
Terimaππ kasih masih mau membaca cerita ku
Ajak temen saudara untuk baca jugaπππ
Yuk kita lanjut πππ
Pov Furqon
Ku pandangi wajah manis dan ku belai setiap inci wajah nya, Sungguh wajah ini telah mengisi mimpi dan lamunanku beberapa bulan terakhir
Saya terima nikah dan kawinnya Intan Nur Baiti binti Muhammad thohir alm dengan mas kawin seperangkat alat sholat seperangkat perhiasan dan emas seberat 100gram di bayar tunai Kalimat sakral yang aku ucapkan dengan satu tarikan nafas dan diikuti pengesahan dari 2 orang saksi, sahabatku Furqon Ahmad Yusuf dan Pak Fadli. Menjadikan gadis yang membuat ku terpesona dari pandangan pertama itu resmi jadi istri ku.
Gadis polos berusia 21tahun yang kisah hidup nya sangat miris. Semua
itu karena ulah anak manja yang tak lain adik seayah ku, sebenarnya aku malas mengingat mereka.
Sungguh malang nasibnya. Setelah kejadian penculikan kemarin, aku akan lebih melindunginya Aathif dan mamak, satu-satunya orang tua yang dia punya.
Aku jug akan bertekad mencari tau siapa dalang di balik penculikan yang dialami istriku, sungguh tega sekali dia meninggalkan istriku di dalam gudang tak terpakai didalam hutan yang jauh dari ibu kota.Dia harus membayar semua
Hatiku sangat sakit, menemukan istriku dalam keadaan terikat dan berantakan, baju pengantin masih melekat ditubuhnya tapi sudah terkoyak. Dan pipinya merah lebam, riasan yang mulai luntur oleh air mata yang masih membekas di pipinya.
Semalam jam 3 dini hari kami baru sampai rumah, saat di jalan aku menghubungi Sindy adikku mengabarkan bahwa kami sudah menemukan Intan dan akan langsung pulang ke rumah.
Jadi aku menyuruh mereka pulang, mamak dan Sindy aku suruh pulang ke rumahku.
Ketika aku sampai rumah Intan yang masih tertidur ku bopong sampai kamar dan meletakkan nya dengan hati-hati di ranjang.
Aku menyiapkan air hangat di bathtub, tak lupa ku tuang aroma terapi agar menenangkannya.
Dengan perlahan aku membangunkan nya, sebenarnya tidak tega tapi melihat keadaan seperti ini lebih baik aku membersihkan badannya dulu.
"Sayang bangun" ku pelan kan suaraku agar tak membuatnya kaget, aku menciumi tangannya
Intan membuka matanya, lalu dia menangis sambil memelukku.
Aku mengusap punggungnya agar tenang
"tenang sayang, aku disini, aku tak akan meninggalkan mu" kucium pucuk kepalanya
Setelah tenang aku mengangkatnya ke kamar mandi, dan mendudukkanya di atas closet yang tertutup. Aku mencoba membuka bajunya namun di tahan oleh nya, malu katanya.
Aku mencoba membujuknya berkali-kali agar aku bisa membantu nya mandi
"Biarkan aku membantumu sayang"
Intan melihatku ada keraguan dan ketakutan dimatanya
"Aku hanya membantu mandi sayang, aku tak akan aneh-aneh. Lihat keadaanmu, kamu masih lemah" kucium tangannya lagi agar dia yakin dengan ucapanku
__ADS_1
Akhirnya dia mengangguk tanda setuju.
Aku muali membuka baju yang dia kenakan, dan juga membuka jepit-jepit yang ada di rambutnya, hingga rambutnya terurai.
Aku tersenyum menahan tawa, melihat Intan didepanku yang seperti singa, rambut yang di Sasak dan berantakan.
Aku pun mengangkatnya kembali dan menaruhnya di dalam bathtub
Intan terlihat bersemu menahan malu, tapi justru itu yang membuatku menjadi senang. Aku juga harus menahan hasratku setengah mati selama memandikan Intan.
Aku menyelimuti badannya, lalu aku keluar untuk mengambil makanan untuknya.
"Sayang ayo makan dulu, biar aku suapi ya? "
Mungkin dia sangat kelelahan hingga tak banyak membantah dan mengangguk.
Aku membenarkan posisi duduknya dengan menaruh bantal di belakang punggungnya, dan mulai menyuapinya sampai habis makanan yang aku bawa.
