
"Sudah berapa lama dekat dengan Ipul?" Wanita yang tengah berbaring lemah seraya kupijat lembut itu bertanya lirih.
"Ipul?" tanyaku menahan senyum, merasa lucu dengan panggilan yang sungguh tak sepadan dengan pria rupawan itu.
"Iya, Julio putraku. Aku dan papanya memanggilnya begitu, apa kamu tidak memanggil begitu juga?" Bu Dito memperjelas ucapannya seraya menahan tawa.
"Saya..."
Aku tercenung, bagai tersengat listrik mendengar tanyanya meski suara wanita itu amatlah lembut serta ramah. Sungguh, senja ini banyak kejutan tak terduga. Aku baru mengenal pria itu, tapi sudah disangka mengenalnya dengan dekat.
"Saya..." Aku masih menggantung kata, belum menemukan jawaban yang tepat.
"Ngak usah malu-malu. Aku senang kamu datang. Tak penting bagiku apa statusmu. Melihat Ipul tersenyum bahagia saat mengenalkanmu tadi, tentu aku pun bahagia," lembut suara Bu Dito, seolah mendukungku untuk cepat menjawab rasa ingin tahunya.
"Ma, ini Fahmi, dia murid terbaikku."
Suara Pak Julio terdengar di belakangku, tak kusadari kedatangannya bersama anakku, saat aku kebingungan mencari jawaban pertanyan Bu Dito tadi.
"Sini, dekat Oma," titah Bu Dito senang pada anakku.
Tertegun, aku serupa tengah, bermimpi, bertemu dengan orang-orang dari kalangan berada sebaik dan sehangat mereka.
Fahmi menurut, dia menyalami dan menjawab segala apa yang ditanyakan bu Dito.
Aku menatap sekilas Pak Julio, hanya ingin tahu sedikit alasan kenapa mamanya sebahagia itu menerima kedatanganku. Wajah pria bermata teduh itu melukiskan rasa bahagia di hatinya. Dia menatapku lekat, membuat jantungku hampir meloncat dari tempatnya.
"Sepertinya kami ngak bisa lebih lama, takut kemalaman sampai rumah," bisikku pada Pak Julio.
"Iya, bentar lagi. Mama masih senang bersama Fahmi. Biarlah, tanggung maqrib, shalat dulu saja di sini. Nanti saya antar pulang, tunggu papa gantian temani mama," tanpa ragu jika aku akan menolak, pria itu menyakinkan aku untuk setuju dengan pintanya. Dia juga mengajakku duduk di depan ruang rawat seraya menunggu waktu maqrib tiba, tak kuasa kutolak mengingat sikapnya yang sangat baik.
"Mama sakitnya apa?" tanyaku, memecah keheningan diantara aku dan Pak Julio.
"Susah jelasinnya. Sakitnya di sini sama di sini." Pak Julio menunjuk kening sama dadanya.
Aneh-aneh saja penyakitnya orang kaya rupanya, sampai tak bisa kutebak.
__ADS_1
"Sakit hati> Pak Julio penyebabnya pasti ya?" tanyaku asal, mencairkan suasana hati pria itu yang mulai kulihat berwajah mendung.
"Hahaha bisa jadi, saya mungkin tujuh puluh persen penyebab mama sakit. Nanti kapan-kapan bisa kita cerita lagi."
Aku mengangguk-anggukan kepala, tak bertanya lagi.
"Bu Hani tinggal dimana? Bulan ini saya ada syukuran kecil-kecilan, beberapa hari lagi. Jika ada waktu, saya mengundang datang ke rumah."
"Saya ngontrak di perumahan Graha Biru. Ada syukursn acara apa, Pak?"
"Ulang tahun."
"Ualng tahun? Bukannya kalau namanya Julio itu biasanya lahir bulan Juli, ya? Ini masih desember." Aku menimpali dengan heran.
"Saya bisa ulang tahun kapan saja, Bu. Kadang Juli, tapi kalau lagi pengin ulang tahun ya Desember pun saya ulang tahun." Pak Julio terkekeh, merasa berhasil membuatku bingung.
"Ya ampun...Pantas Bu Dito banyak pikiran, putranya ngak jelas gitu orangnya." Aku tergelak membalas Pak Julio hingga membuatnya tertawa hingga lama.
Aku menatap lagi Pak Julio sekilas dengan rasa sedikit gamang. Tak percaya secepat ini bahagia kembali hadir saat seorang pria yang baru kukenal, tiba-tiba terus saja menghibur hatiku yang belum bisa aku satukan lagi kepinganya setelah patah oleh sebuah pengkhianatan.
"Saya mau ajak Fahmi shalat di perjalanan saja. Dekat rumah sakit, di belokan depan ada masjid besar. Kami pamit saja ya, Pak." Aku tiba-tiba memutuskan untuk segera menjauh dari pria itu.
"Loh, nanti saya antar pakai mobil Bu Hani. Saya balik sini naik taksi online saja. Bu Hani kelihatanya sudah capek juga itu." Ia terus saja memberiku perhatian.
