KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 53 Hancurnya Bayu


__ADS_3

Desiran angin malam kian terasa dingin, aku menghembuskan napas berat, mengurai resah. Selepas kepulangan bu Dito rasanya hatiku belum nyaman. Kurenggangkan tulang-tulang punggungku dengan bersandar di kursi teras, memandang birunya langit malam dengan hati gelisah seraya terbayang sekelebat wajah pria beralis tebal.


Julio punya segalanya, ia hampir sempurna dilihat dari sisi manapun. Sejak mengenalnya, belum kutemui cela dalam diri pria berkulit sawo matang itu. Aku pun mulai mengingat setiap detik perjumpaan kami, mungkin ia punya sifat buruk apa gitu yang aku belum sadari ... tapi belum ada kutemukan sebuah cella! Sudahlah tak perlu risaukan hal yang tak perlu dirisaukan. Bukankah diriku pun tak luput dari cela? Nyata-nyata Julio tak pernah mengulik kekuranganku.


Aku menepuk beberapa ekor nyamuk yang melintas, namun rasanya masih enggan masuk ke dalam rumah, masih saja memikirkan sosok Pak Julio. Pria itu cukup santun, caranya untuk mengenalku lebih dekat sungguh tak berlebihan. Bahkan hingga kini ia tak mencari tahu nomor ponselku dan menurutku itu hebat, ia bisa menahan diri dengan baik. Hanya anakku pria itu mendengar kesan kebaikan dalam sosokku, tapi langsung yakin untuk menyimpan pesonaku saat pertama kami bertemu. What a wonderful, alangkah luar biasa, kuasa Allah saja yang mengatur itu semua.


"Bunda belum ngantuk? Nenek sudah tidur, loh," kata putraku yang baru saja keluar dari dalam, ia pun duduk di kursi sebelahku.


"Masih enak di luar, langitnya bagus tuh hitam kebiruan," kataku seraya tersenyum.


"Iya, bintangnya juga banyak," ujar Fahmi tak bersemangat.


"Kamu tidur duluan saja, besok kesiangan," pintaku mengingatkan Fahmi sembari menatapnya yang lesu dengan heran.


"Fahmi lagi kepikiran ayah, Bun," kata putraku seraya menatapku lekat.


"Hah, kenapa?" tanyaku sangat terkejut.


"Kasihan saja Fahmi lihatnya, kemarin itu waktu mau pulang dari sini kayak lemas gitu. Ayah sakit?"


"Eh? Enggak, kok. Ayah hanya sedang banyak kerjaan jadi lebih capek," jelasku buru-buru setenang mungkin.


"Oh, gitu. Syukurlah."


Diam-diam aku mengamati raut wajah Fahmi, ada kecemasan di sana. Memilih hat-hati berucap, aku sedang berusaha menjaga harga diri Mas Bayu di depan anaknya, juga tak menebarkan dendam di hati merek untuk membenci ayahnya.


Sebagai seorang ibu, kebahagiaanku yang sesungguhnya adalah saat melihat senyum anakku. Meski ada rada kesal terpendam pada ayahnya, aku yakin Fahmi pasti akan khawatir jika tahu kesulitan yang sedang dialami Mas Bayu dan aku tak tega ia sampai tahu.


"Bunda, kata nenek tadi, ayah ngak akan bolehin aku ikut bunda lagi kalau bunda nanti nikah kembali. Gimana dong, Bun?" tanya Fahmi lagi.


Terdiam serasa sesak napas, pertanyaan Fahmi mengusik tanya juga dalam diriku. Akankah Mas Bayu membiarkan anaknya dididik dan diasuh pria lain?Sejujurnya, aku masih takut jika mengambil keputusan menikah dalam waktu cepat bisa menjadi api sesal suatu ketika nanti. Kiranya tak mudah tugasku menjadi ibu yang harus membagi waktu juga cinta untuk anakku dan Pak Julio nantinya. Tapi, bukankah setiap keputusan dalam hidup memang selalu ada resikonya?


Tak kupungkiri, hatiku sedikit mulai tertaut pada sosok Pak Julio yang sudah jelas menyiratkan keinginannya menantiku sampai siap menikah dengannya. Namun hidupku tidak hanya tentang kisah kebahagiaanku seorang saja, tapi juga senyuman buah hatiku.


"Nenek bicara gitu kapan?" tanyaku setelah diam beberapa saat.


"Tadi waktu bunda lagi ngobrol sama Oma itu, saat Fahmi lagi di kamar kerjain tugas sekolah."


