
"Saya ini sebenarnya baik hati, tapi karena pernah dikecewakan saja, rasanya tak adil jika wanita lain bisa memiliki Julio. Bu Hani paham kan maksud saya?" Salsabila berujar lagi, ia masih ingin kudengarkan dengan sepenuh perhatianku.
Selama bergelut pendapat dalam setiap perdebatan dengan team kerjaku. Aku cukup bisa mengenali rupa-rupa wajah dan karakter bermacam orang. Menurutku, seseorang justru bukanlah orang yang baik saat ia ingin diakui sebagai orang baik. Ia tak paham, jika ia tak mampu mengelola emosinya hingga ingin orang tahu jika ia manusia baik.
"Maaf, Bu. Saya tak ada minat mengetahui kisah ibu dan Pak Julio. Ini jam kerja, dan saya di sini untuk menunaikan janji membahas pengunduran diri saya," jawabku.
"Iya, tapi itu ada kaitannya dengan Julio juga kan?" tuduhnya lagi.
"Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Julio."
"Bu Hani bohong, saya ada sumber yang bisa dipercaya, saya tahu kedekatan kalian sudah serius." Salsabila menatapku tak berkedip seolah mengamati kesungguhan ucapanku.
"Maaf, saya tegaskan lagi, saya mundur dari team karena kondisi saya belum siap ambil proyek itu. Leader team bisa digantikan oleh struktur team di bawahnya, ada Bu Luluk yang lebih jago dari saya. Bu Salsabila ngak akan kecewa dengan hasil kerja beliau." Aku mengurai sebuah alasan.
Wanita itu mendelik seraya menyeringai lagi, " Jangan bodohi saya! Saya tahu alasan sebenarnya. Kenapa ngak dari awal ibu mundur?"
"Saya baru tahu tawaran proyek itu, Bu. Memang biasanya untuk branding produk saya leadernya, jadi otomatis Pak Kevin boleh susun team seperti itu bahkan tanpa tanya dulu pada saya." Semampu yang bisa, aku terus berkilah.
"Baiklah. Saya mau bicara dengan Pak Kevin saja." Wanita semampai itu akhirnya menyerah berdebat denganku.
"Jadi, saya sudah boleh pamit dari sini?" tanyaku meyakinkan.
"Silahkan." Dengan enggan Salsabila memutuskan memberiku kebebasan dari ruangan itu.
"Tolong diingat, Bu. Saya tak pernah mencari permusuhan, hidup hanya sekali untuk apa membuang waktu menebar perselisihan dengan orang lain. Sya ingin hidup bahagia dan tenang membesarkan anak, hanya itu keinginan saya. Bu Salsabila pasti ingin hidup bahagia juga kan?"
Kuulurkan tangan, menjabat tangan wanita berparas cantik itu sebelum pergi. Sepenggal kalimat terakhir yang kuucap, meninggalkan pesan perdamaian padanya, jika aku bukanlah seseorang yang akan memberinya kesulitan.
"Bu Hani?" Ia memanggilku yang beranjak melangkah.
"Iya, Bu?" Menoleh pada wanita itu, aku berharap tak ada lagi kata keberatan darinya.
"Sejak kapan ibu berhijab?" tanyanya, mengherankan rasanya menanyakan hal semacam itu.
"Belum lama, sejak saya berpisah dengan suami, ini cara saya memperbaiki diri," jawabku sesederhana mungkin.
"Oh begitu? Masih belajar berhijab rupanya. Pantas ibu tak menolak didekati Julio. Setahu saya jika sudah berhijab dengan benar, ngak akan mau punya kekasih." Ia menyorotkan pandangan menelisik, meragukan kesungguhanku berhijab.
"Julio bukan kekasih saya. Jika Bu Salsabila punya urusan dengan Julio, selesaikan sendiri jangan libatkan saya. Salah sasaran jika ingin membalas sakit hati lewat saya."
