KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
BAB 25. Rasa Rindu


__ADS_3

Tiba akhir sesi pengumuman lelang. Benar dugaan ku, teamku yang memenangkan tender. Mulai hari ini, aku yang akan menangani branding produk terbaru yang di tangani divisi Dini dan Mas Bayu. Allah memberiku kemudahan hari ini, membasuh luka hati yang berturut-turut menderaku beberapa hari ini.


"Aku kagum pada anda, Bu Hani. Seingatku dulu produk kami juga pernah dibuat advertisingnya oleh ibu sampai meledak penjualannya, hingga kini jadi produk populer di masyarakat meski sudah belasan tahun sejak launching." Seorang petinggi perusahaan yang aku kenal betul namanya, menghampiri lalu memujiku dan memberi selamat. Dia pun mengenaliku juga sebagai istri Mas Bayu.


"Iya, Pak. Makasih, produk baru ini doakan semoga menyusul populer juga." Aku mengatupkan tangan, sebagai rasa terima kasih atas pujiannya yang membuatku semakin bersemangat.


"Jadi sejak kapan ibu bekerja kembali? Pak Bayu ngak cerita ini kalau istrinya sudah bergelut lagi di dunia advertising. Hebat istrinya, Pak Bayu." Petinggi perusahaan itu menepuk bahu Mas Bayu, suamiku itu nampak salah tingkah.


Kusunggingkan senyum, bersyukur bisa membuktikan bahwa aku patut dihargai dan bukan hanya seorang wanita lemah yang tak cerdas lagi. Dini terlihat tak suka mendengar pujian itu. Tampak sekali dia salah tingkah, terpaksa memberiku selamat dengan menahan rasa malu karena sempat menghinaku tadi.


Aku melenggang bersama Luluk dan Pak Kevin menuju pintu keluar ruangan meeting dengan mengukir senyum kemenangan di wajah kami.


"Bu Hani, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya. Tentang ...proyek kita." Mas Bayu menghentikan langkahku.


Aku menoleh sebentar pada Mas Bayu, lalu menatap Luluk untuk meminta pendapatnya. Dia mengangkat alisnya, itu artinya dia menyerahkan keputusan padaku.


"Baiklah, Bapak. Mari" aku menjawab dengan bahasa resmi, menuruti pintanya, bagaimanapun Mas Bayu rekan proyek kerjaku kini.


Aku membuntuti langkah pria yang sebentar lagi kuputuskan akan kugugat cerai itu. Memasuki ruangan Mas Bayu aku menguatkan hati agar tak terbawa perasaanku. Aku harus profesional, bekerja tanpa melibatkan kegundahan hatiku.


"Tujuanmu apa ikut tender tadi?" Mas Bayu bertanya sengit, kami sudah masuk keruangannya.


"Tujuanku apa? Hmmm, menurut bapak apa?" kataku membalikkan tanya.


"Tentunya ingin aku kembali bersamamu lagi, apa itu benar?" pria itu menatapku dalam, seakan ingin menyelami isi hatiku yang paling jujur.


Sesaat, aku sedikit gugup, bisa aku lihat ada sedikit rasa rindu dalam sorot mata pria yang masih resmi jadi suamiku itu. Aku membulatkan mata, berusaha terlihat baik-baik saja meski balas menatapnya dengan degupan kencang di dada.


"Hei, kamu gugup? aku suka melihatmu begitu, artinya dugaanku benar jika..."


"Hei, sepertinya bapak masih haus kekaguman. Jangan mimipi bisa membuatku kembali menyia-nyiakan hidup bersama pria seperti bapak," tukasku cepat, menyanggah tuduhan Mas Bayu yang belum selesai diucapkannya.


"Aku baru menyadari kamu mengenakan syal itu, apakah kamu masih mengingat saat itu?"

__ADS_1


Mas Bayu seakan yakin syal itu kukenakan untuk mengingatkan kenangan indah saat dia menceritakan padaku tetang kisah cinta air dan bunga. Dia meraih jemariku sangat erat hingga terasa begitu nyata hangat kulitnya menyentuh kulitku,pria itu terlihat begitu tampan mengenakan kemeja abu dengan celana hitam yang dulu biasa ku siapkan untuknya di pagi hari.


