KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 42. Senyumku Tanpamu


__ADS_3

Sederet pekerjaan menantiku di kantor hari ini. Menapaki ruangan kerjaku, itu artinya harus kutinggalkan semua beban pikiran dan kegundahan hati hingga jauh tersembunyi. Fokus dan fokus berkarya, salah satu caraku untuk bangkit dari terpuruk setelah ikhlas menjalani takdir dan tak putus melangitkan doa kebaikan untukku dan buah hatiku.


Sama sepertiku, Luluk juga terlihat sibuk di meja kerjanya. Kami tengah mengejar terget branding dari beberapa perusahan besar yang minggu lalu baru kami terima proyek kerja samanya.


Sekian jam menekuri laptop, sebuah ketukan di pintu terdengar mengusik kesibukanku dan Luluk. Nampak Pak Kevin di ambang pintu masuk ke ruangan dengan tergesa.


"Ibu-ibu yang keren, ada berita baik untuk kalian. Pergilah ke kantor Superindo, lakukan tanda tangan berkas penerimaan royalti kalian. Produknya sukses, ada banyak bonus menanti," tutur Pak Kevin dengan raut bangga, ia bahkan langsung menemui menemui kami tanpa memanggil lewat telepon untuk menghadap ke ruangannya.


Aku dan Luluk saling menatap terharu. Tak sampai sebulan advertising berjalan, proyek branding di perusahaan Mas Bayu yang kami tangani pun akhirnya booming. Sahabat terbaikku segera memelukku, berbinar syukur mendengar hasil pencapaian kami. Rekkening tabunganku akan mendadak gendut. Mungkin impianku membeli sebuah rumah bisa segera terwujud.


Keberhasilan proyekku ini persis seperti yang kualami saat sukses branding dulu ketika bekerja sama pertama kali dengan Mas Bayu. Dulu aku mampu membeli mobil yang kupakai hingga kini, memberangkatkan kedua orang tuaku ke tanah suci, membeli simpanan perhiasaan dan sisanya kutabung.


Allah Maha Kaya, Allah tak rela hambanya dizolimi, doaku dikabulkan dan pintu rizki dibukakan untukku. Kini, tak perlu bergantung pada Mas Bayu untuk menafkahi putraku. Ada Allah tempatku bersandar dan meminta.


Aku tahu, perceraian adalah hal yang dibenci Allah. Namun, pernikahanku sudah tak bisa kupertahankan saat bayang-bayang orang ketiga membuat pernikahanku tak lagi menghadirkan ketenngan.


****


Aku dan Luluk baru selesai menandatangi berkas perjanjian penerimaan royalti, ketika Dini masuk ke ruangan untuk memberi selamat kepada kami. Ia melenggang sok anggun mendekati kami, terlihat cantik dengar bibir merah menyala seperti biasanya.


"Selamat, Ibu-ibu. Tapi bukan hanya karena kalian produk kami sukses, team kami juga bagus effortnya. Tunggu undangan makan-makan dari divisi kami, ya. Jangan lupa bawa pasangan masing-masing." Dini memberi selamat tanpa melewatkan untuk mengejek kami juga. Ia tahu Luluk single parent dan aku dalam proses bercerai.


"Wow, ada makan-makan juga? Eeem, makan-makannya di rumah suami orang bukan? Ngak usah saja deh, kami wanita baik-baik." Luluk berbisik di telinga Dini, namun masih terdengar olehku yang berhimpitan berdiri dengannya.


Wajah Dini menegang menahan marah. Luluk cepat menarikku untuk berpamitan pada semua yang ada di ruangan. Kami pergi menyisakan raut masam di wajah Dini.


Tak kusangka, Mas Bayu menungguku di pintu lift. Ia mengulurkan tangan, ingin memberiku selamat. Ada beberapa orang sedang menunggu masuk lift juga, aku pun menjaga kesopanan dan menerima uluran selamat dari Mas bayu.


"Sudah, ingat sebentar lagi kamu bukan mahramnya, jangan kelamaan pegang tangannya." Luluk meledek Mas Bayu.