Orang-orang model Bu Salsabila itu persis seperti Dini, memelihara kesalahan orang lain di hati mereka lalu melampiaskan kekecewaan dengan membalas kesalahan itu dengan keburukan yang lebih buruk. Kecewa itu wajar, tapi orang yang bisa mengecap surga dunia hanyalah orang yang cepat bangkit dan tak menyimpan rasa pahit itu terlalu lama.
Aku berlalu, segera memanggil Pak Kevin yang menunggu di lobi depan raungannya, memberi tahu jika Salsabila ingin bertemu. Dengan penasaran, atasanku itu menanyakan hasil keputusan perbincangan di dalam sana tadi. Tak mau terbawa dalam pusaran kerumitan yang dibawa Salsabila, kusampaikan jika aku tetap mundur apapun skorsing yang harus kuterima nantinya.
__ADS_1
Masuk ke ruanganku lagi, aku duduk dan menelungkupkan wajah di meja, menumpahkan beratnya riak-riak kehidupan yang menyapaku. Aku tak ingin terisak, namun dada ini terasa begitu sesak. Andai aku bisa seperti Luluk saja, tak perlu memikirkan kehadiran seorang pria lagi dalam kehidupanku dan anakku, pasti saat ini hidupku akan lebih tenang.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Luluk yang sama sekali tak kusapa sejak aku masuk ke ruang kerja. Ia sudah berdiri di sisiku, mengusap punggungku pelan.
"Aku? Aku baik-baik saja. Benar katamu, aku baperan, maaf. Aku hanya perlu waktu ambil napas sebentar untuk mulai kerja." Aku menenangkan kecemasan sahabatku itu.
"Hei, baik giman? Mukamu kusut begitu, kok. Ada apa tadi?" cerca Luluk tak percaya.
"Ngak ada. Hanya salah paham dengan Bu Salsabila, ia tetap tak ingin aku mundur. Entah apa maunya, ia masih belum puas dan mau bicara dengan Pak Kevin."
"Eemm, Salsabila tahu kamu dekat sama Julio?" Luluk mulai menerka-nerka.
"Iya."
"Lha itu, ia punya maksud tertentu mungkin ya." Kecurigaan Luluk tak ada salahnya.
"Entah. Kurasa begitu."
"Ya sudah, mundur saja. Tunggu kabar dari Pak Kevin." Dengan sabar Luluk mencoba memberiku dukungan.
Aku mengangguk, namun hatiku belumlah merasa nyaman. Masih ada keresahan menggelayut di sana, hanya dengan Luluk lah aku terbiasa membagi kegundahan hatiku.
"Luk, kenapa kamu bisa kuat tetap sendirian belasan tahu lamanya?" lirihku ingin Luluk berbagi ketangguhan jiwanya.
"Tapi kamu hebat, tangguh melewati belasan tahun tetap selalu tersenyum bahagia. Aku ingin begitu juga rasanya."
"Eh, jangan lah. Kalau masih ada jodoh ya jangan ditolak, katamu ada pintu surga dari suami. Aku tuh karena belum nemu yang cocok saja jadi belum nikah lagi. Julio kenapa memangnya?"
"Aku sebenarnya lebih suka menyerahkan hidupku pada jalannya takdir kehidupan. Tapi sepertinya Julio punya masa lalu yang rumit dengan Salsabila."
"Oke. Bikin perencanaan sama Julio kalau sudah yakin jadi calon suamimu. Konsep keluargamu mau kayak apa. Gimana soal karirmu setelah menikah. Gimana pertemuanmu dengan orang lain setelah menikah. Prinsip keuangan apa saja yang akan kalian pegang? Lalu anakmu haknya apa saja jika jadi anak sambungnya Julio."
"Bukan seperti itu, Luluk. Bukannya hal-hal seperti itu masih jauh nanti jika kami sudah mau ikrar akad nikah. Ini sekarang rumitnya beda."
"Bodo amat, ah. Yang penting aku dah kasih nasihat lho, ya." Luluk cemberut.
