
Di depan sana, tampak Mas Bayu berlari kecil melewati beberapa orang yang sudah berjalan di depannya. Pria yang telah lama sudah tak menganggapku ada lagi di hatinya itu kini memburuku dengan napas tersengal.
"Tunggu sebentar!"ucap Mas Bayu lagi.
Pak Julio menatapku lekat, seakan ingin membaca raut wajahku saat ada seorang pria lain yang memanggilku dengan panik.
Aku cepat menunduk, lagi-lagi tak kuasa menahan debaran di hati setiap pria berkulit sawo matang itu menyorotkan mata teduhnya padaku.
"Boleh aku ketemu anakku sebentar saja?" tanya Mas Bayu padaku seraya menatap Pak Julio dengan tajam.
"Kami buru-buru, Mas. Sudah hampir waktu maqrib." Aku menjawab tanpa menatap Mas Bayu, kualihkan pandangan pada anakku.
"Bapaknya Fahmi, ya? Saya Jul..."
"Iya, saya kenal bapak. Saya tahu bapak memang anak dari pemilik perusahaan tempat saya bekerja, tapi tolong jangan ikut campur dalam urusan keluarga saya." Mas Bayu menukas kata-kata Pak Julio yang belum selesai.
"O...Jadi bapak kerja di sana? Saya kira papa hanya punya karyawan yang bagus attitudenya saja. Rupanya ada juga karyawan yang sikapnya kurang baik seperti bapak, suka menyela kata-kata orang yang belum selesai."
Hampir saja jantungku berhenti, mengira Pak Julio akan mengingatkan sikap buruk Mas Bayu yang berkhianat padaku, aku kembali merasa lega ternyata pria itu hanya menegur sikap kurang sopan suamiku.
Mas Bayu menatap Pak Julio tanpa rasa takut atau sungkan meski ia sudah tahu pria di sampingku itu adalah anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Bukan ranah bapak untuk menilai sikap saya. Harusnya saya yang tegur bapak karena sudah dekat-dekat istri saya."
Pria yang masih berani menyebutku sebagai istrinya itu memandangi Pak Julio dari ujung kepala hingga ujung kaki seolah tengah membandingkan dengan dirinya sendiri.
"Wanita itu mengadu apa padamu, Mas?" Aku yang dari tadi diam, akhirnya tak tahan lagi bersabar.
Tiba-tiba Mas Bayu meraih tanganku, menarik dengan paksa sedikit menjauh dari tempat parkir mobilku. Semua terjadi begitu cepat, membuatku terseret bersama langkahnya.
"Kamu masih istriku. Jangan macam-macam! Hanya aku ayahnya Fahmi. Kamu berani bersama pria lain, merasa sudah semakin cantik? Aku memaafkanmu, kita biisa sama-sama lagi."
__ADS_1
"Memaafkanku? Jadi yang salah selama ini aku, bukan kamu? Hahaha. Aku capek di rumah,ngurusin semua keperluan hingga aku ngak punya waktu ngurus diri sendiri. Tapi balasanmu apa? Kamu malah tega berkhianat karena aku ngak menarik lagi katamu!"
Aku mendorong tubuh Mas Bayu menjauh dariku, merasa Puas sudah meluapkan semua lara yang menggunung di hatiku.
Pak Julio yang sejak tadi mondar-mandir di dekat kami dengan resah sembari mengawasi tingkah Mas Bayu, menatapku lega saat dilihatnya aku kembali menghampiri tempatnya berdiri. Cepat dibukanya pintu mobil untukku.
"Tenangkan hati dan pikiran. Tak usah diingat yang terjadi tadi, fokus di jalan, ya. Atau aku boleh mengantar?"
Aku diam terpaku, tak bisa berpikir lagi untuk menjawab.
"Naik saja ke mobil, Pak Julio." Fahmi iba-tiba menyuarakan keinginannya, ia turun dari mobil pindah ke kursi depan memberikan tempatnya untukku di jok belakang, keputusan putraku membuatku disergap kebingungan.
Aku memejamkan mata, menimbang cepat seraya memberikan sebuah syarat," Saya masih istri orang. Saya takut pada murka Allah, ada batasan dan juga aturan agama yang harus ita taati."
"Tentu saja, Bu Hani Sayang, saya paham yang begituan meski saya ngak pinter-pinter amat ilmu agama. Ayo masuk, atau ingin melihat saya berkelahi dulu?"
Aku yang sedang berkecambuk dangan rasa takut pada perbuatan yang mendekati dosa, lagi-lagi luluh dalam derai tawa mendengar penuturan lucu pria berkulit sawa matang itu.
Mas Bayu melesak langkah mendekati kami, namun Pak Julio menghentikan dengan mengangkat tangannya, memberi tanda agar suamiku berhenti.
Aku terkesima, mendengar pria baik itu membela harga diriku seakan tak rela aku tersakiti. Mas Bayu tak menjawab, hanya menatap kesal padaku dan Pak Julio. Mungkin sekarang ia tahu rasanya sembilu yang menghujam hati saat pasangan hidup lebih memilih bersama orang lain.
