
Terima kasih masih stay di cerita ku
Terima kasih juga like comment dan vote nyaππ
Lanjut πππ
Hai"sapa seseorang yang baru duduk di sebelah Sindy
Sindy mengangkat wajahnya melihat siapa gerangan yang menyapanya
"Huft"Sindy menghembuskan nafasnya lalu beranjak akan berdiri, namun dia terduduk setelah di tarik oleh orang di sebelahnya
"Ngapain lo disini?"tanya Sindy jengah
"Gak sengaja tadi gue liat lo, jadi gue samperin sambil jelasin semua"jawab nya
"jelasin apalagi? "Sindy berkata sambil membuang muka, tak mau bersitatap dengan Ferdi, pacarnya. Tepatnya mantan pacar yang dua hari lalu di putus gara-gara ketahuan pacaran lagi di belakang Sindy
"Apa yang lo liat tu gak seperti yang lo pikirin"Ferdi berusaha memegang tangan Sindy
"Gak usah pegang juga ngapa?"Sindy menepis tangan Ferdi yang sudah hinggap di tangannya
"Ya udah, asal lo mau dengerin gue"Ferdi
Sindy melihat di sekeliling nya, antrian tinggal 2 orang lagi, semoga cepet giliran gue batin Sindy
Merasa tak ada penolakan dari Sindy Ferdi mulai meneruskan bicaranya
"Gue tu gak ada hubungan sama Dinda, kemarin waktu liat gue sama dia karena ada yang musti kita bahas, lo tau kan dia sekelompok sama gue"
emangnya gue **** apa? gak ada apa-apa kok pake acara cium segala batin Sindy
Ferdi berbicara panjang lebar, namun sepertinya Sindy tak menggubris
Sindy tau kalau selama 2 tahun menjalin hubungan dengannya, Ferdi juga menjalin hubungan dengan perempuan lain.
Memang selama ini Sindy hanya tau dari sahabat nya yang se jurusan sama dia, namun karena Sindy tak melihat sendiri dia tak begitu menanggapi.
Toh hubungan nya dengan Ferdi baik-baik saja, tak pernah ada konflik yang berarti, dan juga selama ini hubungan mereka sehat-sehat saja.
Tak ada kontak fisik yang berarti, mungkin hanya pegangan tangan, tak pernah juga berdu-duaan. Sindy tak mau terjadi hal-hal yang tak di inginkan
Tiba giliran Sindy di panggil
"Bapak mohammad Lukman"panggil petugas
Sindy berdiri, dan menoleh pada Ferd
"Sorry udah giliran gue" Sindy segera menyerahkan ATM yang di berikan kakak iparnya tadi, dan memencet beberapa digit no
"Gue duluan"ucap Sindy sambil berlalu dari hadapan Ferdi
Sindy mempercepat langkahnya saat dia mendengar panggilan Ferdi untuk nya
BRUK
__ADS_1
" Maaf... maaf saya gak sengaja "Sindy berjongkok memunguti kertas-kertas yang berhamburan dari tangan orang yang di tabrak
" Ini, maaf ya.. "Dengan buru-buru Sindy menyerahkan kertas-kertas tadi tanpa melihat karena dia Fokus pada Ferdi yang menyusulnya
" Sindy"panggil Ferdi yang sudah dekat dengan Sindy
"Sekali lagi maaf, permisi" Sindy pun berlalu dengan sedikit berlari melewati dokter Adrian yang tadi di tabrak nya
"Udahlah Ferdi, lepasin, gue mau ke kakak gue" Sindy mencoba melepas cekalan Ferdi yang berhasil mengejarnya
"Plis Sin jangan putusin gue, gue masih sayang sama lo" Ferdi mulai menghibahkan tanpa melepas tangannya
"Huft" Sindy membuang nafasnya dengan kasar, dia mengambil ponsel yang ada di tasnya
Dengan cekatan Sindy mengutak-atik ponselnya, lalu menghadapkan ke hadapan Ferdi
Ferdi ternganga ketika melihat adegan ciuman yang di rekam Sindy beberapa waktu lalu saat dia memergoki tingkah mantannya itu
"lo belum puas, nih juga ada" Sindy menunjukkan vidio saat Ferdi bermesraan di kantin dengan perempuan lain bukan dinda
"Nih juga, ini, ini ini" Sindy terus menscmenscrol galeri nya dan menunjukkan kebersamaan Ferdi dengan beberapa perempuan
"Udah lepasin" Sindy berhasil menarik tangannya
"Anggap aja 2 tahun kebersamaan kita itu cuma mimpi" Sindy berlalu meninggalkan Ferdi yang masi membatu
Dokter muda Adrian yang melihat tontonan itu hanya menggeleng sambil tersenyum, dan berlalu mengunjungi pasien lainnya
"Mbak sudah beres, ini resinya" Sindy menyerahkan kertas dan ATM nya pada Sindy
"Udah siap semua? " tanya Sindy lagi melihat tas yang sudah di letakkan dekat ranjang
"Aku antar aja mbak, kebetulan aku tadi bawa mobil"
"Kamu gak ke kampus? " tanya Lukman yang sudah siap
"Nanti aja gak pa pa. Ayo kita pulang sekarang, gak ada yang ketinggalan kan? " tanya Sindy
"Udah ayo" Jawab Lukman
Mereka pun segera menuju ke parkiran dan berlalu dengan mobil Sindy, hadiah ulang tahun dari Furqon
Di kediaman Furqon di sibukkan dengan persiapan acara akikah, hanya menyingkirkan sofa dan kursi di ruang tamu dan ruang tengah.
