
"Waah, bagus sekali syalnya, makasih sudah merajut ini untuk ku, Bu. Aku pasti akan sering memakainya" Dini berbinar melihat syal itu karena tertera namanya dan Mas Bayu pada rajut syal. Dia memeluk ibu erat.
"Eh, itu... syal itu ibu bikin belasan tahun lalu. Ternyata ada yang belun rapi benangnya. Sini ibu ambil buat di benerin dulu." ibu mengambil lagi syal dari tangan Dini.
"Eeeemm, gitu? Ya sudah ngak apa-apa aku pamit, ya. Ibu jaga kesehatan biar kita bisa jalan-jalan nanti" Dengan raut kecewa Dini mengembalikan lagi syal itu.
Ibu mengangguk dan tersenyum hangat. Akhirnya, wanita dari masa lalu Mas Bayu yang dari tadi menghantui suasana di rumahku pulang bersama deru laju mobilnya.
"Hani, maaf.... ibu lupa diri, nak. Ibu kira Bayu lebih cocok dengan Dini. Dulu, putra ibu satu-satunya itu hampir gila karena Dini menghilang." Ibu menyandarkan punggunngnya di kursi teras.
Dan sekarang, Mas Bayu hampir lupa diri karena bertemu kembali dengan Dini wanita masa lalunya, yang lebih cerdas dan cantik dariku dan masih sendiri, lirihku dalam hati menahan pilu.
"Ibu tidak yakin, kamu akan mampu menahan Bayu di sisimu. Apapun yang terjadi, jangan pisahkan cucu ibu dari neneknya." kata ibu lagi menambahkan.
"Itu tergantung ibu juga, Jika ibu masih tetap memberi jalan bagi Dini, maka aku tetap akan pergi bersama fahmi." Aku kembali mengingatkan ibu.
"Kamu tidak berhak membawa Fahmi. Bayu lebih mampu mencukupi kebutuhannya." sergah ibu dengan panik.
"Ibu lupa? Bahwa aku telah bekerja kembali! Aku sanggup mencari tempat tinggal dan menghidupi Fahmi sendiri." Aku menegaskan keberanian, berharap ibu memikirkan kembali pandangannya tentang diriku yang biasanya penurut.
Cahaya lampu taman membuat bunga-bunga anggrek koleksi ibu di teras nampak indah. Ku hampiri bunga-bunga itu dan menyentuhnya perlahan.
"Bunga-bunga ini, bisa tumbuh cantik karena di rawat dan tidak di serang hama. Aku juga Bu, bisa bertahan selama ini karena mengurus rumah tangga sendirian karena tidak adanya orang ketiga." ucapku seraya menatap ibu lekat.
"ibu pusing, mau istirahat." wanita yang tidak teguh pendirian itu berdiri dan beranjak berlalu ke kamarnya.
Tak salah keputusan ku untuk bekerja kembali, setidak aku masih punya kelebihan untuk di pertimbangkan ibu. Hal terberat yang harus aku hadapi adalah menyemai kembali keharmonisan ku dengan suami. Sanggupkah diriku terus bertahan setelah tahu selama bersama ku ternya Mas Bayu masih menyimpan cinta untuk wanita lain.
Resah gulana menggelayuti pikiran ku, rasanya aku ingin melihat anakku untuk menghilangkan rasa risau dalam hati ini. Hanya dia sekarang penyemangat ku bertahan ini.ku ayunkan kaki ku menuju kamar Fahmi, sudah lewat jam sepuluh malam, pasti putraku susah terlelap dalam mimpi.
Hatiku mengharu, ku dapati Mas Bayu tertidur di samping Fahmi. tangannya masih memegang kepala putraku yang memeluk guling dengan nyaman. Dia pasti tertidur sambil di usap rambutnya oleh sang ayah. Akan kah aku biarkan Fahmi kehilangan sosok ayahnya jika nanti Mas Bayu lebih memilih bersama Dini?.
Lelap sekali tidur mereka. Aku ter senyum apalah arti keluarga jika satu sama lain tak saling memberi kasih sayang, kini keinginan ku semakin membuncah untu menjaga keutuhan keluargaku.
__ADS_1
****
"Hani, kenapa kamu ngak bangunkan aku tadi malam, aku ketiduran di kamar Fahmi tadi malam. Kamu lihat ponsel ku tidak?' tanya Mas Bayu, menghampiriku di kamar dengan masih menahan kantuk.
"Mas tidurnya pulas banget, mas pasti capek kasihan kalau aku bangunin. Itu ponselnya aku taruh di atas meja" jawabku seraya menyiapkan tas kerja suamiku, susah payah aku berusaha tetap bersikap manis padanya.
Mas Bayu menggerutu tak jelas, sepertinya kesal karena semalam ketiduran hingga Dini pulang.
"Sholat shubuh dulu Mas, sudah siang." Ku ingatkan suamiku.
"Halah, gampang nanti saja"
Bukannya pergi brwudhu, Mas Bayu justru mengambil ponselnya lalu membukanya. Mungkin dia sudah tak sabar untuk menghubungi Dini. Aku menatapnya dengan kecewa, suamiku benar-benar sedang di mabuk cinta.
Ku hampiri Mas Bayu, ikut duduk di tepi ranjang bersisian dengannya. "Tidak terlambat nanti kekantor? Aku mau lihat Fahmi, sholat dan mandilah dulu." Kutepuk lembut paha suamiku
"Iya" jawabannya singkat.
"Mas kapan punya waktu longgar Fahmi ingin kita pergi bersama. Sudah lama juga rasanya kita ngak ngajak dia jalan-jalan." Ku sandarkan kepalaku di bahu Mas Bayu. Mencoba melirik e layar ponselnya, ingin tau apa yang di ketik suamiku.
