
yuk tinggalin jejak like dan coment ya. πππ
Malam ini Intan gelisah, tak nyaman dengan posisinya berbaring. Sakit itu datang hilang secara beruntun. Lina yang tidur di sebelahnya pun terbangun
"Ada apa In? " tanya Lina sembari menghadap Intan
"Perutku sakit mbak, tapi udah mendingan" Intan pun ikut duduk.
"Jangan jangan kamu mau melahirkan? "Lina bangkit dari duduknya
"Tapi HPL nya masih 2 minggu lagi"Intan menggosok punggung nya yang terasa sakit, sambil sedikit meringis
"HPL gak bisa jadi patokan, sakitnya datang lagi? " Intan mengangguk "Kamu tunggu disini dulu"
Lina menuju pintu sel yang terkunci, dia melihat kiri kanan mencari sipir, karena tidak ada Lin Lina memukul pintu besi itu
Teng... Teng... Teng..
Suara itu membangunkan penghuni sebagian sel itu
"Ada apa sih" tampaknya Santi mengucek matanya dan beranjak duduk di ikuti bu Maya
terlihat seorang sipir menghampiri
"Ada apa? " tanya sipir itu
"Bu! Intan kayaknya mau lahiran" Lina menujuk Intan yang meringis menahan sakit
Setelah melihat ke arah Intan sipir itu membuka pintu besi
"Ayo bawa dia ke klinik"Lina di bantu Santi memapah Intan. Bu Maya hendak mengikuti tapi dihadang oleh sipir
"Gak usah ikut, cukup 2 orang saja" kata sipir itu di ikuti anggukan kepala bu maya, lalu sipir itu mengunci pintu sel dan berlalu
Jam menunjukkan pukul 12 malam lewat.Dokter jaga klinik memeriksa Intan, terlihat Intan masih menahan sakit di pinggang.
"kita rujuk aja, ini sudah waktunya melahirkan" kemudian dokter Afni yang bertugas malam ini menulis surat rujukan ke rumah sakit bhayangkara terdekat.
Tak lama ambulan datang dan membawa Intan yang di temani seorang sipir, sedang Lina dan Santi kembali ke sel karena tidak di ijinkan menemani, sebelum kembali Lina meminjam telepon untuk menghubungi Mamak dan mengabarkan keadaan Intan.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kabar tentang Intan, mamak bergegas berangkat malam itu juga dengan mengendarai motornya menuju rumah sakit.
Sepanjang jalan mamak terus berdoa untuk keselamatan anak dan calon bayinya. Ketika dia sampai dan menanyakan pada petugas, mamak langsung menuju ruang bersalin.
Di depan ruang bersalin di jaga oleh seorang polisi dan seorang polwan
"Maaf! saya ibunya Intan, bisa saya masuk mendampingi anak saya? "tanya mamak
" Tunggu disini biar kami tanyakan pada dokter,"seorang polwan masuk ke ruang bersalin.
Tak lama dia keluar dan mengizinkan mamak masuk, didalam mamak melihat Intan sudah dalam posisi siap bersalin,
Intan menoleh kearah pintu yang baru saja dibuka
"Mamak" ucap Intan lirih sambil menahan sakit.
Mamak menghampiri Intan dan memegang telapak tangannya, seolah menyalurkan kekuatan untuk Intan.
"Kamu pasti bisa! " mamak mengangguk mengisyaratkan baik baik saja
Berkali-kali Intan menjerit karna rasa sakit yang sangat, berkali-kali pula mamak menguatkannya.
"Tarik nafas ya, nanti kalau saya bilang ngejan baru ngejan ya? " ucap bidan ber nametag Suri mengarahkan.
Terlihat Intan menjerit kesakitan, dia mengejan sesuai arahan bidan. Setelah 4 kali mengejan suara bayi memecah dan bersamaan dengan airmata haru keluar dari mata mamak dan Intan.
Bidan melihat jam didinding
"Bayinya lahir pukul 04:30, jangan lupa di catat Sus" bidan Suri mengingankan
"Baik bu" jawab suster sambil menggendong bayi yang masih berlumuran darah.
