
Seminggu sudah ibu mertua ikut menginap di rumahku tapi nomor ponsel Mas Bayu tak bisa kutelepon lagi, selama itu ibu tak banyak bicara, ia hanya berkata padaku seperlunya saja. Namun, begitu, aku tetap memperhatikan saat bersama anakku, khawatir jika ada hal kurang baik yang dikatakannya pada Fahmi.
"Masuk dulu, Bu. Sekarang sudah malam sekali." Aku menghampiri ibu yang termenung di kursi teras sendirian, tak tega juga melihatnya seperti orang kebingungan, sementara anakku sudah tertidur lelap.
"Ibu kangen sama Bayu, kok ngak ada nelepon ibu sama sekali, ya. Apa ia telepon kamu? Dini juga, sejak mengunci kami di rumah waktu itu sudah ngak ada kabar lagi."
"Dini mengunci ibu di rumah?"
"Iya, kami keluar rumah dibantu tetangga yang ditelepon Bayu, Dini minggat. Ibu ngak tahu ada masalah apa. Bayu nggak mau cerita. Ibu hanya tahunya mereka sedang bertengkar."
"Oh, jadi gitu perginya Dini? Hani besok harus bangun pagi, ayolah ibu masuk," bujukku pelan.
Ibu pun mengangguk, ia menggenggam tanganku erat seakan sangat menghargai sikap baikku. Kami beriringan menuju pintu rumah yang masih terbuka.
Suara nyaring gembok pintu yang dipukulkan terdengar di pintu pagar membuat langkahku dan ibu terhenti. Kami melihat ke pintu pagar hampir bersamaan.
Di depan pagar sana, nampak Mas Bayu berdiri dan menunjuk gembok yang tergantung, memberi isyarat agar aku membuka pintu pagar. Aku tak melihat mobil SUV miliknya, ia naik apa ke sini? Ibu mertua tampak sama terkejutnya denganku, ia cepat memintaku mengambil kunci gembok pagar, dan duduk menunggu di teras.
Mas bayu menunduk saat aku menghampirinya. Ada gurat malu di raut wajahnya. Ia menatapku sekilas, lalu menunduk lagi.
"Fahmi sudah tidur?" lirih Mas Bayu degan sungkan.
Aku mengangguk cepat. "Mas Bayu naik apa ke sini?"
"Taksi, tapi aku turun di rumah sebarang sana, takut bangunin kalian jika sudah tidur."
"Ini sudah larut, Mas. Mau jemput ibu?"
"Ngak, bukan gitu. Aku lelah, nanti aku ceritakan ada apa. Tolonglah, bantu aku. Ibu ngak boleh dengar dulu masalahku ini," bisiknya lirih.
"Maksudnya, Mas mau nginap sini?" tanyaku cepat.
"Semalam saja. Aku hanya ingin ibu tak cemas menungguku. Besok aku pergi lagi."
"Baiklah," ucapku tak tega.
Mas Bayu tersenyum, "Makasih."
"Mobilmu mana?" tanya ibu saat Mas Bayu sudah sampai di depannya.
"Ada di bengkel, rusak harus di perbaiki. Bayu naik taksi tadi," jawab Mas Bayu.
Ibu berdiri dan meraih tubuh Mas Bayu, "Ibu khawatir sekali, kamu ngak ada kabar sejak pergi luar kota."
__ADS_1
"Maaf, Bu. Bayu ngak sempat telepon."
Aku mendahului langkah ibu dan anak itu dengan perasaan campur aduk. Serba salah untuk terus berbuat baik atau bersikap tega pada keberadaan mereka di rumah kontrakanku. Sudah larut malam, bagaimana bisa kuminta Mas Bayu pergi lagi tanpa kendaraan.
Mas Bayu memandangi isi ruang tengah dengan sendu, ia menatap foto-fotoku dan anaknya yang terpajang di dinding ruang tengah. Ia pun mengernyitkan dahi, mungkin merasa tersisihkan karena tak ada fotonya terpajang satu pun.
