
POV Bayu
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyaku singkat seraya menatap tajam Dini.
Pikiranku mulai resah ingin cepat pulang dan bertemu Fahmi. Aku mulai sedikit kesal karena terpaksa mengikuti kemauan Dini untuk pulang bersamanya, sedangkan aku ingin cepat pulang menemui putraku.
"Sudah waktunya kita menikah," bisikan Dini seraya mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Tapi aku belum bisa ceraikan Hani," kilahku, mulai risau akan kehilangan anakku setelah mendengar Hani bercerita tentang Fahmi lewat telepon di mall tadi.
"Mudah, kita nikah saja. Nanti istrimu akan minta cerai sendiri."
"Jadi ternya itu sudah kamu pikirkan? Bukannya tadinya kamu merasa kasihan pada anak istriku hingga menolak kusentuh? Kenapa bicaramu lain sekarang?" cecarku sengit.
"Iya! Hanya begitu cara merebut kehormatanku kembali. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita yang tak lagi punya masa depan?"
"Aku ngak ngerti. Bagaimana bisa ngak punya masa depan? Pendidikanmu sudah S2. Bahkan karir bagus."
"Itu yang kamu lihat dariku kini?" Dini menatapku tajam.
"Iya, bukankah memang kamu sesukses itu?"
"Kmu ngak berpikir, belasan tahun lalu seperti apa keadaan seorang Dini setelah tahu arjunanya telah menikahi wanita lain?"
"Maksudmu?" tanyaku mulai cemas, menebak arah bicara wanita bermata lentik itu.
"Aku ingin kehormatanku sebagai seorang wanita yang sudah kamu ambil belasan tahun lalu. Kembalikan dan berikan padaku Bayu!"
"Kehormatan?" tanyaku bergetar, aku semakin resah.
Dini mencengkeram bahuku kuat. Ia merancau lirih, mengingatkan lagi kisah kami di masa lampau kala harus berpisah usai wisuda. Aku yang ketakutan saat akan ditinggal Dini pulang ke kota asalnya, begitupun ia risau kedekatan kami tak akan baik-baik saja saat berjauhan nantinya.
__ADS_1
"Ketika aku menghibur resah hatimu saat kita akan terpisah jauh, apa kamu lupa kita yang telah kamu lakukan malam itu? Kamu membuai aku hingga lupa diri dan esoknya aku pulang ke kota asalku tanpa membawa kehormatan sebagai seorang gadis lagi!" pekik Dini terisak.
"Kejadian di malam itu? Bukankah kita sama-sama mau melakukannya? Tidak luput dari kesalahanmu juga, Dini! Bukan salahku sepenuhnya. Surat yang kukirim selalu kembali lagi padaku."
"Rumah kami dijual, usaha papa bangkrut. Aku sibuk merawat mama yang sakit hingga tak sempat mengabarimu, kupikir kamu setia, aku tetap menanti janjimu menikahi aku."
Jelas sudah, kamu menghilang. Aku ngak salah kalau nikah dengan gadis lain."
"Aku ingin, kamu tetap penuhi janjimu. Hanya kamu yang bisa kembalikan kehormatanku. Sudah tiba waktunya, nikahi aku!"
"Tapi..."
"Aku tak punya harga diri lagi untuk bisa melewati malam pertama bersama calon pengantinku jika pria itu bukan kamu. Pikirmu, aku sanggup direndahkan jika calon suamiku tahu aku tak lagi gadis? Seumur pernikahan pasti akan diungkitnya. Aku tak sanggup! Hanya kamu calon pengantinku, hanya kamu!"
Tersedu, Dini mengguncang bahuku hingga napasnya tersengal. Ia lalu bertutur seraya meratapi kemalangannya saat dulu kembali ke kotaku dan melihatku di teras rumah sudah menggandeng Hani saat kami akan berangkat kerja di pagi hari. Ia kecewa dan sakit hati padaku yang telah menikahi wanita lain, melupakan janjiku padanya. Ia pun pulang ke kota asalnya membawa tekad untuk melanjutkan pendidikan S2, meniti karir tinggi mencari celah untuk bisa bersamaku kembali.
"Apa yang kamu inginkan dariku sekarang?" tanyaku lagi.
"Janjimu," tegas Dini mendesis mengancamku.
"Janji di masa lalu itu tak mungkin kupenuhi, kalau kita hanya selingkuh sedikit-sedikit melampiaskan kerinduan di waktu lalu mungkin itu masih bisa. Tapi jika benar-benar menikah, itu sulit. Kusangka kita hanya akan mengenang manisnya kisah kita dulu!" kilahku tersadar dari jalanku yang tersesat seraya teringat anakku.
"Hahaha. Kamu egois! Apa perlu kubongkar aib masa lalumu pada Hani? Aku juga bisa menceritakan yang lebih buruk lagi tentangmu pada Fahmi mungkin." Dini menyeringai tajam, mata lentiknya mendelik tajam, ia mulai membuka satu per satu kancing bajunya.
