
"Di kantor ini ada aturan, ngapain kalian sling pelukan gitu. Ngak tahu malu!" seru Dini memburai amarah yang sedang berkecambuk di dadanya, dia membelalakkan matanya tajam padaku.
Aku tersenyum jenaka, melihat kekesalan Dini semakin membuatku ingin membiarkannya berperang dengan pikiran buruknya. Kemarahannya tadi terdengar merdu di telinga, membuatku merona bahagia.
"Hei, Bu, bukan saya yang meluk-meluk, anda salah. Tanyakan padanya saja!" Aku menunjuk muka Mas Bayu.
Aku melangkah pergi, meninggalkan resah di wajah Dini.Samar kudengar, wanita itu beradu mulut dengan Mas Bayu. Sempurna, aku berhasil menyemai sedikit demi sedikit bibit pertengkaran diantara keduanya.
Dari kantor besarnya Mas Bayu, aku dan Luluk kembali ke kantor kami lagi. Pak Kevin kembali memberiku arahan untuk sebaik mungkin menangani proyek yang sudah kami menangkan tendernya tadi. Kami punya waktu seminggu untuk menyelesaikan, Aku dan Luluk mengambil waktu untuk rehat sejenak, mengendurkan ketegangan usai aktifitas dari pagi yang tak henti.
"Memang cantik beneran si Dini itu, hanya saja dia sudah berumur seperti kita. Kalaulah dia dan Bayu nikah, entah masih bisa beranak ngak tuh perempuan," ujar Luluk sedikit tega, tak memilih kata yang halus saat berbincang tentang Dini.
"Hust, bicara yang baik! Sayangi lisan kita, pilih kata yang baik atau diam," lirihku tersenyum.
"Aku masih penasaran dari mana datangnya wanita itu sebenarnya? Tahu-tahu sudah nempel saja sama suamimu," gerutu Luluk gemas.
Jemari Luluk lincah membuka layar ponsel. Kulihat dia mengetik sesuatu, tak lama kemudian dia berseru, "Wow, ternyata, mereka sudah cukup lama saling bertaut kabar, lihatlah!"
Luluk menyorongkan ponselnya padaku. Sahabatku itu tengah membongkar isi akun Instagram Dini. Aku bahkan tak terpikir untuk melakukannya, dulu hanya pernah singgah ke akun Dini di aplikasi biru berlambang huruf F saja. Aku tertawa menyeringai menatap foto akun Dini, wania itu memanglah cantik.
"Mereka memang sudah membalas pesan sebelum Dini mulai bekerja di kantor Bayu. See, suamimu yang urus semua keperluannya," tutur Luluk semakin gemas.
Aku menggeser layar ponsel Luluk merunut postingan Dini. Sebulan lalu, dia sudah memasang foto cantiknya berdiri di samping koper menunggu seseorang menjemputnya. 'Aku datang untukmu' seuntai kalimat dituliskannya menyertai foto itu, dan ada Mas Bayu membubuhkan komentar mesra di sana.
Ternyata, diam-diam hubungan itu sudah lama terikat lagi, bukan seminggu dua minggu yang lalu seperti dugaanku. Banyak lagi postingan lain Dini yang menandakan hubungannya dengan Mas Bayu. Sudah berapa lama mereka berbagi kasih, entahlah.
"Jangan-jangan mereka sudah menikah siri," desis Luluk menambah getir perasaanku.
"Aku tak peduli lagi. Selama ini aku sudah menebar kesabaran. Ibadah terberat seorang istri adalah bersabar atas suaminya. Meski Mas Bayu tak menghargai kesabaranku, tapi kuyakini Allah sudah mencatatnya"
"Dengarkan aku, Hani. Carilah seorang ahli agama, kamu bisa meminta pendapatnya lagi sebelum gugatan ceraimu di proses. Barangkali Bayu masih bisa insyaf." Luluk memberiku sebuah saran.
" Sulit rasanya menyatukan serpihan hatiku, Luluk! Aku ditipu Bayu, dia pandai menutupi hubungan gelapnya. Setia menantinya di rumah, percaya dia menghabiskan waktu memang untuk bekerja, tapi dia bersama wanita lain. Sehina itukah aku? tak layak dihargainya dan mudah dibuang."
Bukan Hani namanya jika belum berhenti menangisi pernikahanku yang ditumbangkan wanita lain itu. Hari-hari terberatku telah mengajariku menahan tangis.
Ponselku sudah berderibng berulang kali sejak tadi, aku abaikan panggilan dari Mas Bayu itu. Dia sudah tak berhak menekanku untuk cepat ke rumah sakit menemui ibunya yang sedang dirawat.