"Sudah larut malam, ibu tidur saja dulu, Bayu numpang nginap di sini. Besok pagi kita cerita-cerita lagi," kata Mas Bayu pada ibu.
"Aku buat teh hangat dulu." Aku berkata singkat, hendak pergi ke dapur.
"Sekalian tolong ibu minta air minum hangat untuk di bawa ke kamar, ya," ucap ibu lirih.
Aku mengangguk. Memintanya ke kamar lebih dulu selagi aku ke dapur mengambil air minum untuknya.
"Aku tidur di mana?" Mas Bayu bertanya seraya mengikutiku ke dapur.
"Ngak ada kamar lagi, Mas. Tidur sama Fahmi atau di sofa panjang itu." Aku berkata jengah, Mas Bayu berdiri menempel tepat di sampingku hampir tak berjarak saat aku menuang minuman untuk ibu.
Mas Bayu merangkul bahuku. Aku pun menggeser cepat tubuhku ke samping hingga minuman yang ku ambil untuk ibu hampir tumpah.
"Jangan ulangi menyentuhku! Sebentar lagi kita resmi cerai." Aku menegakkan kepala dan bahu ingin Mas Bayu tahu jika kata-kataku bukan sekedar ancaman.
Dulu, aku memang merasa dianugerahi suami yang tampan dan baik. Namun kini, sejak Dini datang memberi cerita pahit pengkhianatan Mas Bayu padaku, aku sudah tak agi membiarkan pria di sampingku ini tetap menghuni hatiku. Geram rasanya tapi ia berusaha menyentuh lagi.
"Ini rumahku, mas! Bersikaplah yang baik jika masih ingin kuizinkan bermalam di sini." Aku menatap sengit pria yang tak punya pendirian itu. Lalu melangkah ke kamar ibu membawa minumannya .
Ibu masih duduk menungguku di tepi tempat tidur, ia menerima gelas berisi air hangat dariku lalu meneguknya perlahan. "Makasih, Hani. Sudah memberi ibu kesempatan untuk memperbaiki keadaan."
"Maaf, Bu, maksud ibu apa? Jika ingin meminta Hani untuk kembali bersama Mas Bayu, rasanya aku tak bisa lagi." Aku mengambil kembali gelas kosong di tangan ibu.
"Selesaikan masalah rumah tanggamu dengan diskusi, selagi masih ada kesempatan." Ibu mulai mempengaruhiku.
Mudah sekali ibu berpendapat seperti itu. Apa ia tak ingat saat akku menegurnya karena ia yang pertama kali mengundang Dini datang ke rumah? Ibu lah yang memberi jalan Dini lebih dekat dengan Mas Bayu.
"Bu? Aku memutuskan ingin cerai setelah memberi pilihan pada Mas Bayu, ia lebih memilih Dini. Aku sudah cukup sabar waktu itu."
"Tapi berpisah bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalahmu, Hani." Ibu terus memaksakan pendapatnya lagi.
Ibu sungguh aneh! Apa ia ingin menuntutku untuk mengorbankan perasaan dengan membolehkan Mas Bayu menikah lagi tanpa bercerai denganku? Ibu tega sekali.
"Ibu bisa bayangkan! Kesetianku tulus, dibalas Mas Bayu dengan pengkhianatan. Wajar kan aku memilih berpisah, Bu?"
Aku sungguh tak bisa lagi menahan rasa kesal karena dipojokkan terus oleh ibu. Seolah aku telah mengambil keputusan yang salah.
__ADS_1
"Dengar dulu! Ibu memang salah, ibu minta maaf. Kamu bisa memaafkan ibu kan? Jadi kembalilah sama Bayu." Ibu menatapku tajam.
Aku hanya diam. Tak kujawab pertanyaan itu dan melangkah ingin ke kamarku, biarlah ibu menyimpulkan sendiri diamku, jika aku lebih tenang dengan hidupku yang sekarang.
"Kenapa diam saja, kamu tega tak mau memaafkan ibu meski ibu sudah memohon?" tanya ibu lagi sebelum aku mencapai pintu kamar.
"Bu, malam makin larut. Hani harus tidur, besok harus kerja."
