KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
BAB 27. Aku Luaskan Kesabaran


__ADS_3

"Tawaran apa?" tanyaku ragu, menatap tajam Dini.


"Kerja sama yang menguntungkan, bonusnya bisa anda pakai perawatan ke salon biar bisa eksotik dikit wajahnya, lumayan kan?" Dini terdengar mulai merendahkanku lagi.


"Bualan macam apa yang anda katakan? Kita ada di sebuah kantor bonafit, bicaralah yang bermutu!" sergahku.


"Hohoho, jangan tersinggung, Bu. Mendengar orang bicara jujur itu memang menyakitkan. Kalau anda ngak merasa kurang eksotik ya sudah." Dini mengangkat bahunya cuek, menggemaskan sekali tapi aku berusaha tak terbawa amarah.


"Saya banyak kerjaan, pintu ruangannya masih terbuka, silahkan!" Aku mengusir Dini dengan tegas.


"Dengarlah dulu. Gini, produk yang kita tangani sebenarnya berbahan kualitas B, dan Bu Hani menjanjikan sebuah branding seperti kualitas A. Bukankah itu cukup berat? Banyak kompetitor, saingan produk sejenis. Pasti susah untuk wanita seperti anda yang biasanya di dapur saja. Saya punya tawaran bagus, mundur saja dari proyek ini."


"Apa maksudmu, silahkan keluar!" gertakku tak lagi bisa sabar.


"Dengar lagi, saya ada teman yang lebih layak branding ini. Bu Hani tinggal terima beres, ngak repot branding. Jadi tinggal terima hadiah rumah, sejumlah uang dan kendaraan juga. Gimana?" Tanpa merasa malu, Dini terus saja bicara, berusaha menyuapku atas nama temannya.


"Anda ingin menyingkirkan saya dari proyek kita? Pasti anda takut Mas Bayu dekat-dekat saya lagi. Anda ngak yakin Bayu tulus bersama anda, sepertinya anda sudah pudar."


"saya dan Bayu, We are fine, jangan salah sangka. Itu tawaran bagus. Terima saja." Dini memburuku untuk terjerat jebakannya.


"Saya orang baik-baik. Jangan ajak kerja sama yang melanggar aturan perusahaan. Saya teguh di jalan yang lurus, jangan samakan dengan anda." Aku menegur Dini.


Wanita dari masa lalu suamiku itu tertawa sinis. "Jangan merasa paling suci sendiri, saya juga orang baik-baik."


Aku memandang Dini gemas, dia merasa dirinya orang baik? Seakan tak ingat perbuatan asusilanya saja.


"Orang baik ngak akan ganggu rumah tangga orang," ucapku sengit.


Dini tertawa berderai, lesung pipinya terlihat membuatnya semakin cantik. Wanita yang hari ini berpakaian bernuasa abu-abu itu memintaku yang masih berdiri untuk duduk.


"Saya senang mendengar anda kesal begitu, itu artinya anda sangat mencintai Bayu." Dini masih saja tertawa.


"What? Bayu sudah jadi masa lalu buat saya. Tak perlu mengemis pada saya untuk memilikinya. Ambil dia dari kehidupan kami.' Aku berkata dengan santai.


"Hahaha anda terlalu bereaksi berlebihan, Bu. Anda campakkan Bayu setelah tahu cintanya hanya untuk saya kan? Kami saling mencintai jauh sebelum anda ada diantara kami." Dini menatapku dengan binar senang.


Meski ucapan wanita itu memang benar, namun nasibku tak boleh terlihat sejelek itu di matanya.


"Dengar ya, Bu. Saya tak tahu masa lalu Bayu saat dia meminang dulu. Setidaknya saya beruntung telah memiliki satu anak yang sangat hebat saat sadar ternyata Bayu bukan pria yang baik. Sedangkan anda? Di usia setua ini, sudah sangat terlambat untuk membina rumah tangga, itu pun dengan bekas suami orang."


"Cukup! Jangan sebut saya perebut suami orang lagi. Bayu sendiri yang lebih memilih bersama saya dari anda."


"Kenyataannya kan memang begitu. Ingat, Bu Dini, sesuatu yang belum dimiliki itu memang akan terlihat lebih menarik. Belum tentu akan tetap sama rasanya setelah bisa dimiliki. Seperti itulah perselingkuhan kalian."


Dini melengos, lalu dia berdiri sambil menghentakkan langkah meninggalkan ruanganku tanpa pamit. Aku tersenyum getir menatap punggung wanita itu hingga menghilang, mengikis lara yang masih tersisa.


Aku teringat goresan seorang penyair yang pernah berujar, 'jika lukamu sedalam laut, maka sabarmu harus seluas langit.' Kehilangan pasangan hidup memang tak sederhana...selalu menyisakan tangisan lara, juga sedu sedan setiap mengingatnya sebagai kenangan pahit.


Aku yang dulu di singgahi keyakinan akan selamanya bergenggaman tangan dengan pasangan hatiku, dan tak ada yang lain. Kini ternyata harus diduakan, bermuara menutup kisah dengan perpisahan.

