Korban

Korban
36.Doble Terkejut


__ADS_3

Terima kasih masih menyimak dan mengikuti cerita ku


Jangan lupa like dan komentar juga Vote nya


hari ini aku sibuk bikinin bakso temen jadi gak bisa pegang hape


Yuk kita lanjut πŸ‘‰


Pov Intan


Hari ini aku gajian. Aku berencana membeli ponsel baru, karena ponsel pemberian Kristin dulu ikut kecebur kedalam kolam renang saat aku mengantarkan buket bunga pengantin yang tertinggal.


Lelaki yang kini ada di sebelahku, yang sedang menyetir mobil yang kami naiki.


Kak Furqon pria yang baik, aku tak menyangkal kalau hatiku tertambat padanya sejak bertemu di rumahnya.


Bukan karena balas budi sebab dia menyelamatkan aku, tapi memang hati ini tak bisa berhenti berdebar saat melihatnya.


Lelaki ini dengan terang-terangan mendekati dan mengatakan ingin lebih dekat denganku dan Aathif anakku.


Aku begitu bimbang. Aku adalah orang yang tak pantas untuk lelaki seperti dia, kaya, tampan dan berpendidikan.


Aku hanyalah seorang residivis dan bukanlah gadis suci. Aku merasa bagai langit dan bumi dengannya. Namun aku tak bisa menolaknya, aku mencoba menerimanya. Oh bukan, lebih tepatnya memantaskan diri untuk bersamanya.


Dia begitu tulus, meskipun dia adalah orang yang bersifat dingin dan datar, namun dia sangat ramah dengan siapapun yang dia kenal.


"Ayo turun, kita sudah sampai" Kak Furqon membuyarkan lamunanku


Kami sudah berada di pusat counter, kami berjalan memasuki salah satu counter.


Banyak sekali ponsel yang di pajang di etalase. Seorang penjaga counter menyapa kami dan kak Furqon meminta penjaga counter itu memperlihatkan kami hape terbaru dan menjelaskan fiturenya.


Kak Furqon memaksa membeli ponsel yang harganya mencapai 2 digit juta itu. Namun aku menolak dengan baik dan memberi alasan, akhirnya dia mau mengalah.


Aku hanya membeli sebuah hape standar asal bisa untuk kebutuhan komunikasiku.


Setelah membayar ponsel itu, tentunya menggunakan uangku sendiri. Aku tak mau memakai uang orang lain. Aku tak ingin merasa kalau barang yang di berikan kak Furqon membuatku jadi lebih berhutang padanya, sehingga membuatku lebih tak pantas untuknya.


Kak Furqon mengajakku makan di sebuah kafe yang banyak pengunjung nya. Mungkin makanannya enak makanya jadi penuh. Bahkan kami mendapatkan tempat kosong terakhir.

__ADS_1


Saat pesanan kami datang, terdengar adzan maghrib.


"Kak ayo sholat magrib dulu, nih udah adzan, gak baik kalau menunda kewajiban, apalagi meninggalkan dengan sengaja"


Kak Furqon hanya mengangguk dan mempersilahkan aku duluan


"Kita gantian aja, Kamu duluan" katanya


Aku beranjak ke mushola yang ada di sebelah kafe.


Ketika aku kembalikan kak Furqon pamit mau toilet, dan langsung ke mushola katanya. Dia menyuruhku makan duluan. Karena aku sudah lapar aku pun mulai menikmati hidangan yang ada di depanku.


Di tengah aku menikmati makanan ku sebuah suara yang aku kenal betul membuatku membatu. Terdiam tak bergerak, darahku serasa berhenti mengalir.


"Intan... beneran ini kamu? ya ampun Intan, aku gak nyangka ketemu kamu disini" ucapnya seraya memelukku yang masih terduduk dan diam tak bergerak.


Dia melepaskan pelukannya, kulihat air matanya mengalir di pipi mulusnya.


Dia duduk di kursi sebelahku


"Intan aku kangen sama kamu. Maaf aku tak pernah melihatmu, aku ada ujian dan KKN di Bangka Belitung, jadi aku gak bisa mengunjungi mu. Ketika aku akan mengunjungi mu, aku dapat kabar kamu sudah bebas. Aku ikut senang" dia semakin menggenggam tanganku, aku juga merasakan dalam suaranya betapa dia tulus dan jujur mengucapkan itu semua.


