
**Maaf baru bisa nulis
kesibukan di tanah kelahiran membuatku terlena
Terima kasih masih mengikuti cerita ku.
Yuk kita lanjutkan
jangan lupa tinggalin like dan komentar nya ya
Lanjut πππ**
"Assalamu'alaikum" sapa Intan dan Furqon saat masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam. Wah borong nih" Sindy yang asyik menonton berdiri, menghampiri Intan Furqon yang kesusahan membawa begitu banyak kantong plastik.
"Banyak bener makanannya, mau pesta? " Sindy membawa sebagian kantong yang di pegang kakaknya sambil mencium aromanya.
"Jagoan tante tidur nih" Tak lupa Sindy mencium Aathif yang terlelap di gendongan Intan
"Bunda ke atas dulu nidurin dedek, Oh ya mamak mana? " Intan mengedarkan pandangannya ke ruangan tengah.
"Mamak lagi di masjid depan, ada pengajian" jawab Sindy sambil terus sibuk membuka kantong-kantong yang di letakkan di meja makan.
Setelah memastikan Aathif terlelap dan nyenyak di boks nyanya, Intan menuju ke lantai bawah.
"Ini mah bukan nyidam tapi kalap" Sindir Sindy pada Intan yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi makan.
"Ini tu kerjaan mas mu, aku cuma mau martabak telor spesial, eh dianya malah yang borong" Intan melirik pada Furqon yang selesai memindahkan makanan dari kantong-kantong nya ke piring-piring.
"Gak papa, nanti bisa kita bagi sama penghuni yang lain" jawab Furqon enteng, dia pun ikut duduk di sebelah Intan sambil menaruh sepiring martabak telor yang telah di hangatkan
"Makasih ya Yah" Intan menerima suapan dari Furqon
"Cih pamer, mesra-mesraan di depan jomblo" Sindy mencebik sambil menggigit jagung bakar.
"Jomblo kok awet" ledek Furqon
"Bukannya udah ada Rudi ya" celetuk Intan sambil tersenyum meledek. Sindy mendelikkan pada Intan agar diam
"Rudi siapa lagi? jangan pacaran aja, inget lagi skripsi. Konsetrasi, awas aja ya kalau skripsinya di tolak" Furqon menatap adiknya dengan mengancam.
"Mana ada, orang kita cuma temenan. Mbak Intan ini mulutnya emang kok, ntar aku pecat jadi kakak ipar"
"Yang ada kamu yang mas pecat jadi adek"
"Ish segitu gak terimanya" Sindy kembali menggigit jagungnya.
Intan semakin tertawa melihat perdebatan kedua Saudara itu
"Sudah sudah, tolong bawain ini buat pak Slamet di depan"
__ADS_1
Intan memberikan sepiring martabak pada Sindy
"Siap nyonya meneer"
Sindy pun beranjak ke depan.
Furqon memberikan segelas susu dan sebutir vitamin dari dokter kandungan nya
"Nih minum dulu susunya, sama vitaminnya. Ingat kata dokter, jangan capek"
Intan memandang Furqon dengan haru. Dulu saat dia hamil Aathif tak ada yang membuatkannya susu, hanya vitamin yang dia konsumsi.
"Kenapa sayang" Furqon mengusap air mata Intan yang turun tanpa permisi
Intan menggeleng, dia malah memeluk Furqon yang duduk di sebelah nya. Furqon mengusap rambut Intan, Intan seperti sedang menahan tangisnya pada dada Furqon.
"Kenapa sayang, aku ada salah ya? " Furqon menjauhkan tubuh Intan saat dirasa Intan sudah mulai tenang
Intan menggeleng
"Aku hanya teringat saat hamil Aathif, walaupun banyak yang memperhatikan ku, namun ku rasa sekarang sangat berbeda. Perasaan ku sekarang sangat bahagia, Terima kasih atas perhatian kakak"
"Aku mohon kakak masih menyayangi Aathif saat bayi ini lahir" Intan memegang perut datarnya
FurqoFurqon kembali memeluk Intan
"Sayang, sampai kapan pun Aathif akan menjadi anak sulung tersayang kita. Tak akan ada pembedaan pada kasih sayang pada semua Anak-anak kita, kita didik dan sayangi mereka bersama-sama"
Intan meminum sampai habis susu yang di minum kan oleh Furqon.