Oooh Tuhan, Bayu. Nikahi saja Dini, apa yang kurang dari wanita itu? Ia cantik, cerdas, karirnya gemilang dan yang paling penting ia memintamu menikahinya. Bukankah ia cinta matimu sebelum bertemu Hani, kamu tak salah. Lihatlah, Dini hanya bisa menyerahkan hidupnya padamu, ia tak bisa bersama pria lain. Urusan keluargamu bisa diatur belakangan. Toh, Hani wanita penurut, ia pasti akan mudah memahami keinginanmu untuk poligami. Bisikan-bisikan hatiku menggema, seiring buaian Dini mengurai pesonanya hingga melayangkan diriku keperaduan.
Aku yang hampir kembali pulang dalam pelukan istriku, akhirnya kembali menjadi lelaki keji dan egois. Tak lagi peduli jika kesalahanku di masa lalu terulang lagi, tak takut menjelma serupa bayangan gelap yang membahayakan diriku dan keutuhan keluargaku.
"Kita menikah kapan?" desah Dini manja.
"Secepatnya."
__ADS_1
****
Dini menghujaniku dengan banyak cinta yang membuatku lupa anak, lupa istri. Kami pun akhirnya menikah diam-diam.
Seiring kebersamaan kam kembali, Dini terus menuntutku untuk menceraikan Hani dan aku tak juga sanggup melakukannya.
Hani pasti tidak akan terima jika suaminya ini dulu pernah berbuat nista dan setelahnya ia mungkin akan meninggalkanku. Dan anak? Aku akan kehilangan mereka hingga aku nantinya terbuang sendiri dalam kesepian.
Sebuah rasa cinta harusnya bisa membuat sebuah kesalahan bisa dimaafkan dan menjadi tak ada artinya. Tapi kesalahanku terlalu besar, kiranya tak akan termaafkan oleh Hani.
Jika kuceritakan pada Hani tentang Dini yang telah kunikahi, pasti akan memicu kerumitan. Tak bisa kubayangkan reaksi Hani yang pasti tak akan terima. Aku tak sanggup membayangkan raut wajahnya yang terluka jika tahu suami tercintanya telah berbuat kesalahan besar.
Aku terus menjalani dua sisi kehidupanku bersama dua wanita. Dini berusaha sabar menungguku siap menceraikan istriku, ini menguntungkan bagiku hingga bisa tetap memeluk Hani. Namun, apa daya, Hani akhirnya menyadari aku tak lagi setia.
Terasa ada yang perih saat kudapati kenyataan Hani mampu hidup tanpaku. Begitulah Hani, kedewasaan sikapnya membuatku malu dan menyesal telah menyakitinya hingga ia meninggalkanku membawa anakku.
Semenjak kepergian istriku, bukan kebahagiaan yang kudapati melainkan hanya rasa kehilangan yang tak kunjung usai. Apalagi kenyataan menamparku setelah serumah dengan Dini, ia sudah bukan lagi sosok menentramkan jiwa seperti yang kukenal dulu. Dalam diri wanita itu hanya ada dengki dan kemarahan, membuat hari-hariku kini dipenuhi kepiluan.
Diri ini harus menanggung letih menahan rindu, kerinduan pada Hani dan anakku, sangat rindu.
"Melamun saja tiap malam!" teriak Dini memekakkan telingaku, membuatku mendongak ingin berlari darinya dan kembali pulang dalam dekapan lembut Hani.
Sekarang, bahkan saat kebersamaanku dengan Dini masih berjalan sepenggal galah, aku sudah berada di suatu titik penyesalan bertubi karena rasa kehilangan pada sosok Hani yang kini semakin terlihat anggun dalam balutan hijabnya.
Nekat, aku tak mengindahkan kemarahan Dini yang menyadari aku tak sanggup kehilangan istriku. Tertatih kucoba merajut kembali pernikahanku yang menunggu diputus di persidangan, namun Hani sudah setegak batu karang yang terjal untuk kugapai.
Aku baru menyadari setelah kehilangan Hani. Jika yang paling sabar mencintaiku akan sanggup memilih pergi. Yang paling mencemaskanku saat pulang kerja akan sanggup untuk ihklas. Yang paling takut kehilanganku akan sanggup mengucapkan selamat tinggal. Jika segala pengorbanannya sebagai seorang istri tidak dihargai lagi.
Kini, gelap malam selalu membawa lara di hatiku. Bersisian dengan seorang wanita yang jelita, namun hatiku mengembara merindukan sosok Hani dan anakku. Dalam sunyinya hati, aku hanya bisa melangitkan doa untuk kebahagiaan mereka.
Masih bersambung.....
__ADS_1
Maaf bestiee, jika up nya sering telat posisi hp sekarang sering bleng. tiba-tiba mati mendadak, mungkin minta adik nih hpš¤š¤. Tapi masih terhalang bajet, doakan saja semoga aq dapat rezeki bisa ganti hp.šš»šš»šš»
Aku harap para bestiee sabar menunggu update Tan ku ya...,šš»šš»šš»