
Sudah 3 bulan pelaksanaan sidang Sonia di gelar, menambahkan daftar kerjaan Furqon.
Walaupun eksepsinya di tolak oleh Jaksa, namun Sonia dan pengacaranya tak tinggal diam.
Dia ingin terbebas dari tuduhan, dia menyertakan surat keterangan kejiwaan, yang menyatakan bahwa dirinya sedang depresi dan kurang sehat. Sehingga tindakan yang di lakukan nya di luar kesadaran penuh nya.
Hari ini Intan datang untuk menjadi saksi korban. Di temani sang suami Intan pergi ke pengadilan tanpa membawa kedua buah hatinya.
"Sayang jangan takut, katakan semua sejujurnya. Kalau gugup tarik nafas dalam dalam ya"Furqon menggenggam tangan Intan agr tenang
Ini bukan kali pertama Intan di hadapkan pada persidangan, walaupun sekarang dalam konteks berbeda. Namun rasa trauma dan gugup membuatnya tegang.
Berkali-kali Furqon meyakinkan pada sang istri bahwa semua akan berjalan lancar.
Intan yang duduk di sebelah Furqon dan dua orang pengacara lainnya menghembuskan nafas agar tenang, saat namanya di panggil agar duduk di kursi depan hakim.
Furqon memandang istrinya dan menatapnya, seolah memberi kekuatan padanya.
Untung saja Intan dapat menguasai kegugupan dan keterangannya, dia dapat menjawab segala pertanyaan yang di ajukan jaksa, pembela dan hakim dengan lancar dan tenang.
Intan pun di persilahkan kembali ke tempatnya. Furqon menyambut istrinya dengan senyuman karena istrinya itu bisa menghadapi dengan tenang.
"Kamu gak pa pa kan? "tanya Furqon saat Intan baru duduk di sebelahnya
Intan menggeleng dan memegang tangan suaminya
Persidangan di lanjutkan kembali dengan saksi dari pihak terdakwa, kali ini ahli psikiater yang di hadapkan.
Furqon menanyakan beberapa pertanyaan pada saksi dan mencatat segalnya.
Furqon tersenyum saat mendapati sebuah jawaban yang di lontarkan oleh saksi, dan akan di jadikan kunci agar Sonia mendapatkan hukumannya.
Palu hakim di ketuk tiga kali, setelah
pengadilan memutuskan persidangan di tunda selama dua hari kedepan, untuk membacakan tuntutan.
Hakim keluar dari ruang sidang di ikuti yang lain, Sonia menatap tajam ke arah Intan. Intan pun membalas tatapan itu seolah mengatakan bahwa dia akan mendapatkan ganjarannya.
"Sayang"Furqon mengusap bahu Intan, membuat pandangan Intan yang masih mengikuti Sonia yang sedang di giring petugas keluar sidang terputus.
"I.. iya?"jawab Intan terbatas
"Kita makan yuk?"ajak Furqon yang sudah selesai membereskan berkas-berkasnya
"Kita langsung pulang aja ya, sekalian sholat. Udah jam 12 lewat"Intan merangkul tangan Furqon manja, dan keluar bersama dengan para pengacaranya
"Pak saya mau makan siang di depan, bapak mau ikut?"tanya Dani saat sudah di luar ruang sidang
"Kalian aja, saya gak ada sidang lagi, jadi langsung pulang aja. Terima kasih ya atas usaha kalian"Furqon
"Iya pak sama-sama, kalau gitu saya ke depan dulu. Assalamu'alaikum"ucap Dani dan langsung berlalu dari sepasang suami istri itu
"Ayo kita pulang"ajak Furqon dan berjalan menggandeng istrinya itu dengan langkah meninggalkan pengadilan
"Pak Furqon"panggilan itu membuat Furqon yang akan masuk ke dalam mobil mengurungkan nya dan melihat ke arah seorang lelaki paruh baya yang tak lain adalah pengacara Sonia sedang menuju ke arahnya
Furqon menautkan alisnya saat Pak Bara salah satu pengacara Sonia berhenti di depannya
"Maaf Pak mengganggu"ucap pak Bara basa basi
"Saya di minta bu Sonia menemui pak Furqon"ucap Bara yang tak mendapat balasan dari Furqon
"Bu Sonia ingin anda menemuinya di penjara. Katanya ada yang ingin dia sampaikan"
Intan yang mendengar pembicaraan itu pun ikut keluar dari mobil
Furqon memandang istrinya, lalu menghadap pada pak Bara
"Maaf Pak, saya gak ada waktu meladeni orang kayak dia, bilang juga padanya agar tak mengganggu orang lain, saya permisi pak.
__ADS_1
Ayo sayang kasihan anak-anaknya nunggu di rumah"
Intan dan Furqon pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pak Bara yang geram.
