejak saat itu Fadli tak ada kabar, dan Ratna membenci mamak hingga sekarang, karena mamak dianggap merebut bapakmu darinya. "


mamak menjeda ceritanya dia memandang ke atas


"sebenarnya mamak ingin meminta cerai dari bapakmu, karena mamak gak bisa menghancurkan teman mamak sendiri. tapi bapakmu menolak, dia mengatakan bahwasanya pernikahan bukan main-main jadi apapun yang terjadi kami harus menjalani, itu semua adalah suratan takdir"


"apa mamak masih dendam dengan pak Fadli? "


mamak menggeleng


"terus kenapa mamak sepertinya menghindari pak Fadli?


" mamak tak pernah menyimpan dendam, tapi lebih baik mamak menghindari daripada luka mamak berdarah lagi"


"tapi setidaknya mamak beri kesempatan pak Fadli untuk menjelaskan semua"


"biarlah yang lalu, sekarang kami sudah punya kehidupan masing-masing, bagi mamak kamu dan Aathif adalah segalanya," mamak membelai rambut Intan sambil tersenyum


"sudahlah gak usah dibahas, lebih baik kita tidur"


Intan mengangguk dan memposisikan di sebelah kiri Aathif dan mamak di sebelah kanan Aathif.


malam pun semakin larut, dan mereka menyelami mimpi masing-masing.


bersambung....


Terima kasihπŸ˜˜πŸ’•


yuk jangan lupa like komentar dan vote nya yaπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2