Terlintas kembali waktu demi waktu saat aku rela menyiapkan pakaian-pakaiannya hingga rapi, rela menunggu kepulangannya setiap pulang kerja hari demi hari lebih dari lima belas tahun lamanya, melayani dan menemani dengan sepenuh cinta di setiap lelahnya. Hatiku teriris perih, mendadak tanganku tak sadar mengepal menhan lara kembali menganga.


"Aku pernah menjadi wanita yang sangat setia, patuh dan mengharap surga dengan melayani suamiku. Tapi semua sudah terkubur dalam-dalam, kamu lebih tahu kenapa. Lepas tanganku, lepaskan!" Aku menggertak, tak mau di anggap sebagai wanita yang kesepian setelah ditinggalkan olehnya.


Hatiku berdesir hebat, saat Mas Bayu tak juga melepas eratnya genggaman jarinya di sela jemariku, bahkan meletakkannya di dadanya yang bidang. Sekilas, aku merasakan jika dia menyadari arti diriku yang sekian lama telah memberi warna dalam hidupnya.


Aku berusaha melonnggarkan jemarinya, menunjukkan jika aku tak ingin lagi diganggu olehnya. Bukan aku takut terbawa lagi rasa dalam debaran dadaku, namun garis takdir seperti tengah mengujiku saat ini.


"Jadi, jujurlah untuk apa kamu ikut tender tadi?" Mas Bayu mengulangi tanya yang sama, perlahan dilepaskan jemariku setelah susah payah gagal untuk terus menggenggamnya.


"Aku punya banyak mimpi tentang kebahagian anakku. Siap tahu juga usai menang tender, ada pria tampan berakhlak bagus yang terpikat padaku dan jadi ayah yang baik untuk Fahmi." aku memilih jawaban yang sempurna.


Mas Bayu mengepalkan tangannya, geram sekali kelihatannya, mungkin dia merasa aku menyudutkannya. "Kamu masih istriku! ingat itu! Hanya aku ayahnya anakku."


"Eemm, tolong jaga profesional kerja. Anda membawa saya ke sini untuk membahas proyek bersama kita, lupakan soal yang lain." Aku berkata tegas, berbisik langsung di telinga Mas Bayu.


Belum lagi Mas Bayu melontarkan kata, Dini datang menyusul masuk ke ruangan, derap sepatunya terdengar sangat memuakkan bagiku. Wanita tinggi langsing itu memang memiliki postur tubuh lebih tinggi dan lebih cantik dariku, namun sifat kepribadiannya tak senilai dengan kecantikan fisiknya.


"Aneh, kenapa Bu Dini merasa seperti itu? Memangnya ada hal yang harus saya ketahui tentang kalian sampai-sampai ingin dekati kalian berdua?" ujarku menohok, menjauh dari samping Mas Bayu.


Dini menggeser langkah, dia berdiri di samping Mas Bayu sekarang. "Kami terlihat serasi, bukan? Hati kami sudah terpaut, jauh sebelum Bu Hani hadir diantara kami."


Mas Bayu berdiri di samping Dini dengan resah, dia seakan risih dengan kata-kata Dini tadi, tapi aneh nya dia hanya diam membisu. Pengecut memang pria yang masih jadi suamiku itu.


Geram rasanya mendengar ucapan Dini tadi, kutatap dia tajam dan berkata dengan santai, "Bagi saya kini, Mas Bayu seperti barang bekas. Sebentar lagi dia akan menjadi bekas suami saya. Selevel jajaran direksi seperti Bu Dini ternyata hanya mampu menadahi bekas suami ibu rumah tangga biasa seperti saya? Keren sekali kedengarannya." Aku tertawa kecil. Mas Bayu terkejut mendengar kata-kataku, dia terlihat sakit hati kuanggap layaknya barang bekas.


Sementara Dini nampak sangat tersinggung oleh ucapanku, dia melangkah cepat mendekat padaku lagi. Derap sepatunya kini mulai ku suka, aku sudah berhasil membuatnya naik pitam.


Mas Bayu terlihat tegang, dia nampak khawatir jika ucapanku tadi akan memicu perang mulut yang sengit diantara aku dan Dini. Dia pun ikut melangkah mendekat lalu menahan lengan wanita itu.


"Karir Bu Hani baru di mulai jangan besar kepala, kompetisi market sekarang sangat buas. Saya bertaruh, semua tak akan semulus pikiranmu, Bu!" Dini berusaha mengerdilkan diriku.

