
sesampainya di stasiun Intan melihat kekanan ke kiri. dia takut Lukman mana menangkap mereka.
"mbak mak semoga baik-baik aja ya di sana" Sarah memeluk mamak dan Intan ketika mau masuk ke dalam stasiun
"iya.kamu juga, Hati-hati dengan Lukman dia licik. kalau ada apa-apa hubungi kami" pesan mamak.
"mbak ini no baru mbak ganti aja. udah aku registrasi kok. tinggal makai. jangan lupa pindah dulu no yang ada" Sarah menyerah kan SIM card dan Terima Intan.
"Terima kasih atas semua bantuanmu Sarah. maaf kami menyusahkan kamu" ucap Intan sembari memegang tangan Sarah
"gak kok mbak. walaupun baru bertemu tapi aku merasa kalian adalah keluargaku. " Sarah menghapus air matanya yang sempat menetes.
"tetap aja kamu sangat banyak membantu kami, semoga kamu mendapatkan pendamping yang baik" ucap mamak
"aamiin, semoga kalian juga bahagia dan hidup tenang setelah ini"
tiba-tiba ponsel Intan berbunyi. Intan terkejut saat melihat siapa yang melakukan panggilan.
"Lukman "ucap Intan dengan muka paniknya. Sarah dan mamk pun juga tak kalah terkejut.
" angkat aja mbak biar dia gak curiga "
belum sempat diangkat mamak menyahut ponsel Intan
"ya.. ada apa? " tanya mamak ketus saat megangkat panggilan dari Lukman
"wah mamak kok gitu sama calon menantu" jawab Lukman sok akrab.
"gak usah banyak ngomong ada apa? " mamak masih dengan nada ketus
"Intan mana mak? aku mau ngomong"
"gak bisa dia sedang maskeran sama luluran, ngomong aja"
"oh ya sudah nanti biar aku telfon lagi. assalamu'alaikum mamak"
mamak langsung mematikan panggilan dan me non aktifkan ponsel Intan.
"udah aman" mamak menyerah kan ponsel pada Intan
"Sarah kami masuk dulu. 30 menit lagi keretanya datang. sekali lagi Terima kasih"
Sarah bergantian memeluk mamk dan Intan juga menciumi Aathif.
"bibi akan kangen sama Aathif, Aathif yang sehat ya. jangan rewel" kembali Sarah menciumi Aathif
mereka saling melambai saat mamak dan Intan masuk kedalam ruang tunggu keberangkatan.
sesuai dengan jadwal jam 4 Sore kereta datang dan mereka pun naik bersama penumpang lain. setela mendapat no tempat duduk, mereka segera menempatinya.
"mak kira-kira kali ini kita berhasil gak lepas dari Lukman" tanya Intan saat kereta sudah mulai berjalan
"semoga saja. sudahlah kita jalani aja yang sudah terjadi. ini kayaknya Aathif lapar" mamk menyerahkan Aathif pada Intan untuk disusui.
_________&_____________&__________
pagi jam 5:30 kereta yang dinaiki Intan sudah sampai di stasiun kota. mereka turun bersama dengan para penumpang lainnya.
setelah keluar dari stasiun mereka sengaja duduk di kursi tunggu luar stasiun.
ini adalah pertama kali mereka menginjakkan kaki di ibu kota, ada perasaan takut dan was-was.
"mak sekarang kita mau kemana? "
"entahlah.yang penting kita sudah tidak terjangkau Lukman"
"semoga Lukman tidak tahu kita kesini" harap mamak. sebenarnya kepergian mereka sudah direncanakan, walaupun ada sedikit kendala tapi mereka sudah berhasil menghindari Lukman.
mereka membeli tiket kereta dengan nama orang lain dan memakai foto copy KTP orang itu.agar keberadaan mereka tidak dilacak.
"ayo kita lanjutkan perjalanan" mamk yang menggendong Aathif bangkit dari duduk di ikuti Intan. mereka berjalan keluar dari stasiun.
mamk memberhentikan sebuah bajai yang melintas.
__ADS_1
"kemana bu" tanya sopir bajai saat mamak dan Intan sudah berada di dalam bajai.
"jalan aja pak" ucap mamak.
bajai yang mereka tumpangi melaju membelah jalan. walaupun masih pagi tapi jalan sudah padat. walaupun belum terlalu macet.
"pak! bapak tau gak kontrakan yang murah tapi layak" tanya mamak
"oh ibu ini mau cari kontrakan? " tanya sopir bajai, masih memandang ke jalan.