"Terakhir aku mendengar kamu akan menikah dengan mas Lukman" kata dari Sindy sahabat ku dulu ini membuatku lebih ketakutan.


"Aku tak rela kamu menikah dengannya. Kamu adalah sahabatku, saudariku. Untung kamu gak jadi menikah dengannya" perkataan Sindy membuatku sedikilega, setidaknya Sindy masih menyayangiku seperti dulu, masih menganggap ku.


Aku sedikit tersenyum lega, Sindy sepertinya ada dipihak ku. Jadi dia tak akan mengatakan keberadaanku pada Lukman.


"Kamu marah padaku ya? " tanyanya dengan raut wajah memelas. Aku hanya bisa menggeleng dan sedikit tersenyum


"Maaf aku dulu tak bisa membantumu. Ibuku mengancammu" ucapnya penuh sesal


"Aku juga benci sama mas Lukman, bahkan saat kalian batal menikah akulah orang yang paling senang mengalahkan senangnya ibu" lanjut Sindy dengan geram


"Sekarang dia sudah menikah dengan wanita yang pernah dibawanya kerumah. Dan dikenalkan sebagai calon istrinya. Aku sebenarnya tak peduli, tapi sepertinya wanita itu juga terpaksa. ah bodoh amat"


Aku sedikit terkejut dengan cerita Sindy. Bukan karena Lukman sudah menikah, namun aku merasa hatiku berdesir saat Sindy mengatakan istrinya pun terpaksa


"Siapa nama Istrinya? " tanyaku dengan selidik

__ADS_1


"Siapa ya?. . . Kalau gak salah namanya Sarah"


Benar berarti perkiraanku.Selama ini Sarah tak bisa di hubungi karena ada apa-apa yang tak beres.


Aku memegang erat gelas yang aku pegang, aku merasa emosi, dadaku begitu sesak.


Aku juga merasa bersalah karena membuat Sarah dalam kesulitan.


Kulihat kak Furqon berjalan menghampiri meja kami.


"Maaf aku kelamaan" ucapnya sambil menarik kursi untuk duduk. Namun kegiatannya terhenti ketika dia melihat Sindy. kak Furqon berdiri mematung. Begitu juga dengan Sindy, seketika dia berdiri dari duduknya dan ikut mematung.


Aku memperhatikan mereka berdua bergantian dengan heran.


Cukup lama mereka saling menatap dan mematung. Tiba-tiba Sindy menghambur pada kak Furqon, Sindy memeluk kak Furqon dengan erat sambil menangis.


Aku yang melihat itu semakin heran lagi, bahkan ada sedikit rasa sakit, mungkin cemburu. Mereka berdua berpelukan erat didepan ku.


"Mas.. hiks.. hiks" hanya itu yang di ucapkan Sindy. Sedangkan kak Furqon hanya mengelus punggungnya


Apa yang mereka lakukan? apa mereka tak melihat aku ada disini? apa jangan-jangan mereka adalah mantan? pertanyaan itu muncul begitu saja di benakku.


Bahkan mereka tak menganggap aku di sini. Mereka sepertinya melihat siaran realityshow yang ada di TV.


Akhirnya mereka melepaskan pelukan itu. Sindy masih sibuk dengan tangisannya, sedangkan kak Furqon berusaha menenangkannya.


Namun aku melihat pada kak Furqon yang duduk di depanku, seperti me. antarkan kegembiraan dan rindu.


"Intan" ucap mereka berdua bersamaan. Aku malah di buat bingung dengan adegan ini. Mereka malah saling memandang.


"Intan! kenalkan Ini adalah kakak aku ya ng pertama" Ucap Sindy dengan wajah bersinar.


Deg.. . .. . .


**Bersambung


Jangan lupa like dan komentar juga vote.


Ajak temennya membaca cerita ini juga.

__ADS_1


Terima kasihπŸ˜˜πŸ’•πŸ˜˜πŸ’•**


__ADS_2