
**Terima kasih masih menyimak cerita ku
Jangan lupa like dan komentar nya *ya
Lanjut.. .. . ππ***
Pov Intan
Aku mengerjakan mataku beberapa kali, demi mengumpulkan kembali kesadaran yang mulai menguasaiku.
Samar ku lihat sebuah pintu bercat putih di depanku, aku mengerjakan lagi mataku agar pandanganku jelas. Ketika aku akan mengangkat tanganku terasa berat, ku lihat ternyata kedua tanganku terikat pada sandaran kursi, bukan hanya itu, kedua kakiku pun terikat menjadi satu di bawah.
Aku bingung apa yang terjadi, aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Ya! terakhir yang aku ingat adalah hari ini adalah hari pernikahan ku dengan kak Firman. Lelaki yang sudah begitu baik padaku dan keluargaku, lelaki yang selalu memberikan perhatian lebih untuk kami, lelaki yang dari pandangan pertama mencuri hatiku.
Aku berusaha menggerakkan tanganku agar tali yang mengikat ku melonggar dan aku bisa melepaskan tanganku.
Tapi percuma karena kuatnya ikatan itu membuat tanganku terasa panas, mungkin juga lebam akibat gesekan tali.
"Siapa saja tolong" Aku berteriak berusaha mencari pertolongan.
"Tolong... . "
CEKLEK.. .
Seorang lelaki besar menghampiri ku
"Sudah sadar kamu? " suaranya yang berat membuatku bergidik
"Tolong pak lepaskan saya" pintaku dengan memelas
"Enak aja lepasin lo, dengan susah payah gue bawa lo kesini malah mau dilepasin"
"Apa salah saya pak, sampai bapak menculik ku"
Lelaki itu tertawa nyaring membuat telingaku pekak.
"Sudahlah tak perlu tau alasannya, sekarang lo diam saja"
"Bisa saya meminta air minum pak. Saya haus" Ucapmu agak gemetar
"Tunggu sini" lelaki itu keluar dan masuk kembali dengan membawa sebuah air mineral gelas yang sudah di beri sedotan.
"Minumlah" lelaki itu menyodorkan gelas itu padaku.
Karena memang aku sangat kehausan aku menghabiskan minuman dalam kemasan itu.
lelaki itu tersenyum mengejek
"Wah haus bener lo, sampai habis tak tersisa" dia membuang gelas plastik itu sembarangan.
"Pak kenapa saya di bawa kemari? dan ini? kenapa musti di ikat segala"
"Tugas gue cuma bawa lo kesini, adapun selanjutnya bukan urusan gue"
Tapi pak.. Saya .. . "
belum sempat Intan meneruskan ucapannya pintu terbuka, dan 2 orang masuk
1lelaki berperawakan tinggi dan kurus, yang satu seorang perempuan yang kalau dilihat dari penampilannya seperti kalangan atas.
"Bos" sapa lelaki besar itu
perempuan itu berjalan dengan angkuh mengitariku, Dia memandangku seperti mengejek.
__ADS_1
"auww"teriakku saat ku rasa rambutku dijambak dengan begitu kuat.
"Dasar perempuan kampung tak tahu diri, perempuan kampung seperti lo tak pantas untuk berdampingan dengan Furqon"
Wajahku mendongak ke atas, menatap mata perempuan itu langsung, matanya penuh kemarahan dan emosi.
Dia melepaskan tangannya dari rambutku dengan kasar
"Baju ini harusnya aku yang memakainya, lo sama sekali tak pantas"
perempuan itu menyobek lengan bajuku
"Sreeeekkkkk"
"Apa maksudmu? " tanyaku berusaha mencari jawaban
perempuan itu dengan kasar menarik wajahku dengan tangannya.
Jaringan menekan pipiku dengan kuat.
"Lepaskan" aku berusaha berontak sehingga tangan perempuan itu terlepas dari wajahku.
Tapi tak berlangsung lama tiba-tiba
"PLAK"
Rasa sakit di pipiku bertambah lagi karena tamparan dari perempuan itu,
Panas dan kebas yang aku rasakan
"Perempuan ******! gara-gara lo Furqon mutusin gue, dan sekarang malah lo mau kawin sama dia. Siapa sih lo beraninya menghancurkan kebahagiaan ku, merebut kekasihku" Teriak perempuan itu.
"Aku tak tau maksudmu" ucapku bingung
perempuan yang berpenampilan seksi itu mendorong dahulu dengan telunjuknya.
"Sekarang lo nikmatin hari lo di tempat ini, dan mati membusuk disini" ucapnya sembari keluar di ikuti 2 lelaki tadi.
"Lepas... lepasin aku" teriakku sambil berusaha berontak dari ikatan yang ada pada diriku.
"Lepas... . tolong.. . . tolong" Aku menangis berusaha melepaskan ikatan ku.
