
"Sabar dan kuat, Mas. Semoga masalahmu cepat beres. Mungkin ini teguran untukmu, banyak minta ampun sama Allah. Aku harus masuk rumah," ucapku lirih, berusaha lepas dari rengkuhan.
Dulu setiap tangan kekar itu mendekap, jantungku serasa ditabuh kencang membuatku tengelam dalam pesonanya, namun kini aku berusaha menepisnya.
"Ya Tuhan, kenapa hidupku jadi begini. Aku benar-benar menyesal, Hani. Sangat menyesal." Mas Bayu tak juga melepaskanku dari dekapannya.
" Aku yakin Mas akan sanggup lewati kesulitan. Berani berbuat harus berani menanggung akibatnya. Aku mau temui ibu," kataku, berharap cepat lepas dari dada bidangnya.
Mas Bayu tak menjawab, merebahkan kepalanya di bahuku, dan tetap membiarkan menit-menit berlalu tanpa mendengar permintaanku, hingga aku mulai resah.
Harusnya aku bersorak saat perbuatan zholim Mas Bayu padaku akhirnya menuai petaka. Saat aku tahu ia tak bahagia bersama Dini, harusnya aku menertawakannya dan menepuk dada seraya berteriak, Lihatlah, kamu lebih bahagia saat bersamaku, kan?' Namun, aku sungguh sudah ikhlas memaafkan sikapnya. Hanya dengan ikhlas hatiku lebih ringan melewati titian hidupku saat ini. Aku yakin, memakai Mas Bayu justru menguatkan langkahku.
Iya. Terlalu lama memendam amarah justru akan menggerogoti sisi baik jiwaku hingga hidupku tak akan tenang. Aku memaafkan Mas Bayu demi diriku sendiri. Hanya memaafkan, bukan menerimanya kembali padaku.
"Mas, aku mau masuk ke rumah. Pulanglah, selesaikan masalahmu." Kurenggangkan tubuh, berharap dekapan itu melonggar. Aku tak sanggup bersikap kasar, melihatnya sehancur itu sudah cukup membuatku iba.
"Hani ... aku lelah," lirihnya pilu.
"Mas, bangkit dan selesaikan masalahmu. Kita tinggal nunggu putusan cerai, terima itu. Jadi tolong jangan sentuh aku lagi begini." Sekuat hati aku berusaha tega membuka matanya untuk melihat kenyataan tentang hubungan kami yang telah karam.
"Hani ...."
"Tolong, pahami. Terima hasil pilihan hidupmu." Aku menegaskan lagi.
"Berat, Han, berat," rintihnya sendu.
"Demi ibu, harus kuat dan sabar."
"Demi ibu? tanyanya menahan perih.
"Iya, demi siapa lagi kamu berjuang. Anak? Dia bahkan sudah lama ngak kamu nafkahi."
"Aku suruh Dini kasih uang untuk anak, tidak diberikan?"
__ADS_1
Aku menggeleng cepat.
"Sudahlah. Sekarang lebih baik selesaikan urusanmu di perusahaan, jangan sampai diproses hukum."
Dengan berat hati, Mas Bayu melepas pelukannya saat aku mulai berusaha meronta pelan.
"Makasih, Hani, kamu masih mau dengar keluh kesahku. Kalau saja kamu mau mencabut gugatanmu," bujuknya meratapi sikapku.
"Jangan mimpi jika ngak ingin kecewa, Mas. Hadapi masalahmu satu-satu. Cari Dini, selesaikan ke kantormu."
Mas Bayu menatapku dengan sorot putus asa, lalu menunduk saat melihatku berlalu meninggalkannya.
"Hani, maafkan ibu ..." Ibu mertua langsung memelukku sembari terisak saat aku masuk menemuinya yang sudah duduk di ruang tamu.
"Ibu jangan banyak pikiran. Istirahat di kamar saja, Hani mau mandi, bentar lagi maqrib." Aku mengusap punggung ibu mertua pelan, lalu memapahnya ke kamar.
Mungkin bagi ibu, aku terkesan pengalah, pemaaf, mau-maunya masih bersikap baik pada orang-orang yang telah semena-mena terhadapku. Bukan karena aku lemah, tapi itulah caraku untuk berbenah diri. Tak ada gunanya kubiarkan rasa sakit itu berkerak lama. Itu justru akan menghambat jalan hidupku ke depan.
Siapa sih yang tidak marah ketika dijahatin orang? Kurasa tiap orang akan bereaksi serupa, pada awalnya marah menerima perlakuan zholim. Namun, semakin aku memendam rasa marah akan tercermin dalam sikapku yang pastinya cenderung buruk. Seseorang yang tidak menaruh ruang dalam hatinya untuk memaafkan, bagaimana bisa menjadi orang yang positif thingking, lalu akan sulit menyadari di bagian mana dari diri ini yang harus diperbaiki.
