KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
WANITA UNDANGAN IBU MERTUA


__ADS_3

"Selamat ya, aku senang akhirnya kita bisa satu kantor lagi. Ayo kita training lagi, doakan semoga aku sabar membimbing emak-emak yang sudah karatan karena sudah lama memegang kain lap di dapur," Luluk tertawa meledek ku habis-habisan. Sambil bersenda gurau membuat ku semakin bersemangat untuk bisa berusaha.


Dua jam berlalu, aku sudah mulai paham dan mahir menguasai dunia advertising di era masa kini. Alhamdulillah, beruntung aku punya sahabat yang bersemangat membantu ku. sehingga aku bisa cepat terampil, meski sudah lama meninggal dunia kerja.


Di tengah kesibukan ku menyimak penjelasan yang Luluk berikan deskripsi tentang pekerjaan ku, tiba-tiba ponsel ku bergetar. Panggilan masuk dari Mas Bayu. Aku mengerutkan dahi, tak biasanya jika di jam sibuk bekerja dia jarang menelpon ku jika tidak ada yang mendesak.


"Assalamu'alaikum, mas?" tanyaku heran usai mengucapkan salam.


"Waalaikum salam, nanti kamu pulang jam berapa?, kira-kira masih sempat bantu ibu tidak ya?" jawabnya cepat.


"Maaf, Mas. Nanti sore aku harus mengantarkan Fahmi les Robotik, sama les Pramuka".


"Eeemmm ya sudah. Berarti kamu tidak bisa bantu ibu masak buat Dini? Kamu lagi sibuk tidak sekarang?"


"Tidak bisa lah, Mas. Ibu kan mau masak masakan istimewa? Meski aku sibuk aku masih bisa mengatasi, apa Mas ada perlu sesuatu lagi?" tanyaku masih menghargai posisinya sebagai suamiku, meskipun aku menyindirnya dengan sengit.


"Tidak ada, hanya ingin tahu kamu sanggup kerja lagi atau tidak? Di takutkan kamu tertekan". jawabnya dengan gugup.


"Tidaklah, Mas. Aku masih tangkas dan gesit, pekerjaan rumah sama mengurus ibu itu lebih berat daripada kerjaan ku di kantor. Eemmm Mas, tidak sibuk ini?" Aku sindir kembali Mas Bayu dengan sengit.


Luluk sahabatku tertawa tertahan mendengar jawaban ku. Aku tahu pasti dia bersorak gembira karena aku menyudutkan Mas Bayu secara halus.


"Kalau aku ya sibuk lah! Aku cuma harus memastikan bahwa kamu tetap memantau keadaan rumah. ARTnya cocok tidak sama ibu, semua itu, juga harus jadi perhatian mu" Mas Bayu berkilah tak mau terlihat kalah olehku.


"Mas bisa telpon ibu langsung, jika ibu tidak telpon aku berarti semuanya baik-baik. Eemm Mas, sudah dulu ya, aku mau meting ini"

__ADS_1


Aku ucapkan salam lalu buru-buru aku matikan ponselku mengakhiri percakapan dengan Mas Bayu. lagi dan lagi Luluk tertawa geli, rupanya sahabatku itu punya hiburan dengan peran ku kini.


"Memang kamu mau meting dengan siapa? Dengan ku ya hahahaha. Ayo kita lanjutkan lagi, semoga besok kamu bisa diikutkan presentasi di kantor Mas Bayu yang jadi penghilang dahaga mu hahaha" Terus saja Luluk melontarkan Senda tawanya padaku. Saat ini aku merasa melebih mudah bertahun-tahun.


Menjelang sore aku izin untuk menjemput Fahmi di sekolah karena sudah selesai dengan kelas Pramuka ya, sekarang dia harus les Robotik, pulang nanti hampir bersamaan dengan berakhirnya jam kerjaku. Dia rela menunggu ku beberapa waktu.


Alhamdulillah hari ini berjalan dengan lancar. Aku sudah kembali menjemput Fahmi dari tempat les Robotiknya saat hampir menjelang maqrib. Rasa lelah tak ku hiraukan. Aku ingin membiasakan fisikku ini dengan kesibukan baruku di kantor.


"Hani, sungguh tega kamu tidak bantuin ibu sama sekali. Mbak min tadi bantuin ibu masak, tapi dia kurang cekatan jadi butuh waktu lama di dapur" ibu mertuaku mengadu padaku setibanya di rumah.


"Ya harap maklum lah Bu. Mbak Min kan masih baru dia butuh beradaptasi dengan kebiasaan ibu memasak. Nanti kalau sudah terbiasa lama-lama tahu dengan apa yang ibu inginkan." Aku menenangkan ibu, agar tetap menerima ART bekerja di rumah ini.


