
**Terima kasih masih mengikuti cerita ku, jangan lupa tinggalin jejak like komentar dan vote nyaππ
Yuk kita lanjut ππ
Intan masih tergugu dengan pengakuan Sindy. Intan tak menyangka, 2 anggota keluarga yang menghancurkan masa depannya ada di depannya. 1 adalah sahabatnya, 1 lagi adalah orang yang mulai mendekatinya.
Intan berdiri dari duduk, dia mundur perlahan. Sindy dan Furqon sedang sibuk melepas rindu tak menyadari Intan telah berlalu.
Saat Furqon tak melihat Intan, dia melihat ke sekitar, Intan juga tak terlihat.
"Intan" Furqon berusaha mengejar Intan yang sudah keluar dari kafe dan menaiki angkot yang dia hentikan.
"Intan" Furqon memanggil Intan yang telah berlalunya. Furqon berlari menuju mobilnya.
"Mas aku ikut" Sindy mendekati Furqon yang akan masuk mobil.
"Masuklah" Sindy dan Furqon masuk mobil dan langsung tancap gas.
"Mas kenal sama Intan? " tanya Sindy
Furqon menoleh sebentar
"Kamu juga kenal? " Furqon balik tanya.
"Dia sahabat aku dari SD. Bahkan dia pernah main kerumah, mas juga pernah melihatnya"
Furqon berfikir sejenak, pantas saja saat melihat Intan sepertinya dia tak asing lagi.
Dulu saat Sindy masih SD kelas 3, Furqon sekolah SMA itupun di kota. Jadi dia pulang kalau libur.
"Mas kenal sama Intan dimana? "
Furqon bingung akan menjawab apa? karena hubungan mereka baru saja dimulai hari ini.
"Kamu tau kenapa Intan pergi? " Tanya Furqon mengalihkan
Sindy melihat kakaknya yang baru dia temukan, sudah bertahun lamanya mereka tidak jumpa, bahkan kabar pun tidak ada.
"Jawab pertanyaan Sindy dulu mas! "
Furqon menoleh pada Sindy sambil menaikan alisnya, berpura-pura tidak tahu maksud Sindy.
"Apa mas mengenal Intan? " pertanyaan itu meluncur lagi dari adik perempuannya.
"Mas... baru hari ini mulai pendekatan dengan Intan" Furqon menjeda ucapannya.
Sindy terlihat tercengang, ada rasa senang tapi juga kuatir.
"Kenapa kamu seperti itu? " tanya Furqon yang melirik adiknya tengah melongo.
"Mas beneran suka sama Intan? "
Furqon mengangguk masih konsentrasi mencari angkot yang di naiki Intan. Karena mereka kehilangan jejak Intan saat di lampu merah.
"Mungkin ini adalah alasan Intan pergi tadi. Mas tau gak? Aathif itu anak dari mas Lukman"Furqon langsung menghentikan mobilnya, untung pas lampu merah jadi masih aman.
Furqon melihat kearah Sindy dengan penuh emosi. Tangannya memegang erat kemudi, sedangkan rahangnya mengeras.
__ADS_1
" Apa maksudmu? "tanya Furqon dengan penekanan.
Sindy melihat kondisi tak memungkinkan untuk bercerita di jalan. Bisa-bisa nyawa mereka terancam karena Furqon bisa emosi tingkat dewa, dan ngebut.
" Kita bicara di kost an Sindy mas. Perempatan depan belok kiri"Sindy mengarahkan Furqon yang mulai menginjak gas.
_____&______&_______&_____
"Sekarang jelaskan padaku" Furqon tak sabar mendengar penjelasan Sindy.
Sindy menghela nafas.
"Sabar dulu dong mas! baru juga duduk. Sindy ambilin minum dulu "
"Gak usah" Furqon menahan tangan Sindy yang akan masuk kedalam. Saat ini mereka ada di depan teras kost an Sindy.
"Duduk dan jelaskan sekarang" perintah Furqon membuat Sindy tak punya pilihan.
Sindy duduk di sebelah Furqon dan menghadap padanya.
"Tapi Sindy minta sama mas Furqon jangan marah sama Intan" pintar Sindy
Furqon hanya mengangguk.
Sindy memulai bercerita tentang kejadian yang menimpa Intan, dan perjalanan hidupnya.
Furqon nampak lebih emosi, Anak dari perempuan yang dia benci selalu membuat ulah. Bahkan perempuan yang dinilai ayahnya setelah meninggalnya sang ibu itu, selalu membela dan memanjakan anak yang notabene adalah adik satu ayah dengan dirinya.
Masih teringat jelas oleh Furqon bagaimana dia bertengkar dengan Lukman, dan ibunya itu ikut membela anak kesayangan yang salah asuhan oleh ibunya.
Dulu Furqon memergoki Lukman sedang berbuat yang tak senonoh pada pacar Furqon di dalam kamar Lukman.
