
"Halo Sindy"sapa Ratna pada anak gadisnya
Ratna masih belum puas dengan obrolan nya bersama pak Rahmat, dia pun memutuskan menghubungi Sindy langsung
"Assalamu'alaikum bu"jawab Sindy
"Waalaikum salam"
"Ada apa bu?"
"Benar kamu di Lamar?"tanya sang ibu to the poin
"Iya, ibu udah dapat kabar dari mas Furqon kan?"
"Kamu nih gak sopan ya, ngapa kamu gak ngomong langsung sama ibu" cerocos Ratna
"Maaf Bu. Lagian sama aja kan mas Furqon juga bagian keluarga kita" Sindy mengalah dari pada panjang urusan
"Ya enggak dong, yang berkepentingan kan kamu ngapa mas mu yang di suruh ngomong"
"Iya iya maafin Sindy ya bu"
"Sekarang ibu tanya siapa lelaki itu?apa lebih baik dari Ilham"
"Udah deh bu, jangan bahas Ilham lagi males aku. Lagian apa sih yang ibu lihat dari si Ilham itu? terlepas dia itu anaknya PAK LURAH" Sindy memberi penekanan pada kata pak lurah
"Ya tentu bibit bebet bobotnya to"
"Bu.Tak selamanya bibit bebet bobotnya yang ibu sebut itu menjadi jaminan kebahagiaan. Lagian ibu kok ya Seneng bener jodoh-hodohin anak sih, ntar juga kalau waktunya jodoh itu juga datang"
"Kamu tu kalau di bilangin susah bener, kamu ketularan sama kakak ipar mu itu pasti"
"Udah deh bu gak usah bawa orang lain"
"Pokoknya ibu gak mau kamu dapat orang sembarangan kayak mas mas mu itu"
Sindy mendengus mendengar ibunya
"Terserah ibu aja lah, yang penting ibu datang aja biar tau siapa yang lamar Sindy"
"Udah dulu bu, aku mau sholat isya, udah di tunggu sama yang lain. Assalamu'alaikum"
Sindy buru-buru mematikan sambungan telepon malas berdebat dengan ibunya itu
Sindy pun turun bergabung dengan yang lain untuk sholat isya.
Pagi ini aktivitas berjalan seperti biasa, karena libur sudah usai. Di meja makan sudah tertata menu untuk sarapan pagi ini.
"Mas nanti anterin aku ya ke kampus, hari ini sidangnya skripsi nya di majuin" Ucap Sindy yang baru duduk, di sendoknya nasi goreng di wadah dan tak lupa telor ceplok melengkapi
"Mas gak bisa, pagi ini langsung ke pengadilan. ntar jam 8 sidang vonis sudah di mulai" Furqon menyuapi Aathif
"Bukannya masih beberapa hati lagi?" tanya Sindy
"Di majuin sama pengadilan"
"Semoga Si cewek Gaje itu dapat hukuman yang berat" Sindy menyuap nasi ke mulutnya dengan geram
"Gaje apaan?" Mamak
"Gak jelas mak" jawab Sindy nyengir
"O alah. Ada-ada saja kamu " mamak menggelengkan kepalanya
"Udah selesaikan sarapan mu ntar ketinggalan sidang gak jadi wisuda gak jadi nikahnya"kali ini Intan yang baru bergabung setelah menyusui Gema ikut bicara
"Emang apa hubungannya?" tanya Sindy sambil mendengus
"Gak usah nunggu wisuda, sekarang aja nikahnya gak pa pa" Suara Adrian yang baru datang mengalihkan perhatian semua
"Eh kok pagi-pagi udah kesini?" tanya Sindy pada Adrian yang langsung duduk di sampingnya
"Ni dari mama, katanya buat lamaran besok"Adrian menyerahkan paper pada Sindy
"Cie yang lamaran" goda Intan sambil menyuapkan nasi ke mulutnya
Sindy mencebikkan mulutnya pada Intan.