Calon mantan suamiku itu menjadi gugup dan tak bisa mengucapkan kata lagi. Ia menggeser tubuhnya, memberi jalan pada kami untuk masuk lift. Masih kulihat Mas Bayu menatapku hingga pintu lift tertutup, apa ia sungguh menyadari kesalahannya? Bukankah dulu ia sangat mendambakan wanita lain itu/ Ah, entahlah, bisa jadi saat ini sudah kembali menghangat hubungannya dengan Dini. Kulihat tadi wanita cerdas itu nampak baik-baik saja.


"Julio pasti senang dengar branding kita sukses. Jangan lupakan bantuannya. Logo, kemasan dan slogan produk dari idenya memang top abis, iklan cetaknya jadi keren. Telepon sana, gih." Luluk mengerjakan mata dengan genitnya.


"A...ku ngak punya nomor telepon Julio," kataku keluar dari pintu lift lebih dulu.


"What? Julio ngak minta nomor kontakmu, masa sih? Kamu polos banget jadi orang. Gimana kalian bisa jadi tambah dekat kalau ngak saling simpan nomor kontak?"


seru Luluk dengan sangat heran seraya menjajari langkahku.


"Ya buat apa juga, aku masih belum bercerai, Luluk! Andaipun sudah cerai, tetap saja harus jaga marwahku sebagai wanita."


"Idih, apa itu marwah? Sejak kapan kamu ngomong aneh-aneh gitu, aku ngak ngerti."

__ADS_1


"Makanya ikut pengajian. Ayok kita perbaiki diri sama-sama. Ngak ada kata terlambat untuk belajar. Kamu masih ingin nikah kan? kamu tahu, pintu surga terdekat seorang wanita itu ada pada suaminya. Semoga segera ketemu jodohmu, ya."


"Hei, kamu juga dong. Kita tetanggaan nanti di surga, hehehe. By the way, apaan tadi itu , marwah?"


"Marwah itu kehormatan dan harga diri. Agama kita menjunjung tinggi pentingnya menjaga kehormatan diri maupun kehormatan orang lain. Dengan berhijab ini pun aku berusaha menjaga marwahku, kamu juga pasti bisa."


'A...ku belum siap."


"Ajal itu datang tak menunggu kita siap. Percayalah, kamu akan lebih merasa nyaman nanti, aku sudah merasakan."


"Doakan aku, ya. Tapi dalam waktu dekat ini belum siap." Luluk menunduk dalam, lalu mempercepat langkahnya menuju tempat mobil kami terparkir.


Jangan ditanya rasa di hatiku, tentu saja meriap-riap ingin berbagi kabar bahagia ini dengan Pak Julio. Namun, aku tak berani berbuat sejauh itu. Terserah Allah saja, jika sudah kehendak-Nya pasti kabar bahagia ini akan sampai juga pada pria berkulit sawo matang itu.


Malam harinya, selepas sholat isya berjamaah, Fahmi bahagia bukan kepalang saat kuceritakan keberhasilan proyek pertamaku di awal karir ini. Tapi saat kutanya hadiah apa yang ingin mereka beli, buah hatiku hanya menggeleng.


"Ditabung saja, Bunn. Nanti kita kan masih banyak kebutuhan." Fahmi memberi masukan.


"Begitu?" kataku terharu.


"Iya, aku juga ingin Bunda ngak terlalu capek bekerja. Uangnya buat ditabung saja bisa dipakai kalau bunda sudah ingin berhenti kerja." Fahmi menambahkan lagi.


Mataku menghangat, buliran bening hampir menetes karena haru, aku berusaha menahannya tak ingin anakku melihat air mataku.


"Gimana kalau kita makan di luar saja?" aku memberi usulan,buah hatiku pun menyambut usulku dengan semangat.


Fahmi meraih ponsel dari sakunya, lalu terdengar ia menelepon seseorang. Kutajamkan pendengaranku, putraku menyebut sebuah nama sontak membuatku membulatkan mata menatapanya.


"Pak Julio, Bunda dapat bonus iklan."


Aku memberi isyarat pada Fahmi untuk mengakhiri telepon, namun ia terus saja bicara.


"Iya, makasih, Pak Julio."