__ADS_1


Senyuman getir kembali menghias bibirku, semoga keputusanku tak salah, memilih menjemput hari-hariku di ujung harapan hanya dengan buah hatiku.


Sesaat kemudian aku kembali menata hati untuk bergelut dengan pekerjaan hari ini. Luluk masuk ke ruangan kami, dia langsung memberondongku dengan banyak pertanyaan.


"Kenapa wanita anggun itu keluar dari sini dengan wajah masam, kamu apakan Dini?" tanya Luluk terkekeh.


Aku pun ikut tertawa. Tak usah dijawab, Luluk pasti sudah bisa menduga sendiri. Kami pun tak membahas Dini lagi, memulai pekerjaan lebih berarti daripada membicarakan wanita itu.


Hari yang sibuk, cukup membuatku lupa pada pengkhianatan Mas Bayu padaku. Luluk benar-benar menempaku menjadi wanita tangguh menghadapi tekanan pekerjaan. Dia amat sabar membimbingku menjadi wanita mandiri, sahabatku itu tak ingin aku merengek pada Mas Bayu untuk menafkahi anaknya jika nanti sudah resmi berpisah.


Hingga sore menjelang, waktunya untuk menjemput anak dari sekolah. Aku melesatkan mobil membelah jalanan kota. khawatir Fahmi capek karena telah menungguku lama.


Pelataran sekolah Fahmi sudah lengang, aku tak mendapati putraku duduk menanti di ruang tunggu jemputan. Segera aku tanyakan pada satpam sekolah, apa Mas Bayu sudah menjemput Fahmi. Aku mulai panik, kini pria pecundang itu mulai mengusik anak sebagai siasat untuk merusuh.


Cepat aku menelpon Fahmi setelah panggilan masuk ku tanyakan beradaannya, lega rasanya saat tahu dia menunggu menjemputnya di luar sekolah. Ah iya , Mas Bayu pasti tak bisa menahan malu pada putranya itu sejak kejadian di dekat gerbang rumah waktu itu. Fahmi tak mau menganggapnya sebagai ayahnya lagi.


"Bunda kenapa?" tanya Fahmi saat masuk ke mobil, dia heran saat menatapku dengan wajah tegang.


"Bunda kira kamu di jemput ayah. Mungkin untuk menemui nenek di rumah sakit." Aku menjawab sayu.


"Kita akan ketempat nenek juga, Bunda? Apa sakitnya parah?" tanya Fahmi ingin tahu.


"Sedikit parah, perlu dirawat lama," jelasku akhitnya.


"Kasihan nenek. Kita lihat sebentar ngak apa-apa? Fahmi hanya ingin tahu keadaan nene," pinta putraku ragu.


Fahmi tersenyum tipis, lalu duduk tenang menungguku melajukan kendaraan.


"Mi, seandainya bunda dan ayah jadi berpisah bagaimana?" tanyaku lirih seraya memegang tangan Fahmi yang duduk di sampingku.


Fahmi diam, menetap lurus ke jalanan lewat kaca mobil.


"Mi?" tanyaku lagi sambil mulai mengemudi perlahan.


"Itu, Bunda...aku ingin bunda bahagia, tapi aku juga ngak ingin kehilangan ayah sebetulnya. Mauku ayah tinggalkan wanita jahat itu."


"Eemm maksudnya? Fahmi ngak ingin bunda dan ayah berpisah?" Aku memperjelas kata-kata Fahmi.


Putraku hanya menatapku lembut,lalu cepat berkata lagi, "Tapi itu terserah bunda saja. Fahmi lihat ayah jalan bareng wanita itu rasanya kesal sekali, apalagi bunda pasti lebih sakit hatinya."


"Makasih, Sayang." Aku mengelus kepala Fahmi.


Rasanya enggan bertemu Mas bayu lagi kalau tidak ada yang mendesak. Kulajukan mobil ke rumah sakit, berharap dia tak ada di sana.


Tak kuduga, aku dan Fahmi harus melihat hal yang tak menyenangkan, nampak ayahnya dan Dini duduk bersenda gurau. Putraku pun tersulut amarah, dia cepat mendekati ayahnya.


"Ayah!" Fahmi menggertak ayahnya. Aku terkesima, tak menyangka putraku akan membelaku.


Mas Bayu pun tak kalah terkejut dariku, dia menatapku dengan sorot menyalahkan. Dia pasti menuduhku telah mengajari Fahmi berbuat begitu.

__ADS_1


"Fahmi, jangan tinggikan suara jika bicara dengan orang yang lebih tua darimu." Mas Bayu menegur Fahmi.


Putraku tak menghiraukan ucapan ayahnya, terus berjalan mendekat padaku.


Pilu rasanya hatiku. Beginikah carut marutnya sebuah keluarga jika orang tuanya berpisah? Ini baru berlangsung beberapa hari, bagaimana jika perpisahanku dan Mas bayu sudah benar-benar terjadi? Aku merasa begitu kejam telah memisahkan anak dari ayahnya. Haruskah aku pertahankan pernikahan demi Fahmi? tapi...