"Gimana, ya? Pak Julio repot. Kapan-kapan lagi saja saya berkunjung ketemu mamanya." Aku terus berusaha menolak.
Terburu aku berdiri dari tempat duduk, ingin beranjak ke dalam kamar untuk menemui anakku. Aku hendak melangkah, menahan kepahitan hatiku yang berkecambuk tak menetu. Sekuat apa ingin kuikuti keinginan hati untuk berbesar harapan, tapi sayang masa lalu membuatku merasa tak layak untuk bermimpi indah sekilat ini.
"Kenapa secepat ini berubah pikiran?" tanya Pak Julio memburu, menahan langkahku ke dalam kamar rawat.
"Mak-sud Pak Julio?" tanyaku balik dengan gugup, dadaku berdesir tak karuan.
"Tadi, kita sepakat shalat maqrib bersama dulu. Tunggu papa datang lalu saya antar pulang," jelasnya sayu.
Sang Pemilik Kehidupan....
__ADS_1
Sungguhkah begitu cepatnya duka di hatiku akan terobati melalui pria ini? Sungguhkah begitu besar kasih sayang Allah pada orang yang sudah terdzolimi namun tetap sabar?
Hani... mungkin ini kebaikan dari Allah pada kerelaanmu belasan tahun melayani suami dengan ikhlas, menjadi ibu penuh waktu dan menempatkan diri sebagai menantu terbaik bagi ibu mertuamu. Ini kebaikan Allah untukmu, kenapa kau mengelak jika itu takdir baikmu kini...
Bisikan hatiku mengelu-elu seraya menatap sekilas pria yang juga tengah menatapku sayu itu. Menunduk cepat, aku tak sanggup lagi menatap mata teduh itu.
"Maaf, tapi sepertinya sangat merepotkan nanti." Aku membohongi hati kecilku.
"Ya sudah, lain kali jangan sungkan lagi denganku. Anakmu sudah dekat denganku, dengan mama juga." Pria itu kembali menyurutkan keraguanku.
Pak Julio seolah tahu kecambuk di hatiku hanya dengan melihatku yang tiba-tiba merubah sikap. Dia seakan sudah mengenal dekat sosokku, bisa jadi karena putraku telah banyak bercerita tentang aku padanya.
Hani...ini kesempatan emas. Nyata di depan matamu, seorang pria yang bisa menjadi jalanmu membalas dengan mudah kedzoliman Bayu dan Dini padamu. Ayolah, jangan sia-siakan. Bisikan sisi hatiku yang lain menghentak, merayu sisi baikku untuk memanfaatkan keberuntungan ini.
Aku mengusap wajah pelan, diam di ambang pintu, menimbang langkah. Andai Allah memang ingin keburukan berlaku bagi seseorang yang telah mengoreskan lara dengan berkhianat, maka biarlah berlaku sesuai kehendak Allah saja. Keyakinanku kembali membuatku kembali tenang.
Langkahku terayun lagi, sesaat terbayang juga andai nanti bertemu Pak Dito di sini tak mungkin sanggup kutanggung malu. Pemilik perusahaan Superindo itu hanya tahu jika aku masih istrinya Mas Bayu, bukankah akan cukup mengejutkan saat dilihatnya Pak Julio ingin mengantarku pulang? Aku menyakinkan diri untuk tetap pada keputusanku, menolak tawaran Pak Julio.
"Bu Dito, kami harus pamit. Titip salam buat Pak Dito. Saya kebetulan ada proyek dengan perusahaan bapak, mungkin kita bisa sering ketemu lagi. Semoga cepat sehat, Bu." Akhirnya aku bisa mengucap kata pamit pada mamanya Pak Julio.
"Loh, ini masih seru cerita sama dia. Besok ke sini lagi, ya. Kutunggu. Fahmi ikut juga besok, ya?" Bu Dito meminta anakku berjanji padanya.
Kami berdua mengangguk bersama, Bu Dito pun tersenyum lega seraya mengusap kepala Fahmi saat ia salim untuk pulang.
"Eh tunggu, siapa namamu tadi? Lupa belum kutanya."
"Namanya Hani, Ma. Hani sayang." Pak Julio segera menyahut pertanyaan mamanya seraya mengantar kami keluar dari ruang rawat.
Aku kembali tersenyum menatap pria itu. Dia sungguh baik, selalu ingin mengukir senyuman di wajahku.
"Hati-hati, sampai rumah kasih kabar, ya, Mi" Pak Julio berpesan pada Fahmi dengan raut cemas.
Kami sudah di parkiran rumah sakit. Fahmi telah masuk lebih dulu ke mobil. Sedangkan aku masih berdiri di samping kendaranku, ingin berpamitan sekali lagi pada Pak Julio yang masih menyimpan gelayut cemas di kelopak matanya.
"Hani, tunggu." Sebuah panggilan terdengar keras dari kejauhan.
__ADS_1
Seketika aku terkejut, mengurungkan membuka pintu mobil dengan heran. Itu seperti suara Mas Bayu.