Korban

Korban
67


__ADS_3

Assalamu'alaikum, selamat pagi"sapa seseorang yang baru saja masuk


"waalaikum salam"


Ngapain ni manusia pagi-pagi kesini Gumame Sindy


"Kebetulan yuk sarapan dulu"ajak Furqon


Tanpa sungkan sang tamu pun duduk di kursi kosong sebelah Sindy


"Hai"sapanya pada Sindy


Sindy memaksakan senyumnya dan mengangguk untuk membalas sapaan padanya


"Apa kabar?"tanyanya lagi


Sindy mengurungkan tangannya yang akan menyuapkan nasi ke mulutnya, dia menoleh ke sebelah


"Baik, ayo di makan, jangan sungkan"ucapnya basa basi, lalu Sindy menyuapkan nasi ke mulutnya


Obrolan ringan terlontar di meja makan itu sampai selesai sarapan


"Semua sudah masuk kan?gak ada yang ketinggalan?"tanya Furqon setelah memasukkan barang ke mobil


Kali ini Furqon memakai mobil CRV yang agak luas


"Sindy kamu ikut mobilnya Adrian aja ya?"ucap Furqon


"Kok??"tanya Sindy bingung, pasalnya dia tak tahu kalau Adrian akan ikut picnic


"Oh iya, mas belum bilang kalau Adrian sama keluarganya ikut. tapi orang tuanya sama adiknya nanti nyusul"Furqon menahan tawanya melihat ekspresi wajah Sindy


"Ya udah, ayo semua masuk" ajak Furqon


Furqon Intan mamak dan Kartika naik mobil yang di kemudikan Mang Oding.


Mbok Nah kali ini tak mau ikut, katanya dia mau jaga rumah aja


"Ayo naik" Sindy yang masih terbengong tak punya pilihan lagi, mobil yang di tumpangi keluarganya baru saja keluar dari gerbang


Sindy pun masuk ke dalam mobil dengan malas,


"Mau apa?"Sindy yang melihat Adrian mendekat padanya dengan sigap menarik sabuk pengamannya dan memasangnya


KLIK


"Aku bisa pasang sendiri"ketus Sindy


Dia tak mau seperti kejadian dulu saat Adrian memasangkan sabuknya


Adrian hanya terkekeh melihat tingkah Sindy, lalu dia menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gasnya mengikuti mobil Furqon yang sudah berangkat duluan


"Gimana?"tanya Adrian di tengah perjalanan


" Gimana apanya? "tanya Sindy bingung


" Lamaran" Kata itu sukses membuat Sindy gugup dan membisu


Adrian melihat sekilas pada Sindy yang berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona dengan melihat ke luar jendela samping


Bagaimana tidak Sindy merasa malu, tanpa basa basi Adrian menanyakan lamaran yang semalam di sampaikan oleh sang kakak


"Sin? apa jawaban mu? " desak Adrian


"Bisa gak sih gak usah bahas ini dulu? " ucap Sindy tak mengalihkan pandangannya pada luar jendela


"Tapi aku ingin tau jawabannya sekarang"


"Gak usah maksa bisa gak? " Sindy mulai nyolot


"Gak" jawab Adrian enteng


"Minggir"ucap Sindy


" Kenapa? "


"Aku bilang minggir" ketus Sindy


Adrian menepikan mobilnya di bahu jalan

__ADS_1


Sindy membuka sabuk pengaman nya dan menarik handle pintu, namun pintu tak terbuka


Adrian tersenyum, tadi sebelum menepikan mobilnya, dia mengunci semua pintu dari pintu sisinya


"Buka " perintah Sindy


"Jangan kekanak-kanakan dong, aku hanya ingin jawaban dari mu" Adrian menarik nafas


"Oke kita memang gak pernah dekat, tapi apa salahnya kita bisa memulai hubungan baru"


