
Mohon like ya!! ππππ
Pov Intan
Besok adalah hari kebebasan Kristin, dia sudah tak sabar, dia sangat bersemangat.
"Intan ditunggu dikantor kepala" seorang sipir datang ke sel kami, "baik bu" jawabku singkat dan mulai bangkit dari duduk ku, tidak lupa membereskan kantong asip yang baru saja aku isi.
"Ada apa? " tanya bu Maya
"Entahlah bu. Semoga tidak ada yang perlu d khawatirkan" jawabku
"Ya sudah cepat gih" mbak Lina mengantarkan ku sampai di depan pintu sel.
Sengan perasaan deg deg an aku mengetuk pintu coklat di depanku. Tak lama terdengar sahutan dari dalam "Masuk"
Aku menarik nafas beberapa kali untuk menghilangkan kegugupan ku. "Assalamu'alaikum" sapaku seraya membuka pintu
"Waalaikumsalam, sini Intan masuklah" bu Ningsih menyambutmu dan mengarahkan ke sofa.
Kulihat disana sudah ada bu Rahma dan pak Willy, pengacara dari LBH yang membelaku di kasus ku. Aku semakin was-was "ada apa gerangan " batin ku.
Aku mengulurkan tangan dan disambut oleh mereka dengan senyuman yang merekah. Lalu aku duduk di sofa double sebelah mereka, sedang bu Ningsih di sofa single di depanku.
"Bagaimana kabarmu Intan? " tanya pak Willy membuka percakapan
"Alkhamdulilah sehat" jawabku sambil tersenyum tipis
"Katanya kamu habis melahirkan ya? laki-laki atau perempuan? " sambung bu Rahma,
Aku mengangguk
"Laki-laki atau perempuan? "lanjutnya
"Laki-laki bu, namanya Aathif "jawabku
__ADS_1
bu Rahma menggenggam tanganku seraya berkata" semoga jadi anak yang sholeh berbakti dan dapat membanggakan"
"Aamiin, Terima kasih bu" aku menganggukkan kepala tanda hormat.
"Intan saya memanggil kamu kesini karena ada yang mau di sampaikan beliau-beliau padamu" bu Ningsih menunjuk bu Rahmah dan pak Billy. Aku menoleh kembali kepada 2 orang yang telah membelaku ini.
"Kedatangan kami kesini untuk menyampaikan kabar gembira padamu" pak Billy dengan senyuman memberikan ku sebuah map berwarna merah
"Apa ini pak? " aku mengambil map itu dengan tangan gemetar, mengira-ngira apa yang akan terjadi
"Ini adalah pengajuan amnesti yang kami ajukan pada presiden untuk mu" sambung pak Billy,
"Tapi saya tidak mengajukan nya pak" aku bingung karena sejak keputusan vonis, aku tak pernah mengajukan banding atau lainnya. Memang pak Billy dan bu Rahma sempat mengunjungi ku dan bertanya tentang kelanjutan vonis ku. tapi aku menerima vonis itu karena aku sudah putus asa.
"Memang kamu tidak mengajukan. Tapi atas inisiatif kami semua, kami mengajukan nya. Dan kami meminta tanda tangan padamu dulu adalah untuk surat amnesti itu" bu Rahma menjelaskan dengan menggenggam tanganku lagi, "dan amnesti nya disetujui" lanjut bu Rahma.
Seketika itu rasa harus bahagia dan terjun bercampur jadi satu di dadaku, tanpa dikomando airmata ku pun menetes, dan tersenyum bergetar, lalu aku menutup mulutku dengan satu tangan.
Bergantian ku pandangi bu Rahma pak Willy dan bu Ningsih yang tersenyum, rasa tak percaya tapi sangat menggembirakan membuatku tak bisa mengeluarkan Kata-kata lagi. Ya hanya air mata bahagia yang keluar.
aku meraih tangan bu Rahma dan pak Billy bergantian mengucapkan terimakasih, lalu bu Rahma memelukku, aku pun membalasnya dengan erat,
"Terima kasih bu pak, kalian baik selalu pada saya, kalian membela saya tanpa pamrih, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian dengan berlipat ganda, dan selalu diberi sehat dan rejeki yang banyak juara umur yang panjang." aku menangis di pelukan bu Rahma dan membuat baju bagian bahunya basah oleh airmata ku yang tidak mau berhenti.