Bapaknya yang baru pulang dari kota, termakan oleh ucapan sang istri. Bapaknya pun mengusirnya tanpa mau mendengarkan penjelasan Furqon.
Sindy yang masih kelas 4 SD tak mengetahui perkara sebenarnya. Dia hanya sayup-sayup mendengar keributan itu dari kamarnya. Sarah pun selalu menanyakan keberadaan kakak sulungnya itu. Namun selalu dijawab kalau dia kabur karena tak perduli dengan keluarga.
Sindy tak pernah percaya dengan semua yang ibu dan kandungnya itu. Dimata Sindy kakak sulungnya adalah orang yang baik penuh kasih sayang padanya, walaupun mereka lain ibu.
Sindy juga tak menyangka, ternyata mereka berdua bertemu di ibukota. padahal Sindy sudah 3 tahun berada di kota yang sama dengan kakaknya.
Lukman memukul sandaran kursi yang ditumpunya.tangannya mengepal menandakan begitu marah dan kecewa.
Matanya memandang kedepan, merah dan di penuhi dendam. Mukanya yang tampan memerah di penuhi murka.
"Mas mau kemana? jangan berbuat macam-macam. Jangan di butakan emosi" Sindy menggeleng sambil memegang tangan Furqon yang berjalan keluar pagar.
"Mas istighfar. Mas sekarang konsentrasi pada Intan dan anaknya aja. Tutup luka hatinya mas. Sindy yakin mas pasti bisa menaklukkan hati Intan" Sindy memeluk Furqon.
"Intan gadis baik mas, hanya nasibnya saja yang tidak seberuntung orang lain" ucapan Sindy sama Persis seperti yang diucapkan Kristin.
"Mas Furqon.. "Sindy menatap lekat Furqon yang masih tak bergeming
" Mas.. berjanjilah mas bahagiakan Intan. Dia adalah sahabat Sindy mas. Sindy sayang padanya seperti saudara sendiri "Sindy meneteskan airmatanya.
" Jangan menangis lagi "Furqon menyapu air mata Sindy dengan tangannya.
" Tanpa kamu minta, mas akan berusaha membahagiakan calon istri mas. Yang artinya dia jugak akan jadi kakak ipar mu"Furqon mulai melunak . Dia membelai rambut sebahu Kristin.
__ADS_1
Furqon melepas pelukannya.
"Udah malam, masuklah. Besok mas akan berjuang buat Intan" senyum Furqon dan Sindy mengembang sempurna.
"Oh iya." Furqon mengurungkan niatnya masuk kedalam mobil. Dia menghampiri Sindy lagi.
"Mas mau mengajakmu tinggal dirumah mas. kamu mau? "
Dengan cepat Sindy mengangguk
"Tentu mau"
"Kalau gitu kamu beresin barang kamu yang penting aja. Pamit sama ibu kost, sore kalau mas jemput. "
Sindy mengangguk lagi.
Setelah saling menukar no ponsel, Furqon pulang, dan Sindy pun membereskan barangnya.
Intan menangis terisak memeluk Aathif.
Aathif menepuk-nepuk pipi Intan, seolah dia menghapus air mata bundanya.
"Maafin bunda ya sayang! Bunda gak bermaksud membuat dedek sedih juga. Bunda hanya ingin kuat bersama dedek. Dedek harus selalu menemani bunda ya! Jangan tinggalkan bunda"
"Alloh memberikan kamu pada bunda agar bunda tak bersedih lagi"
"Alloh ingin bunda kuat"
Intan menciumi pipi Aathif, Aathif membalasnya dengan ocehan
"Nda... nda.. ma.. . ma.. . " celoteh Aathif sambil memegang dan meraba wajah Intan.
Intan meraih tangan Aathif, lalu menciumnya.
Tadi setelah Intan pergi dari cafe itu, Intan merasa tak tenang.Intan hanya diam termenung didalam angkot yang hanya diisi oleh beberapa penumpang saja.
Intan memutuskan untuk berhenti di taman yang tak jauh dari kontrakan, suasana tak sepi namun tak ramai juga.
Intan duduk dibangku dekat trotoar. Dia menenangkan pikirannya. Memandangi orang yang lalu lalang dengan pandangan kosong.
Intan tersadar dari lamunannya saat mendengar adzan isya dari masjid dekat komplek.
Intan berdiri hendak kembali. Dia teringat dengan Aathif anaknya yang ada di kontrakan. Intan langsung pulang.
Intan tak berani bercerita dulu dengan Mamak. Takut kesehatan mamak terganggu.
setelah sholat isya Intan memutuskan untuk masuk kamar dulu dengan Aathif. Sedangkan mamak mengikuti pengajian ibu-ibu seRT.
Setelah lelah menangis, Intan tertidur bersama Aathif yang sedang menyusul
Bersambung.. . .
**Maaf ya aku gak bisa nulis banyak.
Author nya lagi persiapan otewe ke kampung halaman ππ
Jangan lupa like dan komentar juga vote
__ADS_1
thanks yaπππ**