Sindy masih diam


"Ijinin aku jadi bagian dari hatimu Sin" Adrian penuh harap


"Jujur dari awal aku ketemu kamu, aku sudah tertarik sama kamu, bahkan bisa di katakan aku jatuh cinta sama kamu"


Sindy menoleh pada Adrian, menajamkan pandangannya melihat keseriusan di mata dokter muda itu


"Kita sama-sama sudah dewasa, alangkah baiknya jika kita memulai dengan yang baik. Aku ingin meng-idbah kamu, aku ingin jadi bagian dari hidupmu, aku ingin kamu jadi makmum ku"


Tak bisa di pungkiri di dalam hati Sindy ada rasa bahagia saat seorang lelaki mengatakan itu semua dengan sepenuh hati.


Dia merasa di hargai sebagai seorang perempuan, walaupun lelaki itu tak dekat layaknya seorang pacar.


Namun keseriusan yang di utarakan olehnya itu mampu menggoyahkan hati perempuan manapun


"Sindy, apakah kamu mau bersanding denganku mengharapkan ridho dari Alloh? " pertanyaan itu membuat Sindy terhipnotis, entah bisikan dari mana membuat Sindy tiba-tiba mengangguk


Dia berfikir tak ada salahnya memulai hubungan baik dengan ridho ilahi


"Alkhamdulilah" ucapan Adrian menyadarkan Sindy dari keterpakuannya


"Eh? " Sindy agak sedikit bingung, karena sebenarnya dia tidak sengaja mengangguk.


"Makasih ya, aku janji Insya Alloh Akan selalu berusaha membahagiakan mu" Adrian menjalankan mobilnya lagi


"Tapi.. maksudnya.. aku.. eh" Sindy masih bingung dengan situasi ini


"Sudahlah, gak usah mikir yang berat dulu, nanti setelah ini kita bicarakan lagi yang lebih serius"


Melihat kebahagiaan yang terpancar dari Adrian membuat Sindy enggan untuk mengatakan tentang keinginan nya untuk di beri waktu lagi.


Sindy yang baru datang langsung menyusul ke tempat keluarga nya berkumpul, meninggalkan Adrian di belakangnya


Sindy langsung duduk di antara Mamak dan Intan


"Abang mana?"tanya Sindy


Intan menunjuk Aathif yang sedang berkejaran dengan ombak bersama Furqon


"Adek ih gemez"Sindy menciumi Gema


"Eh kok dokter Adrian di tinggal?gak sopan"mamak memukul bahu Sindy


"Alah biarin aja udah gede ini"Sindy mengambil alih keponakannya dari tangan Intan


"Sini nak Adrian"panggil mamak


Adrian pun ikut duduk di atas tikar, pandangan nya tak lepas pada Sindy yang asik bermain dengan Gema


Mamak dan Intan hanya tersenyum melihat Adrian yang sedang kasmaran.


"Oh iya kak Adrian, katanya orang tuanya ikut kemari?"tanya mamak membuyarkan Adrian


"E.. Iya, mereka sedang menyiapkan sesuatu dulu"jawab Adrian


"Persiapan apa?"tanya Intan


Kan semuanya sudah kami siapkan"lanjut Intan


"Anu... E.. Ada yang lain, sebentar lagi juga sudah datang"Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Benar saja tak lama kemudian, mereka kedatangan sepasang suami istri yang berpenampilan sederhana namun berkelas, dan juga seorang gadis manusia dengan mini dress birunya


"Ma.. pa. "Adrian berdiri dan menghampiri mereka


Sindy yang masih asik bermain dengan Gema pun mengalihkan perhatiannya pada orang tua Adrian


"Ma.. pa kenalkan ini Mamak mbak Intan dan Sindy"

__ADS_1


kedua orang tua Adrian ikut bergabung duduk di tikar dan mengenalkan dirinya


"Ini Nisa adik saya "Adrian juga mengenalkan adiknya


Tikar yang cukup lebar itupun kini sudah penuh oleh keluarga Furqon dan pak Harto


Tak butuh waktu lama kedua keluarga pun saling akrab. Sindy sedari tadi hanya diam dan sekali kali bermain dengan Gema.