"Duh, Ibu berharapnya sih bisa begitu. Ayo cepat kamu siap-siap, sebentar lagi Dini datang." Ujar ibu.


"Tanggung, Bu. Sebentar lagi masuk azan isya. Aku ngaji dulu sambil nunggu waktu shalat isya'."


*Dini kan tamunya ibu sudah sewajarnya ibu yang menyambutnya* itulah yang ada dalam benak ku.


"Ya sudah ibu duluan, Nanti Hani nyusul nemuin Dini" akhir dari jawabanku.


Benar saja waktu aku bersiap untuk sholat isya, aku dengar deru mobil beriringan memasuki halaman. Dini dan Mas Bayu sudah datang. Ku tunaikan kewajiban ku tanpa memikirkan tamu yang di undang oleh mertuaku. Biar ku adukan pada Allah tentang kegundahan hati ku kali ini.


"Fahmi, ayo ikut makan malam bersama, mama keruang tamu duluan ya." aku mengajak Fahmi yang berada di kamarnya.


aku melihat ibu duduk bersisian dengan Dini. Mas Bayu tak terlihat diruang tamu, dimana dia? Aku berjalan menemui Dini ku ukir senyuman manis dibibir ku. Sebisa mungkin ku singkirkan rasa kesal di hati, aku tak ingin jadi orang munafik, ini senyuman tulus dariku. Aku berfikir positif berharap dalam diri Dini ada yang bisa aku teladani untuk menjadi yang lebih baik.

__ADS_1


"Selamat datang kembali dirumah ini, Mbak. Aku Hani istrinya Mas Bayu, mamanya Fahmi dan menantunya ibu Simah." sampai lengkap memperkenalkan diri sambil bergurau. Aku duduk berhadapan dengan Dini.


"Terima kasih, Mbak Hani. Aku Dini teman kuliahnya Bayu dulu dan sekarang teman satu team kerja. Aku sudah penasaran pengen ketemu dengan wanita yang ketiban apes mau di nikahin sama Bayu." Dini membalas garauanku sambil membalas uluran tanganku.


"Aduh, yang apes itu ibu tidak jadi memiliki menantu kayak kamu" Tiba-tiba ibu mertua menimpali perkenalan kami. Sungguh ucapannya membuat ku tiada arti menjadi menantunya.


"Ah ibu bisa saja. Ayo dicicipi kue serabinya, Bu. Biar Dini suapain ini masih anget. Aku ambil sendok dulu di dapur ya?" Dini berdiri, namun kemudian duduk kembali.


"Eh maaf, aku lupa kalau sekarang dapurnya milik mbak Hani. Eeemmm bisa pinjam sendok mbak?" tanya Dini dengan salah tingkah.


"Iya, aku juga mau nawarkan untuk di ambilkan sendok, sekalian mau bawa tissue lupa belum di siapkan di meja sini." Aku tersenyum lembut, terus berdiri dengan cepat.


"ini sudah aku ambilkan sendok, aku masih ingat dengan kebiasaan Dini menyuapi ibu kue serabi yang masih hangat, sekalian aku ambilkan dulu didapur." Aku tak menyadari Mas Bayu sudah hadir diantara kami.


Begitu lekatnya kenangan bersama Dini dirumah ini, cukup detail sekali setiap kebiasaannya tertanam dalam benak Mas Bayu. Aku mengambil sendok dari tangan Mas Bayu, lalu memberikannya pada Dini.


Dengan wajah berbinar ibu mengunyah menerima suapan demi suapan kue serabi, tawa dari ketiganya berderai setiap kali ibu bertanya tentang ini dan itu pada Dini.


"Mbak Dini sudah berkeluarga belum?" tanyaku lirih.


"Mak-sud aku, Mbak sudah pamit pada keluarga untuk makan malam bersama disini? Takutnya nanti dicariin kalau sampai malam gitu" Aku capat menambahkan ucapanku.


"Sayang aku tinggal sendiri di kota ini, Mbak Hani. Keluarga ku semuanya tinggal di Medan." Dini menjawab pertanyaan ku.


"Hani, kamu siapkan saja makan malamnya. Aku masih kangen. Dini kamu nginap disini juga ngak akan ada yang nyariin dan tak perlu izin keluarga juga" Ibu mertuaku menyanggah ucapanku.

__ADS_1


Aku tercengang mendengar akhir dari kalimat ibu, Dia membuka lebar-lebar pintu untuk wanita lain menginap serumah dengan anak yang jelas-jelas sudah punya istri dan anak. waah bukan main.


__ADS_2