
Terima kasih masih mantengin cerita aku
Terima kasih juga like dan komennya
Yuk kita lanjut πππ
Tasyakuran dan akikah malam ini telah usai, serangkaian acara telah di lalui. Setelah bercengkrama sambil menikmati hidangan, teman dan kerabat sudah kembali ke rumah masing-masing
Malam ini pak Rahmat dan istrinya Ratna, juga Lukman dan Sarah menginap, itupun dengan sedikit paksaan dari Sindy.
Intan sudah menidurkan Gema di sebelah, sedangkan Aathif sudah tidur dari jam 9 tadi.
TOK.. TOK.. TOK
Intan hendak beranjak dari baringnya, namun sang ibu mertua telah masuk
"Ibu.. "sapa Intan, walaupun sedikit takut namun dia berusaha menyembunyikan nya.
"Gak usah berdiri, di situ saja"ucap Ratna saat Intan akan berdiri dari ranjang, Intan pun menuruti, dia kembali duduk
Ratna melihat sekeliling kamar Intan bersama Furqon. Memegang benda yang ada di atas meja, melihat foto-foto yang terbongkar.
Lalu pandangannya tertuju pada foto pernikahan Intan dan Furqon yang terbingkai apik dan berukuran besar menempel di atas ranjang.
Walaupun ada insiden saat pernikahannya, namun Intan dan Furqon mengulang resepsi mereka 1 bulan setelahnya.
"Gimana kabarmu MENANTU?"tanya Ratna dengan nada sinis dan menekan kata menantu
"Alkhamdulilah sehat bu"jawab Intan agak gugup
Ratna berjalan menuju ruangan sekat di sebelah, dia melihat dengan pandangan yang tak bisa di artikan pada sekeliling ruangan yang di gunakan untuk kedua buah hatinya.
Setelah puas Ratna kembali ke ruangan Intan, terlihat Intan sudah berdiri
"Enak ya sekarang hidup kamu"ucap bu Ratna masih dengan nada sinis, dan melipat kedua tangannya di depan
"Maksud ibu"tanya Intan mengerutkan dahinya
"Iya enak, hidup dengan banyak harta, suami ganteng. Jadi kamu dan mamak mu itu tinggal duduk manis makan tidur main dan menghamburkan uang suami"
Intan hanya diam mendengar ucapan ibu mertuanya itu, dia tak mau meladeni karena tak mau ada keributan
"Setelah kamu tak berhasil menjerat Lukman, kamu berpindah pada kakaknya"Ratna menjeda ucapannya
"Ini kan yang kamu inginkan, masuk ke tengah keluarga kami, dan menguras harta keluarga kami?"lanjut Ratna
"Maaf Bu, ibu salah. Saya gak berniat seperti itu, saya juga gak tau kalau kak Furqon adalah anak bapak kakak nya Sindy dan mas Lukman"jawab Intan sedikit berani
"Oh ya?"Ratna berjalan lebih mendekat ke Intan
"Aku tak percaya"bisik Ratna
"Jangan harap kamu bisa menjalankan rencanamu dengan baik, karena aku akan menghalanginya"lanjut Ratna sambil berjalan keluar
"Oh ya satu lagi" Ratna berbalik saat sudah memegang handle pintu
"Jangan harap aku mengakuimu sebagai menantu"Ratna tersenyum sinis dan keluar kamar
Intan menghembuskan nafasnya berkali-kali, seolah menguatkan dirinya menghadapi ibu mertuanya itu, Intan hanya menggeleng kepala pelan sambil tersenyum.
belum Intan duduk dengan sempurna di ranjang, pintu sudah di ketok lagi
"Masuk"ucap Intan yang kembali berdiri
Mamak masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir jamu
"Ini minumlah dulu"
Intan menerima cangkir itu dan meminumnya sambil duduk di ranjang, memberikan cangkir kosong pada mamak dan memakan permen untuk menghilangkan rasa pahit jamu
__ADS_1
"Tadi ibu melihat Ratna keluar kamar"ucap mamak membuat Intan mendongak pada mamak
"Apa yang dia lakukan?apa dia menyakitimu?"selidik mamak
Intan tersenyum sambil menggeleng
"ibu cuma menanyakan keadaan Intan sama anak-anaknya mak"
"Mamak gak percaya"ucap mamak sarkas
"Ingat Intan, jika perempuan itu ngapa-ngapain kamu, lawan dia. Jangan biarkan dia menindas mu lagi"ucap mamak dengan emosi
"he.. he mak, bagaimana juga bu Rahmat adalah mertua Intan, jadi Intan harus menghormati nya"kekeh Intan
"Mamak tak menyuruh mu durhaka padanya, mamak hanya menyuruh mu waspada dengan perempuan culas itu"
"Ih mamak, nanti kalau kedenger anak anak malah di ikuti omongan nya"
"Ya udah kamu tidur aja, ingat WASPADA"pesan mamak
"Iya"jawab Intan
Sebelum tidur Intan memerah ASInya terlebih dahulu. Walaupun tak melimpah seperti saat menyusui Aathif, namun masih bisa di perah
...****************...
