
Sarah berjuang antar hidup dan mati di ruang bersalin, Bik Sum yang terlihat cemas berjalan mondar mandiri di depan pintu bersalin.
Keringat Sarah mulai bercucuran menahan sakit yang menyerang di perut, dalam rasa sakitnya dia masih teringat dengan keadaan suaminya tadi.
Bayangan tentang sang suami hinggap di pikirannya, bagaimana jika suaminya itu tak tertolong, bagaimana dengan anaknya, apakah dia akan menjadi yatim sebelum di lahirkan
"Ya Alloh lindungilah keluarga hamba, suami dan kedua mertua hamba. Selamatkan lah mereka" terselip doa Sarah walaupun rasa sakit kontraksi kian menjadi.
Sudah satu jam lamanya Sarah merasakan sakit yang hilang dan muncul, hingga akhirnya seorang dokter mengatakan bahwa dia sudah siap melahirkan karena sudah komplit bukaan persalinan.
Saat Sarah merasakan ketubannya pecah, sebuah tangan kekar menggenggam tangannya.
Sarah menoleh ke atas kepalanya, bahagia di rasakan nya. Pasalnya di saat detik-detik menjelang kelahiran buah hatinya, sang suami yang sedang terluka menemaninya
"Ayo sayang berjuanglah, aku sudah janji saat kamu akan melahirkan anak kita aku akan di sisimu" Lukman mengecup kening sang istri penuh kasih.
Dokter dan suster yang sedang menangani persalinan pun ikut tersipu dengan pemandangan di depannya
Dokter mengarahkan Sarah untuk mengatur nafas dengan baik, setelah beberapa kali mengejan akhirnya suara bayi mengakhiri perjuangan Sarah dalam melahirkan.
Suara tangis bayi itu membuat Sarah dan Lukman bahagia, di kecupnya lagi kening dan pipi Sarah
"Terima kasih sayang karena memberiku putri cantik" ucap Lukman setelah tadi sang dokter memberi tahukannya bahwa bayi yang di lahirkan Sarah adalah perempuan.
Dokter yang sudah selesai mengeluarkan
plasenta bayi dari rahim sang ibu pun segera menyelesaikan tugasnya. Sarah
tak mengalami sobek saat proses bersalin sehingga dokter tak menjahitnya
"Setelah ini nanti rangsang bayinya ya bu, biar suster yang ngarahin. Semoga ibu lekas pulih, saya permisi dulu"
Setelah dokter itu keluar suster datang dengan bayi yang sudah bersih, sangat cantik.
"Bayinya cantik sekali bu, ini di rangsang dulu ya bu bayinya" seorang suster membuka baju atas Sarah dan meletakkan bayi yang belum memakai baju itu di atas dada Sarah dan menutupinya dengan baju Sarah.
Lukman dan Sarah memperhatikan gerak gerik sang bayi yang sedang menggerakkan kepalanya seperti mencari sesuatu.
Senyum tak pernah hilang dari bibir kedua orang tua baru ini, apalagi setelag sang bayi berhasil mendapatkan ****** sang ibu dan menghisap nya seperti sedang kehausan.
Posisi Sarah yang setengah duduk dengan ujung brankar yang di naikkan membuatnya dengan mudah menyusui bayinya.
"Sus apa ASI saya sudah bisa keluar?" tanya Sarah pada suster yang masih menunggu mereka
"Ini sedang di rangsang agar keluar" jelas suster dengan ramah sambil membetulkan selimut yang sedikit tersingkap
"Mas bagaimana keadaan Bapak sama Ibu?" tanya Sarah ketika melihat lengan dan kepala suaminya yang di perban, ingatan nya tertuju pada mertuanya
"Tadi waktu aku sadar mas Furqon bilang mereka baik-baik saja dan menyuruh perawat mengantarkanku ke ruang bersalin" Lukman masih menggenggam erat kedua bahu Sarah dari samping, sambil melihat anaknya yang asik menyusu pada Sarah.
"Bu bayinya di adzani dulu ya?"
