
Terima kasih masih membaca ceritaku๐๐
Terima kasih juga untuk Like dan komentar nya๐๐๐
Yuk kita lanjut๐๐๐
"Hallo mas" sapa Sindy saat panggilannya sudah diterima
"Assalamu'alaikum sin"
"Iya waalaikum salam. Maaf lupa, mas di mana kok mbak Intan gak ada? "
"Kami di kamar bersalin. Tadi mbak mu kontraksi"
"Oh ya sudah aku ke sana, Assalamu'alaikum"
Sindy mematikan sambungan setelah mendapatkan balasan salamnya
Dengan tergesa-gesa Sindy turun di lantai bawah dan bertanya di pusat informasi letak ruang bersalin.
Sindy segera ke lantai 3 tempat ruang bersalin. keluar dari lift Sindy melihat Mamak dan Aathif yang sedang duduk di kursi.
"Mak gimana mbak Intan? " tanya Sindy lalu dia mengintip di jendela yang tertutup
"Kita do'akan saja semoga bisa lancar lahirannya"
"Apa mungkin gara-gara kejadian tadi mbak Intan jadi konstraksi? "
"Entahlah, tapi memang sudah bulannya ddia melahirkan. Semoga di lancarkan semuanya, di beri sehat s3lamat semuanya"
"Aamiin" ucap Sindy dan Aathif bersamaan
Walaupun Aathif tak tau tentang konflik yang terjadi, namun anak lelaki yang kini berumur 2 tahun itu mengerti dengan doa Neneknya itu
Sindy menciumi Aathif dan duduk di sebelahnya. Mamak dan Sindy merasa cemas dengan keadaan Intan di dalam
Di dalam ruangan Furqon mendampingi Intan, kadangkala dia mengusap perut dan punggung Intan yang sedang merasakan sakit karena kontraksi.
Furqon merasakan perasaan senang dan bahagia karena akan lahir nya anak mereka,
namun ada rasa sedih dan kasihan ketika melihat kesakitan yang di rasakan istrinya. Andai bisa dia ingin dirinyalah yang merasakan sakit itu
Dokter dan perawat sudah bersiap dengan persalinan Intan yang sudah pembukaan lengkap ini, dengan Intruksi sang dokter Intan berusaha sekuat tenaga agar bayinya lahir d3ngan selamat.
Tak lama kemudian suara bayi yang nyaring memenuhi ruangan, dokter menyerahkan sang bayi pada suster agar di bersihkan, sedangkan dokter menangani Intan.
Furqon menghadiahi ciuman yang bertubi-tubi pada setiap inci wajah Intan, Intan terharu dan menangis bahagia atas kelahiran sang buah hati yang kata dokter seorang bayi perempuan. Intan juga bahagia akan perlakuan Furqon padanya, dari pembukaan awal 3 jam lalu hingga persalinan usai.
Mamak dan Sindy juga merasakan kebahagiaan yang besar saat mendengar kabar dari seorang suster yang keluar dari ruang persalinan.
Furqon segera meng adzani dan meng qomati sang buah hati yang di beri nama Gema Rizkiana Putri
Furqon menggendong nya mengikuti Intan yang di pindahkan ke ruang rawatnya.
Furqon yang baru pertama kali menggendong bayi terlihat agak kaku, namun dia berhati-hati agar sang bayi tak terjatuh.
Suster menengkurapkan sang bayi pada dada Intan, itu untuk merangsang bayi agar mengenali put*** ibu. Intan Furqon dan mamak senang sekali saat sang bayi bisa menggapai put*** sang ibu dan mulai menyedotnya dengan rakus.
Perasaan bahagia dan harus menggelayuti hati Intan, sama halnya ketika dia menyusui Aathif untuk pertama kali.
Intan berharap dia akan bisa menyusui Bayi Gema secara langsung, dia ingin bisa selalu ada dan merawat anak-anak nya samai dewasa
Furqon mengusap air mata yang mengalir di pipi Intan, dia tahu bahwa air mata itu adalah tanda kebahagiaan.
sambil merangkul kan tangannya pada bahu Intan, Furqon memperhatikan sang putri yang sedang menyusui pada sang ibu.
__ADS_1
"Sayang jadi anak yang sholekha selalu sehat ya" doa Furqon
"Aamiin" jawab mamak dan Intan
"Dedek bayi" Aathif yang baru saja masuk bersama Sindy menghambur pada Ayahnya.
Dengan cepat Furqon mengangkat Aathif dan meletakkannya di samping Intan yang sedang menyusui
"Nda... Ini adek abang? " tanyanya dengan wajah berbinar
"Iya ini adek abang, namanya adek Gema, sini sapa dulu adeknya" ucap Furqon sambil mengusap kepala Aathif
"Assalamu'alaikum adek Gema, ini abang Aathif"Aathif mencium pipi adeknya, dan saat sang adek bereaksi dengan kepalanya, Aathif begitu senang
"Nanti kalau dedek udah besar, kita main bareng yuk" celoteh Aathif, Aathif memang sudah bisa mengucap huruf R dengan jelas.
