
Terima kasih masih mengikuti cerita aku, Terima kasih juga untuk like dan komentar nya
Maaf jika masih banyak typo berterbangan
Yuk kita lanjutππππ
...****************...
Brakk
terdengar pintu terbuka dengan kencang
"Hentikan" suara tinggi itu membuat Furqon menghentikan tangannya di udara, dan dia menoleh
Furqon menyipitkan matanya menatap wajah 2 orang di pintu.
Intan yang sedang menutup mata dan telinga Aathif dalam dekapannya karena tak ingin anaknya itu menyaksikan dan mendengar sesuatu yang tak pantas, pun ikut terkejut
Tadi saat pak Rahmat dan istrinya akan menjenguk Lukman tak sengaja melihat Furqon, jadi mereka mengikuti Furqon bahkan satu lift, karena banyak orang jadi Furqon tak menyadari ada kedua orang tuanya di situ
"Apa yang kamu lakukan? apa kamu akan memukul saudara mu sendiri? " Bu Rahmat yang langsung menghampiri anak-anaknya menarik Lukman menjauhi Furqon yang sudah menurunkan tangannya
"Ibu? " Sarah mendekati Lukman
"Jangan dekati anakku, kamu wanita gak jelas, bukannya melindungi suami yang sakit malah mengajaknya datang kesini" bentak bu Rahmat
"Ibu" panggil Sindy
"Kamu juga, pantas gak pulang lama, ternyata kamu mengikuti mereka" dengus bu Rahmat sambil melirik Intan dan Mamak
"Bu jangan bikin ribut di sini" pak Rahmat menyenggol tangan istrinya
"Bapak juga, masak anaknya mau di pukul diam saja"
"Sindy bawa Aathif keluar" perintah Furqon dan dia mendekati Intan yang sudah terlihat pucat, setelah Sindy membawa keluar Aathif sambil melirik sang ibu
Bu Rahmat melihat Intan dengan pandangan sinis, dia melihat Furqon yang memeluk Intan dan pandangan nya berhenti pada perut Intan
"Oh jadi kamu berganti haluan, setelah gagal mendapat Lukman lalu sekarang kamu merayu kakaknya. Dasar perempuan gak bener"
"Jaga ucapan anda nyonya" Furqon meninggikan suaranya namun masih dengan sopan
"Ratna" bentak Mamak tak kalah emosi
"Hentikan mulut pedas mu itu, jangan kamu menghina anakku. Cukup aku saja yang kau sakiti jangan anakku" lanjut mamak masih dengan emosi
Ya bu Rahmat adalah Ratna salah satu dari ke tiga sahabat mamak. Dulu persahabatan mereka baik-baik saja, hingga suatu ketika Fadli mengungkapkan perasaannya pada mamak dan mamak yang mempunyai perasaan yang sama pun menerimanya
Karena sifat iri yang dimiliki Ratna dia tak ingin tersaingi oleh mamak. Akhirnya dia mendekati pak Rahmat kaya yang saat itu berstatus duda anak satu, yang di tinggal mati oleh isterinya.
Ratna tak mau jika Mamak mendapatkan Fadli yang memang sudah mapan, dia tak rela melihat mamak hidup enak. Dan yang sangat miris adalah sesaat sebelum pernikahan mamak dan Fadli
Beberapa hari sebelum menikah
Ratna mengirimkan surat palsu pada Fadli yang mengatakan bahwa sang ayah yang ada di Kalimantan sakit, jadi Fadli di suruh pulang.
__ADS_1
Sebelumnya dia sudah menitipkan surat pada Ratna namun tak di sampaikan pada mamak. Dan itu semua mamak ketahui dari Fadli saat pertemuannya di rumahnya setahun lalu, ya tepatnya saat mamak menjadi pengontrak rumahnya
Ratna memutar matanya sambil mencebik
"Kenapa? memang kenyataannya begitu, tuh lihat buktinya"Ratna menunjuk kedekatan Furqon dan Intan dengan matanya
" Cukup bu, jangan bikin keributan di sini ayo keluar" pak Rahmat berusaha menarik istrinya namun istrinya itu menolak
"Sekarang saya minta kalian semua keluar, jangan mengganggu ketenangan istri saya"
Furqon masih menggunakan nada tinggi dan penuh penekanan.
