Korban

Korban
53.


__ADS_3

Terima kasih ya masih mengikuti cerita aku.


Maaf jika masih ada tupo bertebaran


Jangan lupa like komentar nya ya


Yuk kita lanjut πŸ‘‰πŸ‘‰


Malam jam 12 Intan baru sadarkan diri, syukur lah setelah di periksa dokter tak ada komplikasi. Tadi Sindy dan Kristin sudah pulang ba'da isya, awalnya Sindy bersikeras untuk menjaga Intan, namun Furqon memaksanya.


Dia harus menjelaskan pada Mamak dan di suruh kembali lagi siang besok, untuk bergantian menjaga Intan. Sedangkan Furqon akan mengurus kasus ini


Sebelum menjalankan kemoterapi nya, Lukman dan Sarah bermaksud menjenguk Intan dan meminta maaf atas segala yang terjadi


Dengan perasaan ragu dan bersalah, Sarah dan Intan melangkah keluar lift, mereka berjalan menuju kamar rawat Intan


"Mas tunggu di sini saja" Sarah mendudukkan sang suami di kursi tunggu di depan kamar,


dia mengantisipasi keributan yang akan terjadi.


"Assalamu'alaikum" Sapa Sarah ketika memasuki kamar, di lihatnya Mamak yang sedangkan duduk di samping Intan sambil memegangi Aathif, dan Sindy yang sedang mengupas buah.


Mereka semua menoleh pada Sarah


"Mbak Sarah" Sindy meletakkan pisaunya


Sedangkan Intan dan Mamak tertegun melihat Sarah yang terlihat berkaca-kaca


"Mbak Intan, Mamak" Sarah menghampiri Mamak dan memeluknya


Sarah menangis di pundak Mamak yang dianggap nya ibu sendiri


"Sarah apa kabarmu? " Mamak melepas pelukannya, dia memberi jarak agar bisa melihat Sarah


Intan yang sedang berbaring langsung duduk, dia ingin memeluk Sarah, orang yang membantunya keluar dari cengkraman Lukman, dan yang dianggap nya adik sendiri


"Baik Mak"


"Sarah" panggil Intan


Sarah pun menghampiri Intan dan memeluknya


"Mbak Intan hamil? "pertanyaan itu terucap dari mulut Sarah, setelah dia melepas pelukannya dan melihat perut Intan yang membesar


Intan mengangguk


"Selamat ya mbak, ini pasti Aathif" Sarah mengulurkan tangan pada Aathif yang duduk di sebelah mamak, Aathif pun menyambutnya


"Sindy" sapaan Sarah membuat Sindy yang sedari tadi terbengong heran melihat keakraban ke 2 kakak iparnya dan mamak terhenyak


"Kalian saling mengenal? " tanya Sindy memandang Sarah mamak dan Intan bergantian


"Dia lah yang membantu kami lepas dari cengkraman mas mu Lukman" Jawab Intan


Sindy jadi semakin terheran, pasalnya Sarah adalah istri dari Lukman, apa memang Sarah tulus membantu Intan, atau hanya akal-akalan Sarah menjauhkan Intan dari Lukman, lalu dia mendekati kakaknya


"Mbak Intan mau melahirkan?" Tanya Sarah

__ADS_1


"Belum, hanya ada sedikit insiden" jawab Intan


"Tapi mbak Intan gak pa pa kan? "


"Alkhamdulilah gak pa pa, kamu tahu aku di sini dari mana? "


"Eh...." Sarah menjeda ucapannya, dia mengatur perkataan nya agar suaminya mendapatkan maaf darinya


"Sebenarnya saya kesini karena kemarin melihat Sindy sama mas Furqon, dan mereka menyinggung nama mbak Intan"


Intan mengernyitkan dahinya


"Mas Furqon sama Sindy? " tanya Intan


"Kalian bertemu dimana? Kok kamu kenal mas Furqon sama Sindy? Ada apa sebenarnya? " Intan merubah posisi duduknya


"Sudahlah, kemarin hanya kebetulan saja. Sekarang silahkan mbak Sarah keluar" Sindy berusaha menutupi tentang pertemuannya dengan Lukman, dia tak mau Intan menjadi panik dan ketakutan.


"Tapi... " Sarah berusaha menolak saat Sindy menariknya keluar


"Sindy lepasin Sarah, dia udah kami anggap sebagai keluarga sendiri" Mamak melepaskan tangan Sindy pada Sarah


"Tapi Mak, dia itu... "


belum selesai berkata mamak sudah menyela


"Sindy, Sarah sudah seperti anak Mamak sendiri"


"Tapi dia adalah istri mas Lukman" ucap Sindy yang membuat Mamak dan Intan menatap Sarah,


"Jadi kamu beneran kamu yang menikah dengan Lukman? " tanya Intan dan di angguk ini oleh Sarah


"Jadi kamu yang menggantikan ku menikah? tapi bagaimana bisa? "


"Ceritanya panjang mbak. Sebenarnya aku kesini ada hal yang ingin seseorang sampaikan. Tapi aku harap mbak jangan marah dulu"


"Tunggu sebentar ya mbak" Sarah keluar dari kamar Intan dan memanggil Lukman agar masuk bersamanya