"Nanti pulangnya jangan telat, Fahmi ingin kamu mengantarnya les robotik, nanti dia marah sama kamu." Aku mengecup kening Mas Bayu sambil berpesan lagi supaya dia tidak lupa kewajibannya mengerjakan sholat dua rokaat.
"Hah? Tapi nanti aku ada....?" Mas Bayu ingin berkata tapi ragu, dia tak menyelesaikan kata-katanya.
"Kamu sudah janji sama Fahmi, hari ini kamu yang antar jemput kegiatannya. Aku ada meting." Kali ini aku daratkan kecupan di pipinya sebelum meninggalkannya kekamar Fahmi.
"Kamu ada meting? Hani, disini masih belum." Mas Bayu menunjuk bibirnya.
"Jangan nakal pagi-pagi, mas. Nanti telat ke kantor, pulanglah cepat...nanti malam aku akan menunggumu di situ." Aku menunjuk ke tempat tidur kami sambil mengerling manja padanya.
Tidak ada salahnya aku belajar dari Dini untuk bisa merebut kembali hati suamiku, mungkin aku harus lebih berani mengoda Mas Bayu lebih dulu, agar bisa kulihat lagi pancaran cinta di matanya untukku.
Pria berperawakan kekar itu tertawa, dia buru-buru berdiri lalu menangkapku. Tak aku sia-siakan lagi kesempatan itu untuk menyemai kembali kemesraan di antara kami, ku biarkan dia memelukku erat.
__ADS_1
"Sudah siang, cepat wudhu! tidak keburu sholat shubuh nanti." bisikku seraya mengurai dekapan Mas Bayu.
Pria yang usianya empat puluh tahunan tapi masih begitu tegas dan gurat ketampanannya itu pun akhirnya menurut, lalu segera beranjak membersihkan diri untuk segara menunaikan kewajiban sholatnya.
Buru-buru aku buka ponsel milik Mas Bayu saat dia sedang berada di kamar mandi, tapi terkunci. Jelas sudah ada yang di sembunyikan dariku.
Terburu waktu, aku harus cepat menemani Fahmi sarapan. Nampak olehku, ibu sudah duduk menunggu di meja makan, terlihat Mbak Min memijit punggungnya perlahan.
"Ibu sakit?" tanyaku cemas.
"Tidak, hanya sedikit pusing. Tadi malam susah tidur," kata ibu lirih.
Aku pun meminta Mbak Min untuk membuatkan minuman jahe hangat untuk ibu, lalu ku pijit perlahan bahu dan pelipis ibu.
"Kamu gak usah ke kantor saja, ya. temani ibu," pinta ibu.
"Inginnya sih begitu, Bu. Tapi Hani baru mulai kerja tentu tidak bisa izin. Ada Mbak Mun, nanti kalau ada apa-apa atau sesuatu ku minta kasih kabar. Ku usahakan untuk pulang lebih cepat."
"Hmm ya sudah lah," kata ibu kecewa.
Fahmi datang dari kamar, tergesa menghampiri meja makan lalu duduk sambil berceloteh. Kami pun siap untuk sarapan, hanya tinggal menunggu Mas Bayu. Waktu makin siang, akhirnya aku minta Fahmi untuk makan duluan.
Kuambil sepiring nasi untuk sarapan Mas Bayu dan membawanya kekamar. Aku teringat masa-masa bahagia dalam pernikahanku yang masih membekas dalam ingatan. Ada saat aku masih di manjakan karena baru memberikan seorang anak laki-laki, apapun yang aku inginkan di turutinya saat itu. Aku pun memutuskan untuk berhenti bekerja berdiam di rumah agar bisa memberi buah hati kami cukup limpahan kasih sayang. Dulu Mas Bayu, sempat mencarikan pengasuh untuk Fahmi dan berharap aku bisa membagi waktu dengan tetap bekerja. Namun, aku tak ingin rumah tanggaku bernasib sama seperti rumah tangga Luluk yang suaminya berpaling karena di anggap terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Apa masih kurang pengorbananku itu tak cukup kah baginya untuk tetap bertahan setia padaku? Meski wanita dari masa lalunya datang kembali di kehidupannya, meski wanita itu lebih indah di matanya di bandingkan dengan ku? Langkah ku semakin dekat dengan kamar, kenangan masa lalu pun pudar seketika. Terdengar Mas Bayu masih asyik berbincang di telpon. Sepertinya Dini yang bercakap di sambungan telpon. Melihatku mendekat, suamiku menutup percakapannya. Dia buru-buru memasang kaos kaki.
"Maaf aku baru saja bersiap untuk sarapan. Dini meneleponku." katanya, terlihat salah tingkah.
"Sarapan dulu," kataku dengan tetap lembut.
Ku sendok nasi dan lauk pauk, mencoba mengabaikan rasa gugup yang di tampakkan pria di depan ku ini, lalu meminta Mas Bayu untuk membuka mulut, menyuapkan kepadanya dengan berdoa dalam hati agar kasih sayang kami di eratkan kembali.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Mas Bayu berusaha lembut juga.
Aku menggeleng "Mas saja dulu"
__ADS_1
Mas Bayu mengambil alih sendok di tanganku, dia menyuapiku juga. Hatiku menghangat, perlahan bisa aku bangun lagi kedekatan kami? Semoga suamiku bisa melupakan cinta masa lalunya. Aku tidak boleh menyerah, ku yakinkan diri lagi untuk terus mencoba bertahan menepis badai yang di bawaDini.