"iya pak"
"nanti saya antar sama juragan kontrakan. saya juga ngontrak di rumahnya, gak jauh kok.ngomong ngomong ibu baru ya di jakarta? "
"iya Pak" jawab mamak singkat
bajai belok ke gang yang padat rumah. lalu berhenti di depan sebuah rumah minimalis dan ada sedikit halaman.
mereka turun dan masuk melewati pagar yang terbuka
"assalamu'alaikum" salam sopir bajai itu
terdengar sahutan dari dalam
"Waalaikumsalam"
seorang wanita setengah baya menghampiri mereka "ya cari siapa? " tanya wanita itu
"pak Haji nya ada? " tanya sopir itu.
"ada di dalam.silahkan duduk" wanita itu mempersilahkan mereka duduk di kursi yang ada di teras.
"tunggu ya saya panggilkan"
wanita itu masuk kedalam.
tak lama seorang wanita yang seusia Intan keluar
"ya.. oh mang pur, ada apa? " tanya wanita itu ramah
"ini mbak Indri, ada yang mau cari kontrakan" mang pur membuka percakapan.
"ya udah mbak saya mau pamit dulu. mau narik lagi" pamit mang pur
"oh iya mang. Terima kasih" ucap wanita itu
"eh mang, berapa tadi ongkosnya? " tanya mamak menghentikan langkah mang pur yang akan pergi
"oh iya saya lupa. 35ribu aja bu"
mamak mengambil uang 50ribu dari dompetnya
"ini mang. kembaliannya untuk amang aja"
"Terima kasih bu, say permisi dulu assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam " jawab mereka serempak.
"perkenalkan saya Indri, anak yang punya kontrakan, bapak saya lagi mandi" ucap Indri sopan.sambil mengulurkan tangan.
Intan dan mamk membalas bergantian.
"saya mau menanyakan kontrakan yang kosong ada mbak? " tanya mamak
"ada tinggal 1,kebetulan 2 hari yang lalu ada pengontrak yang lama baru keluar, katanya mau pulang kampung, jangan khawatir tempat nya bersih kok, itu di depan, mari saya antar"
mereka menuju kontrakan yang ada di depan rumah.tidak luas hanya 5x5m persegi. di ruang depan ada ruang bisa digunakan untuk ruang tamu. sebelahnya ada kamar ukuran 3x3 meter. di belakang ada dapur dan kamar mandi. ruangan nya bersih semua.
"gimana bu? " tanya Indri setelah mereka melihat lihat ruangan.
"saya suka. berapa harga sewanya? " tanya mamak
"harganya 500 ribu per bulan"
__ADS_1
mamak berpikir sejenak. "baiklah, saya ambil tapi saya bayar satu bulan dulu ya mbak"
"iya gak papa bu, say bisa minta KTPnya"
Mamak menyerahkan KTP mereka berdua.
Indri menerima nya dan membacanya
"kebetulan bu, bapak saya juga dari kota ini" kata Indri
"oh ya kebetulan sekali" jawab mamak
"oke bu mari kerumah,kebetulan bapak ketua RT, jadi bisa langsung di data"
"iya mbak nanti saya kesana sambil membayar uang kontrakan, saya mau menidurkan cucu saya dulu"
"wah lucunya, laki-laki ya? " mamk mengangguk
"berapa bulan? " tanya Indri sambil membelai pipi Aathif
"udah mau 3 bulan" Intan ikut membalas
"ya sudah saya tunggu di rumah ya bu, semoga betah disini, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam "
setelah kepergian Indri. mamak menyuruh istirahat Intan dan menyusui Aathif. kebetulan di kamar sudah ada sebuah kasur ukuran queen size.
"mamak lihat-lihat dapur dulu ya. terus mamak langsung kedepan bayar kontrakan"
Intan mengangguk.
Intan membaringkan tubuhnya dikasur bersama Aathif, yang sebelumnya di bersihkan sambil mengucap bismillah.
karena lelah Intan tertidur sambil menyusui Aathif.
mamak keluar menuju rumah pemilik kontrakan. kebetulan Indri masih di depan menyiram tanaman.
"bu Mar" sapa Indri. dia menghentikan aktivitas nya
"mari duduk"
mamak duduk di depan Indri
"sambil tunggu bapak yang lagi sholat Dhuha. minum dulu ya bu. bik.. bik rum"
"gak usah repot mbak Indri" mamak
"ah enggak kok bu"
wanita yang tadi datang
"bik tolong bikinkan teh ya! " ucap Indri di balas anggukan oleh bik rum, dan dia masuk lagi
"ini mbak uang kontrakan nya, bisa dihitung"
"baik bu saya Terima,ini pas 500ribu ya"
sambil menunggu bapak Indri keluar mereka mengobrol ringan.
"itu bapak datang" Indri berdiri
mamak pun ikut berdiri dan menoleh kebelakang.
mamak di buat terkejut oleh sosok lelaki separuh baya yang keluar dari pintu. dia pun tak kalah terkejut.
mereka saling beradu pandangan
bersambung.....
Terima kasih ya pembaca semua.
jangan lupa like dan komentar nya ya.
__ADS_1
vote nya juga๐๐