Hemm, rupanya ibu mertuaku mulai ingin mengulik langkah kehidupan kami berdua. Wanita yang tengah kalut pikirannya karena kedatangan Bu Dito itu, ingin mempengaruhi pikiran anakku. Sepertinya, ia ingin Fahmi jadi berpihak padanya.

__ADS_1


****


"Bastieee, lihat ponsel tuh, cek mobile banking! Transferan dah masuk. Kita jadi jalan liburan ke luar negeri, uhuiii." Luluk menowel bahuku, ia tahu-tahu sudah berdiri di depan mejaku saat aku masih asyik menekuri laptop siang ini di ruang kerja kami.


Aku mendongak kaget. "Beneran?"


Anggukkan Luluk mengerakkan jemariku untuk cepat membuka layar ponsel dan seketika aku berseru penuh syukur melihat nominal rupiah yang kubaca. Bahagia tak terkira, aku akan segera bisa membeli sebuah rumah sederhana dengan royalti itu.


"Banyaknya, masyaallah alhamdulilah," kataku berbinar.


"Itu dikit. Kamu tahu teman kita di advertising lain ada yang dapat sampai satu miliar hanya untuk royalti paten logo minuman? itu tuh yang gambar tangan mengepal joss gitu," ujar Luluk menukas rasa terkesima di wajahku.


Aku menggeleng, masih tetap dengan wajah merona bahagia. "Ini keberhasilan pertamaku yang baru meniti karir lagi, bagiku sudah luar biasa. Makasih, Luluk semua karena kamu juga."


"Traktir makan cilok, cimol, cireng, cilung, apalagi ya? Segerobak ya, hahaha," Luluk menarik ujung jilbabku dengan usilnya.


"Eh, tapi ada kabar buruknya. Kamu jangan baper, ya. Bayu ternyata jual asetnya untuk kembalikan uang Superindo itu, makanya kita udah bayaran ini." jelas Luluk tak lama setelah meledekku.


Aku terperanjat kaget. "Serius? Tahu dari mana kamu? Pantas saja ibu mertuaku dititipkan di rumah kontrakanku kemarinnya ," kataku mulai menemukan benang merah tingkah Mas Bayu.


"Serius?" Kini gantian Luluk yang terperanjat kaget.


Aku mengangguk. Luluk pun membeberkan lebih detail bagaimana Mas Bayu tak hanya bertanggung jawab pembayaran royalti kami, tapi ternyata ia juga tersangkut penggelapan penjualan produk. Ada banyak orderan fiktif. Mas Bayu kurang meneliti sebelum menyetujui produk dikeluarkan. Jumlah kerugian tidak sedikit, secara sistem order Mas Bayu lah yang bertanggung jawab, ia yang harus mengganti uang orderan itu atau akan dibui.


"Mengerikan sekali, kan? Calon mantan suamimu itu entah dimana sekarang." Luluk menatapku serius.


"Kamu tahu kasus itu darimana? Aku bertanya ulang.


"Temanku kan ada banyak di perusahaan Bayu."


Aku mengangguk paham, lalu bertanya lagi, "Dini gimana? Kenapa ia ngak nolongin, atau justru ia yang menjerumuskan Mas Bayu?" Aku menatap Luluk gelisah, bagaimanapun Mas Bayu ayah dari anakku.


"Itu lah yang bikin aku penasaran. Dini juga setelah raib, ngak muncul di kantor lagi."


Aku mendengarkan Luluk dengan was-was. Mas Bayu dan Dini sama-sama tak jelas ada di mana. Sungguh tak kukira.


"Luluk, kamu mau bantu aku? Kita bisa menolong Mas Bayu, demi anakku," ucapku lirih dengan hati tak menentu.


"What? Masih mau kamu membantu pria yang telah menyakitimu?" Luluk membulatkan matanya tak percaya.

__ADS_1


"Setiap orang pernah berbuat salah. Aku hanya ingin membantu demi nama baik ayah dari anakku, tak lebih." Aku berharap Luluk percaya pada ucapanku.


Manusia yang sedang terjebak kenangan masa lalunya, ia seperti anak kecil yang menginginkan mainan milik orang lain hingga melupakan dengan mainan miliknya. Begitupun Mas Bayu, saat ia ingin kembali bersama DIni ia tega menyisihkanku. Mungkin aku dianggap membosankan baginya, tapi setidaknya pengabdianku sebagi istri harusnya tetap dihargai.


