
Intan dan Sarah kembali ke ruang tamu meninggalkan dapur.
Baru saja mereka mendudukkan diri di sofa ruang tengah, terdengar salam dari luar
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam" Sarah berdiri dengan susah payah karena perut yang sudah membesar
Lukman terlihat masuk, dan Sarah menghampiri nya lalu mencium tangan suaminya yang baru kembali dari gudang di daerah Bintaro
"Eh abang, apa kabar nak" Lukman duduk di karpet tempat Aathif bermain, diciumnya kepala anak biologis nya itu setelah tangannya di cium Aathif
"Adek Gema udah pinter kemana-mana nih" Lukman juga mencium Gema yang sedang menyeret badannya dengan tengkurap
"In.. " sapa Lukman canggung
Intan yang juga masih canggung hanya mengangguk ringan sambil tersenyum
meski hubungan mereka sudah mulai membaik namun kecanggungan masih menyelimuti mereka
Lukman yang masih merasa bersalah atas perlakuan nya dulu, sedang Intan perasaannya masih entahlah.
"Main dulu ya? Papa mau masuk dulu" pamit Lukman pada Aathif
"Nanti papa main lagi kan sama abang?" tanya Aathif
"Tentu sayang, papa bau mau ganti baju sama cuci tangan"
Lukman masuk ke kamar di ikuti Sarah setelah Aathif mengangguk
"Kamu tadi ke sini cuma ber tiga aja?" tanya Ratna yang baru masuk dari dapur dan duduk di sofa sebelah kanan Intan kemudian menghidupkan TV
"Tadi berangkat sama mamak dan bik Nah, tapi mereka turun di pasar untuk belanja" jawab Intan sambil mengalihkan perhatian nya pada mertuanya itu
"Sopan bener di sini lagi repot malah enak enakan belanja" cibir Ratna yang langsung dapat teguran dari suaminya
Ratna pun diam dan sibuk dengan acara di depannya
"Furqon gak ke sini?" tanya pak Rahmat mengalihkan pembicaraan
"Nanti pak, dari pengadilan langsung ke sini. Hari ini pembacaan Vonis jadi ayah Anak-anak harus datang" jelas Intan
Ratna langsung mendengus mendengar ucapan Intan, pasalnya dia masih belum rela Intan menjalin hubungan dengan keluarga nya
__ADS_1
Intan hanya menghela nafas pelan melihat tanggapan dari mertuanya, dan Ratna juga mendapat tatapan tajam dari pak Rahmat
Ratna dengan santai tak menghiraukan suaminya kembali asik dengan layar kaca yang menayangkan acara gosip
Intan turun ke karpet ikut bermain dengan Aathif dan Gema bersama Kakung mereka. Kemudian Sarah dan Lukman pun keluar dan duduk di karpet ikut bermain dengan Aathif dan Gema
Pas adzan dzuhur Furqon baru datang, dia berbincang sebentar dengan keluarga nya lalu pulang bersama Intan dan anak mereka.
Sedang di kampus Sindy yang sudah menyelesaikan sidangnya memilih untuk bercengkrama dengan Teman-teman nya di kafe dekat kampus.
"Beneran nih lo besok lamaran? " tanya Tamara teman geng Sindy bersama dengan Firda dan Nana.
Mereka kenal dari awal masuk kampus dan satu jurusan juga satu sifat, manja dan sedikit jutek. Jadi mereka merasa cocok dan akrab begitu saja.
Sindy yang masih menyuap bakso ke mulutnya hanya mengangguk
"Kok bisa sih? perasaan baru beberapa bulan putus dari si sableng udah serius sama yang lain" celoteh Firda
"Atau jangan jangan kamu cuma jadiin pelarian doang" sahut Nana tak mau kalah
"Auww sakit tau" Nana menggosok kepalanya yang di pukul Sindy dengan sendok
"Makanya kalau ngomong jangan asal, pelarian, emang gue atlit apa?" Sindy kembali memakan bakso nya yang tinggal sebiji
"Enak aja, ngapain gue harus mikirin orang edan sableng macam dia" Sindy menyedot es teh di gelas besar depan nya
"Walaupun gitu dia juga pernah ada di hati lo kan" ledek Tamara
"Anggap aja itu cuma mimpi buruk" timpal Sindy
"Ehem" sebuah deheman menginstrupsi obrolan mereka
Otomatis mereka bertiga melihat ke arah sumber suara yang ada di belakang Sindy
"Kamu kok disini?" tanya Sindy kaget
"Iya mau jemput kamu" jawabnya enteng lalu duduk di sebelah Sindy
ketiga teman Sindy pun saling menoleh dan menyenggol, lalu mata mereka serempak memandang Sindy seolah bertanya tentang lelaki di sebelah Sindy itu.
"Oh kenalin ini.... "belum sempat Sindy meneruskan perkataan nya sudah di sela
"Adrian calon suami Sindy"
__ADS_1
Adrian bergantian berkenalan dengan The genks
"Sin calon lo cakep banget" bisik Nana yang ada di sebelah Sindy
"Biasa aja" jawab Sindy tak berbisik
"Gila lo kayak gini lo bilang biasa, apa kabar dengan Ferdi?" Nana yang memang paling ember sendiri langsung bercuap tanpa malu
Adrian yang di puji hanya senyam senyum saja
"Saya manggilnya apa nih? mas aja ya?" Si Tamara kambuh centilnya, Adrian hanya mengangguk setuju
"Mas Adrian itu kerja apa sih?" lanjutnya
"Cuma dokter" Adrian yang mencoba akrab dengan temannya Sindy mendapat pelototan Sindy yang malah membuatnya gemas, dan tanpa aba-aba menarik sebelas pipi Sindy
"Cie romantis nya" goda ketiganya serempak lalu cekikikan
"Ih gak usah cekikikan kaya kunti kalian" sewot Sindy
"Dok kenalin dong sama temen-temen doktenya" Firda
"Lain kali ya, sekarang aku mau bawa temen kalian dulu ya"
Adrian berdiri dan menarik tangan Sindy dengan lembut agar mengikutinya
"Gak pa pa dok bawa aja, tapi jangan lupa bayar punya kami juga" Tamara mulai pasang mode gratis
"Oke kalian nikmati aja" jawab Adrian melangkah pergi diiringi godaan teman Sindy
"Makasih ya Dok, sering sering ya"Firda mengencangkan suaranya yang pada Adrian dan Sindy yang sudah berjalan menuju kasir
"Selamat menikmati suasana berdua" lalu ketiga tertawa
Bersambung....
Makasih like komentar nya ya temans
Jangan lupa mampir di MENGEJAR CINTA SANG JANDA.
tinggal juga like komenn'y ya
__ADS_1