
"Aku pulang telat, meeting" Mas Bayu memberi tahu dari ujung sambungan telepon
"Oooh, meeting lagi? gak biasanya tiap hari"
"Aku buru-buru, Assalamu'alaikum" Suamiku memotong percakapan sebelum ku selesaikan ucapan ku.
lirih ku jawab salam dari Mas Bayu. Suamiku itu sudah seminggu ini selalu pulang larut malam. Apa iya ada meting tiap hari begitu? Bagaimana caraku mencari tahu jika dia benar benar meting.
Aku duduk di meja makan sambil menopang dagu, memandangi masakan di meja makan yang sudah susah payah ku siapkan. Anakku sudah selesai makan dari tadi, dia sudah masuk ke kamarnya dan tidur. Tinggal aku sendiri masih menahan lapar, ingin menemani suami makan sepulang bekerja seperti biasanya.
Sekarang selera makan ku sirna, lenyap bersama rasa penasaran pada kesibukan Mas Bayu yang tak biasanya. Patut kah aku curiga? ku tarik nafas dalam lalu ku hembuskan perlahan. Kami sudah biasa saling percaya selama ini. Tapi, aku merasa kali ini sungguh tak seperti biasanya. Pulang larut malam dengan alasan meting.
Aku beranjak menuju kamar, lantas duduk di depan meja rias seraya menatap diriku di depan cermin. Mengingat-ingat kapan terakhir kali Mas Bayu memujiku, ternyata tak bisa ku ingat lagi. Mungkinkah suamiku sudah mulai biasa padaku. Atau ada wanita lain di antara kami.
Ku tenangkan hati, mulai berfikir jernih agar bisa mencari tahu kebenaran sibuknya Mas Bayu akhir-akhir ini. Haruskah ku tanyakan pada rekan kerjanya atau kutanyakan pada istri teman satu team suamiku. Hanya untuk memastikan apa suaminya meting juga? Tapi kok rasanya seperti terlalu curiga. Tapi harus ku tahan karena tak mau terlalu curiga.
Eemmm.... kurasa penyebab pulangnya suamiku sampai larut malam karena kejadian seminggu yang lalu. Mas Bayu begitu kesal padaku yang di anggapnya tak mampu lagi mengimbangi wawasan pengetahuan dan pemikirannya.
"Wah keren, Ini cocok untuk investasi di masa depan" Mas Bayu menunjukkan padaku sebuah berita di halaman majalah bisnis online di ponselnya.
Kami sudah bersiap untuk tidur kala itu. Aku mencoba ikut membaca, meski belum paham maksud dari berita itu namun aku tersenyum. "Iya dunia memang semakin maju dan berkembang" Aku menjawab dengan susah payah memilih kata yang bagus menurut ku.
"Iya, beruntungnya manusia yang otaknya terus di tempa dengan mengikuti perkembangan teknologi. Gak kayak kamu tuh, diajak ngobrol suka ngak nyambung, aku bicara ini kamu jawabnya itu" Mas Bayu meraih ponselnya dengan cepat dari hadapan ku.
__ADS_1
Aku terkejut, jadi dimatanya kini aku bukan teman untuk berdiskusi yang menarik lagi? Ada rasa sedih menyusup di hatiku, Benarkah aku tak secerdas dulu waktu awal menikah? Aku disibukan dengan rutinitas pekerjaan rumah dan mengurus keluarga. Wajar bukan jika tak ada lagi waktu untuk mencerna berita dan teknologi terkini di dunia online, aku membela diri dalam hati.
" Wanita itu lebih menarik jika smart, kamu jangan malas membaca meski hanya sekedar berita online dong" Mas Bayu kembali melontarkan kata-kata yang menyudutkan diriku.
Meski ingin rasanya membalas perkataannya dengan sengit, namun aku masih berusaha menahan diri. Tak ingin tersulut emosi meski sudah meletup di dalam dadaku.
"Mas . waktuku sudah cukup tersita dengan pekerjaan rumah, mengurus anak, melayani mu dan juga melayani ibu" Aku menekan suaraku pelan mungkin agar tak meledak terbawa rasa kesal dan kecewa.
Pria berahang tegas dengan mata tajam itu menarik mundur badannya dari sisiku. Kami yang tadinya berhimpitan di pembaringan kini berjarak. Dipindahkan guling dari balik punggung lalu meletakkannya di antara kami. Sambil terus menatap tajam padaku.