Tanpa merasa bersalah, Fahmi pun mengakhiri telepon dengan riang, mengabaikan tatapan amarahku.


"Fahmi kenapa ngak izin bunda dulu kalau mau telepon Pak Julio!" tegurku lirih.


"Oh, itu, Bun. Aku seneng banget, pasti Pak Julio juga senang kalau dengar bunda sukses bikin iklannya," jawabnya masih belum menyadari kerisauanku.


"Iya, tapi baiknya bicara sama bunda dulu tadi. Jangan diulangi, ya,"


"Iya, Bun. Maaf. Katanya Pak Julio mau kirim hadiah buat bunda. Kita akan dijemput untuk makan malam di restoran. Ayo, Bun kita cepat siap-siap."

__ADS_1


Fahmi berdiri untuk bersiap diri dan telah berlari ke kamarnya dalam sekejap mata. Bagaimana mungkin kukecewakan anakku? Semua terjadi di luar dugaanku.


Setengah berlari aku susul Fahmi.


"Nak, tolong kasih tahu Pak Julio, makan malamnya diundur saja," lirihku pada Fahmi mencari cara agar kami tak jadi pergi.


"Kenapa, Bun? Pak Julio sedang ke sini. Kasihan kan kalau ngak jadi?"


"Masak iya secepat itu?"


"Iya. Pak Julio lagi di jalan tadi waktu Fahmi telepon, memang sedang perjalanan mau ke sini kok."


"Apa?" tanyaku gugup. Jadi pria beralis tebal itu memang berniat kesini, mungkinkah ia sudah tahu kabar bahagia itu?


Dengan lulai aku melangkah ke kamar untuk mengenakan jilbabku. Sungguh, aku masih ingin menghindari pria saat ini, menghindari terjadinya fitnah yang tak baik nantinya.


Dengan enggan, aku memilih pakaian panjangku yang tak banyak jumlahnya. Sebuah tunik selutut dan rok lebar kupilih dengan cepat, lalu memadankannya dengan jilbab warna senada. Pikiranku resah. Aku bahkan tak memoles wajahku sedikitpun, biarlah.


Saat keluar dari kamar, Fahmi mengulurkan ponselnya padaku.


"Ayah telepon," katanya.


"Terima saja, katakan pada ayah jika kita akan pergi jalan-jalan," kataku bermaksud agar Mas Bayu cepat mengakhiri teleponnya, aku masih enggan bicara dengannya.


Fahmi pun menyalakan loud speaker di ponselnya, lalau melakukan yang kuminta.


"Lagi jalan kemana? Ayah boleh bergabung? Nenek kangen dengan kalian." Mas Bayu berkata dengan gugup.


"Eeem gimana ya? Ini acara spesial kami,' jawab Fahmi singkat.


"Mak-sudnya? Berikan teleponnya pada bunda!" Mas Bayu berseru.


Dengan enggan aku terpaksa menerima ponsel dari tangan Fahmi dan memintanya untuk ke teras rumah.


"Iya, Mas? Kami mau pergi makan di luar." Kuulangi kata-kata fahmi lagi.


"Makan malam spesial...apa kamu mengundang seorang pria? Kamu itu masih istriku! Anak juga belum sah dibawah asuhanmu, aku bisa tuntut kamu kamu karena menghalangi aku dan ibu untuk bertemu mereka." Mas Bayu mencecarku dengan berapi-api.


Aku hanya diam. Berbisik lirih dalam hatiku. "Jika saat ini kamu melihatku sudah mampu tersenyum tanpamu. Percayalah, aku pernah menangis karena tidak sanggup menerima kehilangan, aku pernah melangitkan namamu di dalam ribuan doa. Aku pernah memohon agar Allah mengembalikanmu padaku, dan menahan lara melihat kenyataan aku tak berharga lagi di matamu."


"Hani! Kalian ada di mana? Aku akan menyusul ke sana."


Suara kalut Mas Bayu bergema di telenga. Aku memejamkan mata, kenapa baru sekarang kamu terus mencariku dak anakmu, Mas? Kenapa baru datang saat kami sudah mampu melanjutkan hidup tanpamu?

__ADS_1


__ADS_2