Sarah mengangguk. Diambilnya sang bayi dari atas tubuh ibunya dan di Pakaikan baju dan di bedong.
Lukman menerima bayi yang sudah terbungkus kain bermotif boneka warna pink dari perawat dan mengadzani dan mengkomati di kedua telinga bayi cantik itu dengan bergantian.
Peralatan bayi tadi baru saja bik Sum di toko baby shop di depan rumah sakit setelah bayi terlahir.
Bik sum masuk kedalam ruang bersalin, mengucapkan selamat dan doa untuk ibu dan bayi lalu dia pun pamit pulang untuk membersihkan ari-ari bayi dan menguburnya.
Sarah pun segera di pindahkan ke kamar rawat inap dekat dengan kedua mertuanya.
__ADS_1
Saat Sarah beristirahat, Lukman menelfon Sindy agar datang ke kamar Sarah.
"Bagaimana keadaan Bapak dan Ibu?" tanya Lukman saat Sarah baru datang
"Sudah di urus sama mas Furqon. Bagaimana keadaan mbak Sarah" Sindy mendekati bayi mungil Lukman di boks bayi samping bankar Sarah yang sedang tertidur.
"Lucunya" Sindy tak berani menyentuh bayi itu karena tadi dia belum cuci tangan, walaupun sudah menggunakan hand sanitizer
"Sin jujur pada mas gimana keadaan Bapak dan Ibu?" tanya Lukman cemas
Dengan berat hati Sindy menceritakan keadaan orang tua mereka
"Bapak belum sadarkan diri, sedangkan Ibu... " Sindy ragu meneruskan ucapannya
"Ibu kenapa?" desak Lukman semakin cemas
"Ibu sedang kritis, dan butuh darah"
"Aku akan donorin darah dulu buat Ibu"
Lukman melangkah akan keluar kamar, namun Sindy menahannya
"Mas konsentrasi saja sama mas dulu dan mbak Sarah" Sindy mencekal tangan Lukman yang sudah di depan pintu
"Tapi Ibu.. " belum selesai bicara Sindy sudah memotong
"Tenang saja mas, mbak Intan dan Mamak sudah mendonorkan darah mereka, karena darahnya cocok dengan Ibu"
"Intan? Mamak?" gumam Lukman
"Iya mereka berdua, tadi mereka ikut sama mas Furqon kesini"
Tak terasa air mata Lukman menetes
"Kenapa mas?" tanya Sindy yang menyadari kesedihan di raut wajah kakaknya
"Mas jangan khawatir, semoga ibu bisa melewati masa kritisnya"
Lukman berjalan keluar kamar dan duduk di bangku panjang di depan kamar
"Mereka baik sekali, bahkan penyesalan ku tak mampu menghapus kesalahan yang aku buat pada mereka" Lukman tertunduk dengan tangan yang di pangkukan di kedua lututnya dan menopang dahinya dengan tangan yang di tautkan
Sarah menyentuh pundak Lukman dan mendudukkan dirinya di sebelah Lukman
"Aku yakin mereka sudah benar-benar memaafkan mas Lukman, nyatanya mereka mengizinkan Aathif memanggil mas dengan sebutan papa
"Sekarang mas sembuhkan luka mas saja dulu"
"Auww sakit Sindy" pekik Lukman saat Sindy menekan lengan kanannya yang di perban.
Sindy hanya terkekeh
"Maaf, gak sengaja"
"Kamu jaga mbak Sarah dulu ya, mas mau lihat Bapak dan Ibu" Lukman berdiri setelah mengusap wajahnya menghilangkan bekas air matanya
"Mas tau di mana kamar Bapak sama ibu?" Lukman melihat Sindy yang masih duduk dan dia menggeleng
Sindy menahan tawanya
"Bagaimana mau kesana kalau gak tau dimana mereka? Tu Bapak di kamar sebelah, kalau Ibu masih di ICU"
__ADS_1
Lukman pun beranjak pergi ke kamar di sebelahnya setelah mengacak rambut Sindy dan mendapat pelototan darinya
Mamak dan Intan mengunjungi Sarah dan melihat bayinya. Aathif dan Gema tak di ajak karena memang anak di bawah 5 tahun tak di ijinkan masuk ke dalam rumah sakit.