Lamaran plus tunangan rencana akan di laksanakan besok siang habis dhuhur di rumah Lukman
"Kebetulan kamu ke sini, anterin sekalian Sindy. Pagi ini dia mau sidang" Ucap Furqon mengelap mulut Aathif
"Kok gak ngomong sih?" tanya Adrian
"Emang kenapa? " tanya balik Sindy
"Kan aku bisa nungguin, lah kalau hari ini ada jadwal operasi" Adrian terlihat menyesal
__ADS_1
"Ngapain di tungguin? orang sidangnya tertutup" Sindy
"Kan bisa lebih semangat lebih konsentrasi dan lancar"
"Alah itu mah bisa bisanya kamu"
Mamak dan yang lain hanya tersenyum melihat perdebatan kedua nya
"Tante jangan ribut ah, berisik" Aathif menghentikan perdebatan mereka
"udah ayo makan dulu nak Adrian" Mamak menyerahkan piring kosong pada Adrian
"Terima kasih mak" ucap Adrian menerima piring dan mengarahkan pada Sindy
Sindy mengerutkan keningnya
"Kenapa?" tanyanya
"Ambilin dong, latihan melayani suami" Adrian mengangkat alisnya sambil tersenyum
"Apaan sih tinggal ambil sendiri ini" Ucap Sindy malas
Namun pada akhirnya dia mengambil piring dari Adrian yang masih mengarahkan piring padanya.
Di ambilkannya nasi goreng dan telor ceplok ke dalam piring dan menyerahkan kembali pada calon suaminya itu
"Makasih sayang" ucap Adrian sambil memakan nasi
"Udah main sayang, katanya mau panggil mami papi" goda Intan
"Oh iya. Makasih mami" ralat Adrian
"Apaan sih, udah cepet habisin ntar akunya telat"
"Eh jangan jutek sama calon suami ntar kabur lho" Intan kembali menggoda adik iparnya
"Gak akan kabur kok mbak. Biarpun jutek sadis sekalipun tetep akan di perjuangkan" Adrian tanpa malu mengangkat tangannya bersemangat
Antara senang dan malu Sindy tak bisa mengungkapkanya. Yang dia lakukan adalah segera menyelesaikan sarapan pagi yang terasa berat ini.
"Sudah ayo kita berangkat" Sindy berdiri dengan mengalungkan tasnya di bahu dan akan beranjak
"Ya ampun Sindy, ini nakal Adrian belum selesai sarapan nya" ujar mamak
"Ya udah aku tunggu di depan, pamit dulu assalamu'alaikum" Sindy menghampiri Furqon dan mencium punggung tangan nya.
Setelah menyelesaikan sarapan nya Adrian juga pamit menyusul Sindy di depan dan segera menuju kampusnya.
"Semoga berhasil ya yah, hati-hati di jalan"Intan mencium tangan sang suami di ikuti Aathif.
Furqon mencium kening Intan tan juga Aathif bergantian sebelum masuk ke dalam mobil dan melajukan nya.
"Mak nanti Intan ikut ya kalau belanja" I
ucap Intan setelah masuk ke dalam
Mamak yang masih di dapur menoleh pada Intan "Mamak ke pasar lho tan gak swalayan"
"Iya Intan nanti sampai rumah Sarah aja, bantuin sedikit sedikit. Lagian adah kakung dan uti nya Anak-anak gak enak kalau gak ke sana"
"Kamu gak pa pa kalau ke sana?" mamak terlihat khawatir pasalnya sang ibu mertua belum sepenuhnya menerima anaknya sebagai menantunya
"Gak pa pa mak. Lagian di sana kan pasti banyak orang,"
"Ya sudah terserah, yang penting nanti kalau mertua mu itu macam-macam lawan saja"
"Mamak nih ada ada aja, bagaimana pun dia juga mertua Intan"
"Walaupun dia mertuamu, ingat dia itu licik"
"Iya nanti Intan akan hati-hati"jawab Intan mengalah, sepertinya mamaknya itu masih menyimpan sedikit jengkel dengan mantan sahabatnya dulu
"Ayo kalau ikut, mamak sudah siap" Mamak dan bik Nah sudah membawa tas belanjaan.
