KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 38. Terjerat Cinta Dini


__ADS_3

POV BAYU


Hari sudah larut saat aku meninggalkan kantor. Rasa lelah membuatku ingin segera pulang dan menjumpai istri terkasihku, sosok wanita yang selalu menyambutku dengan kelembutan dan aroma parfum yang mampu memercik letupan-letupan di dadaku. Merindukan segera berjumpa Hani di rumah membuatku mengabaikan rasa capek yang kurasa, aku melangkah masuk mobil lalu duduk di belakang kemudi.


Ponselku menyala sesaat dan bergetar ketika hendak kunyalakan mesin mobil, terdengar dering nada pesan masuk. Rupanya ada sebuah inbox masuk di messenger aplikasi berlogo huruf F. Aku membesarkan mataku yang sudah lelah, ingin tahu siapa yang mengirim pesan saat malam begini.


Andini Kusumaningtias. Sebuah nama terbaca sebagai akun yang mengirim pesan itu, membuat ingatanku seketika berloncatan jauh ke masa lampau. Andini? Dini yang dulu....Jemariku bergetar saat menyentuh menu pesan itu hingga terbuka isinya.


(Hallo, arjunaku. Mungkin kamu tak mengingatku, tapi saat kamu akhirnya membaca pesanku ini, itu artinya takdir kita masih sangat dekat.


Apa kabarmu? Aku dengar kamu sudah menikah? Baguslah, aku turut senang. Tetapi, ketahuilah, jika kamu mencari siapa yang paling dalam mencintaimu maka kamu akan menemukan aku. Kamu tahu? Aku masih merindukanmu, teramat sangat, hatiku masih untukmu.


Tulisan ini mewakili untuk setiap sesak dalam dada karena begitu merindukanmu sekian lamanya.)


Sebuah pesan panjang itu akhirnya selesai kubaca seraya menahan degupan kencang di jantungku, dan tiba-tiba rasa sesak merebak dalam rongga dadaku saat sampai pada akhir pesan. Rasanya bagai tak percaya, Dini masih begitu merindukanku, ia akhirnya mencariku lagi karena besarnya rasa cinta di hatinya?


Andini Kusumaningtias. Wanita cantik berkulit putih, aktif dan lincah hingga membuat hatiku pernah terkunci lama untuk bisa tertarik lagi pada wanita lainnya. Kini, tiba-tiba saja ia menyapaku melalui dunia maya.


Sesaat aku lupa pada keinginanku yang menggebu untuk segera pulang menjumpai harum aroma tubuh istriku. Aku justru mulai sibuk menelusuri akun Dini seraya menetap lekat foto profilnya yang jelita. Hingga tak bisa kutahan, jari tergerak menyentuh menu panggilan di messenger.


"Apa kabarmu, Mas?" Suaranya masih terdengar seperti saat dulu ia menyapaku hangat.


"Baik, kamu apa kabar?" jawabku dengan suara bergetar.


"Aku...aku kangen banget sama kamu, Mas." Tersedu, ia menumpahkan isi hatinya, membuatku kembali terbawa pada kenangan kami yang masih lekat menghuni relung ingatanku.


"Kamu menghilang kemana saja, Dini? Lelah aku mencari kabarmu."


Wanita yang baru saja membuka lagi deburan rasa di hatiku itu hanya diam terisak. Ia tak menjawab. Lalu, dimintanya nomor ponselku yang seketika kuiyakan. Kami pindah berbalas pesan di aplikasi hijau, lalu berbagi akun di IG. Saling menghubungkan semua jalan yang bisa menautkan hati kami lagi.

__ADS_1


Sejak malam itu, hariku lebih berwarna, tak pernah terlewat tanpa menyapa mesra Dini meski ia jauh di propinsi yang berbeda. Aman. Kedekatanku dengan wanita lain tak sedikitpun tercium oleh istriku. Hani hanya tahu aku sibuk memenuhi target pekerjaan, bahkan saat suatu hari aku sangat ingin pergi menjumpai Dini hingga nekat terbang ke kotanya, istriku tetap percaya jika tugas kantor yang membawaku pergi.


Tak terbendung lagi kerinduanku untuk menjumpai Dini, menjemput cerita masa lalu hadir kembali. Aku terjebak semakin dalam, terlupa setelah menikah harusnya hanya ada masa depan bersama sosok yang sudah berada di sisi.


"Kamu masih setampan dulu, Bayu," bisik Dini mendayu. Tatapannya masih seperti dulu, sorot malu-malu tapi membuatku hanyut tak bisa melepaskan diri.


Kami bertemu setelah belasan tahun terpisah tanpa kabar. Dengan raut sendu ia bercerita jika telah dari lama mencariku. Lembut tutur manjanya masih sama persis seperti dulu, juga gemulai tubuhnya. Namun, malam itu kami hanya menghabiskan malam untuk berbagi kata saja.


"Aku memang masih mencintai kamu, Bayu. Aku ingin bertemu melihat wajahmu langsung, bukan hanya lewat telepon. Tapi, aku tahu ada hati istrimu yang harus dijaga, kasihan ia." Dini bertutur dengan raut sendu.


