Korban

Korban
30. Calon


__ADS_3

Terima kasih yang masih menyimak cerita kuπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€


Sebelum lanjut yuk bantu rate 5 ya😁


Selama perjalanan menuju kampung halaman Lukman, terasa sunyi. Tak ada suara bahkan musik. Hanya deru halus mesin mobil.


Setelah beberapa jam mobil sampai di depan rumah Lukman.


Rumah yang paling besar dan bagus,


"Ingat jangan banyak bicara, jawab seperlunya saja" ucap Lukman sebelum turun dari mobil


"Iya siap bos, aku juga ngerti" jawab Sarah malas. Lukman tersenyum lega.


saat mereka keluar dari mobil, mereka disambut pak Rahmat dan bu Rahmat, juga Sindy. dan seorang perempuan yang lumayan cantik.


Lukman mendekati Keluarganya dengan senyum dan menggandeng tangan Sarah.


mereka semua bertanya-tanya tentang perempuan yang dibawa Lukman.


"pak.. bu. " Lukman bergantian menyalami dan mencium tangan juga pipi kedua orang tuanya.


Diikuti Sarah yang mengalami mereka berempat.


Sarah tersenyum sinis. Dia tak menyangka kalau Lukman yang selama ini menyekapnya masih punya rasa hormat.


Bu Rahmat memandang Sarah dengan tajam. Sarah tak menghiraukan tatapan ibu Lukman, karena memang tak perduli.


"Siapa dia Lukman? " tanya bu Rahmat penuh penekanan


"ayo kita masuk dulu" pak Rahmat mengajak masuk semuanya.


Pak Rahmat mulai luluh dengan Lukman, karena hampir setahun ini dia sudah berubah dengan pelan pelan.


Lukman sekarang tak manja lagi seperti dulu. dia lebih dewasa dan bertanggung jawab. Terbukti Lukman bisa meneruskan usahanya pak Rahmat, mendistribusikan beras pada pedagang yang ada di beberapa kota.


Lukman pun memutuskan untuk hidup mandiri di kota.


Sengaja keluarga menyuruhnya pulang untuk menikahkannya dengan anak teman bu Rahmat.


Irma, nama gadis yang akan dinikahkan dengan Lukman. Bahkan dia saat ini ada dirumahnya, ikut menyambut Lukman.


"Siapa dia mas? " tanya Sindy


"Sarah" Jawab Lukman singkat


"Cepat sekali kamu move on mas. Baru beberapa bulan gagal menikahi Intan sekarang sudah bawa yang lain. memang kalau udah watak play boy gak bakal berubah" ucap Sindy sarkas


"Tutup mulutmu Sindy" sergah Lukman.


"Lagian mas aku kalau jadi Intan gak akan sudi juga nikah sama kamu" lanjut Sindy semakin ketus.


Mendengar nama Intan disebut Sarah langsung menoleh kearah Sindy.


"ku buang diam" bentak Lukman.


"Sindy! " bu Rahmat juga ikut membentak Sindy.


Dengan geram Sindy berlalu meninggalkan semua.

__ADS_1


"Ayo duduk dulu. maaf dengan insiden tadi" ucap pak Rahmat ramah.


Lukman mengajak Sarah duduk disebelahnya., sedangkan bu Rahmat duduk di sebelah Irma gadis pilihannya untuk Lukman.


"Siapa dia Lukman? " tanya pak Rahmat


"Oh kenalkan pak bu. Ini Sarah calon Istriku"


Bu Rahmat terbengong mendengar perkataan Lukman.


"Apa kamu gak salah?. Ibu menyuruhmu pulang untuk menikah dengan Irma, tapi kamu malah bawa gadis gak jelas kayak dia".


" Ibu.. " sergah Lukman dan pak Rahmat bersamaan.


Sarah tak heran dan tak menghiraukan hinaan ibunya Lukman. Bahkan Sarah hanya memandang sekilas dengan senyum sinis nya.


"Tuh lihat, dia tidak sopan mandang orang tua seperti itu" bu Rahmat meninggikan suarnya.


Sarah semakin jengah dengan ucapan bu Lukman, dia sedikit mencebikkan mulutnya.


Lukman memandang Sarah sebentar, lalu dia menyenggol Sarah


"Jangan macam-macam" ancam Lukman dengan suara pelan.


Saat Sarah akan bicara langsung dipotong Lukman


"jangan banyak bantah"


Sarah menghela nafasnya.


"Ibu sudah mencarikanmu calon istri yang cantik berpendidikan dan kaya" ucap bu Rahmat dengan memegang bahu Irma yang duduk di sebelahnya.


"Bapak bisanya cuma membiarkan saja. Nyatanya beberapa bulan yang lalu saat Lukman hendak menikah dengan Intan, bapak juga biarkan saja. Tapi nyatanya Intan nya kabur entah kemana? " cerocos bu Rahmat.