Sesaat kemudian mobilku sudah dikemudikan Pak julio, meninggalkan Mas Bayu berdiri mematung menatap kepergian kami.
"Saya berhenti sebentar, ya. Tadi belum pamit papa kalau mau antar sampai Graha Biru. Nanti dikira anaknya yang imut ini hilang diculik orang."
Pak Julio menepikan mobil sesaat setelah kami keluar dari gerbang rumah sakit, lalu membuka layar ponselnya cepat. Lagi-lagi aku mengangguk mengulum senyuman, pria itu sungguh tenang, sikapnya humoris tak pernah tegang menyikapi kejadian apapun yang dilaluinya.
"Memang kalau Pak Julio hilang bakal dicariin? NGak akan deh kayaknya." Fahmi menimpali ujaran gurunya itu, membuat kami tergelak bersama.
Kami melanjutkan kembali perjalanan usai menunaikan tiga rokaat shalat maqrib di masjid terdekat yang kami lewati. Sepanjang perjalanan, Pak Julio lebih banyak berbincang dengan Fahmi. Hanya sesekali ia menatapku lewat kaca spion di atas kepalanya. Aku dan Pak Julio seakan seiya sekata menjaga sikap kami berdua. Apalagi ada anak diantara kami.
__ADS_1
"Tunggu undangan dariku beberapa hari lagi, ya." Pak Julio berkata padaku sembari menunggu kedatangan taksi online yang dipesannya untuk kembali ke rumah sakit. Dia telah mengantar kami hingga ke rumah kontrakan.
"Beneran mau nekat ulang tahun bulan desember? Nanti diomelin si Desi yang ngak kebagian hari untuk ulang tahunnya." Aku meledek Pak Julio, auranya ikut membawaku selalu merasa riang.
Pria baik itu tertawa sejenak, lalu berujar lirih, "Sebenarnya, undangannya dari mama bukan dari aku saja. Katanya ingin cepat pulang ke rumah, terus syukuran makan malam sama Fahmi dan kamu."
Aku mengerjapkkan mata, entah sejak kapan pria itu mulai berani bertutur aku kamu saat kami berbincang.
"O gitu? Saya senang mendengar mamanya semangat ingin cepat sehat kembali. Tapi undangannya... saya pikir-pikir dulu."
Aku mengambil jarak lagi, takut-takut aku mengulur diri setiap perbincangan kami tanpa sadar mengalir pada hal yang lebih pribadi. Kini kami berdiri berjauhan di depan pagar kontrakanku.
Hening sejenak, aku dan Pak Julio terdiam tapi riuh dengan pikiran kami masing-masing, hingga akhirnya taksi yang ditunggu datang.
"Aku masih anak mama, jangan takut ada yang marah melihat kamu dan Fahmi datang kuundang ke rumah. Oke? Aku pamit, ya." Pak Julio melambaikan tangannya padaku yang sudah bersembunyi di balik pagar rumah.
Aku mengangguk ragu, membalas melambaikan tangan sembari membalas ucapan salamnya saat taksi online itu perlahan membawanya menghilang, namun sosoknya justru semakin melekat dalam pandanganku.
Aku mengembuskan napas perlahan dalam dinginnya malam yang merambat kian gelap. Melangkah k dalam rumah, aku bertanya sendiri dalam hai tentang Pak Julio yang kureka-reka semakin nyata ingin menyelami hatiku. Benarkah sepasang raga kami akan dipersatukan untuk berjalan berdampingan, bergenggaman dalam sebuah pernikahan hingga berakhir indah menggapai surga? Aku menggeleng resah.
"Hani, buka gerbangnya." Sebuah suara yang begitu kukenal, tiba-tiba kembali tertangkap pendengaranku.
"Mas bayu?"
"Aku mengikuti mobilmu tadi. Banyak yang ingin aku bicarakan, izinkan aku masuk."
"Sudah malam Mas. Aku ingin istirahat, besok banyak pekerjaan. Bukannya ibu di rumah sakit juga perlu kamu saat ini?"
"Aku hanya ingin minta maaf. Aku baru sadar aku khilaf, Dini yang mendesakku meninggalkan kamu."
"Lucu sekali kamu, Mas. Jangan menimpakan kesalahan hanya pada Dini, menurutku kamu lebih salah darinya. Dini menanggung dosanya sendiri, sedang kamu akan diminta pertanggungjawaban atas istri dan anakmu juga. Kamu ngak sadar itu?"
__ADS_1
Mas Bayu menatapku dalam, kini aku bisa melihat lagi pancaran cinta di matanya yang sekian waktu telah menghilang? Kenapa ia terlambat menyadari? lirihku kecewa dalam hati.
Mas Bayu memukul jeruji pagar dengan kesal hingga meringis kesakitan. Melihatnya menyakiti dirinya, hatiku terluka. Aku berlari masuk ke dalam rumah, tak mau lebih lama melihat pria itu meratapi kesalahannya.