Sudah dua hari ini ibu mertua tinggal bersama kami, ia terlihat lebih segar dari saat baru datang ke rumah ini kemaren.
Sore ini, ia dengan sabar menemaniku menyiapkan masakan untuk makan malam kami, meski berulang aku minta ibu untuk duduk saja.
"Hani, ibu sudah tua. Mungkin usiaku tak lama lagi." Tiba-tiba saja ibu mertuaku berbicara yang tidak nyaman dalam pendengaranku.
"Kenapa ibu bicara begitu? Usia kan rahasia Allah."
Ibu mertua menarik napas panjang lalu beristighfar melepas beban hatinya. "Rasanya hidup ibu tidak bahagia lagi tanpa kalian."
"Hani kan masih tinggal ngak jauh, ibu boleh ke sini kapan saja ketemu cucu ibu,"ucapku menghibur ibu mertua.
"Apa tidak bisa lagi kamu lanjutkan rumah tangga dengan Bayu?" tanya ibu ragu dan lirih.
__ADS_1
"Maaf, mungkin ngak sampai sebulan lagi kami resmi cerai, Bu. Mas Bayu ngak pernah datang sidang, jadi putusannya lebih cepat."
"Ya Allah, Hani. Kamu tega lihat ibu sengsara sendirian? Dini sama Bayu bikin rumah ibu ngak nyaman."
"Bukan gitu, Bu. Dari awal Mas Bayu dekat dengan Dini kan sudah Hani ingatkan. Ibu ngak ambil tindakan mencegah kedekatan mereka, jadi bukan salahku kalau milih pisah."
"Iya. Tapi orang kan boleh salah ambil keputusan, apa ngak bisa dikasih kesempatan lagi? mumpung belum diketuk hakim."
Aku menggeleng pasti seraya menuang sayuran yang baru kumasak ke dalam mangkuk.
Dengan lesu, ibu membantuku mengangkat ikan goreng yang sudah kecoklatan. Berdua kami beriringan menata masakan di atas meja.
Aku mengusap lagi bahu ibu pelan, merengkuhnya yang sibuk mengusap air mata di wajahnya.
"Sudah, Bu, sudah. Kita masih tetap bisa seperti mertua dan menantu, ibu tetaplah neneknya anakku. Jangan sungkan datang, rumah ini juga tempat tinggal ibu." Kupeluk ibu hangat.
Selepas maqrib, aku dan ibu mertua sudah duduk bersisian di meja makan, kami menunggu anak untuk makan bersama-sama. Deru mobil berhenti di depan rumah terdengar, mengusik keheningan diantara kami berdua. Aku berdiri dengan cepat, meminta ibu keluar bersamaku, sepertinya Mas Bayu datang untuk menjemput ibunya.
"Assalamu'alaikum," seru seorang lelaki seumuranku dari depan pintu pagar.
Aku tak mengenalinya, juga baru kali ini melihat mobil itu. Hingga seorang wanita berparas anggun turun dari mobil, aku menyadari siapa tamuku dan setengah berlari menuju pintu pagar.
"Wa'alikumussalam. Bu Dito? Maaf saya kira siapa, saya bingung tadi, jadi lama buka pintu pagarnya." ucapku seraya gemetar membuka pagar.
Wanita itu selalu tersenyum hangat setiap menatapku itu menghampiriku seraya mengajakku bersalaman, lalu ia mencium dan memelukku erat. Tanpa sungkan ia berjalan masuk mengiringi langkahku, kami langsung akrab satu sama lain seolah sudah lama kenal meski baru sekali bertemu.
Melihat ibu mertua yang berdiri di teras rumah, Bu Dito tersenyum seraya menyapa ramah, " Ibunya Hani? Sehat, ibu?"
"Bukan. Saya ibunya mertuanya. Ibu siapa, ya?" tanya ibu mertuaku dengan suara sedikit tak ramah.
"Oh, maaf. Saya kira ibunya. Saya Bu Dito. Suami rekan bisnis Hani, dan anak saya si Julio teman istimewanya Hani." Bu Dito memperkenalkan diri dengan percaya diri.
"Masuk dulu, bu. Kita lanjut ngobrol di dalam saja. Di luar banyak nyamuk." Buru-buru aku mencairkan suasana saat kulihat wajah ibu mertuaku nampaknya mulai tegang.
__ADS_1
Dua wanita berusia senja itu menuruti pintaku. Lelaki yang kuterka supir keluarga Pak Dito itu menyusul kami seraya membawa banyak oleh-oleh di meja.
Aku mengangguk seraya berterima kasih, ingin membawa makanan itu ke dalam tapi ragu untuk meninggalkan dua wanita paruh baya itu yang masih saling bertatapan saling selidik.