__ADS_1


"Saya bekerja santai, Bu. Branding gagal itu artinya produk anda juga gagal di pasar. Siapa yang rugi? Pikirkan itu! Silahkan kalau kamu mau menjerumuskan diri dalam kemunduran karir. Saya sih santai, gagal branding juga ngak masalah," jawabku cuek sambil mengangkat bahu.


Dini memalingkan muka, menahan kemarahannya. Harusnya aku yang berapi-api meluapkan kekesalan kaena suamiku telah direbutnya. Aku yang tadinya sangat kecewa karena disisihkan Mas bayu, kini sudah mulai bisa mengikis habis perasaanku pada pria itu seiring waktu berjalan.


Saat kami bersitegang, terdengar ponsel Mas Bayu berdering. DIa segera menerima panggilan telepon itu. Kudengar Mbak Min lah yang menghubunginya. Kudengar beberapa kali diulanginya lagi ucapan Mbak Min, sepertinya kondisi ibu memburuk.


"Say, ibu ngedrop, ayo kita pulang. Temani aku bawa ibu ke rumah sakit." Mas Bayu berkata mesra pada Dini. Tak sungkan lagi di depanku memanggil dengan panggilan sayang pada Dini. Teriris hatiku, bukan karena cemburu, namun karena merasa sia-sia selama ini salah melabuhkan cintaku.


"Eem, gimana, ya. Aku menyusul deh. Kamu tahu kan aku baru gabung disini, masak sudah bolos jam kerja." Dini berdalih.


Aku menyunggingkan senyuman geli, Mas Bayu diabaikan permintaanya. Terlihat jelas Dini tak mengutamakan kondisi ibu, rupanya rasa sayangnya tak tulus, tak lebih berarti dari gemilang karirnya.


"Maaf, aku permisi. Sepertinya belum ada hal penting untuk kita bahas." Aku melangkah keluar ruangan, muak rasanya terlalu lama bersama mereka berdua.


"Hani, tunggu!" Mas Bayu menyusul ayunan kakiku. Tiba-tiba saja dia sudah sejajar di sampingku.


"Ibu juga berbicara sebentar denganku lewat telepon tadi. Suaranya lemah sekali, dia ingin aku memintamu lkut mengantar ke rumah sakit juga." Mas Bayu dengan ragu memegang lenganku.


"Tolong aku, demi ibu." Katanya lagi, memohon.


"Sama seperti Dini, aku juga baru bekerja, tak mungkin bolos saat jam kerja kan?" Aku menguji kesabaran Mas Bayu.


"Ibu butuh semangat untuk sembuh, tak cukup hanya bersamaku saja. Dia sudah terbiasa ada kamu bersamanya, dia butuh kamu." Mas Bayu terus membujukku.


Sebesar apapun kukuatkan hati untuk tidak peduli lagi, hati kecilku tak bisa mengabaikan kondisi ibu yang selama ini kuanggap seperti ibuku sendiri.


Aku menelpon Luluk, bercerita padanya tentang kondisi ibu. Aku yakin Luluk mempunyai saran yang baik untukku. Kunyalakan tombol loudspeaker, biar Mas Bayu juga mendengar ucapan Luluk.


"Kamu wanita berhati emas, jangan ingkari nuranimu. Kebaikan jangan sampai kamu abaikan karena sebuah kejahatan yang kamu terima. Do it, kebaikanmu akan menuai kebaikan lainnya." Luluk memberiku saran, menurutku itu juga sebuah saran yang terbaik.


"Dengar itu? Luluk mengenalku lebih baik dari suamiku sendiri. Mas Bayu pergi saja dulu, katakan pada ibu aku akan menyusul nanti sore setelah menjemput Fahmi dari sekolah." Aku memutuskan dengan berat hati, hanya demi ibu bisa sehat lagi aku akan menemuinya.


Tiba-tiba Mas Bayu langsung mendekapku erat. "Makasih, sayang. Benar kata ibu memang kamu istri yang baik. Maafkan aku, maaf." Dari balik punggung Mas Bayu nampak olehku sosok Dini berjalan tergesa menyusul ke arah kami. Melihatku dalam dekapan Mas Bayu, Dini menatap kami dengan segunung rasa kesal. Aku tersenyum, ini belum seberapa... Masih banyak lagi yang bisa kulakukan untuk membalas perselingkuhan mereka berdua.

__ADS_1


*MOHON KOMEN DAN LIKENYA BIAR TAMBAH SEMANGAT UPDATE 🙏🏻🙏🏻*


__ADS_2