"Wamiin"pak Willy juga mengelus punggungku dengan lembut,lalu aku melepaskan pelukanku,dan memandang mereka berdua lagi.
"Sudah jadi kewajiban kami untuk membela yang benar" bu Rahma mengusap lenganku, lalu memberi sekotak tissu padaku
"Hapus airmata mu," aku mengambil beberapa lembar tissu dan menghapus airmata dan ingus ku yang keluar tadi.
"Bu Ningsih tolong dibantu ya tentang berkasnya, biar Intan cepet kumpul sama bayinya"kata pak Willy, dan di tanggapi anggukan bu Ningsih.
"Baiklah kalau begitu kami akan kembali lagi, dan ini simpanlah ini" bu rahma menyerah kan kartu nama padaku aku pun menerimanya dan menggenggam nya.
"kami pamit dulu bu Ningsih dan Intan, semoga cepat selesai semuanya "
__ADS_1
Setelah pamit dan berjabat tangan bu Rahma dan pak billy keluar ruangan meninggalkan kami berdua.
"Selamat ya Intan semoga kamu cepat mengatur hidupmu dengan baik setelah bebas. Dan ibu doakan semoga kamu bahagia" bu Ningsih menjabat tanganku dan memelukku sebentar.
"Ok, sekarang kamu kembali kedalam, saya akan mengurus berkas berkasnya" bu Ningsih mengantarkan aku sampai depan ruangannya, tak lupa aku berterimakasih dan kembali ke dalam lapas.
Aku tersenyum sepanjang jalan menuju sel tempatku, tanpa aku hiraukan tatapan dan omongan orang yang berpapasan denganku.
Didalam sel tak ada seorang pun. Mungkin mereka sudah masuk kelas ketrampilan. Aku memutuskan untuk memberi tahu mereka saat makan siang nanti, aku sudah tak sabar memberi tahu mamak tentang kabar ini.
Jam 11 aku mendapatkan kunjungan dari mamak, aku menuju ruang kunjung dengan hati gembira dan tak lupa membawa beberapa kantong asip ku yang aku perah dari kemarin dan tadi, yang aku titip kan di freezer lapas.
lapas memang menyediakan fasilitas freezer khusus asip, karena didalam juga ada beberapa ibu yang masih ada bayi, sehingga masih membutuhkan asi.
"Mamak" aku menghambur kepelukan mamak yang menggendong Aathif, tak lupa aku mencium bayiku yang baru berumur satu bulan itu. Kulihat pipinya mulai tembem dan dia semakin berisi dari hari kehari. Mamak memang tiap hari berkunjung untuk Aathif bisa ngASI langsung padaku.
Aku mengambil Aathif dan bermain sebentar dengannya sebelum aku beri asi langsung, "Anak bunda tambah sexy, bikin gemes"aku menoel kedua pipi Aathif bergantian seraya menciumi tangannya. bau harum bayi inilah yang selalu aku rindu. Dan mulai besok aku akan selalu bersama ny.
Airmata ku tiba-tiba jatuh, dan mamak melihat nya, beliau pun menghapusnya dengan jari.
" Mamak, sebentar lagi bulan Ramadhan dan Intan mau kita bisa melaksanakan bersama lagi"aku membuka percakapan masih dengan memandangi Aathif yang sangat kuat ngASI padaku.
"Andai saja tan" mamak menghela nafasnya
"Bisa mak, karna besok insyaallah Intan bebas" aku memandang mamak dengan berbinar, mamak masih melihatku dengan tatapan campur aduk.
"Bagaimana bisa? " mamak menyentuh bahuku
"Bu Rahma dan pak Willy mengajukan amnesti, dan amnesti disetujui presiden" Intan menjelaskan semua kepada mamak. mamak pun terharu dan menangis bahagia. Lalu dia sujud syukur di lantai
"Alkhamdulilah, Alloh mengabulkan doa kita, dan Alloh memberi kado ulangtahun ke 20 mu dengan sangat istimewa" lanjut mamak setelah duduk dari sujudnya
"Ya mak, Alloh memberiku duduk sekaligus kebahagiaan aathif dan bebas" Intan pun memeluk mamak lagi
Terima kasih yang mau baca tolong like dan komennya
__ADS_1