"Tidur dengan nyenyak sayang, aku di sini" Aku menarik selimut keatas tubuhnya hingga sebatas leher, lalu aku memeluknya, tak lama dia pun tertidur dengan pulas.
"Kak... "sapanya saat di bangun.
Sungguh indah hidup ku, ada seorang gadis manis tambatan hati disisiku.
Walaupun baru bangun tidur, tapi pancaran inner beauty nya masih terlihat mempesona
" Iya sayang, kamu udah baikan? "tanyaku sambil merubah posisi lebih dekat dengannya. Seperti ada magnet aku mendekati keningnya dan membenamkan ciuman ku yang dalam dan lama.
"Untuk apa berterima kasih, harusnya aku yang meminta maaf padamu karena membuatmu begini.
" tidak kak. kakak sudah menolongku"
"Sudahlah gak usah dibahas lagi, yang penting kamu udah selamat"
"astaghfirullahalazim" pekiknya membuat kaget, karena dia langsung beranjak dari tempat tidur tanpa menyingkap selimut
"Kenapa kakak tidak membangunkanku? aku kan belum sholat subuh, mana kamar mandinya kak? "
Aku hanya tersenyum, lalu menunjuk ke sebuah coklat, dan dia segera masuk.
Aku membantunya menata sajadah dan menaruh sebuah mukena di atasnya
"Sayang itu ada disana ada sandal, nanti kamu pakai kalau mau sholat ya? "
"iya kak"
Aku pun bergegas keluar menuju dapur dan mengambil sarapan yang tertunda, karena sekarang jam 9 lewat.
Saat aku hendak kembali aku melihat mamak yang sedang bermain dengan Aathif di samping rahasia dekat dengan kolam renang, "Bik ! tolong antarkan ini kedalam kamar ya? " aku menyerahkan nampan yang ku pegang pada pelayanan yang kebetulan lewat.
__ADS_1
"Dedek Aathif lagi ngapain? " aku menghampirinya dan mengangkatnya lalu menciumi pipi gembilnya.
"Gimana keadaan Intan nak? "
"Alkhamdulilah sudah lebih baik, mamak bisa melihatnya"
"benarkah? "
"Tentu mak, mari ikut saya"
Saat kubuka pintu kamar, terlihat Intan sedang melipat mukena nya
"Mamak! " Intan langsung menghambur kepelukan mamak, mereka menangis.
Aku meletakkan Aathif yang dalam gendongan ku diatas ranjang yang terlihat sudah rapi.
Mereka menangis dan saling mengusap punggung.
"Kamu gak papa kan nak? " ucap Mamak saat melepaskan pelukannya
"Alkhamdulilah Intan baik kok mak, kalau gak ada kak Furqon Intan mungkin sudah mati"Intan masih terisak
" Hust.. Jangan bicara seperti itu"sergah mamak
Intan menghampiri Aathif yang masih tertidur di sebelahku, dia nampak menciumi pipi dan tangan anak kami, ya, Aathif sudah ku anggap anak ku juga.
"Sayang udah ya, nanti Aathif bangun. Sekarang makan dulu"
Aku membawa dan mendudukkan istriku itu di sofa dekat ranjang, dan mengambil nampan yang berisi makanan.
"Kak biar aku makan sendiri" tolak Intan saat aku akan menyuapinya.
Aku memberikan piring yang ku pegang padanya, "Mamak keluar dulu ya? yang penting kamu gak papa"
Mamak keluar dari kamar kami setelah berpamitan.
"Kak! bagaimana kakak bisa tau kalau aku disekap di tempat itu" tanyanya setelah selesai makan
Aku tersenyum dan menggenggam tangannya,
Kusentuh kalung yang ber liontin biru, warna kesukaannya yang melingkar di lehernya
"Karena ini, aku sengaja menaruh chip di dalam ini agar aku selalu tau dimana kamu. Aku hanya ingin berjaga-jaga agar kamu tetap aman. Dan terbukti di hari pertama kamu memakai kalung ini, dengan ini aku bisa mengetahui posisi mu"
"Kalung ini pemberianmu, yang dipasangkan Sindy saat di ruang rias kemarin. Aku tak menyangka ternyata bukan hanya indah tapi juga bermanfaat, Terima kasih Kak" dia mencium pipiku dan memelukku, sepertinya dia malu, kulihat pipinya bersemu.
Bersambung.. . .
**Maaf gak bisa up tiap hari
__ADS_1
Aku masih di tanah kelahiran, masih sibuk ππ
Jangan lupa like komen dan vote ya yaπππ**