Korban

Korban
57


__ADS_3

**Terima kasih masih mengikuti cerita ku😊😘


Terima kasih juga like dan komentar nya juga vote nya😍😘


Yuk kita lanjutπŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰**


Setelah kepergian pak Rahmat, Furqon melaksanakan sholat isya, dan mengajak Aathif tidur di kasur untuk penunggu pasien yang di sediakan rumah sakit


Tak lama Aathif yang memang sudah mengantuk pun tidur, Furqon melangkahkan kaki menuju ke brankar sangat istri.


Dilihat nya istrinya itu sudah terlelap. Di tariknya selimut hingga ke dada sang istri, tak lupa kecupan di kening mendarat cukup lama.


Mengungkapkan rasa Terima kasih dan cinta untuk istri yang sudah menemaninya selama setahun lebih ini.


Lalu Furqon mengambil laptop dan membukanya. Mulailah dia berkutat menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, melihat perkembangan kasus yang menimpa istri nya beberapa waktu lalu


Sementara itu di kamar rawat Lukman, pak Rahmat baru saja masuk


"Assalamu'alaikum"Ucapnya sambil membuka pintu


"Waalaikumsalam"


"Dari mana saja sih bapak dari tadi bapak, baru balik jam segini"ocehan Ratna dengan melihat jam di dinding yang menunjukkan angka mendekati 10.


Tadi setelah meninggalkan kamar Intan, pak Rahmat tidak langsung kembali ke kamar Lukman. Namun pak Rahmat ke taman depan rumah sakit, merenungi segala masalah yang menimpa pada keluarga nya


Pak Rahmat berfikir bahwa kekacauan yang terjadi selama ini akibat ulah istri nya, Ratna.


Dulu pak Rahmat menikahi Ratna setelah 2 tahun meninggal nya istri pertamanya, agar dapat mengurus Furqon yang baru berusia 3 tahun.


Awal pernikahan memang Ratna marawat Furqon dengan baik, namun setelah kelahiran Lukman, Ratna lebih mementingkan anak kandungnya itu. Pak Rahmat tak mempermasalahkan asal Ratna tak menyakiti fisik Furqon, dan masih merawatnya


Kepergian Furqon dari rumah dulu juga salah satu kesalahan Ratna yang membela dan memanjakan Lukman, dan pak Rahmat yang tak bisa tegas dan kurang bijak dalam melihat masalah.


Akibat didikan dari sang ibu yang memanjakan Lukman. menjadikan anaknya itu tak bisa di kendalikan, dan berujung kesalahannya pada Intan.


"Pak di tanya dari mana malah diam saja?" Suara Ratna menyadarkan pak Rahmat dari diamnya


"Sudah bu sekarang sudah malam, mari pulang. Biarkan Lukman istirahat "ucap pak Rahmat


"ya tau udah malam bukannya cepat balik, malah kelayapan gak jelas"


"Jaga ucapan ibu"sarkas pak Rahmat membuat Ratna terdiam


"Ayo kita pulang"Pak Rahmat menghampiri Sarah yang duduk di sebelah suaminya yang tertidur tanpa memperdulikan istrinya yang terdiam


"Sarah kami pulang dulu ya?kalau ada perlu apapun telp bapan"sarah mengangguk dan menyalami dan mencium tangan bapak mertuanya dan berjalan untuk menyalami ibu mertuanya


"Ya sudah, kamu juga harus istirahat biar gak kelelahan, besok insyaallah kami kesini lagi"pamit pak Rahmat


"Mereka orang baik, tak

__ADS_1


"Assalamu'alaikum"pak Rahmat keluar sambil menarik istrinya agar segera pulang


"waalaikumsalam"jawab Sarah sambil menutup pintu kamar dan mengistirahatkan dirinya di kasur lantai yang dia letakkan di samping brankar suaminya.


Dalam perjalanan pulang pak Rahmat hanya diam saja saat istrinya bertanya tentang dirinya yang diam


Di jakarta pak Rahmat mempunyai 1 rumah yang dia beli beberapa tahun lalu, tak luas mamang, hanya rumah minimalis.


Sesampainya di rumah pak Rahmat masuk yang sudah di buka oleh Ratna, tanpa melihat istrinya dia berlalu masuk ke kamar mandi yang ada di sebelah dapur


Sedangkan Ratna setelah mengunci pintu dia mulangsung menuju ke dapur untuk minum


"Pak sebenarnya kenapa sih?dari tadi diam saja "tanya Ratna saat pak Rahmat keluar dari kamar mandi


"Bu, besok ibu harus menemuai Intan dan mamaknya"ucap pak Rahmat


"Untuk apa ibu harus nemui mereka?"tanya Ratna dengan nada tinggi


"Ibu harus minta maaf sama mereka"tegas pak Rahmat


"Apa?minta maaf? untuk apa ibu harus minta maaf pada mereka? memangnya mereka siapa?"