"Kamu mengusir kami keluargamu demi perempuan itu? " Ratna masih bertahan
"Ratna lebih baik kamu pergi dari sini"Ucap mamak
" Kenapa? apa setelah kamu gagal menikahi lelaki kaya terus kamu mengumpankan anakmu? " ucap Ratna
"Ibu sudah ayo kita keluar, jangan menambah dosa lagi" Lukman pun dengan paksa menarik tangan ibunya agar keluar dari kamar Intan
"Mbak Intan mamak maafkan Sarah, karena menyebabkan kekacauan ini" dan Sarah pun mengikuti suaminya yang lebih dulu keluar
Intan menangis dalam pelukan Furqon, dan mamak menghela nafas panjang, lalu mendekati Intan
Furqon menenangkan istrinya
"Sudahlah jangan terlalu di fikirkan, jangan sampai kamu sama anak kita kenapa-napa" Furqon mencium pucuk kepala Intan dan mengusap2 pungungnya
Setelah dirasa Intan tenang, Furqon pamit untuk keluar sebentar
"Kalian kalau mau ribut jangan disini, dan aku ingatkan pada kalian semua jangan ganggu keluarga ku. Jangan ganggu istri dan anak-anak ku, atau kalian akan mendapatkan ganjarannya"
Furqon kembali masuk kedalam kamar dengan membawa Aathif, sedang Sindy mengikuti keluarga nya untuk menyelesaikan masalah
Sesampainya di dalam kamar rawat Lukman mereka melanjutkan membahas masalah tadi
"Ibu, ibu itu udah keterlaluan" Sindy langsung membuka perdebatan
"Apa ibu belum puas membuat mbak Intan menderita" lanjut Sindy
"Jadi selama ini kamu tahu keberadaan mas mu itu, tapi kenapa kamu gak bilang sama kami" ucap bapak
"Buat apa? toh dulu bapak sendiri yang mengusir mas Furqon" ucap Sindy
"Kamu sekarang ikut-ikutan mereka. bahkan kamu gak pernah pulang ke kampung halaman " Ratna tak kalah sengit
"Untuk apa pulang, kalau tak ada ketenangan di rumah"
"Apa katamu? tenang? maksudmu apa? " tanya Ratna
"Iya, ibu selalu memaksakan kehendak ibu, ibu tak pernah menghargai pilihan Sindy, ibu hanya mengutamakan kepentingan mas Lukman"
"Sindy " bentak Ratna
"Sudah hentikan" pak Rahmat menghentikan perdebatan mereka
__ADS_1
"Ibu, sudah bapak bilang berkali-kali jaga ucapan ibu, udah banyak ibu menyakiti keluarga Intan. Harusnya ibu meminta maaf pada mereka bukan malah menambah masalah. Apalagi kita baru bertemu Furqon setelah sekian lama dia menghilang" lanjut bapak dengan muka memerah
"Selama ini bapak diam karena bapak menghormati ibu, namun ibu semakin ngelunjak. Ibu harus minta maaf pada mereka"
"Apa? minta maaf? jangan harap" jawab Ratna anggkuh
"Ibu.Lukman sudah menyadari segala kesalahn Lukman, Lukman tadi juga sudah meminta maaf pada mereka kecuali mas Furqon, karena tadi kami belum sempat berbicara" ucap Lukman
"MInta maaf untuk apa? bukannya dia yang menjebak mu" ucap Ratna
"Bu, bukannya ibu tahu itu gak benar. Ibu tahu akulah yang salah aku yang memperkosa Intan, dulu harus nya sebagai ibu bukannya ibu mengajari aku mana yang baik dan tidak. Bahkan ibu selalu memanjakan ku, sehingga aku merasa aku adalah raja yang harus punya apa yang aku inginkan"
"Ibu, Minta maaf lah pada mereka. karena kita mereka dulu jadi menderita. Aku sudah mendapat hukuman dari Alloh bu, aku sudah di beri sakit seperti ini. Aku tak mau mati dalam keadaan menanggung dosa"
"Ini semua pasti karena kamu kan? kamu yang memasukkan pikiran tak benar pada Lukman" Ratna menunjuk Sarah yang duduk disamping Lukman
"Ibu, jangan berkata yang tidak-tidak pada istriku" ucap Lukman sambil bangkit dari duduknya
"Karena Sarah aku bisa menyadari semua kesalahanku, dia yang selalu ada untukku" lanjut Lukman
"Lihatlah bu, mas Lukman sudah menyadari kesalahannya" Sindy ikut bicara
"Kamu sudah terpengaruh pada mereka" ucap Ratna
"Sudahlah, bicara sama ibu tak ada gunanya" Sindy keluar dari kamar Lukman tanpa menghiraukan panggilan ibunya
"Bapak harap ibu mau menyadari kesalahan ibu dan mau meminta maaf pada semua" ucap pak Rahmat tegas
Belum Ratna menjawab sebuah ketukan mengalihkan perhatian mereka
"Maaf bapak Lukman sudah di tunggu dari tadi. sudah waktunya kemo nya di laksanakan" seorang perawat datang membawa kursi roda
Lukman duduk di kursi roda dan di dorong Sarah mengikuti perawat menuju ke ruangan untuk kemoterapi
Sindy baru masuk ke kamar Intan namun dia tak mendapati siapapun di sana
"Apa mereka sudah pulang" pikir Sindy
Sindy mengambil ponselnya dan menghubungi Furqon
"Hallo mas" sapa Sindy saat panggilannya sudah diterima
"Assalamu'alaikum sin"
"Iya waalaikum salam. Maaf lupa, mas di mana kok mbak Intan gak ada? "
"Kami di kamar bersalin. Tadi mbak mu kontraksi"
"Oh ya sudah aku ke sana, Assalamu'alaikum"
Sindy mematikan sambungan setelah mendapatkan balasan salamnya
**Bersambung....
Jangan lupa like dan komentar nya
__ADS_1
Maaf aku gak bisa bikin konflik yang bagusππ**