
"Bagaimana, Bu Hani, bisa, ya?" Pak Kevin mengulang tanya. Aku semakin tercenung, harus menjawab apa pada duda mapan yang belum lama ditinggal istrinya berpulang itu.
Kubuka pintu ruangan Pak Kevin lebih lebar sebelum kubalikkan badan menatap pria itu sekilas, lalu menunduk menjawab permintaan atasanku yang baik itu.
"Eemm, saya masih belum selesai finishing iklan Superindo, Pak. Rencana mau lembur sama Luluk nanti. Maaf, belum bisa menemani Pak Kevin."
Pak Kevin pria yang baik dan good attitude, tentu tak tega aku mengecilkan harga dirinya. Namun rasanya kumbang-kumbang terlalu cepat datang kala kelopakku yang menguncup belum mekar sempurna kembali.
Terkejut mendengar jawabanku, pria itu terdiam sejenak. Namun akhirnya mengangguk paham.
"Oya, saya lupa Bu Hani banyak target kerja. Mungkin lain waktu saja," lirih pria itu.
Tersenyum lega, aku terburu pamit dengan wajah pias serasa baru lepas dari sebuah himpitan batu besar yang menindih dada.
Tak habis pikir, belum lagi gugatan cerai yang kulajukan diputuskan majelis hakim, Allah kembali menguji kesanggupanku menjaga marwah sebagai seorang wanita yang baru bangkit dari lara.
Dulu, ketika aku banyak diam di rumah dengan tulus berkhidmat mengurus keluarga, kelebihan ku tak nampak di mata pria lain hingga marwahku tetap terjaga sebagai seorang wanita sekaligus seorang istri. Kini, begitu rumah tanggaku runtuh hingga aku menampakkan diri di dunia kerja, sulit bagiku bersembunyi dari tatapan pria di sekitarku. Aku hanya bisa berusaha menjaga batasan dengan lawan jenis, menjaga fitnah yang mungkin bisa menerpaku.
Sejak hari itu, dimana aku tak bisa lagi bergelayut manja mengantar suamiku berangkat kerja seraya mengecup keningku, dan tak lagi dianggap ada di hati Mas Bayu. Aku memberanikan langkah meninggalkan rumah suamiku, memutuskan menutup auratku sembari sembari belajar memperbaiki diri menjemput hidayah Allah.
Aku kembali ke ruanganku, berpacu dengan pekerjaan, aku kembali menemui Luluk. Fokus, fokus, fokus... ada anak yang masa depannya masihlah panjang untuk diperjuangkan.
"Kayaknya kita perlu ketemu suhunya desain grafis deh buat bantu finishing iklan yang versi cetaknya. Iklan visual siap tayang aku yakin dah bagus. Yang iklan cetak ini kita masih perlu perkaya tampilannya, biar lebih narik sugesti pembeli gitu"
"Suhu? Suhu ruang apa suhu normal? gurauku iseng.
"Suhu udara. Aku serius, Hani! Aku jitak nanti kamu." Luluk manyun, sewot mendengar gurauanku.
Eh, sejak kapan aku jadi santai menjalani masalah, hmm aku tahu biang keladi yang menularkan sikap itu padaku, iya Pak Julio. Apa kabar pria itu, tak ada juga sampai padaku berita undangan yang diutarakannya waktu itu. Aih, kenapa denganku, sesibuk ini tapi sudah tak beres pikirannya.
__ADS_1
"Baiklah. Apa belum cukup kemampuan team kita untuk tangani sendiri?" tanyaku mulai serius.
"Cukup sih, tapi kita perlu upgrade kemampuan dong. Persaingan advertising makin ketat. Nanti sore beres urusan jemput anakmu kita temui orangnya ya."
"Oke."
Begitu Luluk. Dia tak cepat puas diri meski aku tahu ia sangat high skill, tapi ia tak menutup mata untuk terus belajar.
"Sssst, ada yang nyari tuh." Tiba-tiba Luluk mengarahkan dagunya ke pintu ruangan kami yang diketuk dari luar.
"Silahkan," seruku nyaring tapi ramah.
Aku dan Luluk sama-sama terkejut melihat sosok yang membuka pintu. Perempuan dengan sepatu high heels, rok ketat tiga perempat kaki dengan belahan samping yang tinggi nampak berdiri tegak menatap kami. Wanita itu memperbaiki posisi kardigannya, menutupi dadanya yang membusung.
Gila, perawan tua itu membuat kami melongo mengamati penampilannya, benar saja Mas Bayu sampai menikahinya diam-diam tanpa meminta keikhlasanku dimadu. Sekarang aku mengerti kenapa, meski aku berusaha merawat diri dan bersikap lebih menggoda namun pernikahanku tak bisa kembali baik-baik saja. Ragaku tak sempurna wanita lain itu, dan suamiku tak bisa menahan godaan lain di matanya.