****
"Kenapa lama sekali baru ke sini? Mana Fahmi?" cecar Mas Bayu begitu dia membukakan pintu ruang rawat ibu.
"Aku baru sempat ke sini, urusanku banyak." jawabku lirih.
"Fahmi mana?" Mas Bayu bertanya ulang.
__ADS_1
"Dia capek baru pulang sekolah." Aku mendekat ke ranjang ibu.
Mbak Min berdiri, menggeser kursi di samping ranjang untukku. Dia sabar sekali menunggui ibu di samping ranjang pasien. Mas Bayu justru duduk di sofa khusus untuk tamu berkunjung, harusnya dia di samping ibu.
"Hani... mana cucuku? Kamu nginap di sini kan?" tanya ibu lemah.
Aku tahu ibu pasti banyak pikiran hingga kondisi kesehatannya menurun. Dia mungkin terus gelisah setelah tahu jika aku benar-benar akan meninggalkan Mas Bayu dan selamanya pergi dari rumah membawa serta cucunya. Aku tak menjawab pertanyaan ibu, hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa? Biar Mbak Min pulang jaga anak, kamu yang menemani ibu di sini," pinta ibu.
"Hani besok harus berangkat pagi sedang banyak kerjaan, Bu. Tak sempat menginap di sini. Maaf, ya, Bu. Lagi pula sebentar nanti pasti Dini akan ke sini, biar dia saja yang menginap." Aku memijit pelan kaki ibu sambil melirik suamiku.
Mas Bayu bangun dari sofa lalu berbisik padaku, "Keluar sebentar, aku ingin bicara."
Tanpa menungguku menjawab, Mas Bayu cepat melangkah keluar kamar sambil menuntunku. Terpaksa aku turuti permintaannya.
"Kenapa kamu keras kepala? Kamu masih istriku. Masih wajib berbakti pada ibuku. Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau menginap di sini." Mas Bayu menatapku tak berkedip.
"Ngak bisa aku dan Fahmi sudah pergi dari rumahmu. Aku harus menemani dia di rumah baru. Aku ke sini hanya ingin melihat kondisi ibu." Aku menegaskan suaraku, tak ingin dituntut sesukanya saja.
"Kamu bawa Fahmi kemana? Biar Mbak Min temani dia di sana!" Mas Bayu membesarkan bola matanya.
"Aku sudah berusaha jadi istri yang baik, tapi kamu tak menghargai ku, Mas!"
"Istri yang baik? Kamu tahu artinya istri baik? Istri yang baik itu yang menurut pada suami. Kamu sudah seperti itu belum?" Mas Bayu menarikku ke lorong ruangan, mungkin agar suara kami tak terdengar ibu.
"Kamu tak pernah bertanya mauku apa, sikapmu sangat membosankan sebagai istri," ketus Mas Bayu.
"Membosankan? Mungkin aku punya kekurangan, tapi kamu juga harusnya melihat sisi baikku. Kamu kira kamu suami sempurna? Aku menerimamu meski ada kekurangan, aku tak pernah menuntut mu bukan?" Aku melawan kata-katanya lebih sengit lagi.
"Aku butuh suasana baru, bosan dengan kebiasaanmu saat melayaniku. Kamu harusnya paham dong."
"Begitu, ya! Sini, berikan ponselmu, buka kuncinya!" Aku menarik ponsel di tangan Mas Bayu, lalu mengarahkan ke wajahnya. Berhasil, layar ponsel bisa terbuka dengan mengenali wajahnya. Kucari nomor ponsel Dini lalu menelponnya.
"Suruh Dini ke sini, kita lihat bersama, apa dia patuh padamu!" perintahku cepat, seraya menghidupkan loud speaker panggilan.
"Halo, sayang. Ada apa?" Suara Dini langsung terdengar.
Mas Bayu diam membeku, tak juga mengucapkan kata. Aku menginjak kaki Mas Bayu, memaksanya agar menjawab Dini.
"Kamu ke sini, temani ibu menginap di rumah sakit, ya." Akhirnya Mas Bayu bersuara.
"Duh, gimana, ya. Aku sibuk, sayang. Suruh saja Hani, dia pasti nurut karena takut kehilangan kamu." Dini berkata dengan manja.
Hatiku sangat kesal mendengar perkataan Dini. Dia begitu menganggapku mendewakan ras cinta pada Mas Bayu. Dia tak tahu jika aku sudah berniat melayangkan gugatan cerai. Kujauhkan ponsel dari Mas Bayu dan mematikan panggilan.