"Kamu yang memilih mengurus rumah ini sendiri, aku tak pernah meminta. Anak sudah besar jangan di jadikan sebuah alasan, tak mungkin dia merepotkan mu! Ibu juga tak rewel orangnya. Kamu saja yang malas mencari wawasan dan pengetahuan" Mas Bayu mematahkan jawabanku.
Rasanya sia-sia berdebat jika Suamiku sudah menilai seperti itu. Aku tak menjawab, turun dari tempat tidur dan mengambil daster dari lemari. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamar.
"Mau ngapain, Hani?" Tanyanya menghentikan langkahku.
Aku mengayunkan kaki masuk kamar mandi, benar-benar berganti daster membilas aroma parfum yang sudah aku oleskan pada tubuh dengan sabun dan mengikat kembali rambutku yang tergerai.
Mas Bayu menatapku yang sudah menjelma serupa saat sedang memasak di dapur. Dia tak berkata-kata lagi hanya menatapku dengan raut gusar. Ditariknya guling Lantas memeluknya sembari memejamkan mata. Aku sudah tak perduli lagi dengan sikapnya. Mungkin sikapku salah, tapi suamiku juga tak adil menilai ku.
Kejadian di malam itu, mungkinkah itu alasan suamiku enggan menghabiskan malam di rumah bersama ku? atau mungkin dia sedang mengambil jarak untuk menenangkan diri? Kembali ku pandangi diri dalam cermin. Aku masih cantik meski kulit wajah tak sekencang dulu.
Sungguh kah fisikku tak menarik lagi jika isi otakku tak secerdas dulu. Tapi kenapa baru sekarang Mas Bayu mengutarakannya. Selama ini aku memang begini adanya dan suamiku tak pernah menilai sebagai bentuk kekurangan ku.
__ADS_1
Mungkin ada perempuan lain yang mulai menarik hatinya di usia yang mulai matang. Seorang perempuan yang tak hanya sekedar cantik tapi juga smart mungkin. Temanya di kantor atau sosok baru bisnisnya. Sekelebat duga-dugaan mendera meresahkan hati. Aku harus secepatnya mencari tahu.
Detik-detik waktu terasa berjalan begitu lambat. Aku berjuan melawan kantuk menunggu kepulangan Mas Bayu. Ku duduk di kursi ruang tamu mencoba menenangkan pikiran ku. Semoga ibu mertuaku tidak terbangun dan menyadari lampu ruangan ini masih menyala.
sudah lewat tengah malam akhirnya penantian ku berakhir, Mas Bayu pulang. Dia terkejut karena mendapatimu masih terjaga menunggunya di ruang tamu.
"Sari, kamu belum tidur?" Tanyanya gugup.
"Belum. Aku ingin memastikan Mas sehat dan baik-baik saja kerja sampai lewat tengah malam setiap hari" jawab ku lembut.
Wajahnya tak nampak lelah seperti orang habis meting. Justru terlihat berseri layaknya orang yang baru mengalami hal yang membahagiakan. Patut di curigai bukan?. Kalau dia benar-benar meting, program pembahasan kerjanya dan team lancar baru lah wajar. Jika ternyata dia tida meting, apa yang membuatnya terlihat bahagia?.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja, kamu itu berlebihan. Sudah cepat tidur, nanti masuk angin" di genggamnya tanganku dengan gugup, dia seperti bersalah padaku. Entahlah aku merasa sikapnya mencurigakan.
Kuraih tas kerja dari genggaman Mas Bayu, dia tersenyum hangat. masih terlihat bugar meski sudah larut malam.
Mas Bayu merangkul pundak ku menuju ke kamar. Aku bernapas lega, Mas Bayu bersikap mesra lagi padaku. Malam ini akan aku hangatkan kembali ranjang kami yang beberapa hari ini terasa dingin.
"Metingnya lancar, Mas?" tanyaku manja.
*Semua lancar, Dini memang luar biasa" Mas Bayu menjawab dengan berbinar. Namun dia menjadi gugup. Dengan cepat dia berkata lagi "Maksudku, Dini memimpin meting dengan sangat baik"
"Aku baru dengar nama itu, siapa Dini?" tanyaku curiga.
__ADS_1
Mas Bayu tergagap, wajahnya memias lalu buru-buru memelukku hangat.
Aku memejamkan mata menahan lara hati, seketika nyeri mendera di relung hati terdalam. Sungguh ada perempuan lain yang hadir di pernikahan kami yang selama ini aku berfikir baik-baik saja?.