
Air mataku menetes, ketika mendengar lelaki di depan pagar yang sudah tergembok itu terus saja memukuli jeruji pagar hingga menimbulkan suara sedikit gaduh.
Aku tetap tak membalikan badan meski dihinggapi rasa iba pada Mas Bayu. Jemariku perlahan mengusap air mata. Aku merasa kembali bodoh, menangisi hal yang sudah seharusnya tidak kutangisi lagi. Ia coba kembali, kutepis dengan menunjukkan jika aku sudah baik-baik saja dan bisa tegak berdiri.
"Hani." Serak dan berat suara Mas Bayu, ia mulai terisak.
"Dengar dulu, setelah itu terserah kamu mau bagaimana menghukum kesalahanku." ia melanjutkan bicara.
Aku membuang napas pendek. Mas Bayu seolah tak mau tahu diamku. Ia tak menyadari jika aku hampir berhasil menghapus setiap butiran rasa padanya, mengharap namanya cepat punah menghilang dan lenyap dari ingatanku.
"Mas itu jangan bersikap pengecut! Kalau memang mencintai wanita itu cepat nikahi dia dan ceraikan aku!" ucapku sengit, ingin mengakhiri nestapa yang sedang ditunjukkan Mas Bayu.
"Aku sudah menikahi Dini sejak lama, maaf."
Pengakuan pria itu bagai palu yang menghujam ribuan paku ke jantungku. Akhirnya aku dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan itu, mereka memang telah menikah diam-diam, suamiku mencurangi kesetiaanku.
Remuk jiwa membuat napasku tersengal, aku menarik gagang pintu rumah, masuk meninggalkan pria yang ingin kuhempaskan ke lautan es di kutub utara hingga membeku menyesali jejak kesalahannya.
****
Hari-hariku kini, lebih terasa hidup dengan berkutat dalam pekerjaan kantor. Aku bisa tertawa bersama teman, berbagi cerita dan saling mendukung. Apa aku sudah merasa bahagia usai meninggalkan suamiku? Sebenarnya masih ada sisi yang hampa di sudut hatiku. Aku melihat kehidupan anak-anak tak lengkap tanpa perhatian seorang ayah. Dia masih perlu waktu untuk menerima kondisi. Aku terus berusaha membuat Fahmi terbiasa tanpa kehadiran ayahnya.
"Jadi ayah tak akan bersama kita selamnya ya, Bunda?" Fahmi bertanya dengan sedikit rasa takut. kami dalam perjalanan mengantarnya ke sekolah.
Aku mengangguk perlahan.
"Sepertinya akan begitu. Ayah dan bunda berpisah karena ada satu hal yang belum bisa bunda jelaskan. Nanti jika kamu sudah dewasa baru bisa menilainya sendiri."
Fahmi menatapku dengan rasa iba.
__ADS_1
"Apa Tante Dini sudah menikah dengan ayah?"
Aku menatapnya pilu. Pertanyaan Fahmi tak salah, pasti ia bisa berpikir begitu karena pernah melihat sendiri ayahnya bersama Dini.
"Fahmi sayang, kadang harapan kita tidak selalu mudah untuk dicapai, ada masalah yang tak terduga bisa muncul menghalangi. Itu namanya kita sedang diberi cobaan sama Allah." Aku menjawab pertanyaan putraku semudah mungkin untuk bisa dipahami.
"Biar saja ayah tahu rasanya dibuang sama orang yang disayanginya." Fahmi berkata kesal.
Aku mengerjap terkejut, berusaha mendamaikan hatinya, "Mmm begitu? Saat ini mungkin lebih baik kita kurangi dulu komunikasi dengan ayah, tapi kamu tetap harus menghormati ayah, ya." pintaku pada Fahmi.
Anaku mengangguk paham. Aku menepikan mobil, ke samping merentangkan kedua tanganku, Fahmi dengan cepat memelukku, hingga kami berdekapan.
Usai mengantar Fahmi, aku terburu berkutat dengan proyek branding yang harus segera kuselesaikan, waktuku sudah sisa beberapa hari lagi. Jangan sampai Dini datang menemuiku untuk menagih pekerjaan kami.
"Pokonya pantang surut ke belakang. Lihat lurus saja ke depan menuju goal. Ayo kita selesaikan proyek, tunjukkan kamu berkompeten dan layak dihargai." Luluk membesarkan nyaliku.
