
Terima kasih Masih menyimak cerita ku
Jangan lupa like dan komentar nya ya ππ
Maaf selama saya di tanah kelahiran tak dapat inspirasi yang okπππ
Aathif tampak senang di gendongan Furqon. Intan mengikuti mereka dari belakang, sebenarnya ada sedikit kebahagiaan yang terselip dihatinya saat melihat pemandangan itu.
"Ayolah sayang! nanti kamu ilang lagi" Furqon menggandeng tangan Intan dan meneruskan jalan menyusuri ramainya pasar malam.
Intan yang masih canggung menurut saja saat tangannya digenggam Furqon, toh menolak pun percuma, Furqon terlalu kuat menggandeng Intan.
"Wah ini keren" Furqon melepaskan tangan Intan dan mengambil kaos couple family 3 yang masing-masing bertuliskan AYAH, BUNDA, ADIK.
Intan mengerutkan dahinya dan memandang Furqon. Ini buat jalan-jalan kita besok.
"Gak perlu kak"
"Siapa yang meminta pendapat padamu? Aku hanya memberitahu saja"jawab Furqon santai, lalu memberikan Kaos-kaos itu pada penjualnya.
" kan! seenaknya sendiri" gerutu Intan.
Furqon kembali menggandeng tangan Intan.
"Yuk dek kita main komedi putar" Furqon memberikan Aathif pada Intan dan menyuruhnya duduk menunggu dirinya membeli tiket wahana.
Setiap hari minggu Furqon mengajak Aathif dan Intan jalan-jalan,Furqon sebenarnya mengajak mamak, tapi mamak selalu menolak. Ke mall, pantai, taman bermain dan sebagainya, minggu Ini Furqon mengajak mereka ke pasar malam.
Berulang kali Intan menolak jika diajak keluar oleh Furqon, namun dengan paksaan dan bujukan dari mamak dan Sindy, akhirnya Intan menuruti saja.
Aathif sudah berumur 1 tahun, dia sudah mulai berjalan. Bahkan dia sangat akrab pada Furqon, jika melihat Furqon dia selalu meminta gendong.
Sekarang mereka berada di dalam biang lala. Aathif terlihat begitu senang. Dia berdiri di atas kursi sambil di pegangi Furqon.
Setelah puas berkeliling dan bermain Aathif tertidur di gendongan Furqon.
" Sini kak biar aku yang gendong "
"Gak usah, nanti kebangun"
Furqon meletakkan Aathif pada kursi khusus bayi di jok belakang, dan masang kan save belt. Lalu dia membukakan pintu disamping kemudi untuk Intan.
"Capek ya? " tanya Furqon di tengah kegiatan menyetir nya.
Intan hanya menggeleng.
"Kalau ngantuk tidur aja"
Intan memposisikan diri pada kursi untuk tidur, daripada dia harus mengobrol dengan Furqon yang ingin dia hindari
"Sudah aku bilang berkali-kali, jangan samakan aku dengan anak tengik itu"
__ADS_1
Intan sekilas menoleh pada Furqon yang yang masih memandang pada jalan di depan.
"Aku dan dia berbeda, dia juga bukan saudara kandungku, dan aku tidak suka kalau kamu selalu menyangkut pautkan kesalahan dia denganku" Furqon menarik nafas mengatur emosinya.
"Intan! aku mohon jangan kamu bersikap seperti itu padaku"
"Maksudnya? "
"Kamu terlalu dingin padaku, aku sering kali bilang, aku tulus padamu aku menyayangimu dan Aathif. "
Furqon menepikan mobilnya
"Intan! bukalah hatimu untukku"
Mata Furqon menghujam kedalam bola mata Intan, dia bisa melihat kesedihan yang mendalam disana.
Tatapan itu membuat hati Intan berdesir seakan di siram air hujan, terasa sejuk dan menyegarkan.
Namun sejurus kemudian Intan tersadar bahwa lelaki di depannya ini adalah salah satu anggota keluarga yang membuatnya terpuruk. Tak ada dendam, hanya saja Intan ingin terhindar dari keluarga Rahmat.
"Intan! Jadilah pendampingku,jadilah ibu dari anak-anak kita.
Buatlah hari-hari yang aku lalui indah.
Menikahlah dengan ku, ijinkan aku menjadi pelindungmu, menjadi imammu"
Intan semakin terlihat tegang, Intan tak bisa menjawab mulutnya terasa gagu.
"Kak antarkan kami pulang sekarang" alih-alih jawaban, Intan malah mengeluarkan kalimat perintah
Furqon menghela nafas kasar.
Memang harus lebih bersabar lagi batin Furqon.
Akhirnya Furqon menginjak gas dan mengantar Intan dan Aathif pulang.
Keheningan yang terasa di dalam mobil, membuat pikiran mereka berkelana sendiri-sendiri
____&______&&_______&&______
"Assalamu'alaikum"
Intan melihat Furqon dan Sindy sedang berbincang serius dengan mamak saat dia masuk rumah.
"Waalaikumsalam, sudah pulang tan? kok cepet? ini kan masih jam 2" mamak berdiri menghampiri Intan dan mengajaknya duduk.
Intan mengerutkan keningnya, dia melihat kearah Furqon yang duduk bersila di depannya, sedang Sindy disebelah Furqon sedang tersenyum kearahnya
"Gimana kabar kamu In?"sapa Sindy masih tersenyum
" Baik, gimana kuliahmu? "balas Intan canggung
__ADS_1
" Lancar "
"Ada apa ya kalian kesini? " tanya Intan
Mamak mengusap bahu Intan
"Intan! Nak Furqon kesini ingin melamar mu"
Intan tercekat dengan omongan mamak, dia melihat mamak dengan tatapan ragu
"Mamak tahu siapa kak Furqon sebenarnya? " tanya Intan pada mamak
Mamak mengangguk
"Tapi kenapa mamak.. . "
"In! Pikirkan masa depanmu dan Aathif. Sekarang waktunya kalian berdua bahagia, Ini adalah jawaban atas segala kesabaran mu selama ini,buah dari ketabahanmu. "
Mamak menggosok punggung tangan Intan
"Bahagialah nak" mamak mengelap air mata Intan, dia mengangguk.
Sindy menghampiri Intan
"In, jadilah kakak iparku dari mas Furqon. Aku sangat menyayangimu, aku tak mau kamu menderita. Bahagialah bersama mas Furqon"
Sindy menggenggam tangan Intan dengan penuh harap.
"Untuk yang kesekian kalinya, aku memintamu menjadi Istri dan juga anak-anak kita. Aku tak bisa menjanjikanmu kebahagiaan, tapi aku akan berusaha membahagiakan kamu Aathif dan anak-anak kita yang lain"
"Aku akan berusaha menjaga hati dan perasaan kalian, aku juga akan berusaha menjadi imam yang baik untuk kalian"
Furqon memandang Intan dengan penuh keyakinan.
Intan melihat mamak Furqon dan Sindy bergantian. mereka mengangguk meyakinkan Intan.
Intan memejamkan matanya, menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan pelan, lalu dia mengangguk pelan.
"Alkhamdulilah" ucap mereka serempak.
Mamak dan Sindy memeluk Intan.
Sedangkan Furqon dia merasakan lega di hati.
Bersambung
Maaf tak bisa nulis banyak, benar-benar gak ada Inspirasi
Terima kasih masih mau membacanya
Jangan lupa like dan komentar juga voteππππ
__ADS_1