Bukannya sombong, namun terus terang Sindy merasa gugup di hadapan keluarga Adrian.


"Assalamu'alaikum pak Harto"sapa Furqon yang baru datang dengan menggendong Aathif dan basah kuyup


"Waalaikum salam besan"mereka berdua saling berjabat tangan dan tertawa


"Sudah lama?"tanya Furqon yang ikut duduk di pasir


"Baru beberapa menit. Ini pasti Aathif ya?"pak Harto mengulurkan tangan pada Aathif dan di sambutnya


"Wah pintar sekali"pak Harto mengusap-ngusap kepala Aathif


"Saya bilas dulu ya pak, silahkan ngobrol-ngobrol dulu sama yang lain"pamit Furqon


Intan memberikan tas yang berisi handuk dan baju Furqon juga Aathif


Obrolan pun berlanjut saat Furqon beranjak.


Mamak di bantu Sindy dan tika menurunkan bekal yang mereka bawa dari rumah. Tentunya dengan Tikar baru


...Makan siang di pantai pun di mulai setelah Furqon kembali dari membilas...


Di selelingi dengan obrolan ringan tentang pekerjaan dan hobi mereka. Adrian yang ikut mengobrol dengan papa dan Furqon mencuri pandang ke arah adiknya yang terlihat tertawa dengan Sindy


Adrian juga lega, pasalnya sang adik yang tak begitu bisa nyaman dengan orang asing bisa terlihat akrab dengan Sindy


Jangan di tanya Ibu-ibu yang tak kalah ikut membahas segala hal, dari makanan sampai artis pun ikut di bawa.


Setelah makan selesai mereka melanjutkan perjalanan tak lupa mampir di masjid untuk melaksanakan sholat dhuhur.


Kali ini perjalanan mereka di lanjutkan menuju kediaman pak Harto, karena undangan mereka. Katanya untuk acara syukuran karena kemenangan kasus yang di tangani Furqon beberapa bulan lalu


Sindy masih satu mobil dengan Adrian di tambah Nisa yang tadi ikut.


Mobil masuk di sebuah rumah yang megah dengan pagar tinggi.


"Ayo masuk mbak"ajak Nisa


"Ayolah, nanti juga ini jadi rumah mbak Sindy"ucap Nisa yang tak segera mendapati Sindy turun


Sindy memandang Nisa yang duduk di belakang


"Kok malah bengong"Nisa mengguncang bahu Sindy


"Eh iya"Sindy dan Nisa pun turun dari mobil di ikuti Adrian yang masih tersenyum bahagia


Seluruh keluarga telah berkumpul di ruang keluarga yang begitu mewah. Dari baru masuk tadi Sindy sudah di suguhi dengan pemandangan yang indah, dari mulai perabot dan guci mewah tertata apik di rumah bakal istana itu


"Begini ya Sindy, sebenarnya ada yang mau di katakan sama anak tante Adrian" ucap mama Adrian


Adrian yang duduk di depan Sindy pun mengambil nafas


"Iya sebenarnya ini masih kelanjutan yang tadi, soal lamaranku ke kamu"


Tadi Sindy juga sudah dilamar Adrian, namun lamaran kali ini membuat Sindy salah tingkah.


Wajahnya yang sudah memerah dan hatinya yang sudah dag dig dug membuatnya semakin gugup


Sindy melihat wajah seluruh keluarga nya yang sudah harap-harap cemas dengan jawabannya


"Eh... aduh... apa ya... sa... saya... maaf"Sindy memejamkan matanya


Bersambung...


Terima kasih ya masih mau baca cerita aku.


Juga atas Like dan komentar kalian. Aku jadi seneng


Karena cerita ini kurang beberapa episode lagi, makanya aku mau bikin cerita lain, tolong mampir ya


MENGEJAR CINTA SANG JANDA

__ADS_1


masih di riview


__ADS_2