Intan masuk ke kamar menggendong Gema sang putri yang masih tertidur dengan hati-hati. Tak lupa dia membawa dompet dan keluar
30 menit kemudian mobil sampai di rumah Lukman. Intan keluar bersama Aathif dan menggendong Gema.
Mang Oding membuka bagasi mobil belakang dan membawa beberapa kotak kue yang tadi sempat Intan beli di toko roti saat perjalanan tadi.
"Assalamu'alaikum" Intan mengetok pintu
Tak lama Sarah keluar sambil menjawab salam
"Waalaikum salam, masya Alloh anak-anak mama datang" Sarah sedikit jongkok karena perutnya yang sudah membesar mencium Aathif dan kemudian beralih ke Gema
"Bertiga aja mbak" Tanya Sarah sembari cipika cipiki dengan Intan
__ADS_1
"Iya, tadi sama mamak dan bik Nah. Mereka turun di pasar"
"Ini taruh dimana Nya?" tanya mang Oding yang menenteng beberapa dus kue
"Oo, taruh di meja saja pak" Sarah menunjuk meja di ruang tamu
"Saya permisi Nya, mau nunggu mamak sama bik Nah" pamit Mang Oding
"Oh iya Pak. Terima kasih ya"
"Di jemput jam berapa Nya?" tanya mang Oding sebelum pergi
"Gak usah pak, nanti ayah Aathif ke sini kok"
"Kalau begitu saya permisi Nya, mbak Sarah, assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"jawab mereka serempak
"Kok repot bener mbak bawa kayak ginian segala" Ucap Sarah sambil berjalan ke dalam bersama Intan dan anak-anak nya
"Eh cucu kung yang ganteng udah datang" sapa pak Rahmat yang ada di ruang tengah menyambut sang cucu
"Akung... "
Di raihnya Aathif yang menghambur padanya dan menggendongnya
"Wah abang tambah gendut nih, akung keberatan gendongnya" pak Rahmat bergaya seolah keberatan
"Kan abang rajin maem sama minum susu, jadi abang sekarang sudah besar" celoteh Aathif
"Wah hebat abang nih" pak Rahmat mencium pipi cucunya dengan gemas
"Pak apa kabar?" Intan mencium tangan bapak mertuanya dengan hormat
"Alkhamdulilah sehat, kalian sehat semua kan?"
"Iya pak Alkhamdulilah"
"Cucu cantik kung apa kabar?"pak Rahmat mencium Gema yang ada di gendongan Intan
"Furqon gak ikut?" tanya bapak
"Nanti katanya habis sidang akan nyusul kesini. Ibu mana pak?"
"Ada di belakang lagi bikin kue katanya"
"kami ke belakang dulu pak"
"Sini biar Gema bapak gendong"
pak Rahmat mengambil cucu perempuan nya itu dari gendongan ibunya
"Cantiknya cucu akung" bayi yang kini sudah berumur 5 bulan itu pun tertawa di gendongan kakeknya
"Titip ya pak, nanti kalau rewel biar bawa ke belakang ya pak"
"Iya"
Intan dan Sarah menuju kebelakang sambil membawa kotak-kotak kue tadi
"Bu"sapa Intan pada mertuanya yang sedang terlihat menggadon kue
Di raihnya tangan mertuanya yang seperti malas dan mencium nya
"Ada yang bisa Intan bantu bu?"
"Gak usah ini juga sudah cukup, ibu juga akan selesai. Bik Sum ni tolong terusin"
Ratna menyerahkan adonan kue yang sepertinya sudah siap
"Bikin apa bu?"tanya Intan lagi
"Bolu"jawabnya singkat
Intan sudah menetapkan hatinya apapun tentang mertuanya itu akan Intan hadapi
"Sudah kalian di depan aja, biar di sini di tangani sama mereka" Ibu berdiri dan mencuci tangannya di wastafel dapur
Terlihat di dapur ada empat orang dengan bik Sum sedang membuat persiapan lamaran besok.
Bersambung
Terima kasih like komentar nya
tunggu cerita ku selanjutnya 1 episode lagi aku tamatin
nantikan MENGEJAR CINTA SANG JANDA
__ADS_1