Korban

Korban
40.Menuju Bahagia


__ADS_3

**Terima kasih ya masih menyimak cerita ku


Maaf aku bener lagi gak dapet inspirasi yang ok.


Bantu supaya dapat Inspirasi


Kasih masukan mau di bawa kemana?


Thanks.. .. ..


Yuk kita lanjut**.. ..


Furqon menyematkan sebuah cincin emas putih yang sangat simple namun elegan. Sebuah cincin polos dan di hiasi berlian kecil di tengahnya.


"Cincin ini melambangkan kesederhanaan yang kamu miliki, dan keindahan pesonamu. Terima kasih sudah mau menjadi calon Istriku dan Ibu untuk anak-anak kita" Furqon tersenyum bahagia. Ingin rasanya dia memeluk Intan, namun harus di tahannya.


Sindy mendekati Intan dan memberikan sebuah kotak yang terdapat sebuah cincin platinum polos


"Pakaikan ini pada mas Furqon. Sebagai tanda bahwa kamu sudah terikat padanya" senyum Sindy merekah saat Intan mengambil dan memasangkan cincin itu di jari manis Furqon.


"Kelak jadilah imam yang baik untukku dan anak-anak kita" kata yang terucap dari Intan membuat Furqon begitu lega. Wanita yang selama ini dia dekati akhirnya menerimanya.


"Terima kasih sudah mempercayakan aku untuk menjaga hati mu" Furqon menggenggam tangan Intan dan dia memeluk Intan.


Mamak dan Sindy bersorak bahagia, mereka bertepuk tangan atas kebahagiaan ini.


"Nda... nda.. "Aathif keluar dari kamar dengan menguap. Terlihat mukanya yang bangun tidur menambah kelucuannya.


Intan dan Furqon melepaskan pelukan mereka dan merentangkan tangan untuk Aathif.


Aathif berdiri dan memandang kedua orang yang sedang menunggunya untuk di peluk.


Dia tampak terdiam sejenak, mungkin dia bingung mana yang harus di pilih.


Tak lama Aathif tersenyum dan menghambur ke pelukan Furqon.


" Anak ayah sudah bangun. Tambah lucu nih"Furqon mencubit gemas pipi Aathif


"Wah bundanya kalah saingan" ejek Sindy


"Yuk ikut tante" Sindy mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong Aathif, Namun Aathif menolaknya


"Jangankan kamu, aku bundanya aja di kacangin" kekeh Intan.


"Biarkan mereka, Sana mandi dulu Tan! udah Sore, badanmu penuh debu bau" perintah mamak.

__ADS_1


"Bunda mandi dulu ya sayang" Intan mencium Aathif yang asik bermain dengan Furqon calon ayahnya.


Intan masuk ke kamar untuk mengambil baju gantinya. Dia berdiri di depan cermin


"Apa Iya keputusan ku menerima kak Furqon udah benar? " gumamnya pada bayangannya


"Aku memang mempunyai rasa padanya, tapi aku belum meyakinkan diriku untuk bersamanya"


"Aku tak ingin masa laluku merusak masa depannya"


"Ya Alloh berilah yang terbaik untuk kami. Kalau memang kak Furqon baik untuk kami maka semoga kau mudahkan" Intan menarik nafasnya dan membuangnya dengan cepat.


Lalu Intan beranjak menuju kamar mandi.


Saat melewati dapur dia melihat mamak dan Sindy yang sedang menyiapkan makanan.


"Intan" Sindy memanggil Intan dan mendekatinya


"Terimalah mas Furqon dengan segenap hatimu, jangan kamu ragukan perasaannya. Dia tulus mencintaimu dan menyayangi kalian, kamu dan Aathif juga mamak"


Intan mengangguk sambil tersenyum


Intan sudah terlihat segar, dia menghampiri yang lain. Intan duduk di sebelah Sindy yang sedang menata hidangan.


"Makan In" tawar Sindy


"Ini lauk banyak bener, kapan masak?" tanya Intan


"Tadi mas Furqon yang pesen sebelum kesini" jawab Sindy masih sibuk menata beberapa piring yang entah darimana. karena memang mamak tak membeli banyak piring


"Assalamu'alaikum" ketukan pintu mengiringi salam dari luar.


"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak.


Mamak berdiri dan menuju ke depan untuk membukanya.


"Ayo masuk, kebetulan sudah siap semua" ajak mamak pada tamu yang datang.


Terlihat Indri pak Fadli serta seorang lelaki yang katanya sepupu Indri yang tinggal di rumahnya.


mereka menyalami Furqon dan Sindy serta Intan bergantian


"Indri, pak Fadli.. mari sini" sambut Intan.


Mereka duduk di atas tikar mengitari hidangan.

__ADS_1


"Maaf kami telat, tadi ada tamu" ucap pak Fadli


"Gak papa mas, yang penting kalian datang" jawab mamak. Mamak sudah mulai memaafkan pak Fadli, makanya dia mulai memanggilnya dengan mas seperti dulu.


"Gimana Intan udah di terima?"Tanya Indri dengan menggoda.


Intan tersenyum malu sambil mengangguk


" Alhamdulillah "Indri mengusap 2 telapak tangan pada wajahnya.


" Siapa nih Tan? "Riki sepupu Intan menunjuk Sindy dengan dagunya


" Eh iya kenalkan ini Sindy adik kak Furqon. Sindy ini kenalkan Riki sepupu Indri yang punya kontrakan ini"Intan mengenalkan mereka semua. dan mereka bergantian berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing.


"Riki"


"Sindy! sahabat Intan"


Semua pun mulai menikmati hidangan, kecuali Intan, dia sedang menyusui Aathif di kamar.


Setelah Aathif merasa cukup, Intan ikut bergabung makan dan menyuapi Aathif.


Setelah melaksanakan sholat magrib, Furqon Sindy dan keluarga pak Fadli pamit undur diri.


Sebelum pulang Furqon mengatakan akan mengurus semua surat yang di butuhkan dengan cepat. Dia seperti tidak sabar untuk menghalalkan Intan.


"Intan mamak harap kamu benar-benar membuka hati untuk Furqon, dia sangat baik daan tulus pada kita" Pesan mamak pada Intan saat mereka akan tidur.


"Mamak juga berharap kamu dan Aathif bahagia bersama Furqon"


"Mamak tanya padamu, apa kamu mencintai Furqon? "


Intan terdiam, dalam hati paling dalam, IIntan memang sudah mempunyai perasaan dengan Furqon. Namun dia selalu menampik sendiri perasaan itu, apalagi ketika tau bahwa Furqon masih bersaudara dengan lelaki yang menghancurkan dirinya.


"Intan akan jalani semua ini seperti skenario Alloh mak. Doakan Intan mak" Intan menidurkan kepalanya di pangkuan mamak, dan mamak pun membelai rambut Intan


"Mamak selalu mendoakan kamu dan Aathif agar selalu bahagia, sehat"


"Aamiin.Terima kasih mak. Intan sayang mamak"


"Mamak juga sayang sama kalian.


Bersambung.. . .


Maaf ya gak kalau belum greget.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar ya


juga vote


__ADS_2