Intan terbangun saat mendengar suara adzan, Tangan Furqon yang melingkar pada perut Intan membuatnya tak bisa berdiri.
"Ayah bangun, udah subuh"Intan mengguncang bahu Furqon
Furqon mengeliyat dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
Bukannya bangun, Furqon malah semakin mengeratkan tangannya pada tubuh Intan.
" Ayah, cepet bangun, berat ini lho"Intan berusaha mengangkat tangan Furqon dari pinggangnya
"Ayo keburu habis waktu subuhnya, mana belom mandi wajib juga, ayah.... "
Mau tak mau Furqon pun duduk
"Mandi bareng yuk sayang" Furqon malah merangkul Intan yang akan beranjak berdiri
"apaan sih" Intan berusaha melepaskan tangan suami nakalnya itu dari bahunya
"Ayolah kak, keburu habis waktunya. Bunda mandi dulu, Ayah tunggu aja dulu" Intan berjalan menuju kamar mandi menggunakan selimut yang di balut di tubuh polosnya.
"Jangan tiduran lagi, ntar kebablasan" teriak Intan sebelum masuk kamar mandi
__ADS_1
"Iya iya" jawab Furqon malas malasan, dia pun segera beranjak dari ranjang agar tak tergoda dengan bantal.
"Gimana Tan? apa kata dokter? " Tanya mamak saat di Intan dan Furqon baru duduk di meja makan.
Mereka memang belum memberi tahu tentang pemeriksaan Intan, karena Intan sudah lelah dan langsung tidur sebelum jam 9 malam. Sedangkan mamak baru pulang dari pengajian jam 9:30 malam.
"Alkhamdulilah mak, iya Intan udah isi 6 minggu" ucap Furqon sambil mengelus perut rata Intan
"Alkhamdulilah, kalau gitu jangan kecapekan an ya, jaga Baik-baik kesehatannya"
"iya mak Terima kasih" jawab Intan
"Abang Aktif belum bangun? " tanya Sindy yang baru bergabung
"Kan Aatif uda mau punya adek jadi panggilnya sekarang jangan dedek lagi, tp abang" ucap Sindy mencomot satu tempe di meja
"Kan semalem juga udah di bilang panggilnya abang" protes Sindy saat panggilan untuk Aathif di ganti kakak oleh Furqon.
"Kalau panggil kakak ntar kayak mbak Intan panggil mas Furqon, kalau panggil Mas ntar kayak aku manggil dong"
"Ya sudah gak usah ribut, panggil apa aja" sela Intan, namun tiba-tiba perutnya terasa mual dan dia pun berlari menuju wastafel dapur, dan memuntahkan cairan bening, karena memang dia belum makan apapun
Furqon yang mengikuti Intan mengurut tengkuk Intan dan menahan agar rambutnya tak ke depan.
"Sayang... kamu gak papa? "
Intan masih terus mengeluarkan isi perutnya sampai terasa pahit.
Setelah di rasa tak ada lagi yang di muntah kan, Intan membasuh mulutnya.
Dengan sigap Furqon menggendong Intan yang lemas dan mendudukkan nya di kursi makan
"Sudah mendingan" Intan mengelap keringat di wajahnya
"Nih minum dulu obat anti jualnya" Furqon menyiapkan obat yang di dapatnya saat ke dokter kemarin
Setelah meminum obat dengan air Intan memejamkan matanya
"Gak pa pa Tan, Bawaan bayi kayak gitu, gak lama kok paling 4 bulan"Mamak menggosok punggung Intan
" Yang sabar ya bunda, kalau bisa Ayah ingin gantiin bunda kayak gini. Biar bunda gak menderita "
"Beneran?? "
Dengan mantap Furqon mengangguk
"Ada-ada aja, udah ah. Ini juga udah mendingan"
Intan meminum susu hangat yang tadi di buatkan suaminya
"Sana Ayah siap-siap katanya mau ke pengadilan"
__ADS_1
Bersambung..