
Maaf kalau masih typo jangan lupa like dan komentar nya
Pov Intan
Tanganku memegang perut yang sudah sedikit buncit dan keras, kadang aku merasakan cedutan,ya kata orang itu adalah detak jantung bayi
Aku bertanya pada diriku sendiri "Kenapa aku tidak menyadari kehadirannya," ya aku memang tak pernah merasakan apa yang dialami oleh wanita hamil lainnya, mual muntah pusing atau ngidam. Kalau aku tak pingsan mungkin aku tak tahu kalau ada kehidupan lain di dalam rahimmu. Walaupun aku tak mengharapkan nya tapi aku juga tak berhak membencinya.
Mungkin janin ini tahu keadaan ku, sehingga dia tak rewel, tak ingin membuatku repot dengan kebiasaan orang hamil pada umumnya, dia sangat pengertian. Tak terasa air mataku menetes membasahi pipi ku.
Ya akhirnya aku memutuskan untuk menerima janin ini. Aku akan menjaga dan merawat nya, bagaimana pun juga dia adalah titipan dari Tuhanku. Aku akan kuat untuk nya calon anak ku, dan akan menjadi penyemangat ku kelak.
"Emang dasar si mampir loxxx kurang ajar. pingin ku bejek-bejek aja tu muka" mbak Lina datang membuyarkan lamunanku, dia ngomel tak karuan. Lalu dia duduk disebelah ku sambil mengangkat satu kaki nya.
"Maaf ya mbak gara-gara aku,mbak jadi kena masalah" ucapku, mbak Lina menoleh padaku "Sudahlah ini bukan salah mu emang dasar mulut si lampir sok kecantikan" mbak Lina memberiku permen entah dari mana dia mendapatkan nya. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum." Untung aja gak di masukin ruang isolasi "mbak Lina berdiri lalu mengajak ku berkumpul untuk melakukan kegiatan lainnya.
"Lain kali jangan diem aja di p
hina si lampir itu"lanjut mbak lina , sambil berjalan menuju ke kebun sayur, aku hanya mengangguk sambil tersenyum
______&_______&_______&______
Waktu pun berlalu dan kandungan nutrisi menginjak 7bln.Si utun (sebutan mamak untuk bayi dalam kandungan ku) pun bergerak aktif. Dan saat ini aku sudah berada di ruang kunjungan. Hari ini ibu membawakan ku sayur lodeh. Setiap mamak berkunjung selalu membawakan ku makanan apa aja, dan porsinya juga banyak. Sehingga aku dan temen satu sel ku makan bareng bareng.
"Gimana nduk si utun? mamak mengelus perutku yang semakin buncit " yang sehat ya sayang encu mbah" sambung mamak masih mengusap perutku. Aku tersenyum dan si utun pun memberi respon. "Wah pinter si utun ini. Jangan menyusahkan ibu ya nak" mamak masih mengusap perutku.
Mamak membetulkan duduk nya menghadapku, "Intan! nanti kalau si utun udah lounching, biar sama mamak ya? " kata mamak, aku sedikit terkekeh mendengar mamak.
"Mamak nih emang film di launcing"
"ya kan perdana dia keluar di dunia, jadi launching lah. biar jadi brand ambassador nya catering mamak "
__ADS_1
Mamak memang punya sedikit usaha catering, kadang di panggil untuk memasak di hajatan, yang penting bisa memenuhi kebutuhan hidup. Tapi semenjak kasus yang menjerat ku sebagian langganan mamak keluar, tidak banyak sih tapi sedikit berpengaruh pada pemasukan mamak. Karena aku anak tunggal sehingga mamak tak banyak tanggungan.
"Gak usah mak. Biar dia disini, siapa yang akan kasih ASI," jawab ku.
"Kan bisa diperah Intan. " kata mamak
"Tapi mak,... "
Mamak menghela nafasnya.
"Apa kamu tega membesarkan anakmu di sini? "
Memang benar kata mamak, apa iya aku harus merawat nya di sini? dingin pastinya
"Kita lihat nanti mak" mamak mengangguk "Tapi pikirkan lagi ya?. "
Kami menghabiskan waktu besuk yang hanya sebentar dengan mengobrol ringan. "Waktunya kembali" seorang sipir mengingat kan kami.
Aku mengangguk dan tersenyum "mamak juga jaga kesehatan" ucapku
Dan saat berpisah seperti inilah kami mulai meneteskan airmata, dan itu selalu saja. Aku hanya berharap cepat menghirup udara bebas
_____&______&______
Malam ini aku tak bisa nyaman tidur. sebentar sebentar bangun. Entah karena mau kencing ataupun mencari posisi nyaman. Nafas ku pun sering ngos-ngosan. Kata bu maya itu memang bawaan orang hamil tua.
Jam sudah menunjukkan 02:30 dinihari ketika aku terbangun ingin kencing. Jadi sekalian aku mengambil air wudhu dan melaksanakan tahajud ku. Salah satu doa ku,aku meminta agar aku di beri kemudahan kesehatan dan keselamatan untuk kami, aku dan bayiku, sampai melahirkan kelak.
Aku tak akan sungkan untuk meminta apapun pada Alloh, karena dialah yang maha memberi, memang aku penuh dengan dosa, tapi aku selalu memohon ampun padanya, aku tak ingin menjadi hamba-Nya yang durhaka. Aku hanya ingin ridho dan rahmat nya, agar hidup ku dipenuhi dengan keberkahan.
Hari hari aku jalani bersama para napi yang lain. siti sudah bebas, dan dia akan selalu berusaha menjadi lebih baik, dia juga sering mengunjungi kami dan membawakan beberapa peralatan bayi, walaupun bukan baru, hanya bekas anaknya, tapi masih bagus dan layak digunakan. toh bayi ini bajunya dipakai paling lama 1bulan, jadi sayang kalau harus beli baru.
__ADS_1
"Intan" bu Maya membuka obrolan saat kami mencuci baju, aku menoleh "iya bu" Jawab ku "Setelah melahirkan apa bayimu akan kamu rawat disini?" bu maya
"Entahlah bu" jawab ku
"Apa gak lebih baik mamak yang merawat nya saja" bu maya
Aku menghentikan sejenak aktivitas ku. Sekarang aku mudah lelah, di usia kehamilan memasuki 9 bulan perutku sudah mulai membesar, dan agak susah beraktivitas
"Mamak juga bilang begitu" aku melanjutkan membilas bajuku
"Itu lebih baik, kamu bisa memerah asi dan biar mamak yang ambil"
"Tapi nanti mamak kerepotan harus ambil asi tiap hari" kataku sambil memeras baju yang sudah ku bilas, dan aku berdiri
"Nanti 2 hari sekali bisa di ambil kurir, kan sekarang ada kurir asi" bu Maya ikut berdiri karena sudah selesai juga
"Ya nanti kita lihat bu"
Kami berjalan beriringan menuju ke sel setelah menjemur. Tiba-tiba perutku merasakan sakit mulas. Aku berhenti, menggigit bibirku menahan rasa sakit itu, untunglah rasa sakit itu menghilang,
"Kamu kenapa in? " bu Maya memegang kunci dengan rasa khawatir
"Agak sakit bu? tapi udah ilang kok." jawab ku sambil berjalan lagi
"Jangan jangan kamu mau melahirkan"bu Maya
"Masih 2 minggu lagi bu dari HPL"aku
"O ya sudah" bu maya
________&______&________
__ADS_1
Terimakasih yang sudah baca, tolong kasih like dan komen ya