__ADS_1
"Kamu dengar tadi? Dini tak patuh. Kamu bilang dia lebih baik dariku, hah? Aku mau pulang, tolong pamitkan pada ibu. Semoga lekas sehat."
Kuayunkan langkah dengan cepat, sia-sia aku mencoba berbuat baik. Lebih baik aku fokus pada pekerjaan dan anakku saja. Mas Bayu mengejarku. Dia kembali menahan lenganku.
"Aku tak bermaksud menyakiti hatimu, maafkan aku, tolonglah. Ibu lebih penting saat ini. Menginaplah, biar aku yang jaga anak. Katakan dimana dia?"
Sudah malas rasanya terus berdebat dengan pria yang semakin tak kupahami lagi sifatnya itu. Tak akan ada habisnya karena kami sama-sama meras paling benar.
"Hani, dimana Fahmi?" tanya Mas Bayu lagi.
"Andaikan ibu ngak dirawat di rumah sakit, apa kamu akan tetap minta maaf?" sergahku sengit.
Beberapa orang melewati kami dengan tatapan heran melihat raut wajah kami yang keruh dan terlihat saling kesal.
"Sudahlah, Mas. Lanjutkan saja hubunganmu dengan wanita sempurnamu itu Jangan ganggu hidupku lagi." Aku menepis tangan Mas Bayu yang ingin menahanku pergi.
"Hani, beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri, ayolah." Pria yang labil sikapnya itu memohon padaku.
Harusnya aku senang mendengar permintaan Mas Bayu, tapi hatiku sudah sangat terluka. Meski sebenarnya aku ingin menikah hanya sekali sepanjang usiaku dan tak ingin gagal membina rumah tangga, namun rasnya berat untuk memperbaiki lagi retaknya rasa hormatku pada suamiku itu.
Aku terus berjalan, tak menghiraukan permintaan Mas Bayu tadi. Aku harus kuat, tak boleh goyah dengan keputusanku.
****
Aku baru tiba di parkiran kantor pagi ini. Mataku tertuju pada sebuah mobil yang rasanya pernah kulihat sebelumnya, terparkir beberapa meter di dekat mobilku. Eemm itu mobilnya Dini. Wanita itu ada di sini?
Rasa penasaran membuatku melangkah cepat ke dalam kantor. Dini ada di ruangan mana kira-kira? Apa dia mencariku? Aku mulai bertanya-tanya sendiri.
"Dear, udah ada yang nunggu kamu tuh di ruanganmu. Tumben sih baru datang?" Luluk memburuku yang baru saja datang.
"Iya, anakku bangun terlambat, semalam tidur larut karena banyak tugas sekolah yang diselesaikan. Siapa yang cari aku?"
"Calon madumu hahaha." Luluk tertawa, dia suka sekali meledekku.
Aku manyun dan meninju lengan Luluk. Sahabatku itu, rumah tangganya lebih dulu porak poranda dariku. Aku tak mengira, sekarang aku yang mengalami hal yang sama dengannya. Bedanya, Luluk diabaikan suami karena terlalu gila kerja sedangkan aku disisihkan suami karena dianggap sebagai ibu rumah tangga yang membosankan.
Ku tinggalkan Sarah di lobi tunggu, dia sedang menunggu rekanan yang ingin dibuatkan iklan. Bergegas aku ke ruanganku untuk menemui Dini karena ingin tahu tujuan kedatangannya. Kuharap, dia ke sini untuk membahas pekerjaan, bukan membicarakan Mas Bayu dan dirinya.
"Pagi, Bu Dini. Mau tak mau kita harus sering bertemu, ya?" Aku menyapa Dini yang duduk menunggu di mejaku yang bersebelahan dengan meja kerja Luluk.
"Eemm, pekerja baru tapi datangnya agak telat. Gimana on time mengerjakan proyek?" Dini langsung menyerang ku dengan kata-kata sinis.
Sepertinya Dini ingin memancing emosiku, tapi aku tak ingin meladeni, bisa-bisa itu akal bulusnya agar ribut denganku dan menurunkan reputasiku di kantor ini.
"Maaf Bu Dini, ini di kantor, kita hanya membahas pekerjaan. Silahkan sampaikan hal yang berhubungan dengan proyek kita saja.
__ADS_1
"Sok profesional sekali. Saya juga paham itu. Saya punya tawaran menarik, dengarkan baik-baik."
Aku mengernyitkan dahi, tetap harus waspada. Aku takut Dini punya siasat untuk menjatuhkan nama baikku.