"Woke, jangan khawatir aku, dear." Aku menenangkan Luluk.
"Saya mau ketemu sebentar, Bu Hani." Pak Kevin berbicara padaku seraya mendekat ke meja kerja kami.
"Baik, Pak."
Aku melangkah mengikuti Pak Kevin ke ruangannya.
"Saya mau minta tolong, ada tiga perusahan besar lagi yang ingin percayakan branding iklan. Kira-kira Bu Hani sanggup terima?" Pak Kevin menatapku lekat, hingga membuatku merasa sedikit risih.
"Sa-ya tanya team dulu, Pak. Ngak berani ambil keputusan sendiri."
"Baiklah, silahkan. Ini gambaran kriteria produk yang mereka minta, pelajari cepat. Setengah jam lagi, kembali ke sini."
__ADS_1
"Baik, Pak."
Aku terburu keluar dari ruang Pak Kevin, merasa takjub dengan karunia yang ada dalam genggamanku kini. Jika semua branding ini berhasil, tabunganku akan mendadak gendut.
Ah, tapi apakah dengan bergelimang rupiah bisa membuatku bahagai di tengah patahnya biduk rumah tanggaku? Setelah perceraianku diputus pengadilan nanti, apa pundi-pundi kesuksesan bisa membuatku tetap bahagia menjanda?
Impian setiap wanita adalah tetap berada di rumah. Mendidik dan menjadikan anak-anaknya salih salihah adalah impian yang nyata. Aku pernah melepaskan cita-cita indahku berkarir, lalu berkhidmat pada suami seutuhnya kerena kurasa ia telah mencukupi nafkah dengan baik. Jika ketulusanku itu justru berubah sebuah pengkhianatan yang tak bisa kumaafkan, apa salah jika aku memilih berpisah?
"Hei, ada berita dari raung Pak Bos?" tanya Luluk mengebu.
Semua yang mendengar penjelasanku tentang tawaran Pak Kevin, bersemangat berseru satu kata mengiyakan proyek yang baru daftar kerja kami.
Kembali menemui Pak kevin, aku berbinar menyapanya untuk menyampaikan keputusan teamku dan Luluk.
"Bagus. Semangat ya. Jangan khawatir, dari perusahan kita juga akan banyak bonus kalau costumer kita tak ada komplain."
Aku tersenyum mengiyakan, lalu berpamitan untuk melanjutkan proyekku yang belum selesai.
"Bu Hani, malam nanti ada acara? Putra saya kebetulan sedang magang kerja untuk tugas semester akhirnya. Saya ingin makan di luar saja tapi ngak ada teman. Bu Hani ada waktu makan bersama saya?"
Aku terhenyak di celah pintu yang baru kubuka sedikit. Tak mengira akan mengalami kejadian serumit ini.
Anganku terbawa ke masa lampau saat baru melamar kerja di tempat ini. Melihat pria-pria berpenampilan keren yang lalu lalang dengan tatapan takjub, seraya berdoa andai suamiku kelak seorang yang kerennya serupa pria-pria itu, saat itu aku tengah menanti bertemu Luluk di lobi kantor. Sahabatku itu telah dulu lolos diterima kerja di sini.
"Masuk ke sini itu susah, Hani. Ini perusahaan advertising terbesar. Kerjaannya ngak kenal waktu, targetnya besar. Dah pulang lagi saja sana. Kamu ngak akan sanggup," kata sahabat baikku itu.
Aku semakin tertantang. Bahkan merasa ini adalah jalan karir yang aku impikan, aku juga berharap menemukan jodoh pria mapan yang sukses lagi keren. Pikiran seorang Hani muda yang masih dangkal memilih kriteria seorang suami.
Kala itu, aku belum paham, jika suami yang baik bukan hanya dilihat dari penampilan kerennya saja. Sejatinya, kini aku sadar aku membutuhkan sosok yang menyediakan pundak untuk diriku merebah, setia saat raga tak lagi indah, lalu memastikan diriku tersenyum bersamanya hingga akhir hayat.
__ADS_1
"Bagaiman, Bu Hani, bisa, ya?" Pak Kevin mengulang tanya. Aku semakin tercenung, harus menjawab apa pada duda mapan yang belum lama ditinggal istrinya berpulang itu.