Rasa takutku mulai menjadi saat mulai agak gelap. Entah jam berapa sekarang aku juga tak tau, di tengah tangisku aku ingat bahwa aku belum menunaikan sholat
Aku melaksanakan sholat dhuhur yang ku jamak dengan asyar, dengan isarat,karena aku tak bisa bergerak dengan leluasa.karena aku lihat dari cela papan, sepertinya waktu ashar akan segera habis.
Selesai sholat aku memanjatkan doa untuk keselamatanku.
Ya, aku bertekat untuk selamat demi Aathif sama mamak.
PD ku terasa keras, mungkin Aathif sangat kehausan.
Aku sudah tak kuat lagi, aku begitu lemas. aku kehausan dan rasa lapar karena tadi aku tak sempat makan. Ditambah gelap tak ada cahaya sama sekali.
Aku tak ingin putus asa, namun keadaan membuatku prustasi, aku hanya bisa pasrah mengharapkan keajaiban dan pertolongan dari Alloh.
Aku melaksanakan sholat magrib dan isya dengan ku jamak lagi.
Entah sudah berapa lama aku disini, yang jelas sekarang aku mulai putus asa. Aku sekarang ditempat yang gelap dengan badan yang tidak dapat di gerakkan, badanku juga terasa gatal karena keringat dan juga air mata.
ya Alloh jika aku harus berakhir disini aku ikhlas ya Alloh Gumam ku di tengah kepasrahan ku.
Disaat aku sudahlah lelah dan mataku terasa berat untuk terjaga, tiba-tiba
__ADS_1
BRAKKK
Suara pinntu yang terbuka dengan keras membuatku terkejut dan ketakutan
"Intan " Suara itu membuatku menemukan kehidupan lagi,suara yang selalu menemaniku
"Kak! tolong aku" teriakku
"Intan, sayang " Kak Furqon berlari mendekati Intan dan memelukku
"Kamu gak papa sayang? " Katanya seraya semakin menangkup kedua pipiku.
Aku mengangguk
Ada rasa lega dan tenang saat ini.
Furqon membukakan semua ikatan tali dari tangan dan kakiku
"Sayang" Furqon menciumi wajahku, aku mencoba menghindar, namun dia semakin menenggelamkanku pada pelukannya.
"Kak.. jangan seperti ini" kataku sambil menjauhkan kepalaku dari dadanya
"Kenapa? Aku sudah jadi suamimu" ucapnya membuatku terperangah
Seperti mengerti keterkejutan ku kak Furqon tersenyum sambil menangkup pipiku lagi.
"Tadi aku sudah sempat mengucapkan ijab qobul, dan disaksikan oleh semua. Wah kita sekarang sudah halal"
Seketika itu aku memeluk kak Furqon, lelaki yang sudah menjadi suamiku.
Aku menangis sejadi-jadinya di dada kak Furqon yang masih memakai baju pengantin.
"Sudahlah aku sudah disini, kamu aman bersamaku"
Kurasakan belaian kak Furqon di rambutku, membuatku aman dan tenang.
"Sepi bro disini. Kayaknya mereka kabur" sebuah suara mengalihkan kami.
Ternyata mas Furqon sahabat suamiku, dia terlihat terengah-engah.
"Kamu gak papa Intan? " tanyanya sambil memegang bahuku.
Aku mengangguk.
"Kurang ajar. Dimana ******** itu? " kak Furqon berdiri sambil memukul udara tanda geram.
"Sudahlah yang penting Intan sudah ketemu, bawa dia ke rumah sakit, lihatlah keadaannya sangat berantakan" mas Furqon menenangkan Kak Furqon
Kak Furqon membopongku, aku yang terkejut langsung mengalungkan tanganku pada lehernya, agar tak terjatuh.
Kak Furqon meletakkan ku di bangku belakang bersama dengan nya, sedang mas Furqon memegang kemudi.
Entah dimana kami sebenarnya, yang jelas tempat ini begitu sunyi dan gelap. Aku tak mampu menahan kantuk ku, hingga aku tertidur di paha kak Furqon.
Sayup-sayup aku mendengar pembicaraan dua sahabat itu
"Sialan si brenxx itu, dia bawa Istri gue sampai di tengah hutan dan ninggalin sendiri. Kalau ketemu gue habisin dia" ucapan kak Furqon dengan emosi, tapi dengan memelankan suaranya, mungkin agar aku tak terganggu.
"Bener itu, emang bener sudah direncanakan ini. Untung lo masang pelacak di kalung bini lo"
entah apa lagi yang mereka bicarakan yang jelas kini aku benar-benar terlelap dengan belaian tangan lembut kak Furqon di kepalaku
Bersambung.. .
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar nya ya. juga vote nyaπππππ