
Pak Kevin terlihat gugup memegang ponselnya, menunggu seraya menatapku, wajah bijaknya melukis senyuman membuatku terbawa untuk membalas tersenyum juga. Tak lama ia pun terdengar mulai berbincang dengan Bu Salsabila di ujung sambungan telepon.
"Iya, Bu. Untuk saat ini Bu Hani masih ada proyek lain yang belum selesai. Kami takut mengecewakan jika terlalu lama mundur waktu finishing proyeknya," kata Pak evin menjelaskan sebuah alasan, membuatku mengucap rasa terima kasih dalam hati mendengar kebaikannya.
"Oh, begitu? Baik, Bu, baik. Besok pagi, ya. Makasih, Bu Salsabila." Pak Kevin pun menutup percakapan yang tidak terlalu lama itu, tinggallah aku yang berdebar menunggu berita darinya.
"Bu Salsabila ingin ketemu Bu Hani besok pagi sekitar jam sembilan. Ingin nego langsung, saya ngak berani menekan customer untuk langsung setuju perubahan struktur team." Pak Kevin menyatakan.
"Iya, ngak apa-apa. Pak."
"Menurut saya, temui saja besok. Bisa, ya?"
"Tentu, Pak. Sya bisa," Aku tak punya pilihan lain.
Pak Kevin lalu menanyakan hasil keputusan sidangku tadi, dengan gugup aku beri tahu jika aku seorang sigle parent sekarang, padanan kata yang lebih halus untuk menyebutku sebagai seorang janda.
Pria yang kini hanya berdua hidup dengan putranya yang sudah kuliah itu, mengembangkan senyuman hangat di wajahnya. Dengan lirih, kembali ia menawarkan sebuah undangan untuk makan malam bersama. Itu semacam ungkapan syukur jika dirinya ikut berbahagia dengan hasil sidang ceraiku.
Atasanku itu rupanya cukup gigih, tak surut untuk mendekatiku meski aku sering menghindari perhatian darinya.
"Maaf, Pak Kevin. Ada ibu mertua saya sedang mengunjungi cucunya dan menginap di rumah, saya belum bisa tinggalkan. Sya permisi, makasih atas bantuan Bapak."
Pria itu mengangguk lemah, hanya diam namun tetap berusaha tersenyum melepasku yang berdiri hendak keluar dari ruangannya. Pria sebaik dirinya, harus tega kuberi rasa kecewa dami seorang pria lain bernama Julio Wardhana.
Hari ini sungguh terasa begitu membuat ragaku lelah. Banyak kejadian cukup menyita pikiran dan waktuku yang kualami beruntun. Aku bahkan baru mengisi perut tadi pagi sebelum berangkat ke persidangan. Pandanganku mulai buram, aku belum berjalan jauh keluar dari ruangan Pak Kevin, merapat ke dinding seraya berpegangan pada bangunan kokoh berwarna krem itu.
"Bu Hani, ya ampun." Sepasang tangan kokoh kurasakan menangkapku sebelum hampir jatuh karena limbung.
"Maaf, Pak, maaf." lirihku, samar masih bisa kulihat wajah Pak Kevin sebelum akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi.
__ADS_1
Luluk dan beberapa rekan wanita bisa kulihat mengerubuti aku yang terbujur di sofa panjang lobi kantor. Namun tak kulihat kehadiran Pak Kevin, seingatku tadi ia menopangku saat hampir roboh ke lantai.
"Gimana rasanya, dear? Pusing, kedinginan, mual, apa gimana?" Suara Luluk yang pertama kudengar saat aku mencium aroma kayu putih dan mulai membuka mata perlahan.
"Mual? Kamu kira Hani ngidam?" Seorang rekan wanitaku terdengar melempar gurauan pada Luluk, membuatku mulai bisa tersenyum.
Seorang rekan lainnya, menyodorkan segelas teh hangat padaku sembari membantuku untuk duduk.
"Aku lapar," jawabku lirih.
"Ya ampun. Kamu tuh, ya. Bikin panik orang saja, taunya pingsan karena kelaparan doang!" Luluk menggerutu tetapi wajahnya menahan tawa.
Beberapa rekan tertawa juga, mereka mulai pamit untuk pulang lebih dulu, beberapa lainnya pergi membelikan makan untukku.
"Kurasa kamu stress terlalu banyak yang dipikir itu. Sampai lupa makan, samapi badanmu juga kelelahan. Sudah lah, hidup itu selalu berdampingan dengan ujian, bikin enjoy saja, gih."
"Kamu nanti mau pulang naik taksi atau mau kuantar saja? Jangan dipaksa nyetir. Atau mau kuhubungi Julio untuk jemput? Mobilmu biar tinggal di kantor dulu saja." Luluk bertanya dengan tak sabar, sepertinya ia juga sudah lelah dan ingin segera bisa pulang.