Dalam kecelakaan beruntun yang dialami Lukman dan kedua orang tua nya di sebabkan sebuah truk pengangkut pasir yang remnya blong menabrak mobil di depannya dan mengakibatkan mobil Furqon yang ada di depan ikut terdorong dan menabrak 2 mobil lain.
Beruntung dalam insiden itu tak memakan korban jiwa, namun korban luka berat dan ringan bergelimpangan termasuk Ibu Lukman yang kritis serta Lukman dan Bapaknya yang mengalami cidera ringan.
Setelah tiga hari Insiden itu Ratna akhirnya melewati masa kritisnya namun keadaan nya lemah. Sindy menjaga sang ibu tiap hari bergantian dengan Furqon dan bik Sum.
Pak Rahmat juga membaik, namun dia masih bertahan di rumah sakit menemani sang istri melewati masa kritisnya.
Sedangkan Sarah dan bayinya sudah boleh pulang, karena keadaan Lukman belum sehat dan tak ada yang mendampingi Sarah paska melahirkan sehingga Sarah menginap di rumah Furqon.
Mamak yang sudah menganggap Sarah anaknya sendiri dengan telaten merawatnya dan bayinya.
Suasana di rumah jadi begitu ramai setelah kedatangan Farah dan bude nya Sarah, mereka datang setelah di kabari tentang kelahiran Sarah.
Sindy yang sedang menjaga sang Ibu mengabarkan bahwa ibunya itu telah sadar dan sudah bisa di ajak bicara.
Lukman segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang ibu.
Pak Rahmat terlihat sedang duduk di sebelah Sindy yang sedang menyuapi ibunya ketika Lukman sampai
"Assalamu'alaikum" sapa Lukman
"Waalaikum salam" jawab mereka semua
"Bu gimana? sudah enakan? " Lukman menghampiri Ibunya yang sudah terlihat segar, tadi Sindy sudah mengelap badan ibunya dengan air hangat
"Alkhamdulilah, kamu gak pa pa kan?" Ratna menyentuh pelan luka di kepala Lukman yang di tutup plester
"Gak pa pa bu, ibu yang sehat ya? Ibu kan belum lihat putri cantik ku" Lukman yang duduk di pinggir ranjang mencium tangan ibunya yang tak ada infusnya
"Iya, ibu akan berusaha biar cepet sehat, ibu ingin melihat kebahagiaan anak-anak ibu. Ibu ingin melihat putri cantik mu"
Ratna membelai rambut Lukman, lalu berganti membelai kepala Sindy
"Ibu juga ingin melihat putri cantik ibu menikah dan bahagia. Juga.... "Ratna menjeda ucapannya dia menghela nafas pelan
"Ibu juga ingin melihat kebahagiaan Furqon dan keluarganya" air mata Ratna mengalir
"Ibu juga ingin meminta maaf dan berterima kasih pada Intan dan mamaknya"
Sindy pun ikut menangis harus atas ucapan ibunya, setelah tersadar tadi Sindy menceritakan Intan dan mamak yang mendonorkan darah untuknya.
"Maafkan ibu juga karena belum bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anak ibu dan Ibu juga minta maaf pada Bapak selama ini tidak bisa jadi istri yang baik buat Bapak" Dan akhirnya siang itu di habiskan drama keluarga yang mengharu biru.
End
Terima kasih atas partisipasinya dengan cerita aku ini. Lope yu buat pembaca semua(✿ ♥‿♥)
Masih ada Bonchap satu lagi biar gak gantung cerita nya.
Jangan lupa mampir di cerita ku selanjutnya
MENGEJAR CINTA SANG JANDA
partisipasinya kalian sangat berarti buatku
jangan lupa likee comen nya
__ADS_1