Luluk menggelengkan kepala sambil menatapku tak mengerti. "Berawal dari kasihan itu, nanti kamu bisa ...ah, sudahlah. Aku hanya ingin kamu bisa berpikir jernih."


Aku mengangguk. "Aku tahu kamu ragu. Aku tetap akan berpisah. Meski nanti Mas Bayu tak lagi bersama Dini, susah rasanya mengembalikan perasaanku padanya seperti dulu. Sakit hatiku tak akan bisa terobati,"


"Begitu? Baiklah, apa yang bisa kubantu?" Luluk akhirnya memahami maksudku.


Aku pun meminta Luluk membantuku mencari keberadaan Dini. Aku dan Luluk mulai meneliti teman-teman Dini di akun sosial medianya.


Luluk menggerutu hampir putus asa, mengamati ribuan pertemanan di akun Dini sangatlah tidak mudah. Lalu bagaimana lagi caraku mencari tahu keberadaan wanita berbibir merah menyala itu? Ingin sekali aku memberi pelajaran wanita perusak rumah tanggaku iyu.


"Coba telepon Bayu, pura-pura tanya kapan ia akan menjemput ibunya?" Luluk memberiku usulan.


Aku mengiyakan lalu lekas menghubungi ponsel Mas Bayu. Lama aku menunggu hingga akhirnya panggilanku dijawab. Tanpa menanyakan kabarku dan anaknya lebih dulu, Mas Bayu langsung meminta maaf karena masih menitipkan ibu.


"Aku tahu kamu pasti ingin tanya kapan aku mau jemput ibu. Maaf, aku ni-tip ibu, mungkin untuk waktu yang lama."


"Hah? Maksudnya apa, ibu tak akan dijemput hingga lama? Tapi kenap?" Aku memancing Mas Bayu untuk bercerita.


Hening hingga beberapa detik, Mas Bayu tak mampu berkata. Andai bisa kulihat langsung wajahnya saat ini, ia pasti tak mampu menanggung rasa malu di hadapanku. Ia tak memiliki apa-apa saat ini. Harta dan keluarga sudah terlepas darinya. Bahkan untuk menaungi ibunya pun ia tak mampu hingga harus menitipkan ibu di rumahku.


Luluk menyimak percakapanku, ia berbisik mengajariku untuk menyinggung lagi kepulangan ibu.


"Biar aku yang mengantar ibu pulang kalau begitu,"Kataku pada Mas Bayu seperti yang diajarkan Luluk.


"Eeh, ja-ngan du-lu. Rumahnya sedang direhab. Iya sedang direhab belum tahu kapan selesainya," jawabnya tergagap, jelas sekali terdengar berbohong.


Aku senang sekaligus sedih. Senang mendapati Mas Bayu diberi teguran cobaan agar sadar, namun juga sedih tak tega mendengar suaranya yang seperti orang linglung. Aku tak bisa berkata, untuk beberapa waktu kami saling diam.


"Hani, ayo kita perbaiki lagi semuanya. Aku menyadari salahku banyak. Aku sungguh membutuhkanmu dan anak kita. Aku masih mencintaimu," lirih Mas Bayu tiba-tiba.


kata-kata Mas Bayu bagai sembilu, kenapa ucapannya itu baru dikatakannya setelah ia dikecewakan oleh Dini, tidakkah ia tahu dalamnya rasa sakit dan kecewa hatiku?


Berdiri terpaku, aku menatap Luluk yang juga menatapku dengan sorot yang sama sepertiku Luluk berbisik lirih, "Up to you." sahabatku itu menatapku sedikit kesal kurasa.


Aku menggeleng pada Luluk, lalu menjawab Mas Bayu, "Maaf, hatiku terlanjur kecewa, susah untuk memperbaiki kembali pernikahan kita. Kita akan bersama untuk seumur hidup, aku tak bisa hidup serumah dengan Mas Bayu namun dibayangi ingatan luka lama."

__ADS_1


Mas Bayu terdengar berteriak menyesali perbuatanya, ia berulang menyebut nama Dini sebagai wanita ja_lang dengan sangat geram.


Aku teringat masa indah pernikahan kami, tadinya baik-baik saja sampai saat Mas Bayu menyinggung isi otakku yang dianggapnya tak lagi nyambung meski hanya sekedar berbincang sebelum tidur dengannya. Hingga akhirnya, aku tahu akau tersisih karena kehadiran wanita cantik nan pintar dari masa lalunya. Kini, kenapa Mas Bayu sangat merutuki wanita pujaannya itu? Benakku dipenuhi tanya tentang kemana menghilangnya Dini.


__ADS_2