Mamak dan Intan begitu terkejut melihat Lukman yang datang bersama Sarah, Sindy yang sudah tau keberadaan Lukman sebelumnya tidak begitu terkejut. Namun dia heran dengan keberanian nya menunjukkan batng hidungnya pada Intan. Apa dia lupa dengan peringatan Furqon


Intan memeluk Aathif erat, dia takut Lukman mengambil anaknya, Mamak beranjak dari tempatnya dan menghampiri Lukman


"PLAKK" tamparan itu mendarat di pipi Lukman


"Apa yang kamu lakukan di sini? " bentak mamak, Lukman hanya terdiam, dia sadar semua ini karena perbuatan nya dulu


"Pergi kamu dari sini" Mamak mendorong tubuh Lukman, membuat Lukman terhuyung ke belakang. Dengan cepat Sarah yang berada di dekatnya menahan sang suami yang memang dalam keadaan lemah


"Mamak dengarkan mas Lukman, dia hanya ingin mengatakan sesuatu" Sarah mencoba melerai Mamak yang terus mendorong Lukman


"Mak Sarah mohon dengarkan Mas Lukman sekali ini saja"


"Tidak, kami tidak akan mau mendengar bahkan melihat baji**** ini" Mamak menatap tajam pada Lukman


Tiba-tiba Lukman duduk bersimpuh di lantai, dan dia menangis, mereka semua yang ada di dalam terdiam melihat tindakan Lukman.


Sarah ikut duduk di sebelah sang suami, dia menangis sambil memegangi lengan suaminya

__ADS_1


"Aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan, terutama pada mu Intan. Maaf aku telah menghancurkan hidupmu, maaf aku telah merusak masa depanmu dan membuatmu menderita"


"Mungkin aku tak pantas untuk di maafkan, tapi setidaknya berikan aku satu kata itu. Aku benar-benar menyesal, aku telah mendapatkan balasan dari Alloh, aku ingin jika aku mati aku bisa tenang. Aku ingin menyempurnakan tobat ku dengan meminta maaf padamu dan Mamak"


Lukman terlihat meneteskan air mata, dan kata yang di ucapkan sangt tulus. Sarah mengusap lengan suaminya


"Tolong maafkan mas Lukman Mak, mbak Intan. Agar mas Lukman bisa di mudahkan dalam penyembuhan nya"


"Sembuh? " tanya Sindy yang walaupun jengkel dengan kakaknya itu namun masih menyayanginya


"Ya, mas Lukman di vonis menderita kanker paru stadium 2, jadi mas Lukman kesini ingin meminta maaf atas segala salahnya. Saya harap Mamak dan mbak Intan mau memaafkan mas Lukman"


Sindy menatap lekat pada kakaknya yang masih bersimpuh dan meneteskan airmata nya, dia tak menyangka kakaknya yang suka bertindak semaunya sendiri itu sedang melawan sakitnya


Tak terasa air mata Sindy juga ikut menetes, Sindy terduduk di kursi yang tadi di duduki Mamak


"Apa betul itu? " Intan membuka suara, meski Lukman memberikan banyak luka padanya. Namun Karena kelembutan hati Intan dan ketulusan Lukman dan Sarah menggoyahkan hati Intan


Tiba-tiba hatinya menjadi terenyuh, dia tak tega melihat orang lain menderita apalagi ini yang notaben nya adalah ayah Aathif Anaknya


Mamak memandang Intan, dia tahu anaknya adalah orang yang lembut hatinya, dia pasti akan terenyuh dengan keadaan Lukman, orang yang menorehkan banyak catatan hitam di hidup Intan ini


"Berdirilah jangan seperti itu, aku memaafkanmu. Semoga Alloh mengampuni segala dosamu dan di angkat sakitmu" ucap Intan yang berdiri di depan Lukman sambil menahan tangan kanannya yang di infus


Lukman menatap Intan, dia berdiri di bantu oleh Sarah


"Terima kasih atas maaf yang kau berikan, dan Terima kasih atas doa mu" ucapnya masih dengan air mata yang menetes


Kemudian dia menghampiri Mamak yang berdiri beberapa langkah dari nya


"Maaf saya Mak karena membuat Mamak menderita, Maafkan atas perbuatan dan kata kasar saya" Lukman mencium punggung tangan mamak


Mamak hanya mampu mengangguk


Lukman juga menghampiri Sindy


"Sindy maafkan mas yang selalu membuatmu marah, maafkan jika mas menyakiti hatimu"


Sindy memeluk kakaknya yang terlihat berubah, dia merasa Lukman memeng benar menyesal. Entah harus senang atau sedih, karena Lukman bisa berubah walaupun dengan menanggung sakit yang parah


Ceklek..


Saat pintu terbuka, terlihat Furqon masuk dengan wajah senang. Dia ingin menyampaikan perkembangan kasus kemarin


Namun wajahnya mengeras saat melihat Lukman berada di kamar rawat istrinya. Furqon kembali menghambur ke arah Lukman untuk memukul Lukman


Brakk


terdengar pintu terbuka dengan kencang


"Hentikan" suara tinggi itu membuat Furqon menghentikan tangannya di udara, dan dia menoleh


Furqon menyipitkan matanya menatap wajah 2 orang di pintu.


BERSAMBUNG....


Terima kasih jangan lupa tinggalin like dan komentar ya

__ADS_1


__ADS_2