"Supir kantor ada yang free ngak, ya? Aku mau minta tolong diantar pakai mobilku saja, nanti baliknya kucarikan taksi." Aku mencari pilihan lain, aku ingat anakku yang harus kujemput juga.
Luluk terlihat sibuk mengetik di ponselnya, lalu memintaku diam dulu dengan sebuah isyarat. "Done. Kamu tunggu saja di sini sambil makan dan istirahat. Julio yang akan jemput anakmu. Aku pulang duluan, are you okay?"
"Kamu ngabarin Julio?" tanyaku dengan wajah semakin pias.
"Iya. Yang bisa gercep hanya Julio. Aku bisa anter kamu, tapi ngak bisa bantu jemput anakmu soalnya ngak keburu waktu."
Apa mau dikata, Luluk sudah berusaha memecahkan masalahku tak mungkin aku mengecewakan kebaikannya meski aku sedang berusaha mengambil jarak untuk tak bertemu dengan Pak Julio dulu. Rencanaku menghindari bertemu pria itu hingga akhir masa iddah akhirnya harus gagal.
"Nurut saja. Kamu pucat gitu, aku tinggal ngak apa-apa, ya. Ini tasmu sudah kusiapkan." kata Luluk setelah memastikan kondisiku tak berbahaya lalu ia segara pulang.
__ADS_1
AKu menatap ke sekeliling, sepi sepeninggalan Luluk dan rekan-rekanku. Kurenggangkan tubuh mengusir penat yang baru mulai kurasa.
Berubah pikiran, aku mencoba menelepon Pak Julio untuk meralat permintaan Luluk padanya. Pikiranku aku bisa pulang naik taksi dan pria jangkung itu cukup menjemput anakku saja. Aku telah berjanji pada diriku sendiri menghindari berdekatan dengan pria itu semampuku, tapi kenapa sesulit ini.
Berulang kali kutelepon Pak Julio, namun pria itu tak menjawab panggilanku. Mungkin ia sedang sibuk mengemudi. Kupejamkan mata hingga tanpa terasa kantuk menyerang membuatku tertidur usai perutku terisi seporsi makanan lengkap yang dibelikan rekanku tadi.
Percakapan dua orang pria sayup menyapa pendengaranku. Mataku terbuka perlahan, seketika kesadaran menyergapku dan dengan cepat aku duduk lebih tegak di sandaran sofa saat menyadari Pak Kevin duduk di sampingku dan menyangga tubuhku saat tertidur.
"Bu Hani sudah bangun, saya yang akan antar pulang." Suara tegas Pak Julio menggema di ruang lobi yang luas dan sepi.
"Baiklah, saya juga mau pulang." Pak Kevin berdiri dari sampingku buru-buru dengan salah tingkah.
Anakku pun berhambur memeluk dan menanyakan keadaanku.
"Bunda pingsan, kenapa?" tanya Fahmi ceamas.
"Ngak apa-apa, Sayang. Bunda hanya kecapekan. Ayo kita pulang."
"Kunci mobilku mana? Aku mau titipkan satpam, nanti biar kuminta seorang karyawanku bawa pulang mobilmu." Pak Julio berkata dengan suara datar, sepertinya ia sangat kesal melihatku cukup dekat dengan Pak Kevin tadi.
Menurut pintanya, kucari kunci mobil di dalam tas yang ada di pangkuanku. dipapah Fahmi, aku melangkah pelan keluar dari lobi kantor. Pak Julio tak banyak bicara. Pria itu berjalan mengikuti di belakangku dan Fahmi. Entah, mungkin juga ia masih kesal padaku.
Berada dalam mobil Pak Julio, aku dan Fahmi menunggu pria itu menitipkan kunci mobilku di pos satpam pintu masuk gedung perkantoran lalu ia berdiri di disamping mobil menelepon seseorang.
Aku mantap Pak Julio dari kejauhan dengan keharuan menyeruak, ia begitu bertanggung jawab memastikan semua urusan dan keadaanku dengan baik. Satu hal yang baru kusadari, pria itu pencemburu dan melindungi orang yang dikasihinya dengan sangat protektif. Apa itu yang membuat Salsabila pergi dari pria berkulit sawo matang itu?
Perjalanan menuju rumah terasa sunyi tak seperti biasanya jika kami bertiga dalam satu mobil. Fahmi duduk di depan seraya menatap padatnya jalan. Tanganku tergenggam erat jadi satu,.
Pak Julio yang biasanya mencairkan suasana dengan gurauannya, kali ini hanya sering menatapku lewat kaca di atas kepalanya. Aku pun tak berani memulai gurauan saat semua terlihat lelah dengan pikiran masing-masing. Kurasa, diam adalah pilihan yang terbaik.
__ADS_1