"Silahkan, Bu Dini." Aku mengulangi ucapanku sembari melangkah menyiapkan kursi untuk tamuku, berusaha ikhlas harus sering bertemu wanita perebut suamiku itu.
"Briefing ulang? Maksud ibu gimana, iklannya sudah sembilan puluh lima persen ready." Luluk langsung tersulut emosi.
"Iya. Ngak perlu saya perjelas. Saya pernah sampaikan ke Bu Hani jika produk kami harus dilukiskan setara kualitas produk A. Jadi hari ini saya bawa visualisasinya secara tertulis lebih lengkap." Dini berkata tanpa beban.
"Kenapa ngak dari kemarin-kemarin ibu sampaikan visualisasinya ulang? Ngak bisa! Kami sudah finishing sesuai kesepakatan visualisasi yang ibu berikan di awal." Luluk menegaskan posisi kami.
"Ee, tunggu. Bu Hani sudah kenal kan sama anaknya Pak Darma? Ini permintaan langsung darinya. Beliau ahli desain grafis, wajar dong iklannya harus sempurna sesuai keinginannya." Dini melontarkan peluru andalannya kepadaku, permintaan Pak Julio katanya.
"Bodoh amat. Kami ngak mau ulang dari awal lagi. Ibu kira kerjaan kami sedikit? Masih banyak proyek lain yang antri untuk dikerjakan." Luluk balik menyerang Dini, tak mau mengalah pada paksaan aneh wanita itu.
"Ya terserah, tapi nanti jangan harap royalti turun seratus persen karena iklannya ngak sesuai keinginan owner perusahaan kami. Pak Julio yang minta revisi visualnya, beliau langsung menemuiku." Dini berkeras.
__ADS_1
Aku mengernyitkan kening curiga, sepertinya wanita itu ingin mengadu domba aku dan Pak Julio, hemm akal bulusnya bisa aku baca.
"Ibu paham aturan kerja sama ngak, sih? Klausualnya sudah jelas di perjanjian, ngak ada rubah-rubah permintaan mendadak begitu." Luluk masih gigih mendebat Dini.
"Bu Dini, gimana kalau ibu ajak Pak Julio ke sini dulu, biar beliau ketemu kami. Atau kami kirimkan iklan yang sudah kami buat meski belum waktunya kami kirimkan. Biar beliau nilai dulu kerja keras kami. Gimana, Bu?" kataku.
Aku memberikan serangan telak pada wanita perusuh itu. Untuk kedua kalinya ia berusaha mengacaukan proyekku, seenaknya saja.
"Boleh. Nanti saya ke sini sama Pak Julio." Dini menjawab dengan suara tak menyakinkan.
"Cepat kirimkan iklannya. Saya permisi." Dari nada bicaranya, jelas sekali wanita itu masih punya siasat lain untuk mencurangi aku.
Wanita berwajah mulus mengkilat itu pun berlalu dengan langkah pongah. Nampak Luluk sudah sangat geram ingin menerkamnya andai tak ingat etika di tempat kerja.
"Sabar, ini cobaan," kataku kembali melempar canda seraya mengusap bahu Luluk, ia pun menggeleng tergelak.
"Dasar perawan tua memang. Kamu heran ngak sih, kenapa Dini mengincar suamimu yang jabatannya lebih rendah darinya? Ada modus apa coba? Ada yang ngak beres kayaknya." Luluk menautkan kedua alisnya.
Aku mengangkat bahu, malas membahas lagi masa lalu.
"Gitu tanggapanmu? Sumpah aku penasaran. lima belas tahun...bukan waktu yang singkat kalian menikah. Beda denganku yang hancur sebelum lima tahun pertama pernikahan." Luluk mengedikkan bahu, melontarkan rasa herannya yang besar.
Aku hanya diam, merenungi ucapan Luluk namun tak juga menemukan sebuah alasan kenapa lima belas tahun yang kulalui tetap tak sanggup mengokohkan pernikahanku.
"Eh, jangan lupa nanti sore kita temui suhu desain grafisnya, ya. Aku sudah hunting online bikin jadwal untuk ketemu."
"Iya," jawabku singkat.
"Eh, iya. Ayo kita temui Pak Kevin, kita minta pendapatnya tentang permintaan Dini tadi.' Luluk menarik tanganku.
__ADS_1
Waduh. Rasanya aku tak ingin lebih sering bertemu Pak Kevin, ada rasa sungkan setelah tahu ia menaruh perhatian lebih padaku.