"Fahmi, sini, sayang." Ibu mertua memanggil putraku ingin menjenguk neneknya, berubah sangat malas karena melihat kehadiran Dini di ruang rawat ini. Dia berjalan enggan menghampiri neneknya.


"Nenek cepat sehat, ya," kata Fahmi singkat seraya mengecup punggung tangan neneknya. Dia memijit pelan kaki ibu mertuaku itu. Ku lihat Mbak Min tak nampak, sepertinya Dia sedang pulang ke rumah dulu.


Aku melangkah untuk mendekat pada ibu mertua. Lalu, aku tanyakan perkembangan kondisi ibu mertua. Dengan tak bersemangat, ibu menjawab sepele, aku tahu dia kesal karena aku membawa cucunya pergi dari rumah untuk selamanya.


Aku melirik dengan ekor mataku, terlihat Dini duduk di sofa sangat rapat dengan Mas Bayu. Kedua orang itu sungguh tak bermoral, tak bisa menjaga sikap di depan anak.


Melihat kedekatan orang itu, terngiang kembali dugaan Luluk jika mereka mungkin telah menikah siri tanpa sepengetahuanku.


Jadi selama ini, sudah berapa lama aku telah dicurangi suamiku? Dia hanya menjadikanku wanita cadangan di rumah, serupa ban serep yang dibutuhkannya saat tertentu saja. Kembali hatiku berdarah, membuat keyakinanku kembali bulat untuk berpisah. Apalagi yang harus kupertahankan? Tak ada.


"Bu, kami tak bisa lama lagi di sini. Fahmi butuh istirahat, baru pulang dari sekolah," kataku pada ibu mertua.


Ibu menerawang menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Raut wajahnya terlihat sedih, tak rela mendengarku berpamitan. Lalu, dia cepat menggapai Fahmmu dan memegang tangannya erat. "Fahmi, nenek masih kangen.'


"Nek, aku harus nurut sama bunda. Aku pamit pulang dulu, ya." Fahmi berpamitan.


Ibu mertua menarik napas panjang, tak menjawab sepatah kata pun, lalu memejamkan mata seolah tak mau melihat kepergian kami berdua.


Fahmi nampak masih sangat kesal pada ayahnya, dia tak sedikitpun menyapa dan berpamitan pada Mas Bayu. Anakku pun berlalu menuju parkiran rumah sakit menuruti pintaku.


Wanita yang masih duduk dengan manja di samping Mas bayu itu urung membuka bibirnya, aku melontarkan sebuah teguran untuknya lebih dulu, "Cukup! Jangan berlaga manis di depan putraku. Dia takkan mau kamu diperalat untuk menuruti ambisimu."


Dini menatapku geram, seakan siap menerkamku. Namun, Mas bayu menahan lengannya seraya menggeleng.


'Ibu, ini untuk terakhir kalinya aku menemuimu sebagai menantu. Surat gugatan cerai akan kuajukan pada putramu. Maafkan semua salahku selama ini ya, Bu." Aku mendekat ke ranjang pasien, berpamitan pada ibu.


Ibu mertua hendak menjawab perkataanku namun tak kuasa saat melihatku berjalan meninggalkannya tanpa menunggunya mengucap kata.


Dini yang belum puas hati ingin membalas kata-kataku tadi, terburu berjalan menyusulku. Aku pun menghentikannya. "Urus ibu saja, tak usah menggangguku. Aku sudah berikan suamiku padamu, dia ngak berharga lagi buatku. Aku sudah membuangnya, ambil saja.'


Kutepis tangan Dini yang ingin menahan lenganku. Aku menatap tajam Mas Bayu, lalu memperingatkannya, "Jangan cari kami, hak asuh anak akan jatuh padaku karena perselingkuhanmu."


Aku cepat menuju pintu, Mas Bayu berjalan cepat mengejarku. Dia tak menghiraukan Dini yang mengcegahnya.


"Hani! Kita bisa bicarakan baik-baik." Mas Bayu menghalangiku di depan pintu. Aku tak perduli, kutabrak tubuh kekar yang dulu pernah kukagumi itu, Llu melangkah menyusul anakku.


Aku akan berjuang hidup mandiri demi kebahagian anakku, hanya itu impianku kini. Aku sedah meredakan air mata sejak tahu sang bayu semakin menyakitkan. Aku Hani, akan selalu melengkukan senyuman meski kadang masih mengingat kenangan dengan sudut mata yang menghangat.


Tiba di parkiran rumah sakit, aku lega menatap anakku dengan sabar di dekat mobilku. Tunggu dulu, kulihat juga seseorang tengah bercengkrama begitu dekat dengan buah hatiku. Sosok tinggi tegap itu sepertinya sudah akrab dengan anakku. Siapa pria berkulit sawo matang itu?


Ayo kira-kira siapa ya????

__ADS_1


__ADS_2