"Abang janji ya akan selalu jagain Dedek Gema sama Bunda, selalu melindungi mereka dan bahagiakan keluarga" ucap Furqon
Aathif mengangguk mantap
"Iya Aathif janji ayah"ucap Aathif mantap
"Eh bukan janji tapi... "Intan menggantungkan katanya
"InsyaAllah"sahut Aathif, diikuti tawa yang lain
" Anak ayah pintar "Furqon memangku Aathif
" Anak bunda juga ayah"Aathif mengingatkan
"Oh iya anak bunda juga"balas Furqon
"Cucu Mamak juga"lanjut Aathif
Tak ayal tingkah Aathif mengundang tawa semuanya, hingga bayi Gema terganggu dan menangis
" Hust.. hust"Aathif menempelkan jari telunjuk pada mulutnya, menyuruh yang lain diam
Bukannya diam Sindy malah tertawa kencang, lalu menutup mulutnya dengan tangannya menahan tawa
"Tante jangan berisik"Aathif menekan suaranya
"Iya, Maaf... maaf"
Furqon sudah mulai lemas dan blihai menggendong bayi, dia menimang putrinya agar tertidur. Lalu meletakkan sang bayi pada boks bayi di samping bangkar Intan
"Mbak makan dulu, tu tadi aku belikan nasi di depan" Sindy mengeluarkan 5 kotak nasi dari plastik yang tadi di bawanya bersama Aathif
Dan memindahkan nya pada piring lalu memberikannya pada Furqon. Dengan telaten Furqon munyuapi Intan
Dan yang lain juga mulai makan
"Mas udah jam segini, kita sholat dulu"ajak Sindy
" Oh iya. Kamu dulu yang sholat nanti aku menyusul. Mamak juga ikut sholat sama Sindy, tu di situ gak pa pa"Furqon menunjuk tempat dekat sofa yang lumayan luas
"Ayah sholat aja dulu biar bunda makan sendiri" ucap Intan
"Gak usah bunda, bunda gak boleh banyak gerak, biar cepet pulih. Ya kan bang? "ucap Furqon menaikan alis pada Aathif yang sedang makan, dan di balas anggukan
"Ayah musti bersuci dulu bunda, ni yang terakhir" Intan menerima suapan terakhir dari Furqon
"Gimana keadaan Lukman Sin?"tanya Intan pada Sindy yang selesai sholat
"Entahlah mbak, aku belum lihat. tadi sih dia lagi kemo, semoga aja cepet sembuh"
__ADS_1
"Aamiin"
"Bagaimana dengan bapak dan ibu? "tanya Intan lagi
Sindy yang menyimpan mukenah di lemari mengangkat bahunya
"Apa mereka marah? "tanya Intan lagi
"Mbak, harusnya yang berhak marah tu mbak Intan bukannya mereka. Mbak lah yang selalu disakiti mereka"ucap Sindy dengan penuh penekanan
"Aku sudah memaafkan semuanya, aku hanya takut kak Furqon dan kamu akan di anggap anak durhaka"Intan terlihat bersedih
"Tan! "Mamak menyentuh bahu Intan
"Jangan pikirkan mereka, sekarang yang paling penting adalah kesehatan kamu dan bayi mu. Jangan sampai kamu stress memikirkan ini semua, nanti ASI mu berkurang"
"Tapi Mak.. "
"Gak usah tapi tapi an, nanti biar aku yang urus mereka. Bunda harus rileks, ingat kita udah punya 2 krucil"Furqon yang baru keluar dari kamar mandi ikut menyahuti kecemasan Intan
Intan hanya mengangguk, meski dia belum bisa tenang atas kejadian semua.
Benar saja saat selesai sholat magrib, Furqon mendatangi kamar rawat Lukman
"Assalamu'alaikum"sapa Furqon saat masuk, walaupun Furqon tak begitu suka dengan keluarga nya, namun dia berusaha bersikap sopan
"Waalaikumsalam"jawab pak Rahmat
"Furqon, masuklah nak" pak Rahmat menghampiri anak nya yang lama tak dia jumpai
Ada rasa bahagia dan tumpahan rindu yang ia pendam karena kedatangan anak sulungnya
"Ayo masuklah, duduklah disini"Pak Rahmat mengajak Furqon duduk di sofa yang tadi ia duduki
"Bagaimana kabar mu nak, maaf tentang kejadian tadi. Bapak begitu menyesalkan itu semua"
Furqon hanya diam tanpa menyahuti bapaknya, di hatinya sebenarnya ada masih ada sedikit rasa marah karena bapaknya itu tak punya ketegasan dalam sikapnya,
"Bagaimana keadaan Lukman? "tanya Furqon mengalihkan pembicaraan
dilihatnya Lukman yang tertidur dengan infus di tangannya, mungkin dia masih kelelahan menjalani serangkaian pengobatan
"Ya begitulah, namun kata dokter tadi sudah banyak perkembangan kesehatan nya, semoga ini kemo terakhirnya"
"Syukurlah kalau begitu"ucap Furqon datar
"Di mana yang lainnya? " tanya Furqon mengedarkan pandangannya pada ruangan.
"Ibu mu sedang ke depan mencari makan sama Sarah"
Untuk beberapa menit ruangan terasa sunyi, tak ada yang memulai percakapan, mungkin karna kecanggungan diantara mereka.
"Bapak bersyukur kamu bisa sukses sekarang, maafkan bapak karena telah mengabaikan mu dulu" pak Rahmat membuka percakapan
"Sudahlah pak, tak usah di ungkit lagi. Bagaimana pun, darah bapak mengalir pada tubuh saya"Furqon sengaja menjeda ucapannya
"Saya hanya ingin, jangan mengganggu kehidupan saya dan istri serta anak-anak kami. Saya tak mau keluarga kecil saya jadi tak tenang"lanjut Furqon dengan nada sesopan mungkin
"Tapi boleh kah kami mengunjungi kalian? bagaimana pun juga anak Intan juga cucu-cucu bapak"pak Rahmat sedikit mengiba
Furqon terdiam sejenak
"Asal bapak dan istri bapak tidak membuat kekacauan lagi"jawab furqon tegas
" Bagus ya kamu"sebuah suara terdengar bersamaan pintu terbuka..
__ADS_1