"Apa ibu belum sadar, selama ini ibu selalu mendzolimi mereka, ibu memfitnah mereka, ibu memasukkan Intan ke penjara karena kesalahan anak kita"pak Rahmat meninggikan suaranya


"Intan masuk penjara karena ulah dia sendiri yang mencemarkan nama baik keluarga kita?"


"Intan tak pernah mencemarkan nama baik keluarga kita, Lukman memang salah dia pantas mendapat ganjaran, harus nya dia bertanggung jawab atas segala kesalahannya. Tapi ibu malah memfitnah dan memenjarakan Intan"


"Mereka orang baik, tak pernah melakukan hal licik seperti yang ibu lakukan"


"Jadi bapak lebih memilih mereka dari pada ibu istri bapak sendiri?" Ratna semakin tersulut


"Cukup tak ada perdebatan lagi. besok kalau ibu tak meminta maaf pada Intan dan mamaknya, jangan harap ibu bisa hidup bersama bapak dan anak-anak lagi"


Ratna begitu terkejut dengan ucapan suaminya


"Ma.. maksud bapak.. "


"Ya, jika ibu tak minta maaf pada Intan da n mamaknya, bapak pastikan ibu menjadi janda"potong pak Rahmat


Ratna terdiam mencerna ucapan suaminya, dia tak percaya kalau suaminya berkata seperti itu. Suami yang selalu bisa dia bujuk menjadi lain


"Bapak tega melakukan itu pada ibu?"akhirnya kata itu terucap dengan nada bergetar, saat pak Rahmat sudah berada di depan pintu kamar


"Itu semua karena ulah ibu sendiri. Juga ibu harus minta maaf pada Furqon"pak Rahmat memutar knop pintu dan memutarnya


"Satu lagi. Ibu harus merubah sikap buruk ibu selama ini, agar rumah tangga kita bisa berlangsung"pak Rahmat langsung masuk dan menutup pintu, meninggalkan istrinya terbengong di dapur


Pagi ini saatnya Lukman melakukan kemoterapi lagi, setelah mandi mereka menunggu perawat yang akan menjemput


"Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam"


Sindy masuk dengan membawa 2 kantong plastik dan menaruhnya di meja


"Sindy"ucap Sarah


"Iya, ini aku bawain beberapa roti dan buah buat kalian. Kata mas Furqon biasanya habis kemo perlu banyak vitamin dan cairan"jawab Sindy


"Oh ya, sarapan dulu tadi aku bawain makan dari rumah, mamak yang masak"


"Terima kasih sin, gak usah repot kayak gini"ucap sarah


"Gak kok, kan sekalian ke mbak Intan. Gimana mas Lukman?udah enakan?"


"Alkhamdulilah, semoga hari ini kemo terakhir"jawab Lukman


"Terima kasih ya, kamu masih perduli pada mas, walaupun selama ini kadang mas jahat sama kamu"ucap Lukman


"Sudahlah mas, bagaimana manusia semua punya salah. Yang penting apakah dia mau memperbaiki, lagi pula mas adalah saudara kandung ku, darah yang mengalir dari dalam tubuh kita sama"


"Apa mamak dan Intan sudah memaafkan mas?"tanya Lukman


"Insya Allah mereka memaafkan mas, mamak juga tadi titip salam. Beliau belum bisa lihat mas, soalnya lagi gak enak badan, ini aja aku ke sini sendirian. Mau jagain mbak Intan, mas Furqon mau ke kantor Firman yang sebentar, ada yang mau di urus"


"Mas Furqon jadi orang sukses beneran"ucap Lukman sambil tersenyum


"Aku belum minta maaf padanya, karena aku mas Furqon harus pergi "sesal Lukman


"Mas Furqon pasti sudah memaafkan mas Lukman"Sindy menenangkan


"Lain waktu boleh kan kami ke rumah mas Furqon?"tanya Lukman


"Tentu, nanti kalau mas Furqon mengadakan akikah, mbak Sarah sama mas Lukman datang saja"


"Ya sudah aku mau ke kamar mbak Intan, beres-beres dulu"ucap Sindy yang sudah berdiri


"Mbak Intan mau pulang hari ini?"tanya Sarah


"Iya sore mungkin, setelah mas Furqon pulang dari Kantor nya"


"syukurlah, nanti kami boleh ke sana kan?"tanya Sarah


"Nanti aku tanyakan mbak Intan, sini aku minta no kalian"Sindy menyerahkan ponselnya pada Sarah


Setelah menyimpan no dan miscall Sarah mengembalikan ponsel Sindy


"Ok, aku ke atas dulu. Semoga cepet sehat pulih seperti sedia kala, Assalamu'alaikum"pamit Sindy


"Aamiin, waalaikum salam"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2