
Pov Intan
Samar samar aku melihat langit langit, silau karena lampu yang menyala, berkali-kali aku mengerjakan mataku menyesuaikan cahaya yang menerpa. "Aaahhhh." pusing yang ku rasa saat akan beranjak duduk.
"Intan, kamu baik baik saja? " aku menoleh pada sumber suara. "Mamak" kulihat mamak ku yang sedang berada di samping ranjang, beliau hanya mengangguk, "kalau masih pusing tidur lah dulu. " ucap mak sambil memegang pundak dan lengan ku.
Aku menggeleng pelan "intan gak pa pa malam, "sambil membenarkan posisi untuk duduk dengan di bantu mamak,
" Mamak kok bisa di sini? "tanyaku yang terheran melihat mamak di sisi ku. dan aku sekarang berada di klinik lapas.
" Tadi mamak ingin mengunjungi mu, ternyata kata sipir kamu pingsan dan di bawa ke klinik. makanya mamak menungguimu di sini"
Mamak meletakkan bantal di belakang punggung ku.
"Makasih mak," jawab sambil tersenyum
"Tadi Intan merasa pusing, dan berkunang kunang" lanjut ku
"Kata dokter jaga kamu...... " mamak menggantungkan kata katanya.
"Intan kenapa mak? " tanyaku penasaran
Mamak menggenggam tanganku, entah kenapa perasaan ku merasa tak enak.
"Mak, sebenarnya ada apa? apa Intan sakit serius" tanyaku membalas genggaman tangan mamak.
Mamak menggeleng lagi, dan seperti menahan tangis mamak membelai rambutku dengan satu tangan yang lain.
"Kamu hamil" entahlah perkataan mamak barusan membuat ku syok seperti mendengar petir yang begitu keras hingga merasa dunia ini akan runtuh, dan di ikuti air mata yang meleleh di pipi ku.
__ADS_1
"Intan hamil mak? " tanyaku lirih meyakinkan pendengaran ku.
Mamak mengangguk sambil meneteskan air mata, dan mengelus punggung ku, seperti menguatkan hatiku.
"Mak, Intan gak mau mak, apa Tuhan tidak sayang Intan mak, Tuhan mempermainkan Intan mak, kehormatan intan di ambil paksa, kebebasan intan juga di rampas, sekarang Intan harus menanggung janin yang bahkan Intan gak.... " aku tak bisa meneruskan kataku. Rasanya takdir tak adil pada.
"Intan, kamu pasti kuat nak. Ingatlah Tuhan tak akan mencoba pada seorang hamba nya melebihi batas kemampuan dari hamba itu" Nasehat mamak padaku. Mamak memelukku sambil membelai punggung ku. "Intan semua ujian yang Alloh berikan padamu pasti ada hilmahnya. Yakinlah bahwa Alloh selalu bersama orang yang sabar" mamak melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku
"Mamak akan selalu mendoakan kamu di beri kesabaran kekuatan dan keikhlasan. Dan mamak mendoakan agar kamu bisa berbahagia" lanjut mamak.
"Di dalam semua hal ada hikmahnya, entah sekarang atau nanti hikmah itu akan bisa membuat mu bersyukur" imbuhnya.
"Mamak Intan gak mau mak. Intan gak mau anak ini. Intan sudah menanggung kebejatan lukman seumur hidup intan. Apa intan juga harus menanggung aib lagi dengan hamil tanpa suami" aku masih menangis meratapi keadaan.
"Intan. Alloh sedang menaikkan level keimanan mu. Alloh sedang menguji mu agar Alloh dapat menilai seberapa layaknya kamu untuk menempati surga-Nya" mamak masih menenangkan ku.
Dan sesekali aku merasa kedutan yang 3hari ini aku rasakan. rasa itu membuat ku sedikit Damai ada sesuatu aliran yang menyentuh hati ku, bahkan sampai ke jantung ku
"Tu kan kamu bisa merasakan detak jantung nya" mamak tersenyum. "Bahkan dia merespon ini. Jangan sampai dia merasa tak di harapkan, kasihan, dia tidak berdosa yang berdosa adalah perbuatan ayah nya"sambung mamak menggenggam kedua tangan ku.
"Kamu harus kuat harus sabar dan bertahan serta ikhlas demi calon anak mu kelak" imbuhnya beliau.
Mamak membelai wajah ku dengan lembut "mamak akan selalu ada untuk kalian, kelak jika dia lahir" mamak menyentuh perutku lagi. Dan lagi terasa detak jantung janin. "kita bisa merawat nya bersama sama"
Aku hanya mengangguk pelan menuruti perkataan mamak.
"Selamat malam intan" suara dokter Vani yang bertugas di klinik lapas wanita ini mengalihkan perhatian kami
"Dokter" sapa mamak.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk.
"Gimana sekarang, sudah mendingan? " tanya dokter Vani sambil memasang kan stetoskop nya D telinga, "biar saya periksa sebentar ya! permisi intan. " lantas dokter Vani memeriksa keadaan ku.
"Semuanya baik. Kamu jaga kesehatan ya. Jangan terlalu stres, gak baik buat janin." aku hanya mengangguk lagi. "detak jantung nya sudah terdengar, dan normal. Kamu harus rajin minum vitamin dan penambah darah nya" perawat susi memberiku beberapa seribu tablet.
"Terima kasih " ucapku
"Apa kamu mau mendengar kan nya" dokter menawarkan.
Aku hanya menggeleng. "mamak pingin denger juga Intan" ucap mamak yang tampak bersemangat,
"Gimana Intan mau dengar? tu mbah nya juga penasaran" ucap dokter sambil menunjuk dengan dagu ke arah mamak.
Aku terdiam sesaat sambil memandang mamak yang penuh harap. Akhirnya aku mengangguk pelan. Mamak dan dokter Vani tersenyum "baik lah berbaringlah dulu" dokter Vani menyingkap baju sampai sebatas dada. Dan mengarahkan alat pendeteksi detak jantung
Deg.. Deg.. Deg... Deg..
Suara dari alat yang di usap usapkan d permukaan perutku. entah lah ada rasa yang berdesir di tubuhku. Mengalir begitu hebat, dan tanpa sadar bibirku tertarik membuat seulas senyum. Kulihat mamak dan dokter Vani juga tersenyum bahagia.
___________&&____________
"Kamu hati hati ya nak. Jangan lupa jaga kesehatan, ajak baca Al Qur'an biar si utun jadi anak sholeh sholehah" mamak berpamitan padaku, aku hanya mengangguk lalu memeluk mamak.
Malam ini aku kembali ke dalam sel, dan diberondong pertanyaan dari penghuninya
"Gimana In. kamu gak pa pa kan? bu Maya menodongku dengan pertanyaan yang di ikuti yang lainnya.
Aku duduk di tempat kami biasa tidur. aku menarik nafas ku dan membuangnya dengan berat" aku hamil"
__ADS_1