"Ih kak, masak orang tua di tinggal begitu aja"ucap Intan saat mobil keluar dari pengadilan
"Biarin aja, biasanya kalau kayak gitu dia ada maunya. Apalagi Sonia itu, pasti gak bermutu yang di omongin. Males"Furqon melihat sekilas pada Intan dan kembali dengan pandangan ke depan dengan konsentrasi
"Dari pada nemuin dia mending berdua sama istri sendiri, ambil jatah 4 bulan di anggurin"kekeh Furqon yang mendapat cubitan di lengannya
"Ih ngeres"Intan menyembunyikan pipinya yang merona dengan melihat ke luar jendela
"Wajar dong sayang, 4 bulan lho aku puasa"lanjut Furqon tanpa malu
"Namanya juga resiko, aku tu masih belum siap, jadi kalau puasanya di perpanjang gak pa pa dong" ucap Intan tanpa melihat ke Furqon
"Ya jangan gitu dong, masak harus nambah lagi puasanya. Aku tu udah nahan bener lho kalau deket kamu. Jangan kuatir, nanti kita mampir ke klinik buat konsultasi"ucap Furqon seakan mengerti kegelisahan istrinya itu
Furqon menghentikan mobilnya di Klinik setelah sebelumnya mampir ke masjid untuk melaksanakan sholat dhuhur
"Kita makan dulu ya"Furqon mengajak Intan masuk ke dalam kafe di sebelah klinik ibu dan anak
"Anak-anak gimana kak?"tanya Intan saat mereka sudah duduk dan menunggu pesanan mereka
"Gak pa pa, ni aku telfon dulu"Furqon melakukan panggilan ke mamak
"Assalamu'alaikum"sapa mamak
"Waalaikum salam, mak! Anak-anak gimana?"tanya Furqon menspeker panggilan
"Mereka anteng kok, baru aja tidur"jawab mamak
"Maaf ya mak, kami agak sedikit terlambat pulangnya"ucap Intan
"Mereka gak rewel kan?"Intan bertanya kembali
"Abang udah makan kan?"Intan
"Udah, tenang aja"
"Makasih ya mak, maaf merepotkan"ucap Intan
"Iya"
"Kalau gitu udahan dulu ya mak, assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
panggilan di matikan oleh Mamak
"Tu kan denger sendiri"Furqon memasukkan ponselnya ke kantong celana depan
Makanan yang mereka pesan telah tersedia di meja
"Ayo kita makan dulu"Furqon memberikan sendok pada istrinya
Sepasang suami-istri itu menikmati makan siangnya yang terlambat itu dengan tenang.
Setelah itu mereka memasuki klinik di sebelah kafe itu.
Karena sudah membuat janji, mereka bisa langsung masuk dan berkonsultasi tentang KB
Intan memilih KB IUD yang akan di gunakannya, dan dokter pun segera memasangkan IUD pada rahim Intan.
"Berati Hari ini siap tempur lagi dong"Goda Furqon saat perjalanan pulang
Intan tak menanggapi suaminya, namun wajahnya sudah memerah
Intan dan Furqon sampai di rumah saat adzan ashar. Setelah membersihkan diri mereka melaksanakan sholat ashar berjamaah
__ADS_1
"Nda..... "Aathif yang baru tidur berlari menghambur ke bunda yang baru turun dari musholah
"Nda lama bener"dengernya saat di gendong sang bunda
"Maaf ya, bunda tadi ada sedikit urusan"Intan mencium pucuk kepala anak sulungnya itu penuh kasih
"Besok kita Jalan-jalan yuk"Furqon mendekati anak dan ibu yang sedang melepas rindu itu
"Kemana?"tanya Aathif dengan wajah berbinar
"Abang maunya kemana?"Furqon mengarahkan Intan yang masih menggendong Aathif untuk duduk di sofa
"Abang mau ke pantai"jawab Aathif cepat
"Oke, Insya Allah besok kita ke pantai"Furqon mengacak rambut sang putra
"Ajak Mamak sama tante juga ya?"ucap Aathif
"Tentu dong, ajak mbak Tika mbok Nah sama mang Oding"Furqon menimpali
"Wah seru dong, asik... asik"Aathif berlonjak kegirangan turun dari pangkuan bundanya
"Ada apa abang?kok girang bener"tanya mamak yang baru bergabung
"Kita mau ke pantai besok"jawab Aathif antusias
"Oh ya?"
Aathif mengangguk
"Nanti semua ikut"Aathif merentangkan tangannya
"Ya udah sekarang kita mandi dulu, abang bau"Intan menuntun anaknya ke kamar dan memandikan nya
Aathif sudah rapi dan wangi, dengan setelan baju bergambar super hero berwarna biru. Dia berjalan keluar meninggalkan bundanya yang memandikan sang adik
Seperti biasa setelah sholat magrib di lanjutkan dengan makan malam.
"Gimana kerjaan kamu sin?"tanya Furqon saat di ruang keluarga
"Ya gak gimana gimana"jawab Sindy singkat sambil terus melihat acara TV
"Maksudnya kamu kan udah gak training, apa di lanjut kontrak atau gimana?"
"Ya lanjut lah, lagian mas telat tanyanya. Aku tu udah jadi pegawai tetap yang di kontrak satu bulan lalu"Sindy masih asik dengan TV
"Terus kamu masih ketemu ama mantan kamu dong?"selidik Furqon
"Ya iyalah, namanya juga satu divisi. Tapi aku bisa jaga diri kok"
Sindy menghadap ke Furqon dan menajamkan alisnya
"Kenapa mas tiba-tiba tanya?"
"Gak kenapa sih, cuma tanya aja. Soalnya....."Furqon menggantung ucapannya
"Soalnya kenapa?"tanya Sindy karena Furqon masih terdiam}
Intan hanya menggeleng melihat interaksi adik kakak itu
"Adrian kemarin bilang mau ngelamar kamu"
"Apa?"Intan dan Sindy saling berpandangan dan beralih menatap Furqon
Bersambung....
Jangan lupa like dan komentar nya juga vote nya
Terima kasih ya masih nyimak cerita aku juga like dan komen nyaπππ
__ADS_1