
Hening. Sudah sekian detik sejak aku bertanya , namun Pak Kevin belum juga bersuara.
"Pak Kevin?" Luluk memamnggil atasan kami itu dengan sopan, dai berusaha mewakili penantian ku untuk segera mendapat sebuah jawaban.
"Begini ya. Ini proyek sangat besar, dan perusahan rekanan itu juga rekanan kriteria A dalam daftar calon pengguna jasa kita. Setelah saya pikir, resikonya terlalu besar untuk coba-coba." Pak Kevin mulai mengurai sebuah alasan, menatapku dan Luluk dengan sorot kebimbangan.
Aku menunduk, duduk terdiam menenangkan gemuruh kesedihan dan kecewa yang memenuhi rongga dada sehingga sudut mataku mulai menghangat. Berbeda denganku, Sarah justru segera berdiri dan menatap Pak Kevin dengan berani.
"Kita sudah uji coba presentasi kan, Pak? Bapak sudah lihat sendiri kemampuan Bu Hani, sudah setuju dia yang akan maju. Kenapa setelah waktu presentasi ditunda, bapak jadi berubah pikiran?" Luluk bertanya dengan sangat berani, membuatku begitu kagum pada ketulusannya sebagai sahabat.
"Tenang Bu. Saya berubah pikiran karena saya tidak berani ambil resikonya. Kita akan kehilangan keuntungan yang sangat besar kalau gagal tender. Mumpung presentasinya di tunda, kita punya waktu untuk susun ulang rencana." Pak Kevin masih mengulangi alasan yang sama.
"Oke, itu alasan memang masuk akal. Sekarang kita hanya punya waktu dua hari, lalu siapa yang akan bapak tunjuk untuk presentasi? Saya rasa tidak akan ada yang siap" Sarah berkeras mempertahankan pendapatnya.
"Bu Luluk lebih berpengalaman, selama ini kita andalkan Bu Luluk. Ayo kita realistis saja. Saya masih lihat Bu Hani beberapa kali belum bisa menata pembawaan emosinya dengan baik saat uji coba kemaren, saya abaikan waktu itu. Tapi sekarang saya ragu untuk.."
"Kalau bapak mau pilih saya untuk gantikan, maaf saya tidak bersedia. Saya pilih mundur dari perusahan ini jika Bu Hani tidak di beri kesempatan" Buru-buru Luluk memotong ucapan Pak Kevin.
Pimpinan kami itu terkejut mendengar kata-kata Luluk. Sejenak kemudian dia menjelaskan sebuah alasan yang membuatku cukup paham keraguannya.
"Seorang dari team kalian merasa keberatan. Dia menghadap saya belum lama" lirih Pak Kevin.
"Hah siapa Pak? Saya tidak sadar ada anggota bimbingan saya yang begitu. Kami lihat mereka solid saja dengan kami." Sarah langsung menjawab dengan terkejut.
Sama dengan Luluk, aku juga tidak mengira ada anggota team yang tidak yakin pada kemampuanku.
__ADS_1
"Saya simpan sendiri namanya, ya. Infonya Bu Hani sedang punya masalah rumah tangga. Bisa-bisa nanti jadi terpecah pikirannya. Kasihan team yang sudah jungkir balik, nanti gagal dapat bonus impian mereka, perusahaan kita juga rugi jadi tidak dapat fee yang besar nilainya" Pak Kevin menjelaskan dengan sebijak mungkin, namun membuatku menjadi tidak enak hati.
Rupanya, ada yang tidak kami sadari, jika ada seseorang dari team yang ikut mendengar saat aku sering berbagi masalah pernikahanku pada Luluk. Aku ceroboh, membicarakan masalah pribadi di lingkungan kantor. Kini, aku dapat masalah karena kelalaianku sendiri.
Luluk masih tegak berdiri, dia membelaku habis-habisan. Dijelaskannya, jika masalah rumah tangga justru membuatku tambah semangat presentasi karena tender ini sangat besar nilainya bagiku. Bahkan dia rela mempertaruhkan jabatannya demi diriku.
Akhirnya Pak Kevin meminta waktu sampai besok pagi untuk mengambil keputusan. Sarah pun menyetujui. Aku mengikuti langkah Luluk keluar dari ruangan pimpinan kami itu dengan kerisauan yang masih belum juga bisa hilang.