"Tenang saja, istriku tak akan curiga. Hani hanya ibu rumah tangga, ia ngak akan berpikir yang aneh-aneh tentangku."


"Aku memang sangat merindukanmu, tapi aku tahu perasaan istrimu. Cukup bisa dekat denganmu begini saja aku sudah senang."


"Jangan khawatir, ada saatnya nanti aku bisa saja ceraikan istriku," kataku meyakinkan, tanganku mulai nakal dan Dini tetap bertahan pada pendiriannya menolak untuk kusentuh lebih jauh.


"Sabarlah, Bayu. Tunggu aku ke kotamu dulu, baru kita nikah."


"Itu tak mungkin. Maksudku, akan butuh waktu lama kan?" seruku antara takut menyakiti istriku tapi juga menahan kecewa karena tak juga bisa menyentuh Dini.


"Ngak lama lagi, honey. Aku sudah masukan CV untuk lamaran ke perusahaanmu. Besar peluang di terimanya, pengalaman kerjaku sesuai." Dini mengerjap manja.


Aku yang sudah ada dalam pusaran genggaman rayuan Dini, tak kuasa berlari pergi. Wanita berbibir manis itu seolah telah mencuri cintaku pada Hani hingga tak bersisa lagi. Kini, ada dua wanita dalam hidupku.


Tak lama setelah hari itu, ucapan Dini terbukti. Ia benar-benar tiba di kotaku untuk bekerja di perusahaan yang sama denganku. Aku menjemputnya di bandara dengan ribuan cinta di mataku. Wanita itu masih sama saat kami bertemu lagi, menatapku dengan sorot malu-malu hingga membawaku tenggelam terbawa deburan ombak pesonanya.


Seminggu sudah Dini menjadi atasanku, semakin bertambah kekagumanku kala kusadari wanita itu semakin smart dan cemerlang karirnya. Ia juga tetap masih sama, menatapku dengan sorot malu-malu hingga membuatnya semakin bersemayam di hatiku.


Minggu-minggu berlalu, rasanya aku sudah tak sabar ingin menghabiskan ribuan malam bersama Dini, namun ia masih saja menarik ulur deru napasku setiap kali ingin kusentuh.

__ADS_1


"Istrimu bagaiman?" tanya Dini setiap kali kami hampir menghabiskan malam bersama usai jam kantor.


"Aku akan menceraikannya nanti" janjiku, aku sudah gelap mata dan buta hati.


"Kita akan menikah?"


"Tentu."


"Sabarlah sampai kita menikah." Dini menegaskan lagi, membuatku semakin tertantang dan tak lagi mengingat Hani.


Pulang ke rumah, mulai terasa menjemukan bagiku. Bersama Dini lebih terasa memacu jantungku, apalagi aku tak juga berhasil menyentuhnya meski sudah berkali mencoba. Ia semakin membuat serapuh jiwaku ada dalam genggamannya.


Kenangan dan letupan cinta selalu memenuhi ingatan, lalu merasuk memenuhi rongga dadaku. Hanya ada Dini yang bisa kulihat di mataku. Meski istriku menunggu kepulanganku dari kantor hingga larut, kehadirannya di pembaringan tetap tak meruntuhkan kegilaanku akan Dini.


Berulang kali pulang larut malam, akhirnya membuat Hani mulai mencurigaiku. Apalagi tanpa sadar pernah kusebut Dini di depannya dengan binar kekaguman. Ibuku yang dulu begitu mengharap Dini menjadi menantunya pun semakin dekat dengan wanita berkulit putih itu.


Aku terkena mantra yang begitu dahsyat dari pesona kecantikan dan kecakapan Dini, hingga rasanya kulihat beribu-ribu kenangan indah kami dulu kembali jelas terpampang meski telah melalui guratan waktu belasan tahun lamanya.


Hani masih cantik, tak banyak yang berubah dalam pandangan mataku sekian tahun mejalani pernikahan dengannya. Tapi bukan itu alasanku berlari ingin meninggalkannya. Ada airah hidup yang lebih kurasakan di hatiku sejak kembali dekat dengan Dini. Kekaguman dan cinta yang menggebu, yang tidak bisa kurasakan lagi bersama Hani. Sebuah rasa yang membuatku buta dan tersesat.


Semakin kuabaikan, Hani semakin memperbaiki dirinya sebagai istriku. Tiba-tiba ia bekerja kembali, merawat dan merias dirinya hingga lebih menarik. Namun aku hanya sedikit goyah, tapi tatap kembali pada genggaman Dini. Hingga suatu ketika, putraku bahkan melihat sendiri kemesaranku dengan Dini di sebuah mall.


"Aku ingin bicara," seru Dini di sore itu, saat Fahmi baru melihatku bersamanya bergandengan mesra di mall.


Dini yang sore itu memaksaku untuk ikut pulang ke kediamannya, tak lagi menatapku dengan sorot malu-malu. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku erat dan mulai nakal mengodaku.


Hallo besteii, makasih sudah setia menbaca meski sering telat up. Maklum banyak pikiran yang merusak kosentrasi, karena banyaknya lamaran yang datang hehehe.....


SEKELANGKONG SEBENYAK, SEPORANAH MON BEDEH SALAH KATA OTABEH OCAH SE TAK ESAJEH.🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2