"Bu... "Lukman mencoba menghentikan ibunya.


" Kamu juga tau si Intan anak gak bener aja masih dikejar-kejar"


Sarah menatap bu Rahmat dengan tajam, ia tak Terima Jika Intan di jelek-jelekan.


"Bu sudah, jangan paksa aku. Aku akan menentukan jalanku sendiri" Lukman sudah mulai terpancing.


"Apa yang sudah? pokoknya ibu gak mau tau, kamu harus menikah dengan Irma secepatnya"


"Kalau ibu mau, nikahi saja dia" jawab Lukman semakin emosi. Sarah tersenyum mendengar pertengkaran mereka.


"kamu... tu an... " belum selesai berkata pak Rahmat melerainya.


"Sudahlah bu malu, ada tamu malah bertengkar sendiri. Maaf ya nak Sarah atas ketidak nyamanan ini"


Sarah hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Lukman bapak tanya padamu, apa kamu betul-betul serius sama Sarah" tanya pak Rahmat memastikan.


Lukman diam sejenak lalu dia mengangguk dengan ragu.


"Kamu tuh yang tegas jadi lelaki. Sekali lagi bapak tanya apa kamu serius sama Sarah?" kali ini suara pak Rahmat terdengar tegas.


"Ehm.. iy-ya pak" jawab Lukman gugup

__ADS_1


"tu kan, kamu aja gak nyakin. sudah kamu nikah aja sama Irma yang jelas bibit bebet bobot nya"


Ucapan bu Rahmat kali ini membuat hati Sarah sakit, ada perasaan yang mencubit di hatinya, bukan karena hinaan bu Rahmat.


Bagaimana pun juga, Lukman pernah menjadi bagian terindah dalam hidupnya.


Walaupun akhirnya dia mutuskan melupakan Lukman.


Apalagi selama 6 bulan lamanya dia selalu melihat Lukman. Lukman tak memperlakukan dengan baik, tapi dia juga tidak berlaku jahat padanya.


Entah rasa itu masih atau tidak yang jelas, Sarah tak merasakan ketakutan bersama Lukman.


Mereka semua berbicara mengenai hubungan Lukman dan Sarah, juga Irma.


Sindy tidak ikut, karena setelah makan siang dia kembali ke kamarnya. Alasannya akan berkemas untuk kembali kejakarta, kuliahnya tidak bisa ditinggal lama-lama.


Pembicaraan sangat alot. Akhirnya pak Rahmat sebagai kepala keluarga memutuskan akan menikahkan Lukman dan Sarah. Tapi harus menunggu kakak pertama mereka.


Bu Rahmat mau tak mau dia menerima dengan berat hati, apalagi harus menunggu kakak mereka yang entah kemana.


Sedangkan Irma merasa kecewa dan dia pun pamit pulang.


"apa iya kita harus menunggu anak itu, sedangkan kita tak tahu dimana dia sekarang" ucap bu Rahmat sedikit keki.


"Sudahlah kita tunggu, jika sampai 2 bulan tak ketemu. maka Lukman boleh menikahi Sarah"


Setelah Sarah sholat ashar, Lukman mengajak Sarah kembali ke kota.


Diperjalanan pulang tak beda jauh dengan saat mereka pergi, sepi tak ada suara.


Sarah masih berkutat dengan pikiran nya, dia harus bisa kabur.


"Aku ingin buang air. Tolong cari tempat" ucap Sarah.


Lukman membelokkan mobilnya di SPBU.


"Kamu ke kamar mandilah. Aku mau cari minum dulu"


Sarah mengangguk cepat, lalu dia turun dan menuju toilet yang di sediakan SPBU.


Sarah sempat melihat Lukman berjalan menuju mini market yang ada di kawasan SPBU juga.


Sengaja Sarah tidak berlama-lama di toilet. Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk kabur.


Sarah keluar toilet dengan mengawasi sekitar, tak ada Lukman batinnya.


Sarah berjalan cepat akan meninggalkan SPBU, namun tangannya ditarik seseorang saat dia akan menaiki angkot yang dia hentikan.


Sarah menoleh dan dia melihat Lukman dengan penuh amarah dan terlihat mengeratkan giginya.


Lukman menarik Sarah dengan kasar, dan memasukkan ke mobil.


"Sudah aku bilang jangan mencoba lari dariku. Sekarang kamu akan tahu akibatnya" ucap Lukman marah saat dia sudah masuk kedalam mobil. Sarah hanya memandang Lukman dengan takut.


bersambung...


Jangan lupa like dan komentarnya ya... πŸ˜€πŸ˜€


Terima kasih πŸ˜˜πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2