"Iya, aku dengerin nasihatnya."
"Bagus lah masih mau dinasehati. Kamu tahu, ada satu ujian yang tampaknya dipandang sebelah mata oleh banyak orang, ujian berupa kerasnya hati untuk mendengarkan nasehat baik."
"ku ngak keras hati, Luluk. Tambah pusing saja jadinya, nih. Kerja lagi sono," ucapku sembari kembali menelungkupkan wajah di meja.
Sahabatku itu tertawa kecil, membuatku mendongak lagi untuk menyeringai lucu padanya. Bersama Luluk, serumit apapun pikiranku selalu saja sedikit berkurang jika ia mulai usil berucap. Aku benar-benar banyak berhutang budi padanya.
__ADS_1
Sesaat berlalu, aku sudah bisa menekuri pekerjaan dengan serius. Dalam hidup ini di samping ada bebagai ujian dari Allah dan kita wajib bersabar ketika menghadapinya. Ada juga nikmat yang harus disyukuri juga. Seperti pekerjaanku di bidang advertising ini yang Allah mudahkan untuk menjadi jalan rezeki yang berlimpah bagiku saat aku harus menjemput rezeki sendiri tanpa seorang suami lagi.
Drrrt.....
Ponselku bergetar dan berdering, sebuah panggilan masuk. Tertera nama Pak Julio di layar ponselku. Buru-buru aku menerima panggilan itu sebelum Luluk semakin membesarkan bola matanya padaku.
"Iya?" tanyaku usai kami saling mengucap dan menjawab salam.
"Kamu berangkat kerja hari ini?" tanya pria itu dengan suara tebal, seolah menyayangkan kenekatanku jika tetap pergi bekerja.
"Iya. Aku sehat saja, kok?" jawabku meyakinkan.
"Beneran kuat kerja? Pria itu masih tak yakin.
"Iya," jawabku singkat.
"Hani, semalam aku ngak bisa tidur."
"Kenapa?" tanyaku seraya membayangkan pria itu gelisah mencemaskan aku.
"Takut kalau tidur mimpi kamu."
"Nggombal."
"Beneran. Eh, mau periksa ke dokter? Aku antar nanti malam," ucapnya menawarkan kebaikan hatinya lagi usai tertawa sejenak.
"Ngak perlu, aku sehat kan kataku dari tadi juga." Buru-buru aku menolak.
"Iya-iya. Kalau gitu, jangan kelelahan kerjanya atau aku akan nekat nemui kamu nanti malam bawain dokter."
"Ngak. Ngak perlu ke rumah." Tergesa kuingatkan Pak Julio agar tak mengkhawatirkan aku.
"Takut amat kutemui. Ada apa?" Pria itu mulai mencium gelagat ketakutan jika ia terus mendekatiku.
Aku terdiam, kenapa hati ini sakit mendengar pertanyaannya, apa hatiku benar-benar sudah tertambat pada pria berkulit sawo matang itu, Hingga saat bertekad ingin menjauhinya terasa makin menyiksa?
"Hani, kok diam?"
"Maaf, aku sambil kerja ini sambil desain orderan."
"Oh, ya sudah. Jaga diri baik-baik."
"Oke. Assalamu'alaikum." Aku menarik napas panjang, merasa lega akhirnya perbincangan kami berakhir.
__ADS_1
Pak Julio terus saja menghujaniku dengan perhatian. Sepintas lalu membuatku teringat pada sosok pria yang hampir enam belas tahun lalu sempat membuatku merasa jadi kekasih paling beruntung menjadi pendamping hidupku. Sejak terakhir bertemu Mas Bayu, pria itu tak juga datang menjemput ibunya. Entah dimana ia tinggal kini. Ibunya pun masih tetap berada bersamaku. Aku membayangkan mantan suamiku itu hidup seorang diri di sebuah kamar kost dengan memeluk penyesalan panjang usai menyia-nyiakan aku.