Beberapa tenda di halaman depan dan samping, juga kursi yang masih di tumpuk
Intan sedang menyusui Gema sambil mengawasi Aathif yang bermain di halaman belakang dekat kolam renang
"Sayang " sebuah kecupan di daratkan Furqon di pelipis istrinya dari belakang
"Ayah gak ke Firma?"
"Ini kan sabtu, lagian di rumah masih sibuk, masak di tinggal"Furqon duduk di kursi sebelah Intan
" Abang "Furqon melambai pada Aathif yang sedang bermain mobil-mabilan bersama tika
__ADS_1
" Masih ingat, saat pertama kita ketemu" Tanya Furqon sbil memandang Intan
Intan hanya tersenyum tersipu
"Padahal kolamnya gak dalem amat, tapi kok bisa ya tenggelem? " lanjut Furqon menggoda istrinya
"Gak dalem gimana? 2 meter " ucap Intan sambil mencebikkan bibirnya
"ha.. ha.. itu karena bunda gak bisa renang, apalagi saat bunda narik dasi ayah. Huh.. rasanya kecekik gak bisa nafas, untung cepet mengatur nafas jadinya bisa cepet nyebur, nyelametin pitri duyung yang gak bisa renang" kekeh Furqon
"Ish ayah" Intan mencubit pinggang suaminya
"Aduh ampun.. ampun sayang" bukannya berhenti Intan malah semakin menjadi
"Aathif tolongin ayah" Furqon memanggil anak sulungnya, seakan-akan sedang kesulitan
Aathif langsung datang dengan mengyeret mobil nya dengan tali yang sedari tadi di pegangnya
"Ayah kenapa? " tanya Aathif
"Bunda nakal, ayah di cubit sakit sekali" Furqon pura-pura kesakitan sambil mengusap pinggang nya
"Bunda, gak boleh cubit cubit" celoteh Aathif dengan nada anak-anaknya
"Ayah nakal" adu Intan manja
Aathif memandang sangat ayah dengan tatapan intimidasi sambil bersungut-sungut
"Ayah gak boleh nakal sama bunda, hadapi abang " Aathif bergaya akan meninju
"Ampun.. ampun" Fiqon pura-pura kesakitan saat Aathif mulai melayang kan tinjunya di lengannya
"Ha... ha... ha.. udah ayah, abang gak kuat, jangan di gelitikin" Aathif berteriak sambil tertawa
Intan dan tika tersenyum melihat tingkah ayah dan anak itu. Ujung sangat Adek masih anteng tak terganggu dengan suara mereka.
Habis magrib acara sudah di mulai, terlihat tamu undangan termasuk anak yatim piatu dari panti asuhan yang Ar-rahman tetangga terdekat dan pegawai kantor serta beberapa teman Furqon dan Intan
Setelah di isi pembukaan dan tausiyah dari ustadz lalu di bacakan do'a. Acara di teruskan dengan makan-makan
Di ruang tengah yang sudah di alasi karpet, duduk beberapa kerabat dan teman-teman Intan
Termasuk Ayah dan ibu Furqon, Lukman Sindy Kristin mbak dewi juga ibu-ibu pengajian.
jam 8 acara selesai, tak lupa santunan yang di berikan untuk anak yatim piatu dari panti dan lingkungan setempat, dan fakir miskin di bagikan oleh Intan dan Furqon
Keluarga dan teman-teman yang melihat itu sangat senang. Memang keluarga Furqon dikenal dengan ke dirmawanannya, termasuk menjadi donatur tetep panti asuhan yang di kelola oleh pak Ahmad, dan sering mbagikanpada fakir miskin di sekitar rumah mereka
Tapi diantara yang senang pada kebaikan Furqon dan Intan, ada yang tidak suka. Ratna ibu tiri Furqon yang memang tidak menyukai Intan hanya menatap sinis dan tidak suka
Ratna memang tak banyak bicara, karena ancaman pak Rahmat tempo hari.
"Itulah orang yang baru kaya dikit, sudah pamer" gerutu Ratna pelan, namun ternyata dengar sarah yang berada di dekatnya
Sarah hanya menggeleng, dan tak ambil pusing dengan mertuanya itu
__ADS_1
**Bersambung...
jangan lupa like komen dan vote nya yaπππππ**