
Jangan lupa like dan komentar nya biar bisa lebih baikππππππ
Ini adalah hari ke-3 Intan dirawat pasca melahirkan, dan sore ini ia harus kembali menjalani hukumannya.
Sesuai dengan kesepakatan dengan mamak, Maka Aathif akan diasuh oleh mamak, dan agar tidak repot dengan asip(air susu ibu perah)
Maka mamak akan mengontrak rumah didekat rutan, agar bisa selalu mengambil nya tiap hari.
"Mak titip dedek Aathif ya, maaf Intan selalu merepotkan" Intan menciumi pipi Aathif, dan air matanya pun menetes dipipi Aathif yang tenang dalam gendongan mamak.
Mamak mengangguk "Kamu tidak merepotkan mamak Tan,jangan khawatirkan Aathif.
Mamak akan menjaganya dan menyayanginya seperti kamu dulu" mamak membelai rambut Intan,
"Jaga kesehatan dan diri kamu. Jangan stress, biar asinya juga banyak"
Masih dengan air mata yang tak henti Intan memegang dan membelai pipi dan kepala anaknya itu
"Baik-baik ya anak bunda, jangan rewel jangan nyusahin mbah. Jadi anak yang pintar dan sholeh nak" Intan mencium anaknya lagi
"Mari sudah waktunya kita berangkat" seorang polwan menggandeng tangan Intan dan menuntunnya kedalam mobil tahanan, Intan melambaikan tangan pada mamak sebelum pintu mobil ditutup
Mamak pun menangis lagi. Setelah mobil tidak terlihat mamak masuk kembali ke dalam rumah sakit dan menuju ke kamar yang di tempati Intan beberapa hari ini.
mamak mengambil satu tas yang berisi perlengkapan aathif dan satu tas Coolers tempat asip beku yang sempat di perah Intan, mungkin ada sekitar 20 kantong 225ml an, dan itu cukup untuk beberapa hari ke depan.
"sudah mau balik mak" mamak menoleh kearah suara dan bidan Suri sedang menghampiri mamak dengan senyuman yang ramah
"Iya bu. Dan Terima kasih atas semua yang bu bidan berikan pada kami, dan pertolongan bu bidan" mamak menggenggam tangan bidan Suri. Ya! memang selama Intan melahirkan dan di rawat di rumah sakit ini, bidan Suri lah yang membantu segalanya, bahkan kantong asip pun dia yang memberikan, juga menyimpan asip pun dia yang mengusahakan.
"Sudahlah mak, jangan terlalu sungkan. Sudah menjadi kewajiban manusia menolong pada yang membutuhkan" bidan Suri tersenyum membalas genggaman tangan mamak.
__ADS_1
"Oh ya, mamak sudah dapat Kontrakannya? " lanjut bidan Suri
"Belum bu, rencananya habis ini saya akan cari" jawab mamak sambi melepaskan tangannya pada bidan Suri.
Mereka beriringan berjalan keluar meninggalkan kamar rawat.
"Saya punya temen yang punya kontrakan, gak begitu dekat sih, 1km an dari rutan. Kalau mamak mau biar saya telpon orang nya" bidan Suri
"Tapi... " mamak ragu untuk meneruskan kalimat nya
"Kenapa mak?" tanya bidan Suri
agak ragu untuk menjawab, mamak menekan sedikit pelan suaranya"Soal harganya bu? "
bidan Suri tersenyum dan memahami keadaan mamak
"jangan khawatir, nanti saya coba bantu bicara, biar dikasih diskon, he.. he.. "jawab bidan Suri sambil tersenyum lebar
Pagi hari terlihat mamak sudah bersiap menempati rumah kontrakan yang kemarin dilihat bersama bidan Suri.
Harganya tidak terlalu mahal, dan lokasinya juga lumayan, rumahnya gak besar tapi ada halaman yang ditumbuhi beberapa pohon, jadi terkesan asri.
Mamak mengontrakan rumah yang di desa, dan meninggalkan sebagian barang yang besar dan memakan tempat,
Mamak berencana membuka warung kopi dan makan kecil kecilan untuk menyambung hidup,
Dibantu tetangga kontrakan, mamak menambah beberapa bangku panjang dan meja untuk berdagang, tentu saja dengan seizin tuan rumah.
Dan mamak selalu berkunjung kerutan, dengan membawa Aathif untuk disusui Intan dan pulang dengan membawa beberapa kantong asip yang sudah beku dan yang baru.
________&_______&_______
__ADS_1
" In,... gimana keadaan Aathif? "tanya Lina dan dianggui teman-temannya
" Aku penasaran lho"tambah Santi dengan mimik gemasnya.
"Baik, kayaknya sekarang lebih endutan" dengan mata bercahaya intan menceritakan keadaan buah hatinya itu
"Lain kali kalau jenguk aku bisa ikut ya" pinta Kristin semangat, intan mengangguk dan tersenyum
"Minggu depan aku sudah bebas apa kalian tak memberiku kenang-kenangan? "Kristin
" jangan lupa tengokin kita, dan bawa makan yang bayak" bu Maya menimpali dan di acungi jempol Kristin.
"Pokoknya siapapun dari kita yang udah bebas jangan lupakan satu sama lain, tetep kasih kabar. Bahkan kalau perlu no hape" Lina memberikan mandat agar tali silaturahmi tak putus.
"Setelah keluar apa rencanamu selanjutnya kris? " tanya Santi
Kristin mengangkat kedua bahunya "entahlah. yang jelas aku akan berusaha jadi lebih baik.Dengan sertifikat rias ku aku berencana membuka salon kecil kecilan. aku ada sedikit tabungan, dan mungkin aku akan meminjam papiku sedikit modal lagi"
"Kamu udah baikan sama keluarga mu? " tanya bu maya. Memang setelah Kristin terjerat kasus keluarganya menjauh, mungkin mereka kecewa dengan anak bungsu dari 3 bersaudara.
"Ya serusaknya aku,tak mungkin keluarga ku tak mau memaafkan aku. Lagian aku anak perempuan satu-satunya, masak mereka tega? " Jawab Kristin santai.
"Terus ngapain kamu dulu kayak gitu" tanya Lina.
"Ya namanya keluarga brokenhome jadi aku nyari pelampiasan lah, eh salah pergaulan. " jawab Kristin sambil memandang kedepan menerawang masa lalunya yang kacau balau
"Tapi sekarang aku tobat deh. Habis ini aku mau ke gereja mengakui kesalahan bertobat, semoga Tuhan memberi aku keberkatan" lanjut Kristin di "aamiin" kan oleh yang lain dengan serempak
"Kalian adalah teman terbaikku, tetaplah menjadi saudara. " Kristin memeluk Lina dan Intan yang ada di sebelahnya dan diikuti yang lain saling berpelukan.
Maaf ya sedikit aku lagi gak konsen. Jangan lupa like comen
__ADS_1