"Selamat ya bu bayinya laki-laki, ganteng lagi. Saya bersihkan dulu ya bayinya"
bayi itu diserahkan pada seorang perawat, kemudian bidan kembali menangani Intan, mengeluarkan plasenta dan darah, lalu menyuntik Intan
"Ini bayinya sudah siap si beri asi pertama?" suster memberikan bayi yang sudah bersih dan dibedong dengan kain yang tadi dibawa Intan, ya perlengkapan bersalin dan bayi sudah di siapkan jauh hari, dan tadi dibawakan oleh mbak Lina saat di klinik rutan
Mamak menerima bayi itu dengan senyum yang mengembang sempurna
__ADS_1
"Sudah ada yang akan mengadzani bayinya?" tanya suster itu lagi.
Mamak dan Intan saling berpandangan dengan wajah sendu, dan mamak menggeleng pelan
Bidan Suri yang melihat mereka memcoba membantu
"Kalau gitu tunggu sebentar ya? "bidan Suri keluar dari ruangan, tak lama seorang polisi yang tadi berjaga di depan masuk.
Bidan Suri mengambil bayi dari mamak dan menyerahkan pada polisi yang bernama Yudha Iskandar dan dia mengadzani dan mengomati di masing-masing telinga bayi
" Terima kasih pak"ucap Intan ketika menerima bayinya
"Sama-sama. Bayi yang lucu ganteng. Semoga jadi anak yang sholeh, berbakti dan membanggakan" jawab pak yudha sambil menyelipkan doa. dan dia pamit untuk berjaga lagi
Mamak membantu Intan membenarkan posisi untuk memberi asi. Intan memiringkan badannya agar mudah memberi asi pertama nya.
Dengan insting bayi itu langsung menyusu dengan kuat, Intan meneteskan airmata karena perasaan haru dan bahagia.
"Kasih nama apa ya bayinya? " tanya mamak sambil membetulkan selimut Intan
"Aathif" Intan menyebut satu nama, mamak tersenyum
"Aathif! iya bagus. aathif aja?" tanya mamak.
" Mohammad Aathif, artinya anak laki-laki yang memiliki belas kasih"jawab Intan sambil mengelus pipi bayinya
Mamak tersenyum dan mengangguk menyetujuinya,
"Kami harap kamu akan jadi orang yang selalu berbelas kasih dan peduli pada siapapun, sesuai dengan namamu" mamak membelai kepala bayi Aathif.
Intan menyusui bayinya dengan bergantian di kanan kiri, setelah kenyang Aathif melepaskan putxxx ibunya, dan ia pun tidur denganh nyenyak
Asi Intan sudah berlimpah, Intan mencoba memerah asi dengan cara memencet nya dengan jarinya. Tentu dengan diajari mamak
Hasil perasan asi disimpannya didalam gelas kaca dan ada 2 gelas 150ml.mamak meminta plastik untuk asi pada bidan dan menitipkan nya di kulkas rumah sakit.
Siang itu Intan sedang tidur dan disebelah kanan bayi Aathif di letakkan di dalam box bayi, mamak memandang bayi yang tertidur nyenyak setelah meminum asi dari Intan.
"Semoga dedek bisa jadi penyemangat bunda ya, jangan rewel dan manja. Kasian bunda, dedek Aathif harus jadi anak sholeh yang berbakti dan membahagiakan orang tua"
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 3 sore saat Aathif terbangun. Meski tidak menangis namun Aathif bergerak gerak seakan ingin lepas dari bedong. Mamak pun mengeluarkan kedua tangan Aathif dari ikatan bedong.
Benar saja dia pun semakin aktif dan tertawa tanpa suara. Mamak sangat senang melihat tingkah aathif. "Subhanallah cucu mbah pinternya, jangan rewel ya dek"walau tahu Aathif belom bisa melihat tapi mamak berkomunikasi dengan menyentuh tangan manggilnya, dan Aathif pun merespon dengan menggenggam nya.