Di meja makan, sarapan pagi ini dipenuhi keceriaan karena ulah Aathif yang menyanyi cicak di dinding dengan syair yang amburadul
cicak cicak dindindin
diam rayap
ada nyamuk Yap Yap
tangkap
"Tuan ada tamu di depan" ucap Mbok Nah
"Siapa mbok?"tanya Furqon yang baru saja akan makan
"Katanya anaknya pak Harto"mbok Nah
"Oo, suruh masuk aja langsung kesini mbok"
Tak lama seorang lelaki berpakaian casual muncul dengan membawa map.
"Adrian ayo sini, kita sarapan dulu kamu pasti belum sarapan"ucap Furqon
"Gak usah malu, anggap aja keluarga sendiri"lanjut Furqon
"Tu duduk di sebelah Sindy"Furqon menunjuk kursi kosong di sebelah Sindy
Meja makan memang berbentuk bulat dengan 6 kursi.
"Ah jadi gak enak"jawab Adrian sambil menarik kursi dan duduk dengan santai
Sindy tersenyum sinis sambil memotar matanya
Gak enak kok malah duduk gumam Sindy
"Ayo makan gak usah sungkan, Sindy tolong ambilin piring"perintah Intan
"Kan ada tika"bantah Sindy
"Mereka lagi sibuk, tolong sebentar aja kok"ucap Furqon
"ck"Sindy berdiri mengambil piring baru untuk tamu
"Ini Adrian, anaknya pak Harto. Ayah lagi nanganin kasus beliau"terang Furqon
__ADS_1
"Maaf ya pagi-pagi nyuruh bawa berkas. Soalnya besok mau di bawa ke pengadilan, jadi siang ini akan saya periksa"ucap Furqon
"Gak pa pa mas, lagian ini minggu libur gak ada dines"
"Ini dok silahkan"sini meletakkan piring di meja depan Adrian
"Terima kasih"ucap Adrian singkat
"Kalian udah kenal?"tanya Intan
"Kebetulan sudah 2 kali ketemu mbak"jawab
Adrian sembari mengambil nasi dan lauknya
"Kebetulan dong"ucap Intan menggoda Sindy
"Saya makan ya"ucap Adrian
"Ya silahkan nakal, sekalian yang banyak"ucap mamak
"Kalau kurang boleh nambah kok"balas Sindy
"Tenang aja, mumpung gratis, jadi di kenyang-kenyangin"ucap Adrian membuat Sindy melongo mendengar ucapan dokter muda itu
Dokter kok doyan gratisan gumam Sindy, namun tak disangka Adrian mendengarnya
"Namanya gratisan sudah pasti nikmat, rejeki itu gak boleh di tolak" bisik Adrian
"Eh.. "Sindy menoleh pada Adrian
Adrian yang di tatap malah asik mengubah makanan di mulutnya
Intan dan Furqon yang melihat interaksi dua orang di depannya itu saling menatap dan tersenyum
"Oh ya gimana kabar papamu?" Furqon membuka obrolan
"Alkhamdulilah sudah mendingan mas"Adrian
"Maaf belum sempat jenguk lagi"
"Gak pa pa, besok juga boleh pulang"jawab Adrian
"Memangnya kenapa papa nya?"tanya Intan
""Anfal"jawab Adrian
"Oh yang ayah ceritain tempo hari"ucap Intan, di balas anggukan oleh Furqon kerana sedang mengunyah
"Ih so sweet banget panggilnya ayah, pasti mbak Intan di panggil bunda"ucap Adrian membuat Intan tersenyum
"Nanti kalau aku nikah juga manggilnya Papi mami"Adrian
"Wah sudah punya calon dong" ucap Furqon
"Belum, ini lagi mau pedekate. Do'ain aja berhasil"Adrian melirik Sindy yang sedanenyuap makanan
Furqon yang melihat gelagat Adrian tersenyum
"Iya deh, pepet aja terus. Kayaknya yang ini bakal susah"
Adrian jadi salah tingkah menyadari Furqon yang memergokinya
Bersambung......
**Lagi ada waktu jadi aku bisa up lagi
jangan lupa ajak temen tetangga sodara dan siapapun juga baca cerita aku
Terima kasihππππππ**
__ADS_1