"Hani, aku benar-benar meminta maaf. Ibu tak pernah bermaksud menyakiti hatimu. Aku pikir Bayu sangat mencintai Dini dan tak bisa bertahan bersamamu saat Dini kembali ke kota ini." Ibu tetap mengajakku bicara.
Aku tetap melangkah menuju pintu kamar, biar saja ibu capek bicara sendiri. Aku tetap akan pergi tidur. Aku tetap hanya menoleh sekilas pada ibu.
Tatapan ibu meredup, tak segarang tadi. Ia menghampiriku, detik berikutnya ibu sudah menghujaniku dengan kata maaf dan pelukan erat.
Aku terpaku, bahkan untuk melingkar kedua tangan membalas pelukan ibu pun begitu berat untuk bisa kulakukan. Terlalu dalam ceruk luka yang sudah ditorehkan ibu dalam hatiku.
"Hani? Kenapa diam saja, bukankah ibu sudah berulang kali minta maaf?" ibu mengguncang bahuku.
"Semua sudah terlambat, Bu. Memaafkan, aku masih bisa. Tapi tak mudah untuk meneruskan kembali pernikahanku."
Pelukan ibu melonggar, tubuhnya pun menjauh dariku, ia nampak begitu kecewa. Biar saja ibu merenungi jika selama ini ia telah menyakiti perasaanku meskipun ia tak juga mau menyadari.
"Kukira Dini wanita yang baik, namun aku salah besar." Melihatku terus berjalan keluar, ibu berkata dengan suara lebih keras.
Aku terhenti di depan pintu. Penasaran, aku menunggu ibu menjelaskan lagi tentang Dini. Wanita cantik lagi pintar pujaan Mas Bayu itu bukan wanita baik katanya? Ibu pasti baru mengetahui satu hal buruk tentang Dini. Huh, untuk apa aku harus tahu? Aku melanjutkan langkah, terus bicara dengan ibu membuatku nanti tak bisa tidur saja.
Aku sudah membulatkan hati, namun tiba-tiba terdengar ibu mulai terisak tersedu. Duh, aku tak tega membiarkan ibu menangis sesenggukan begitu. Bagaimana jika ibu tiba-tiba sesak napas di rumahku?
Namun aku terngiang kembali kata-kata Luluk padaku dulu saat ibu dirawat di rumah sakit. "Kamu harus tunjukkan jika kamu seorang wanita yang kuat. Jangan mudah iba, meski ibu mertuamu berdalih sakit karena terpisah dari cucunya."
Aku mengusap muka, menebalkan telinga agar tak iba pada isakan ibu mertua. Ini salahku sendiri, sudah salah mengambil keputusan dengan membolehkan ibu menginap di sini. Apalagi Mas Bayu juga ada di sini malam ini.
Kututup pintu kamar, agar isak tangis ibu tak terdengar keluar. Kejamnya aku, teriris rasanya hatiku telah mengabaikan tangisan nurani ibu mertua. Sekuat hati kulupakan tentang ibu, lalu berusaha memejamkan mata menjemput rasa kantuk. Esok hari, biarlah semua berjalan sesuai takdir Allah, hidup dengan berserah padanya akan jauh lebih tenang. Tugasku hanya berusaha tegar dan terus memilih jalan yang terbaik.
****
"Aku baru tahu ada ayah, apa aku bermimpi? Aku kan sudah bangun dari tadi?" Fahmi menatap ayahnya tak percaya saat kami hendak sarapan pagi ini, tapi putraku tak terlihat riang melihat kehadiran ayahnya.
"Iya, sayang, ayah datang tadi malam. Nenek mau kasih tahu kamu tapi sudah tidur," ucap mertuaku.
Hallo bestiee, makasih sudah membaca. Siapa yang kangen sama Julio angkat tangannya ke atas???? Eh, maaf aku ngak lihat 🤭🤭🤭. Next kita ketemu Julio, ya🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Kulihat mata ibu sembab, sepertinya ia menangis semalaman. Aku berpaling dari ibu melangkah ke meja makan. pura-pura tak melihat mendung di wajah ibu.
__ADS_1