"Tenang saja Hani. Aku akan briefing team kita lagi. Aku bantu untuk merubah pandangan orang itu. Entah, siapa diantara mereka yang melapor pada Pak Kevin. Sikapnya benar, tapi seharusnya dia sadar dirinya pun belum tentu sanggup presentasi sebagus kamu"
Aku hanya mengangguk, sangat berharap pada bantuan Luluk. Batangan koper sudah ku simpan di bagasi melintas, akankah koper-koper itu ku bawa pulang kembali ke rumah Mas Bayu?"
Hari ini bergulir begitu cepat, aku fokus melanjutkan pekerjaan. Sementara Luluk, dia juga kembali bekerja setelah mengumpulkan team. Dia memintaku untuk tetap tenang dan yakin akan tetap bisa membawakan presentasi tiga hari lagi.
"Waktunya jemput anakmu, pulang saja duluan. Biar aku yang closing orderan iklan sabun muka itu" Luluk menowel punggungku, saat aku masih sedikit lagi selesai mengedit sebuah orderan iklan.
"Aku berhutang budi banyak banget sama kamu. Besok, jika aku masuk surga, aku akan cari kamu sebagai sahabat terbaik." Aku memeluk Luluk dengan penuh syukur.
"Aamiin. Alhamdulillah dong, jadi nambah jalan surgaku selain dari anakku. Tidak ada suami yang bisa aku tumpangi surganya, tapi ada sahabat ku yang mau berbagi jalan surga denganku." Luluk terkekeh sambil menggeser laptopku untuk bisa di raihnya lebih cepat.
Aku berdiri seraya tertawa juga, namun di sudut hatiku ada sebuah luka yang tiba-tiba kurasakan. Sebentar lagi aku akan kehilangan jalan surga dari suami juga jika jadi bercerai.
"Ya sudah, aku pulang duluan, ya. Itu tinggal edit dikit banget. Jangan lupa, anakmu juga sudah menunggumu pulang. Makasih banyak" aku menepuk bahu Luluk penuh terima kasih sebelum berlalu.
"Oke, anak ku sudah besar sudah ngak ribet ngurusnya, ngak jemput sekolah lagi kayak kamu emaknya malah yang sering minta di jemput"
__ADS_1
Aku melambaikan tangan sambil tersenyum lebar melangkah keluar ruangan. Sarah beruntung,putranya bisa melewat masa suram saat kedua orang tuanya harus berpisah, dia kini sudah duduk di bangku kuliah dan bisa menjaga Luluk mengantikan papanya.
Saat baru masuk ke mobil, dering ponsel terdengar dari dalam tas kerjaku. Aku segera melihat siapa yang meneleponku. Terbaca olehku, nama Mas Bayu tertera di layar panggilan.
"Iya, Mas?" kataku malas usai menjawab ucapan salam dari Mas Bayu.
"Fahmi sudah aku jemput, aku mau memperbaiki kesalahanku sam anakku. Tapi Fahmi tidak mau aku jemput katanya nunggu kamu yang jemput." Suara Mas Bayu terdengar di antara suara percakapan lain di sekitarnya. Suara Fahmi, tapi berbincang dengan siapa?
"Iya aku sudah pesan sama Fahmi untuk menunggu aku jemput. Kok kamu mau jemput dia ngak bilang aku dulu?" tanya ku kesal takut rencanaku untuk langsung pergi bersama Fahmi akan gagal.
Aku terdiam menajamkan pendengaranku seiring terdengar gelak tawa seseorang.
"Mas, kamu lagi di mana? sama siapa? tanyaku tidak sabar.
"Aku di temani Dini, kami mau mampir di restauran korea."
Ada rasa tersayat di sudut hatiku mendengar ucapan Mas Bayu. Dia tak hanya menyingkirkan diriku dari hatinya ,tapi juga sedang berusaha menyingkirkan arti diriku sebagai ibu dari anakku.
"Mas! Kamu bisa menyingkirkan aku dan mengantikan dengan Dini. Tapi jangan ambil anak dariku. Bawa saja hidupmu dengan wanita itu jauh-jauh dari kami" aku berteriak dengan tegas agar di ingat betul ancamanku itu.
"Sudah jemput saja Fahmi dia tidak mau ikut dengan ku, cepat jemput dia kami jalan dulu"
Aku tidak kuasa menahan rasa kesal, namun sayang Mas Bayu sudah mematikan ponselnya hingga tak bisa ku telepon lagi.
Aku yakin ,Dini mulai punya siasat untuk mendekati anakku agar bisa menerim dirinya. Dasar perawan tua! tak dapat aku cegah aku mengumpat karena rasa kesal dalam hati
__ADS_1